Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Membina Karakter Rabbani di Tengah Arus Digital: Strategi Baru PAI Menghadapi Disrupsi Teknologi (Riset IPAI)

BANDUNG – Gempuran konten negatif di media sosial kini menjadi tantangan nyata bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia. Merespons fenomena tersebut, tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang terdiri dari Dede Pitri, Momod Abdul Somad, dan Mokh. Iman Firmansyah, melakukan kajian mendalam mengenai peran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai jangkar karakter siswa di era digital. Riset ini menyoroti bagaimana PAI dapat mentransformasi tantangan teknologi menjadi peluang untuk mengokohkan akhlakul karimah generasi muda. Temuan ilmiah ini telah dipublikasikan secara resmi melalui Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam, Volume 22 Nomor 1 Tahun 2025, sebuah jurnal bereputasi yang telah terakreditasi Sinta 3.

Melawan Degradasi Moral di Ruang Siber

Dalam laporannya, tim peneliti UPI mengungkapkan bahwa keberadaan media sosial sering kali menjadi pisau bermata dua bagi perkembangan psikologis remaja. Konten yang tidak selaras dengan nilai-nilai Islam kerap memicu krisis identitas dan penurunan standar etika di kalangan siswa. Oleh karena itu, PAI tidak boleh lagi diajarkan secara tekstual semata, melainkan harus hadir sebagai solusi konkret atas problematika siber, mulai dari perundungan digital hingga maraknya berita bohong.

Integrasi nilai agama ke dalam perilaku digital ini sejalan dengan kebutuhan mendesak akan literasi agama yang adaptif. Secara teoretis, pendidikan karakter yang kuat di sekolah merupakan fondasi utama bagi siswa untuk memiliki "digital resilience" atau ketahanan digital dalam menyaring arus informasi yang masuk.

Teknologi Sebagai Mimbar Dakwah Baru

Menariknya, riset ini juga memandang teknologi bukan sebagai musuh, melainkan sarana dakwah dan edukasi moral yang efektif jika dikelola dengan bijak. Pemanfaatan video edukasi, aplikasi interaktif, dan diskusi daring bertema etika digital dianggap lebih relevan dalam menyentuh kesadaran siswa generasi Z dibandingkan metode konvensional yang monoton.

Pendidik PAI dituntut untuk memiliki literasi teknologi yang tinggi agar mampu mengimbangi kecepatan perkembangan zaman. Dengan pendekatan yang kreatif, nilai-nilai iman dan takwa dapat diinternalisasi melalui perangkat yang setiap hari digenggam oleh siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih inspiratif dan kontekstual.

Membangun Generasi Rabbani demi Masa Depan Bangsa

Lebih jauh, sinergi antara kurikulum yang dinamis dan keteladanan guru menjadi kunci keberhasilan pembentukan karakter. PAI harus mampu menjawab keraguan siswa di tengah dunia yang makin cair, memberikan kepastian hukum dan moral yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Hal ini bertujuan agar siswa tetap memiliki integritas diri yang kokoh meski terpapar budaya global yang sangat beragam.

Komitmen UPI dalam riset ini merupakan langkah nyata mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Perdamaian dan Kelembagaan Tangguh). Dengan melahirkan siswa yang berakhlak mulia di ruang publik fisik maupun digital, institusi pendidikan turut andil dalam menciptakan tatanan masyarakat yang damai dan berintegritas.

Zaman boleh berganti dan teknologi boleh terus melesat, namun akhlak harus tetap menjadi panglima. Melalui penguatan PAI di sekolah, kita sedang menyiapkan benteng pertahanan bagi jiwa-jiwa muda agar tidak hanyut dalam badai disrupsi. Teknologi hanyalah wasilah, sementara tujuan akhirnya adalah tetap melahirkan generasi Rabbani yang mampu membawa rahmat bagi semesta alam di tengah kemajuan dunia digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *