Penulis: Early Azhar Diwarya (SaIG, 2205856)
Penyunting : Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)

Dok. Penulis
Sedari awal berstatus sebagai mahasiswa, saya sudah tahu bahwa pada akhirnya saya akan berhadapan dengan sebuah penelitian akhir yang bernama skripsi. Namun, seperti banyak mahasiswa lainnya, saya juga tumbuh dengan bayangan bahwa skripsi merupakan salah satu hal paling sulit yang harus dilewati selama masa perkuliahan. Bahkan jauh sebelum benar-benar mengerjakannya, saya sudah sering memikirkan berbagai hal tentang skripsi, mulai dari akan mengambil topik apa, apakah topik tersebut cukup menarik, apakah saya mampu mengerjakannya, hingga pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah saya benar-benar bisa menyelesaikannya sampai akhir? Kekhawatiran tersebut sempat membuat saya takut untuk memulai. Namun, perjalanan itu kemudian mempertemukan saya dengan banyak orang yang membuat langkah saya terasa lebih ringan, mulai dari orang tua, teman-teman terdekat, dosen pembimbing, staf akademik di program studi hingga pihak berwenang kawasan Cagar Alam Gunung Tilu.
Ketertarikan saya terhadap topik skripsi sebenarnya tidak muncul begitu saja. Sebelumnya, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan magang di Direktorat Perencanaan Konservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Dari pengalaman tersebut, saya mulai mengenal lebih dekat dunia konservasi, terutama mengenai kawasan konservasi dan berbagai jenis satwa yang dilindungi di dalamnya. Semakin banyak belajar mengenai persoalan konservasi, semakin besar pula rasa penasaran saya terhadap bagaimana bidang yang saya pelajari di perkuliahan, yaitu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk membantu menjawab permasalahan di bidang tersebut. Dari situlah perhatian saya kemudian tertuju pada salah satu primata endemik Pulau Jawa, yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch). Saya mulai membayangkan bagaimana teknologi spasial dapat digunakan untuk mempelajari habitat satwa tersebut, hingga akhirnya ketertarikan itu berkembang menjadi sebuah ide penelitian yang saya bawa menjadi topik skripsi.
Berhasil menemukan topik bukan berarti perjalanan skripsi saya langsung menjadi mudah. Setelah memutuskan untuk meneliti habitat Owa Jawa, saya justru dihadapkan pada tantangan baru yaitu saya harus benar-benar mempelajari satwa yang sebelumnya bahkan belum terlalu saya kenal. Saya mulai mencari berbagai referensi mengenai Owa Jawa, karakteristik habitatnya, hingga penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik tersebut. Di saat yang bersamaan, saya juga harus memahami metode penelitian yang akan digunakan. Masalahnya, metode dan perangkat lunak yang saya gunakan masih sangat asing bagi saya karena sebelumnya belum pernah benar-benar menggunakannya. Akibatnya, proses penyusunan proposal terasa cukup “ngawang”, terutama ketika harus menuliskan bagian metode penelitian. Bagaimana mungkin saya menjelaskan tahapan pengolahan data dengan baik jika pada saat itu saya sendiri belum pernah mencoba melakukan prosesnya secara langsung? Pertanyaan seperti itu cukup sering muncul selama saya menyusun proposal dan mempersiapkan seminar proposal.

Dok. Penulis
Seminar proposal akhirnya menjadi salah satu tahap awal yang berhasil saya lewati. Setelah itu, saya mulai masuk ke tahap yang sebelumnya hanya saya bayangkan di dalam proposal, yaitu pengumpulan data dan penelitian lapangan. Pada tahap ini, tantangannya kembali berbeda karena data yang saya butuhkan tidak semuanya dapat diperoleh begitu saja dari internet atau sumber data terbuka. Saya membutuhkan data yang berkaitan langsung dengan keberadaan Owa Jawa di kawasan konservasi, sehingga saya harus mengurus perizinan penelitian dan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang memiliki akses terhadap kawasan tersebut. Salah satu proses yang cukup membuat saya khawatir adalah ketika harus menunggu respons terkait perizinan dari BBKSDA Jawa Barat. Saat itu saya sempat bertanya-tanya apakah penelitian saya akan berjalan sesuai rencana atau justru harus tertunda karena proses perizinan yang belum selesai. Namun, proses tersebut akhirnya berjalan dengan baik. BBKSDA Jawa Barat memberikan dukungan dan mengarahkan saya kepada pihak Resort Wilayah X Gunung Tilu yang memang cukup sering melakukan kegiatan lapangan di kawasan tersebut.

Dok. Penulis
Kunjungan saya ke kantor resort menjadi awal dari perjalanan menuju lapangan yang sesungguhnya. Orang-orang di sana sangat membantu dan memberikan banyak informasi yang saya butuhkan, termasuk mengenai kegiatan monitoring Owa Jawa yang rutin dilakukan setiap tahun. Tidak lama setelah datang dan berdiskusi dengan pihak resort, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan monitoring tersebut bersama Resort Wilayah X Gunung Tilu dan The Aspinall Foundation. Hanya berselang sekitar dua hari setelah berkunjung ke kantor resort, saya sudah harus berangkat menuju kawasan Cagar Alam Gunung Tilu. Rasanya campur aduk antara senang, tidak sabar, dan sedikit gugup karena akhirnya penelitian yang selama ini hanya ada di dalam proposal benar-benar akan saya jalani secara langsung. Saya akan tinggal di lapangan selama empat hari dan untuk pertama kalinya berhadapan langsung dengan kondisi kawasan serta satwa yang selama berbulan-bulan saya pelajari melalui berbagai referensi.
Perjalanan menuju lokasi penelitian sendiri sudah menjadi pengalaman tersendiri. Saya menggunakan kendaraan patroli yang kemudian saya kenal dengan nama “Paijo”. Begitu memasuki kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, kondisi jalan mulai berubah drastis. Jalan yang dilalui penuh dengan batu dan kerikil, sinyal telepon juga benar-benar sulit, dan udara terasa sangat dingin. Saya harus terbiasa dengan kondisi tersebut. Meski begitu, semua keterbatasan tersebut terasa lebih ringan karena orang-orang dari Resort Wilayah X Gunung Tilu maupun The Aspinall Foundation sangat membantu saya selama berada di lapangan. Para bapak yang mendampingi saya juga sangat perhatian dan banyak membantu dalam berbagai hal, sehingga saya merasa cukup aman dan nyaman meskipun harus berada jauh dari kondisi yang biasanya saya temui sehari-hari sebagai mahasiswa.
Kondisi medan di lapangan juga tidak bisa dibilang mudah. Hampir setiap hari saya harus berjalan menyusuri kawasan hutan dengan medan yang naik turun dan cukup terjal. Namun, rasa lelah tersebut justru tertutupi oleh rasa penasaran yang semakin besar karena saya sudah tidak sabar untuk benar-benar bertemu dengan Owa Jawa. Selama ini saya hanya melihatnya melalui foto dan membaca tentangnya dari berbagai referensi, sehingga rasanya berbeda ketika akhirnya berada di habitatnya secara langsung. Pada hari pertama, saya memang belum mendapatkan kesempatan untuk melihat Owa Jawa karena kami baru masuk ke lapangan pada sore hari. Sebagai gantinya, saya bertemu dengan Lutung Jawa. Meskipun belum berhasil menemukan Owa Jawa, perjalanan hari itu tetap membuat saya semakin kagum dengan Gunung Tilu. Hamparan hutan dan perkebunan yang masih sangat hijau membuat kawasan tersebut terasa begitu asri dan alami, sekaligus menjadi pengalaman baru yang tidak akan saya dapatkan hanya dari membaca literatur penelitian.

Dok. Penulis
Hari kedua menjadi salah satu hari yang paling saya ingat selama penelitian. Karena Owa Jawa biasanya melakukan morning call setelah matahari terbit, kami harus berangkat jauh lebih pagi. Tidak lama setelah berada di lapangan, saya akhirnya mendengar suara Owa Jawa secara langsung untuk pertama kalinya. Suaranya sangat keras dan terdengar jelas di dalam hutan. Saya yang sebelumnya hanya mengetahui suara tersebut dari video atau rekaman langsung merasa kagum ketika akhirnya dapat mendengarnya sendiri dari habitat alaminya. Kami kemudian mengikuti arah suara tersebut dengan harapan dapat menemukan sumbernya, tetapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Kemungkinan besar suara yang kami dengar berasal dari Owa Jawa liar yang berada cukup jauh dari jangkauan kami, sehingga meskipun sudah mengikuti arah suaranya, kami belum berhasil melihat individunya secara langsung.
Saya tentu tidak mau menyerah begitu saja. Salah satu pengalaman yang menurut saya paling menarik terjadi ketika Pak Chikal dari The Aspinall Foundation membantu memancing Owa Jawa dengan menirukan suara mereka. Kemampuan beliau dalam menirukan suara Owa Jawa benar-benar luar biasa dan terdengar sangat mirip dengan suara aslinya. Panggilan tersebut dilakukan beberapa kali hingga akhirnya usaha kami membuahkan hasil. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar bertemu langsung dengan Owa Jawa. Owa Jawa tersebut merupakan satwa hasil habituasi yang sudah dilepasliarkan, dan dari Pak Chikal saya mengetahui bahwa namanya adalah Jennifer. Saya masih ingat betapa senangnya ketika akhirnya bisa melihat Jennifer dari jarak yang cukup dekat. Selama ini saya hanya mengenal Owa Jawa sebagai objek penelitian, tetapi pada saat itu saya melihatnya sebagai seekor satwa yang benar-benar hidup di hadapan saya. Bentuk tubuhnya yang terlihat gembul dan bulat justru membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Setelah perjalanan panjang untuk sampai ke Gunung Tilu, pertemuan tersebut terasa seperti salah satu momen yang membuat semua rasa lelah terbayarkan.

Dok. Penulis
Pengalaman bertemu Owa Jawa ternyata tidak berhenti pada Jennifer. Pada hari berikutnya, saya berkesempatan mengunjungi kandang habituasi yang berada di belakang pos. Ketika sedang mengamati dua Owa Jawa yang sudah terhabituasi, ternyata ada dua Owa Jawa liar yang merupakan sepasang individu ikut memperhatikan keberadaan kami dan Owa Jawa di dalam kandang. Momen tersebut terasa cukup unik karena saya dapat melihat bagaimana individu liar tetap berada di sekitar kawasan dan berinteraksi secara tidak langsung dengan keberadaan Owa Jawa yang telah terhabituasi. Pada kesempatan lain ketika kembali masuk ke lapangan, saya juga bertemu dengan dua Owa Jawa lainnya, yaitu satu individu hasil pelepasliaran dan satu individu liar. Selain Owa Jawa, saya juga berkesempatan melihat Surili Jawa pada hari ketiga dan keempat. Sementara itu, pada dua hari terakhir, saya lebih banyak mendengar suara Owa Jawa tanpa berhasil melihat individunya secara langsung.
Selama empat hari berada di lapangan, saya tidak hanya mencari dan mengamati Owa Jawa, tetapi juga mengumpulkan berbagai data yang dibutuhkan untuk penelitian. Ketika menemukan tumbuhan yang menjadi sumber pakan Owa Jawa, saya melakukan plotting sekaligus mendokumentasikan temuan tersebut. Begitu pula ketika menemukan Owa Jawa secara langsung maupun mendengar vokalisasinya, saya melakukan plotting dan dokumentasi sebagai bagian dari kebutuhan data penelitian. Di sela-sela kegiatan tersebut, orang-orang yang mendampingi saya juga banyak memberikan informasi mengenai Owa Jawa, perilakunya, serta kondisi habitat tempat mereka hidup. Saya mendapatkan banyak pengetahuan baru dari pengalaman mereka yang sudah lebih memahami kondisi lapangan. Empat hari di Gunung Tilu akhirnya menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan skripsi saya. Medannya memang berat, cuacanya dingin, tidak ada sinyal, dan banyak hal yang harus dilakukan sendiri, tetapi saya justru menikmati proses tersebut dan semakin yakin bahwa topik inilah yang ingin saya selesaikan.
Setelah empat hari di lapangan, saya harus kembali menghadapi bagian penelitian yang sejak awal cukup membuat saya khawatir, yaitu pengolahan data. Jika di Gunung Tilu saya bisa melihat langsung objek penelitian dan belajar dari kondisi di lapangan, kali ini saya kembali berhadapan dengan data-data dan perangkat lunak yang belum sepenuhnya saya kuasai. Salah satu bagian yang cukup menguras waktu adalah ketika saya harus mengolah berbagai data lingkungan yang digunakan dalam penelitian. Saya sempat mengalami kesulitan karena extent dari data yang digunakan belum bisa dibuat sama. Bagi saya yang masih awam, masalah tersebut cukup membingungkan dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk diselesaikan. Setelah masalah extent berhasil diatasi, persoalan lain kembali muncul ketika hasil kontribusi variabel dari pemodelan tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. Saya harus mengecek kembali data dan proses yang sudah dilakukan, lalu mencoba menjalankan model lagi. Bahkan, saya sampai melakukan pemodelan lebih dari dua puluh kali karena terus menemukan hasil yang membuat saya bertanya-tanya apakah masih ada sesuatu yang salah.
