Penulis: Samuel Prada Situmorang (SaIG, 2501240)
Penyunting: Muhammad Naufal Rifasyah (SaIG, 2500436)

Dok. Penulis
Pada hari ke-4 hari Kamis 30 April 2026 kami menapakkan kaki di Dataran Tinggi Dieng bak memasuki dimensi waktu di mana bumi dan langit seolah menyatu dalam balutan kabut abadi. Tersembunyi di jantung Jawa Tengah, kawasan yang dijuluki "Negeri di Atas Awan”. Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah adalah salah satu potret paling lengkap yang memadukan keajaiban geologi dan warisan masa lalu. Kawasan vulkanik aktif ini tidak hanya memanjakan mata dengan lanskap kawah kharismatik dan telaga warna-warni yang memikat, tetapi juga menyimpan narasi sejarah yang mendalam sebagai pusat spiritual spiritualitas Jawa Kuno. Setiap sudut Dieng berbisik tentang kisah peradaban abad ke-8 dan fenomena alam unik yang menjadikannya salah satu tempat paling mempesona sekaligus penuh teka-teki.
Perjalanan Menuju Dieng merupakan perjalanan yang paling panjang dan banyak terkendala baik itu karena tidak sengaja maupun hal yang terjadi karena hal itu. Kami Makan, Mobilisasi ke elf sekitar jam 07.00-08.00. namun, sebenarnya agak sedikit telat yaitu jam 08.15 lebih. Namun itu bukanlah hal yang krusial. Setelah kami berangkat tidak lama dari itu salah satu elf kami mengalami pecah ban, ini merupakan hal yg krusial. Sehingga kami ada sedikit tersendat dalam perjalanan.
Setelah Elf itu diganti bannya kami melanjutkan perjalanan namun itu sudah hampir jam 09.00. Sehingga kami mengejar waktu untuk ke PT. GeoDipa, namun perjalanan lebih lama dari prediksi dikarenakan Kejadian tersebut, Kemacetan, dan sempat hujan, Diperjalanan sempat banyak yang mengalami mabuk perjalanan sehingga perlu berhenti sejenak. Namun, kami tidak sempat mengejar kajian di PT. GeoDipa, dan kami harus melewati kajian tersebut. Kami baru sampai di Dieng sudah sekitar jam 13.00 lewat dan kami sempat berhenti di Masjid dahulu sebelum ke Pos PGA.
Dataran Tinggi Dieng yang terletak pada ketinggian hingga 2.565 mdpl di tiga kabupaten Jawa Tengah merupakan kawasan gunung api kompleks kuarter dengan karakteristik fisik berupa jajaran parasit kerucut sepanjang 14 km. Di balik keindahan lanskapnya, kawasan ini memiliki risiko bahaya utama berupa erupsi freatik yang dipicu interaksi air permukaan dengan panas magma serta emisi gas beracun mematikan seperti CO2, H2S, dan SO2 yang kerap berkumpul di daerah cekungan. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dieng memanfaatkan berbagai peralatan modern seperti GPS, Theodolite, drone DJI, Laser Distance Meter, hingga Thermo Gun guna memantau aktivitas vulkanik secara presisi. Langkah pemantauan ini diperkuat dengan upaya mitigasi struktural, seperti pemasangan palang pembatas di zona bahaya, serta mitigasi non-struktural melalui sosialisasi dan pelatihan tanggap bencana bagi masyarakat, relawan, dan anak-anak sekolah, sehingga potensi ekonomi dari sektor pertanian dan wisata alam di tanah subur tersebut dapat terus dimanfaatkan secara bijak dan aman.
Setelah selesai dari Pos PGA, kami Mobilisasi ke elf dan menuju perjalanan penginapan, dan juga setelah itu melaksanakan Ishoma. Tak lama dari itu kami mempersiapkan untuk expose malam di penginapan Dieng tepatnya penginapan laki-laki. Expose merupakan kegiatan memaparkan hasil kajian melalui instrumen PPT. Sehingga yang dipaparkan harus sesuai fakta kajian di lapangan.

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis
