Oleh: Fauzi Rohadiansyah
Beberapa jabatan ternama pula pernah ia lakoni sebagai bukti pengakuan validitas dan kualitas Natsir
dari para tokoh pendiri bangsa. Hingga akhirnya sosok Mohammad Natsir menjadi Perdana Menteri pertama, pendiriannya untuk menegakkan agama masih tetap dipegang teguh.
Meskipun pandangan politik Mohammad Natsir bersifat kontradiktif dengan beberapa kalangan, terlebih
pemimpin bangsa yaitu Ir. Soekarno yang lebih memilih ideologi komunis dalam berpolitik sebagai bukti traumatis akan kejamnya penjajahan, namunterbukti Mohammad Natsir mampu mematahkan stigma tersebut dan memberikan dampak yang luar biasa bagi keberlangsungan hidup masyarakat
Indonesia sampai hari ini. Dalam jalan politik ini, perbedaan kontras antara ideologi Soekarno yang
menginginkan persatuan antara nasionalis, komunis, dan agama tidak membuat Natsir kehilangan arah
tujuannya untuk senantiasa menegakkan ideologi Islam di atas segalanya. Nyatanya, keinginan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa dalam satu wadah yang digaungkan oleh Mohammad Natsir dan kemudian hari dikenal dengan Mosi Integral Natsir ini memberikan pengaruh yang luar biasa
terhadap bangsa dan negara. Kondisi negara Indonesia yang berbentuk RIS kala itu dianggap terpecah belah karena dalam pandangan Natsir merupakan sesuatu yang akan dengan mudah menimbulkan
perpecahan. Bahkan terpecah belahnya bangsa dan negara dalam hal ini ditakutkan akan menimbulkan
kehancuran bagi suatu bangsa. Ini bukanlah suatu pemikiran yang naif, melainkan pemikiran yang diilhami oleh firman Tuhan dalam al Qur’an yang telah terukir dalam hatinya. Dengan hanya berbekal ayat al Qur’an yang menjadi dasar pemikirannya, Natsir mampu mendorong dan memaksa masyarakat
yang kala itu terpecah belah untuk kembali bersatu dalam wadah yang sama, yaitu mewujudkan NKRI.
Pemikiran dan tindakan Mohammad Natsir tersebut meskipun tidak dapat terhindarkan dari berbagai kritikan di kalangan tokoh nasionalis, namun nyatanya mampu membawa bangsa Indonesia hingga kehidupan masa kini. Dalam satu wadah NKRI, serta memiliki tujuan untuk terus menjaga NKRI dalam
bingkai persatuan dan kesatuan. Hanya saja, pilihan yang telah dilaksanakan oleh Natsir beberapa tahun
silam seolah-olah dihindari dan dipadamkan oleh berbagai pihak. Islam seolah-olah dijauhkan dalam panggung politik. Mereka yang berhaluan dan mengusung ideologi Islam tidak diperkenankan untuk berpartisipasi aktif dalam perpolitikan Indonesia dengan berbagai alasan. Padahal jika masyarakat bangsa ini berkehendak untuk jujur dalam memandang sejarah, tentu tidak akan menunjukkan sikap yang demikian bencinya terhadap ideologi Islam. Nyatanya dengan diilhami firman Tuhan, sosok Natsir mampu membawa bangsa ini kepada persatuan dan kesatuan yang dicita-citakan. Bukankah apa yang dilakukan oleh sosok Natsir ini mampu dilakukan kembali oleh masyarakat Indonesia yang hidup hari ini serta mereka yang mencari persatuan dan kesatuan?