Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmen dan kepeloporannya dalam pengembangan keilmuan pendidikan inklusif. Pada bulan Maret 2026, tim akademisi sekaligus peneliti yang terdiri dari Siti Sopa Lismaya, Elan Sumarna, dan Saepul Anwar secara resmi memublikasikan kajian riset teranyar mereka di Jurnal Cendekia (Volume 18, Issue 01). Artikel ilmiah yang bertajuk "Adaptive Assessment in Islamic Religious Education Learning for Students with Special Needs High School" ini merupakan hasil studi kasus kualitatif yang mendalam terhadap enam guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di lima Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA LB) yang tersebar di wilayah Bandung dan Cimahi. Melalui riset ini, tim berupaya membedah sekaligus memberikan solusi atas tantangan krusial dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran bagi siswa dengan hambatan khusus.
Pergeseran Paradigma Menuju Asesmen Pendidikan yang Kontekstual
Kajian ilmiah ini menyoroti sebuah urgensi mendasar terkait penyesuaian instrumen asesmen yang selama ini sering kali masih terjebak pada pakem sekolah reguler, sehingga rentan menjadi kurang bermakna bagi peserta didik penyandang disabilitas. Dalam diskursus pedagogik kontemporer dan telaah literatur berskala internasional, seperti yang ditegaskan oleh Vlachopoulos & Makri (2024), praktik asesmen dalam pendidikan khusus mutlak harus bersifat adaptif, kontekstual, serta mempertimbangkan profil kecakapan individu agar validitas pembelajarannya dapat terjaga secara utuh. Temuan lapangan dalam publikasi ini membuktikan hal tersebut, di mana asesmen PAI di SMA LB tidak sekadar diposisikan sebagai alat ukur evaluatif sumatif. Lebih dari itu, para pendidik memanfaatkannya secara formatif (assessment for learning) guna merefleksikan pencapaian, memperkuat motivasi ibadah, serta memperbaiki strategi pengajaran secara berkelanjutan.
Strategi Multimodal dalam Pengukuran Tiga Ranah Kompetensi
Tim peneliti secara komprehensif menguraikan bahwa para guru PAI di lapangan telah menerapkan strategi asesmen yang berdiferensiasi tinggi untuk mengukur ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sebagai manifestasi dari pendekatan yang holistik ini, perlakuan yang diberikan sangat disesuaikan dengan jenis disabilitas siswa. Bagi peserta didik tunarungu, guru mengoptimalkan penggunaan media visual, bahasa isyarat, serta melakukan koreksi gerakan ibadah secara langsung. Sementara itu, bagi peserta didik tunagrahita (disabilitas intelektual), pendekatan yang diterapkan bertumpu pada repetisi bertahap, pembiasaan, serta tes lisan sederhana yang menoleransi dinamika kesiapan belajar siswa. Di sisi lain, siswa tunanetra difasilitasi melalui pemanfaatan instrumen braille, sarana audio, hingga ujian praktik wudu dan salat yang disesuaikan secara sensorik. Berbagai praktik inovatif tersebut membuktikan bahwa hambatan indrawi dan kognitif tidak boleh menjadi penghalang untuk menginternalisasi nilai-nilai luhur tarbiyah Islamiyah.
Akselerasi Perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs)
Publikasi jurnal bereputasi ini tidak hanya menjadi capaian akademis semata, melainkan wujud nyata sumbangsih pemikiran Program Studi IPAI FPIPS UPI dalam merespons agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Kajian mendalam mengenai asesmen pendidikan luar biasa ini memiliki resonansi yang sangat kuat dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Riset ini menstimulasi iklim pendidikan yang menjamin keadilan akses belajar dan mengakomodasi keberagaman kapabilitas individu tanpa terkecuali. Selain itu, temuan ini juga beririsan erat dengan upaya mempromosikan masyarakat yang inklusif, selaras dengan semangat SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities).
Pada akhirnya, torehan riset berkualitas dari tim peneliti IPAI FPIPS UPI ini merupakan refleksi sejati dari muruah institusi yang senantiasa tampil sebagai "Pelopor dan Unggul". Kehadiran literatur akademis ini seyogianya tidak dibiarkan terhenti sebagai deretan teks di atas kertas, melainkan harus bertransformasi menjadi katalisator bagi para guru dan perumus kebijakan untuk terus merawat empati, melahirkan inovasi, dan mendesain lingkungan belajar yang lebih memanusiakan. Kepada seluruh sivitas akademika dan khalayak pendidik, mari jadikan capaian keilmuan ini sebagai fondasi pencerahan! Teruslah memperkaya wawasan keilmuan kita, perluas ruang-ruang diskusi, dan wujudkan ekosistem pendidikan Islam yang tak lekang menegakkan nilai rahmatan lil 'alamin—di mana setiap pembelajar, dengan segala keunikannya, mendapatkan hak yang mulia untuk meraih pencerahan sejati.
