Wafa Fauziyyah, mahasiswi Pendidikan Sosiologi UPI angkatan 2023, berbagi pengalamannya dalam mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga berhasil lolos pendanaan. Bersama timnya, ia mengusung judul proposal “Kearifan Lokal Minimalis pada Arsitektur Bangunan Imah Panggung Masyarakat Sunda Kampung Adat Dukuh”. Melalui penelitian ini, Wafa tidak hanya mengasah kemampuan akademis, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan kerja sama tim lintas prodi. Keterlibatan Wafa berawal dari kewajiban mengikuti salah satu mata kuliah di semester tiga. Niatnya yang awalnya hanya iseng membuat ia memilih untuk bergabung ke dalam tim teman dari prodi Sejarah yang membutuhkan anggota dari Sosiologi. Keputusan tersebut membawanya terlibat dalam penelitian yang mengaitkan arsitektur imah panggung dengan kehidupan sosial masyarakat Kampung Adat Dukuh di Garut.

Wafa mengaku tidak banyak mengalami tantangan saat pertama kali bergabung karena bisa berbaur dengan baik. Pada awalnya, kerja tim lebih banyak dilakukan secara online, baru setelah lolos pendanaan mereka mulai rutin mengadakan pertemuan langsung. Pembagian tugas di dalam tim pun jelas dan merata, sehingga semua anggota memiliki tanggung jawab masing-masing yang sudah tercantum dalam proposal. Sebagai mahasiswi sosiologi, kontribusi Wafa sangat penting dalam memberikan analisis sosial-budaya. Ia melakukan observasi, wawancara, serta mengaitkan konsep minimalisme pada arsitektur dengan interaksi sosial, solidaritas, dan kearifan lokal masyarakat. Selain itu, ia juga memberikan landasan teoritis sosiologi agar penelitian tidak hanya berhenti pada aspek fisik, melainkan dapat menjelaskan relasi antara manusia, budaya, dan lingkungan. Wafa juga aktif dalam penyusunan laporan penelitian serta publikasi yang menekankan aspek interaksi sosial dan relevansinya terhadap pelestarian budaya.
Keberhasilan timnya dalam lolos pendanaan menjadi kejutan tersendiri bagi Wafa. Ia tidak menyangka karena tim mereka terbilang santai, bahkan jarang mengadakan pertemuan intensif sebelum seleksi tingkat universitas. Namun, justru hal ini menjadi pengalaman berharga yang membuatnya semakin menghargai arti tanggung jawab bersama. Menurut Wafa, yang paling ia rasakan dari PKM adalah kerja sama tim yang solid tanpa ada yang saling melempar tugas. Dari pengalaman ini, Wafa menyadari bahwa PKM bukan hanya tentang menulis proposal atau mengejar pendanaan, tetapi juga tentang belajar bekerja sama, mengelola ide, dan mendalami isu yang dekat dengan masyarakat. Ia berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mencoba, serta memilih topik yang benar-benar diminati sehingga proses riset akan lebih menyenangkan dan bermakna. Bagi Wafa, PKM adalah ruang untuk belajar, berkontribusi, sekaligus mengembangkan diri di tengah dinamika masyarakat.
