Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
MENYAPA ALAM DAN USAHA RAKYAT DESA DALAM PROGRAM P2M SUKAHAJI SERASI 2026

Penulis: Kelompok 2 Aspek Lingkungan

Penyunting: Nanda Herry Fadillatu Yasmin 

Dok: Penulis

Desa Sukahaji merupakan salah satu desa yang memiliki kekayaan sejarah, nilai budaya, serta potensi sumber daya alam yang cukup besar. Berdasarkan cerita para sesepuh desa, wilayah ini dahulu menjadi tempat persembunyian seorang tokoh pejuang bernama Embah Dalem Bojong Lopang yang menentang pemerintahan Hindia Belanda. Sosok beliau sangat dihormati masyarakat karena keberanian dan keteladanannya, sehingga mendapat julukan Kanjeng Dalem meskipun bukan berasal dari keturunan keraton. Dari kisah tersebut, daerah ini kemudian dikenal dengan nama Bojong. Seiring perkembangan wilayah dan pertumbuhan penduduk, Desa Sukahaji resmi berdiri sebagai hasil pemekaran Desa Cipeundeuy pada tahun 1978, lalu kembali dimekarkan pada tahun 1984. Nama Sukahaji sendiri berasal dari kata “suka” dan “haji”, yang mencerminkan banyaknya warga setempat yang menunaikan ibadah haji pada masa lalu. Filosofi ini menggambarkan nilai religius, kebersamaan, serta kekuatan moral masyarakat dalam membangun kehidupan yang selaras dengan nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagai desa yang masih kuat dengan sektor pertanian, peternakan, dan usaha masyarakat, Desa Sukahaji memiliki hubungan yang erat dengan kondisi lingkungan. Kesuburan lahan, ketersediaan air, kualitas udara, serta pengelolaan limbah menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, acara P2M SUKAHAJI SERASI berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 14 hingga 16 Januari 2026. Bukan hanya sekedar jadwal kampus, acara ini memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar langsung tentang kehidupan masyarakat Desa Sukahaji yang harmonis dengan lingkungannya. Selama acara berjalan, kami melakukan observasi lapangan, berdiskusi dengan penduduk setempat, dan mencatat temuan yang berhubungan dengan pertanian, peternakan, tanaman hias dan aktivitas bisnis yang berdampak pada kualitas lingkungan.

Pada hari Kamis, 15 Januari 2026, tugas Kelompok 2 adalah memastikan pengumpulan data berjalan dengan baik. Tim yang bertugas untuk eksplorasi sawah terdiri dari Alya, Catherine, Naufal, Hanif, Hasbi, Rafrianda, dan Niko. Sementara itu, Farhan, Nazwa, Shofi, dan Jibril bertugas mengamati peternakan ayam. Dengan pembagian tugas seperti ini, kami mendapatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan kami di bidang masing-masing secara lebih fokus. Selama kegiatan lapangan, kami didampingi oleh Bapak Cep Yanto dari Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Perhutanan (BPP) Kecamatan Cipeundeuy. Kami juga mendapatkan penjelasan dari Ketua Kelompok Tani Rukun Tani Ikhtiar Desa Sukahaji dan putranya, yang juga berprofesi sebagai petani. Melalui interaksi ini, kami memahami lebih baik tentang proses pertanian, tantangan ekonomi, dan strategi untuk menjaga keberlanjutan lahan agar tetap produktif.

Dok. Penulis

Fokus kami adalah area persawahan, di mana kami memahami proses awal pengolahan lahan. Tanah dibajak hingga menjadi gembur untuk menampung air dan menyerap nutrisi dengan baik. Ini sangat penting untuk pertumbuhan tanaman padi. Kami juga menemukan bahwa padi tidak hanya ditanam di lahan basah, tetapi juga bisa ditanam di lahan kering atau padi huma dengan teknik pengelolaan yang berbeda.Pembibitan dilakukan dengan dua metode utama, yaitu penyemaian benih selama sekitar 10–21 hari sebelum dipindahkan ke lahan tanam atau penanaman langsung menggunakan metode tabela. Di awal pemindahan, tanaman biasanya mengalami penyesuaian yang ditandai dengan perubahan warna daun. Metode tabela dinilai lebih praktis karena sistem perakaran tidak terganggu, meski memerlukan pengawasan lebih ketat terhadap pertumbuhan gulma.

Periode panen padi kini relatif lebih singkat, antara 75 hingga 100 hari, berkat perkembangan teknologi pertanian dan penggunaan varietas unggul. Namun, percepatan ini harus diimbangi dengan pengelolaan tanah yang berkelanjutan agar kesuburan lahan tetap terjaga. Dalam perawatan, pemupukan dilakukan secara bertahap menggunakan pupuk seperti urea dan ponska. Tanah juga digemburkan lagi untuk menjaga sirkulasi udara dan air. Pengendalian gulma dan hama dilakukan secara rutin. Beberapa hama yang sering ditemukan adalah belalang atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai "simeut" dan keong mas yang berpotensi menurunkan hasil panen. Aspek sosial pertanian juga menjadi fokus dalam acara ini. Minat generasi muda terhadap sektor pertanian semakin menurun, sehingga regenerasi petani menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, petani menghadapi hambatan administratif dalam mendapatkan pupuk subsidi karena harus memenuhi berbagai persyaratan dan prosedur tertentu.

Dok. Penulis
Dok. Penulis

Di sektor peternakan, kami mengamati peternakan ayam dengan populasi sekitar 3.000 ekor. Limbah kotoran ayam berpotensi mencemari tanah dan sumber air jika tidak dikelola dengan benar. Selain itu, gas amonia dan metana dapat menimbulkan bau dan berkontribusi terhadap pencemaran udara. Namun, limbah tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik atau bahan biogas jika dikelola dengan berkelanjutan. Kegiatan berikutnya berfokus pada UMKM yang mengolah singkong menjadi keripik dengan berbagai varian rasa, seperti original dan balado. Usaha ini telah berjalan sejak sebelum pandemi Covid-19 dan sempat mengalami penurunan penjualan karena permintaan dari kalangan pelajar berkurang. Proses produksi menghasilkan limbah berupa kulit singkong dan air cucian yang harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Limbah tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak atau kompos sebagai salah satu solusi yang dapat dilakukan.

Budidaya tanaman hias juga menjadi bagian dari observasi lapangan kami. Pertumbuhan tanaman hias sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, kelembapan udara, dan kualitas media tanam. Lingkungan yang terawat mendukung kesehatan tanaman dan meningkatkan estetika daerah. Selain itu, tanaman hias berpotensi menjadi sumbern pendapatan tambahan bagi masyarakat. Secara keseluruhan, acara ini menunjukkan hubungan timbal balik antara lingkungan dan aktivitas masyarakat. Lingkungan yang terjaga akan mendukung produktivitas sektor pertanian, peternakan, dan usaha lokal. Sebaliknya, pola pengelolaan masyarakat sangat menentukan keberlanjutan sumber daya alam. Melalui acara P2M, kami memperoleh pembelajaran penting tentang pengelolaan lingkungan, inovasi pertanian, dan peran aktif masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *