
Sumber : REPUBLIKA.co.id
Pernahkah Anda terbangun di pagi hari dan mendapati langit kekuningan, matahari redup seperti tertutup tirai tipis, dan udara terasa perih di tenggorokan? Bagi banyak mahasiswa, terutama yang berkuliah atau berasal dari Kalimantan dan Sumatra, pemandangan itu sudah tidak asing di musim kemarau. Masker kembali menjadi barang wajib di dalam tas, jadwal kuliah tatap muka sesekali bergeser ke daring, dan aktivitas sederhana seperti berolahraga atau menunggu kelas di luar ruangan mendadak terasa berisiko. Keresahan ini kerap dianggap sekadar “gangguan musiman”, padahal di balik kabut asap tersebut terdapat partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5) yang mampu masuk jauh ke saluran pernapasan, bahkan sampai ke aliran darah.
Isu ini penting dibahas sekarang karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi peristiwa insidental, melainkan ancaman berulang yang berkaitan dengan perubahan iklim, pengelolaan lahan gambut, dan kebijakan tata ruang. Dampaknya pun tidak berhenti pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Paparan asap yang berkepanjangan dikaitkan dengan memburuknya asma, gangguan kardiovaskular, hingga tekanan psikologis, dan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, serta lansia menanggung risiko terbesar. Sebagai generasi muda dan bagian dari civitas akademika, kita tidak cukup hanya menjadi penonton. Memahami bukti ilmiah tentang dampak kesehatan karhutla adalah langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran, mendorong kebijakan yang lebih baik, dan membiasakan perilaku pencegahan yang tepat.
Gambut, Lahan, dan Peta Api: Mengapa Kalimantan Rentan
Dalam geografi, peristiwa alam jarang berdiri sendiri. Ia hampir selalu lahir dari pertemuan antara kondisi fisik wilayah dan aktivitas manusia, dan karhutla di Kalimantan adalah contoh yang jelas. Secara fisik, wilayah ini memiliki hamparan lahan gambut yang menyimpan banyak karbon. Selama tetap basah, gambut aman. Namun ketika dikeringkan melalui kanal untuk perkebunan atau pertanian, gambut berubah menjadi “bahan bakar” yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau panjang, terutama saat El Niño membuat curah hujan berkurang.
Di sinilah konsep interaksi manusia dan lingkungan berperan. Perubahan penggunaan lahan (land use change), seperti pembukaan hutan dan pengeringan gambut, mengubah lanskap yang semula tahan api menjadi rawan api. Jika titik panas (hotspot) dari citra satelit dipetakan, polanya biasanya mengelompok di area gambut terdegradasi dan lahan yang baru dibuka, bukan tersebar acak. Artinya, karhutla bukan sekadar “bencana alam”, melainkan hasil keputusan ruang yang dapat dipelajari, diprediksi, dan dicegah.
Dari Titik Api ke Paru-paru: Perjalanan Asap dan Paparan Kesehatan
Setelah api menyala, asapnya tidak berhenti di lokasi kebakaran. Dalam kajian geografi, asap dipahami sebagai fenomena yang bergerak dalam ruang dan dipengaruhi oleh arah serta kecepatan angin, kondisi atmosfer, dan topografi. Pada musim kemarau, angin monsun dapat membawa asap melintasi kabupaten, provinsi, bahkan batas negara. Karena itu, kota yang jauh dari titik api pun tetap bisa diselimuti kabut asap, sehingga dampaknya terasa luas dan sering kali tidak sebanding dengan jarak dari sumber kebakaran.
Dari sisi kesehatan, bahaya utamanya adalah partikel halus PM2,5 yang dapat terhirup hingga ke bagian terdalam paru-paru. Paparan jangka pendek memicu iritasi mata, batuk, dan infeksi saluran pernapasan, sedangkan paparan berulang dapat memperburuk asma dan penyakit kronis lainnya. Untungnya, penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) kini membantu kita memetakan sebaran asap dan kualitas udara. Dengan begitu, hubungan antara lokasi, tingkat paparan, dan kasus kesehatan dapat dianalisis secara terukur, bukan sekadar dugaan.
Siapa Paling Terdampak? Membaca Kerentanan dengan Kacamata Ruang
Geografi mengajarkan bahwa risiko tidak hanya ditentukan oleh besarnya bahaya, tetapi juga oleh seberapa rentan penduduk yang terpapar. Secara sederhana, risiko muncul dari pertemuan antara bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas masyarakat untuk menghadapinya. Dengan paparan asap yang sama, dampaknya bisa berbeda-beda. Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit pernapasan lebih mudah terdampak. Hal yang sama berlaku bagi warga di permukiman dekat lahan gambut yang akses ke fasilitas kesehatannya terbatas atau yang tidak mampu membeli masker berkualitas dan pembersih udara.
Oleh karena itu, pendekatan spasial penting untuk menentukan prioritas. Peta kerentanan yang menggabungkan sebaran asap, kepadatan penduduk, kelompok usia rentan, dan jarak ke layanan kesehatan dapat menunjukkan wilayah mana yang paling membutuhkan intervensi lebih dahulu. Dari sudut pandang mahasiswa geografi, upaya pencegahan sebaiknya tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pengelolaan gambut, tata ruang yang berkelanjutan, sistem peringatan dini, dan edukasi masyarakat agar perlindungan kesehatan tepat sasaran.
Kesimpulan
Karhutla di Kalimantan bukan sekadar bencana musiman, melainkan hasil pertemuan antara kondisi fisik wilayah, terutama lahan gambut yang rentan terbakar saat kering, dan keputusan pemanfaatan ruang oleh manusia. Asap yang dihasilkan bergerak melintasi wilayah mengikuti angin dan kondisi atmosfer, membawa partikel halus PM2,5 yang berdampak pada kesehatan pernapasan, jantung, hingga kondisi psikologis, dengan beban terbesar pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Melalui kacamata geografi, hubungan antara sumber api, sebaran asap, dan kerentanan penduduk dapat dipetakan sehingga upaya pencegahan menjadi lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan gambut dan tata ruang berkelanjutan hingga sistem peringatan dini dan edukasi masyarakat. Jika ruang bisa membuat api menyebar, bukankah ruang juga bisa kita kelola untuk melindungi napas bersama, dan langkah kecil apa yang bisa dimulai dari kampus kita?