Belum selesai dengan persoalan tersebut, perangkat lunak yang sedang digunakan juga beberapa kali tiba-tiba mengalami masalah dan muncul tulisan “not responding”. Rasanya cukup frustrasi ketika proses yang sudah dilakukan cukup lama harus terhenti begitu saja. Di tengah proses tersebut, saya banyak berdiskusi dengan dosen pembimbing untuk mencari tahu letak permasalahannya. Beliau memberikan arahan mengenai apa yang perlu saya periksa dan bagaimana saya harus melanjutkan pengolahan data. Dari situ saya mulai memahami bahwa penelitian tidak selalu berjalan lurus seperti tahapan yang tertulis di proposal. Ada banyak hal yang baru diketahui ketika penelitian benar-benar dilakukan, dan ada kesalahan yang baru terlihat setelah data diproses. Setelah berkali-kali mencoba, mengulang, dan memperbaiki kesalahan, akhirnya saya mulai mendapatkan hasil yang dapat digunakan untuk melanjutkan penelitian. Rasanya lega sekali ketika melihat proses yang sempat berputar-putar itu akhirnya mulai menemukan arah.
Setelah hasil pemodelan dan peta penelitian selesai dibuat, pekerjaan saya belum berhenti. Saya masih harus menganalisis hasil tersebut dan menuangkannya ke dalam bagian hasil dan pembahasan. Justru pada tahap ini saya kembali dibuat berpikir keras karena merasa pembahasan yang saya tulis masih belum cukup. Saya sering membaca ulang tulisan sendiri dan merasa masih ada hal yang belum terjelaskan atau belum saya hubungkan dengan hasil penelitian. Di sinilah peran dosen pembimbing kembali sangat terasa. Setiap kali saya mengirimkan draft hasil dan pembahasan, beliau sangat responsif dalam memberikan review. Tidak jarang, draft yang baru saja saya kirim langsung mendapatkan tanggapan beserta arahan mengenai bagian mana yang perlu ditambahkan dan bagaimana pembahasannya dapat dikembangkan. Bagi saya, kecepatan respons tersebut sangat membantu karena saya tidak perlu terlalu lama terjebak pada bagian yang sama tanpa tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Selain memberikan masukan terhadap isi skripsi, dosen pembimbing saya juga selalu memberikan semangat dan motivasi agar saya terus menyelesaikan proses yang sudah saya mulai. Dukungan tersebut terasa sangat berarti, terutama ketika saya mulai lelah dengan revisi dan berbagai hal yang harus dikerjakan secara bersamaan. Perlahan, hasil dan pembahasan yang sebelumnya terasa kurang mulai dapat saya lengkapi. Saya kembali membaca, memperbaiki, menambahkan pembahasan, dan berdiskusi ketika menemukan bagian yang belum saya pahami hingga akhirnya draft skripsi saya berhasil diselesaikan. Setelah itu, saya mulai mengumpulkan berbagai persyaratan untuk mendaftar sidang. Alhamdulillah, proses pendaftaran sidang juga diberikan kelancaran dan kemudahan, sampai akhirnya saya mendapatkan satu tanggal yang sejak awal terasa begitu menegangkan untuk dibayangkan: hari sidang skripsi.
Hari sidang pun tiba. Sejujurnya, saya sangat deg-degan sampai gemetaran karena rasa takut yang sudah saya bayangkan sejak awal kembali muncul. Saya takut tidak bisa menjelaskan skripsi dengan jelas, takut tidak mampu menjawab pertanyaan dosen penguji, takut tiba-tiba lupa dengan apa yang sudah saya kerjakan, dan tentu saja takut mengecewakan orang-orang yang selama ini sudah mendukung saya. Namun, ternyata suasana sidang tidak semenakutkan yang ada di kepala saya. Alhamdulillah, seluruh dosen penguji saya sangat baik dan mampu membuat suasana sidang terasa nyaman. Sesi tanya jawab yang sebelumnya saya bayangkan akan terasa mencekam justru berlangsung seperti sebuah diskusi. Saya diberikan kesempatan untuk menjelaskan penelitian, kemudian dosen penguji memberikan pertanyaan sekaligus masukan yang membuat saya melihat penelitian saya dari sudut pandang yang lebih luas.
Hal yang paling membuat saya bersyukur adalah saya ternyata dapat menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan. Setelah menjalani sidang, saya baru menyadari bahwa sebagian besar pertanyaan tersebut sebenarnya berkaitan dengan hal-hal yang memang sudah saya pelajari dan kerjakan sendiri selama proses penelitian. Apa yang saya takutkan sebagai pertanyaan sulit ternyata merupakan bagian dari penelitian yang sudah cukup lama saya pahami. Dari pengalaman tersebut, saya semakin menyadari bahwa ketika benar-benar mengerjakan penelitian sendiri, kita akan lebih memahami alasan di balik setiap data, metode, dan keputusan yang kita tuliskan. Jadi, meskipun tetap gugup, ternyata proses panjang yang saya jalani selama berbulan-bulan menjadi bekal yang cukup ketika harus mempertanggungjawabkan penelitian di hadapan dosen penguji.
Sidang juga membawa saya pada tahap revisi. Para dosen penguji memberikan berbagai saran yang membangun agar skripsi saya dapat menjadi lebih baik. Revisi yang diberikan memang cukup besar karena terdapat penambahan variabel dan perbandingan pembobotan yang perlu saya lakukan. Namun, saya merasa jauh lebih siap menghadapi revisi tersebut dibandingkan ketika pertama kali belajar mengolah data. Saya sudah memahami metode penelitian yang digunakan dan mengetahui alur penelitian saya, sehingga saya dapat langsung mengerjakan bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Dengan waktu yang cukup terbatas, saya akhirnya berhasil mengejar dan menyelesaikan revisi sidang hanya dalam waktu tiga hari. Setelah seluruh revisi selesai dan mendapatkan tanda tangan dari seluruh dosen penguji, saya dinyatakan dapat melanjutkan ke tahap yudisium.

Dok. Penulis
Hari yudisium menjadi penutup dari perjalanan panjang yang sudah saya jalani. Ketika akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan, rasanya benar-benar lega. Ada rasa bahagia, haru, dan sedikit tidak percaya bahwa semuanya benar-benar sudah selesai. Saya teringat kembali pada diri saya di awal perkuliahan yang bahkan sudah takut membayangkan skripsi, kemudian perlahan menjalani proses mencari topik, mempelajari Owa Jawa, menyusun proposal, mengurus perizinan, turun ke Gunung Tilu, mengolah data, berkali-kali menjalankan pemodelan, menyusun pembahasan, hingga akhirnya berdiri di ruang sidang. Semua tahapan tersebut membawa saya sampai pada satu titik yang dulu terasa jauh sekali.
Untuk adik-adik yang sebentar lagi atau sedang memulai skripsi, saya hanya berpesan bahwa jangan terlalu takut untuk mulai menghadapi skripsi. Saya pun dulu menganggap skripsi sebagai sesuatu yang besar dan menakutkan, sampai akhirnya saya sadar bahwa skripsi ternyata memang akan terasa sulit kalau hanya dibayangkan dari jauh. Ketika sudah dijalani, kita akan menemukan cara untuk menyelesaikan satu per satu hal yang sebelumnya terasa tidak mungkin. Jadi, pilihlah topik yang membuat kalian tertarik, kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan jangan malu untuk bertanya atau meminta bantuan ketika sedang kesulitan. Tidak apa-apa kalau proses kalian lebih lambat dari orang lain, karena yang penting adalah tetap berjalan dan tidak berhenti hanya karena merasa tertinggal. Percayalah, akan ada satu hari ketika semua kebingungan, revisi, dan rasa ingin menyerah itu berubah menjadi rasa lega saat kalian akhirnya sampai di garis akhir.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pencapaian ini bukan hanya hasil dari usaha saya sendiri. Ada begitu banyak orang yang hadir dalam perjalanan saya sejak awal menjadi mahasiswa hingga akhirnya sampai di titik kelulusan. Untuk orang tua saya, terima kasih atas doa, dukungan, dan kepercayaan yang tidak pernah berhenti diberikan, terutama ketika saya sendiri sedang meragukan kemampuan saya. Terima kasih juga untuk teman-teman terdekat yang selalu menjadi tempat bercerita, berbagi keluh kesah, dan saling menguatkan selama menjalani masa perkuliahan. Saya juga sangat berterima kasih kepada dosen pembimbing yang dengan sabar membimbing, memberikan arahan, meluangkan waktu, merespons setiap kebingungan saya, dan terus memberikan semangat sampai skripsi ini selesai. Tidak lupa, terima kasih kepada seluruh staf akademik program studi dan khususnya Ketua Program Studi, Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. yang telah banyak membantu selama proses perkuliahan hingga berbagai tahapan akhir yang saya lalui. Berkat doa, dukungan, bantuan, dan dorongan dari mereka semua, saya akhirnya dapat menyelesaikan seluruh rangkaian perkuliahan dan skripsi tepat pada waktunya. Jika pada awalnya skripsi hanya saya kenal sebagai sesuatu yang menakutkan, kini saya justru melihatnya sebagai salah satu perjalanan paling berkesan selama menjadi mahasiswa karena mempertemukan saya dengan banyak hal baru.
