Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
MANAJEMEN KELEMBAGAAN 2025 KELOMPOK 9A : EKSPLORASI PERAN TEKNOLOGI GEOSPASIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR STRATEGIS NASIONAL (BBWS CITARUM)

Penulis: Friscka Fitri Aditama (SaIG, 2309831)

Penyunting: Tio Noviar

Tanggal Kunjungan: 05 Agustus 2025

Doc: Penulis

Dalam rangka memahami implementasi manajemen proyek dan pemanfaatan teknologi geospasial dalam sektor publik, mahasiswa Program Studi Sains Informasi Geografi Universitas Pendidikan Indonesia melakukan kunjungan lapangan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, BBWS Citarum memiliki peran krusial dalam mengelola Wilayah Sungai Citarum yang merupakan salah satu wilayah sungai strategis nasional. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan wawasan praktis tentang penerapan teknologi informasi geospasial dalam proyek-proyek pengelolaan sumber daya air yang kompleks dan berdampak luas bagi masyarakat.

https://jernih.co/solilokui/citarum-yang-kini-perlaya/

BBWS Citarum memiliki sejarah panjang yang mencerminkan evolusi pendekatan pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Perjalanan institusional dimulai pada tahun 1985-1987 sebagai Proyek Irigasi Jatiluhur, kemudian berkembang menjadi Badan Pelaksana Proyek Serba Guna Jatiluhur (BPPSJ) pada periode 1987-1994. Transformasi signifikan terjadi pada tahun 1994-2005 ketika menjadi Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Citarum, yang merupakan gabungan BPPSJ dan PPS Citarum. Setelah melalui fase transisi sebagai Unit Pelaksana Pengembangan Wilayah Sungai Citarum pada 2005-2006, akhirnya pada tahun 2006 terbentuk secara resmi BBWS Citarum sebagai UPT di bawah Ditjen SDA Kementerian PUPR.

Latar belakang pembentukan BBWS Citarum didasari oleh tiga faktor utama: pertama, perlunya pengelolaan terpadu dan berkelanjutan untuk Wilayah Sungai Citarum yang strategis; kedua, kompleksitas permasalahan air yang meliputi banjir, kekeringan, dan pencemaran di DAS Citarum; dan ketiga, kebutuhan koordinasi multipihak yang lebih kuat dalam satu institusi khusus. Evolusi ini menunjukkan pergeseran paradigma dari pendekatan proyek fisik semata menjadi pengelolaan sumber daya air yang holistik dan berkelanjutan.

BBWS Citarum beroperasi dalam kerangka visi Kementerian PUPR yang mengedepankan profesionalisme, responsivitas, dan inovasi, serta misi Ditjen SDA dalam memberikan dukungan teknis dan administratif untuk pembangunan infrastruktur sumber daya air yang terpadu. Sasaran strategis institusi ini adalah meningkatnya ketersediaan air melalui infrastruktur sumber daya air.

Berdasarkan Permen PUPR No. 16/2020, tugas pokok BBWS Citarum adalah melaksanakan pengelolaan SDA di Wilayah Sungai, yang meliputi penyusunan program, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan untuk konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air. Fungsi utama mencakup penyusunan pola dan rencana pengelolaan SDA, pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur, pengelolaan sistem hidrologi dan informasi SDA, fasilitasi Tim Koordinasi Pengelolaan SDA (TKPSDA), pemberdayaan masyarakat, serta pengawasan dan penyidikan tindak pidana di bidang SDA.

Struktur organisasi BBWS Citarum dipimpin oleh Moch. Dian Alma'ruf, S.Si, S.T., M.T. sebagai Kepala Balai, dengan Abdel Ghoni Majid, S.T., M.PSDM. sebagai Kepala Bagian Umum. Organisasi ini terdiri dari beberapa bidang teknis utama: Bidang Perencanaan yang dikepalai Muhamad Sapta M, S.T., dan Bidang Operasi dan Pemeliharaan yang dipimpin Asep Suherman, S.T., serta unit-unit pelaksana teknis lainnya yang menangani pemeliharaan irigasi dan bendungan.

Wilayah kerja BBWS Citarum mencakup Wilayah Sungai Citarum yang merupakan salah satu wilayah sungai strategis nasional, meliputi wilayah administratif Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Cakupan geografis meliputi Kabupaten/Kota Bandung, Cimahi, Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, Karawang, Bekasi, serta bagian dari Bogor dan DKI Jakarta.

Sumber: Hasil Pengolahan dari SK Menlhk SK.304/MENLHK/PDASHL/DAS.0/7/2018 tentang Peta Daerah Aliran Sungai

DAS Citarum memiliki karakteristik geografis dan hidrologi yang unik, dengan hulu berada di Gunung Wayang (Bandung) dan hilir di Laut Jawa. Sistem ini didukung oleh tiga waduk besar yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, dengan debit air yang sangat dipengaruhi musim. Dari aspek sosial ekonomi, DAS Citarum merupakan pusat industri, pertanian, dan permukiman padat penduduk yang berfungsi sebagai penyangga air baku bagi DKI Jakarta.

Tantangan utama yang dihadapi meliputi pencemaran air berat dari limbah domestik dan industri, fenomena banjir dan kekeringan yang terjadi silih berganti, alih fungsi lahan di hulu yang mengurangi daerah resapan, serta tingginya tekanan pada kuantitas dan kualitas air. Kompleksitas permasalahan ini menuntut pendekatan pengelolaan yang integratif dan berbasis teknologi modern.

Program kerja utama BBWS Citarum periode 2020-2024 meliputi Program Citarum Harum untuk pemulihan sungai dari pencemaran dan normalisasi sungai, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur yang mencakup normalisasi sungai, pembangunan/pemeliharaan bendungan, tanggul, dan jaringan irigasi, program konservasi SDA melalui pembangunan embung, sumur resapan, dan revegetasi, serta penguatan sistem peringatan dini banjir.

Mekanisme perolehan program dilakukan melalui tiga jalur utama: penugasan pusat dari Kementerian PUPR/Ditjen SDA dengan sumber dana APBN, kerjasama instansi dengan Pemprov Jabar, Pemda Kab/Kota, atau BUMN seperti PT. Jasa Tirta II, dan program strategis nasional seperti program Citarum Harum yang ditetapkan melalui Perpres.

Dalam aspek manajemen proyek, BBWS Citarum menghadapi tantangan spasial yang signifikan, antara lain data dasar yang tidak up-to-date, konflik data batas administrasi dan batas sempadan sungai, akurasi pemetaan untuk perhitungan volume galian/timbunan, serta integrasi data dari berbagai sumber dan instansi. Strategi pengelolaan tim proyek dilakukan melalui pembagian tugas berdasarkan Bidang/Bagian yang ada, penunjukan Penanggung Jawab Kegiatan (PJK) untuk setiap paket pekerjaan, dan rapat koordinasi berkala untuk memastikan kualitas dan ketepatan waktu.

BBWS Citarum sangat mengandalkan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam operasional sehari-hari untuk mendukung tugas-tugas pengelolaan wilayah sungai. Peran penting SIG mencakup dasar perencanaan untuk pembuatan peta dasar WS, delineasi DAS, dan analisis topografi; monitoring untuk memantau perubahan tutupan lahan, kualitas air, dan deformasi bendungan; analisis spasial untuk mengidentifikasi daerah rawan banjir, analisis ketersediaan air, dan identifikasi titik rawan pencemaran; serta sebagai dasar pengambilan keputusan yang objektif dan spasial untuk menentukan prioritas pembangunan dan intervensi.

Jenis informasi geospasial yang dibutuhkan meliputi Peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) skala besar, data DEM (Digital Elevation Model)/kontur, citra satelit resolusi menengah-tinggi untuk monitoring, dan peta tematik seperti tata ruang, geologi, dan soil. Sumber data geospasial diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai sumber data dasar utama, Kementerian PUPR untuk standar dan data internal, serta produksi sendiri melalui survey lapangan untuk menghasilkan data tematik seperti peta sebaran kerusakan tanggul dan peta garis sempadan.

Standar yang digunakan mengacu pada SNI di bidang geospasial dan standar BIG, serta mengikuti pedoman internal Kementerian PUPR. Pemanfaatan dalam perencanaan dan monitoring mencakup analisis jaringan sungai untuk desain normalisasi, analisis lokasi optimal untuk bangunan air, plotting titik sampling pada peta untuk analisis sebaran spasial polutan, dan overlay peta geologi, tutupan lahan, dan topografi untuk identifikasi lokasi air tanah.

BBWS Citarum juga mengimplementasikan sistem peringatan dini banjir berbasis SIG dengan memanfaatkan data hujan radar dan data ketinggian air dari sensor telemetri yang dipetakan secara real-time. Pemetaan rawan banjir dilakukan dengan analisis hidrologi-hidraulik menggunakan model digital elevasi (DEM) yang melibatkan engineer dan hidrolog. Untuk pengawasan pemanfaatan ruang, SIG digunakan untuk mengidentifikasi pelanggaran di garis sempadan sungai dengan overlay data RBI dan batas sempadan, sedangkan dukungan penegakan hukum dilakukan melalui hasil identifikasi pelanggaran via citra satelit dan survey GPS sebagai alat bukti awal.

Doc: Penulis

BBWS Citarum menegaskan bahwa keahlian geospasial merupakan tulang punggung pengelolaan wilayah sungai, sehingga lulusan Sains Informasi Geografi (SaIG) sangat dibutuhkan. Posisi dan bidang yang cocok meliputi analis di Bidang Perencanaan, operator/pengelola Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA), tenaga survey dan pemetaan, serta staf konservasi dan pengendalian daya rusak air.

Keahlian yang harus dimiliki dibagi menjadi dua kategori: keahlian teknis yang meliputi penguasaan software GIS (ArcGIS, QGIS), penginderaan jauh, pengolahan data spasial, serta survey dan pemetaan (GPS, drone); dan keahlian non-teknis yang mencakup kemampuan analitis, problem-solving, komunikasi, dan kemampuan bekerja dalam tim.

BBWS Citarum terbuka untuk peluang magang, riset, dan KKN mahasiswa, serta rekrutmen melalui proses seleksi CPNS dan PPPK oleh Kementerian PUPR. Hal ini menunjukkan komitmen institusi dalam pengembangan SDM dan pemanfaatan fresh graduate yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *