Penulis: Wilda Citra Yuniarti
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)
Abstrak
Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu wilayah strategis di Jawa Barat yang memiliki potensi sumber daya alam tinggi, namun juga rentan terhadap berbagai bencana alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara potensi sumber daya, ancaman bencana, dan kondisi ketahanan pangan di berbagai lokasi yang dikaji. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi lapangan dalam rangka kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi signifikan dalam pemanfaatan sumber daya, tingkat kerentanan bencana, dan kondisi ketahanan pangan di tiap lokasi. Misalnya, Kampung Adat Sinarresmi menunjukkan kemandirian pangan berbasis kearifan lokal, sementara wilayah pesisir seperti TPI Palabuhanratu lebih bergantung pada hasil tangkapan laut yang fluktuatif. Hasil dari penelitian kami menunjukan bahwa penting untuk melakukan pendekatan yang menggabungkan pengelolaan sumber daya, mitigasi resiko bencana, dan penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Kata kunci: Sumber daya, tutupan lahan, ketahanan pangan, bencana, Sukabumi
Abstract
Sukabumi Regency is one of the strategic regions in West Java, known for its abundant natural resources but also its high vulnerability to various natural disasters. This study aims to examine the interrelation between resource potential, disaster risks, and food security conditions across several key locations. Data were collected through field observations, interviews, and documentation as part of the Field Work Lecture (KKL) program. The results reveal significant variations in resource utilization, disaster exposure, and levels of food resilience in each area. For instance, the Sinarresmi Traditional Village demonstrates strong food security through local wisdom-based agricultural practices, while coastal areas such as the Palabuhanratu Fish Auction Center remain highly dependent on unstable marine catches. These findings highlight the importance of adopting an integrated approach that combines sustainable resource management, disaster risk mitigation, and the strengthening of food security based on local potential.
Keywords: Resources, land cover, food security, disaster, Sukabumi
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun di sisi lain juga menghadapi berbagai tantangan kebencanaan yang dapat mengancam ketahanan pangan masyarakat. Kabupaten Sukabumi, yang merupakan salah satu kabupaten terluas di Pulau Jawa dengan luas wilayah 3.934,47 km², memiliki posisi strategis dalam konteks pengelolaan sumber daya alam dan ketahanan pangan regional. Wilayah ini menyimpan potensi sumber daya alam yang beragam, mulai dari sumber daya hutan, air tanah, hingga lahan pertanian yang produktif.
Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang optimal. Hal ini sejalan dengan konsep pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi dalam satu kesatuan sistem yang komprehensif (Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 2025). Kabupaten Sukabumi dengan kondisi geografisnya yang beragam, mulai dari dataran rendah hingga pegunungan, memiliki karakteristik unik dalam hal ketersediaan dan distribusi sumber daya alam.
Namun demikian, potensi sumber daya alam yang melimpah di Kabupaten Sukabumi juga dihadapkan pada berbagai ancaman bencana alam yang dapat berdampak signifikan terhadap ketahanan pangan masyarakat. Bencana alam seperti banjir, longsor, dan kekeringan dapat mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur pertanian dan mengganggu sistem distribusi pangan (ResearchGate, 2024). Dampak bencana terhadap ketahanan pangan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga dapat mempengaruhi keberlanjutan sistem pangan dalam jangka panjang.
Ketahanan pangan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau, menjadi indikator penting dalam pembangunan berkelanjutan. Strategi peningkatan ketahanan pangan memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan potensi sumber daya lokal, risiko bencana, serta kapasitas adaptasi masyarakat (Jurnal AGRISEP, 2020). Di Kabupaten Sukabumi, hutan sebagai salah satu sumber daya alam utama juga berperan signifikan dalam menopang ketahanan pangan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan sebagai bagian dari Kuliah Kerja Lapangan 1 guna memberikan gambaran komprehensif mengenai interrelasi antara potensi sumber daya alam, kerentanan terhadap bencana, dan kondisi ketahanan pangan di Kabupaten Sukabumi. Analisis yang mendalam terhadap ketiga aspek tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyusunan strategi pembangunan berkelanjutan yang lebih efektif dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahap I mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi angkatan 2024 mengacu pada pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan dan menjelaskan fenomena secara mendalam melalui pemahaman kontekstual terhadap kondisi yang terjadi di lapangan, baik dari aspek fisik maupun sosial budaya. Sugiyono (2018) menjelaskan bahwa metode penelitian adalah cara ilmiah dalam memperoleh data yang rasional, empiris, dan sistematis. Selain itu, menurut Purwanto (2010), metode penelitian merupakan proses yang terencana dan sistematik, yang bertujuan menyelesaikan masalah penelitian. Dalam konteks keilmuan geografi, metode ini tidak hanya bertujuan untuk mengungkap hubungan sebab-akibat antara berbagai variabel keruangan, namun juga untuk memahami dinamika dan kompleksitas interaksi manusia dengan lingkungannya.
Dalam pelaksanaan KKL, kami menerapkan metode ekskursi sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengalaman langsung (experiential learning). Metode ekskursi ini merupakan strategi yang menggabungkan kegiatan observasi lapangan, wawancara, dokumentasi visual, serta pencatatan spasial untuk memperoleh data primer secara komprehensif. Teknik observasi dilakukan secara sistematis untuk mencatat karakteristik geomorfologi, geologi, ekologi, serta aktivitas sosial masyarakat, sedangkan wawancara dilakukan secara semi-terstruktur terhadap informan kunci seperti tokoh adat, pengelola kawasan, nelayan, petani, dan warga lokal guna memperoleh data kualitatif yang mendalam. Proses dokumentasi dilakukan dengan mengambil foto-foto lapangan dan mencatat titik koordinat geografis serta elevasi menggunakan perangkat GPS, sebagai dasar untuk analisis spasial dan pembuatan peta tematik.
Pelaksanaan penelitian ini berlangsung selama lima hari di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, dengan empat hari difokuskan pada kegiatan pengamatan dan pengumpulan data lapangan, serta satu hari untuk perjalanan. Penentuan lokasi observasi didasarkan pada pertimbangan ilmiah terkait keberagaman bentuk lahan, karakteristik geologi, nilai-nilai ekologis, serta aspek budaya lokal yang menonjol. Adapun lokasi-lokasi utama yang diamati meliputi kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palabuhanratu, Jembatan Cidadap, Goa Lalay, Pantai Karang Hawu, Geyser Cisolok, serta Kampung Adat Kasepuhan Sinarresmi. Setiap lokasi dipilih karena memiliki kekhasan geomorfologis maupun budaya, yang dapat merepresentasikan interaksi antara sistem alam dan aktivitas manusia. Misalnya, di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, mahasiswa melakukan observasi terhadap struktur batuan, jenis tanah, kemiringan lereng, serta kaitannya dengan aktivitas masyarakat seperti geowisata dan konservasi. Di sisi lain, Geyser Cisolok diamati dari segi potensi energi panas bumi, pemanfaatan geothermal, dan risiko kebencanaan.
Di Kampung Adat Sinarresmi, mahasiswa menelusuri sistem sosial, struktur ruang kampung, serta praktik pertanian lokal yang mencerminkan kearifan budaya dalam menjaga ketahanan pangan. Data yang diperoleh dari lapangan kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik, yaitu dengan mengelompokkan informasi berdasarkan tema-tema tertentu untuk menemukan pola, hubungan, dan makna yang terkandung dalam praktik sosial dan pengelolaan sumber daya alam di tiap lokasi. Selain itu, digunakan pula data sekunder dari studi pustaka, dokumen pemerintah, peta topografi, dan referensi ilmiah lainnya untuk melakukan validasi dan triangulasi terhadap data lapangan. Dengan demikian, metode penelitian yang diterapkan dalam KKL ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk memperkaya pemahaman teoritis mahasiswa, tetapi juga sebagai wahana untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, membangun kesadaran ekologis, serta mengembangkan kepekaan sosial terhadap dinamika ruang dan lingkungan dalam kehidupan nyata.
HASIL
1. Identifikasi Sumberdaya
Tabel 1. l identifikasi sumber daya: Data analysis (2025)
|
No |
Lokasi |
Potensi Sumberdaya |
|
1. |
TPI Palabuhanratu |
Sumber daya perikanan melimpah (TTCL: Tuna, Tongkol, Cakalang, Layur) |
|
2. |
Jembatan Cidadap |
Sumber daya geologi berupa tanah aluvial subur untuk pertanian |
|
3. |
Goa Lalay |
Sumber daya geologi (karst, guano dari kotoran kelelawar sebagai pupuk) |
|
4. |
Pantai Karang Hawu |
Sumber daya pariwisata berbasis alam (karang, tebing, ombak) dan budaya (legenda Nyi Roro Kidul) |
|
5. |
Geyser Cisolok |
Sumber daya geotermal (air panas belerang) untuk wisata kesehatan dan energi. |
|
6. |
Kasepuhan Sinaresmi |
Sumber daya pertanian tradisional (68 varietas padi, gula aren, keripik pisang/singkong) dan kearifan lokal dalam pengelolaan lahan. |
Sumber : Hasil Analisis 2025
2. Identifikasi Bencana
Tabel 2. l identifikasi bencana: Data analysis (2025)
|
No |
Lokasi |
Jenis Bencana |
|
1. |
TPI Palabuhanratu |
Tsunami |
|
Banjir rob |
||
|
Gempa Bumi |
||
|
Angin kencang |
||
|
2. |
Jembatan Cidadap |
Banjir bandang |
|
Genangan air di pemukiman |
||
|
Longsor |
||
|
3. |
Goa Lalay |
Gempa Bumi |
|
Longsor |
||
|
Abrasi |
||
|
4. |
Pantai Karang Hawu |
Tsunami |
|
Gempa Bumi |
||
|
Banjir rob |
||
|
5. |
Geyser Cisolok |
Longsor |
|
Banjir |
||
|
Gempa Bumi |
||
|
6. |
Kasepuhan Sinaresmi |
Longsor |
|
Gempa Bumi |
||
|
Erosi Lereng |
Sumber : Hasil Analisis 2025
3. Identifikasi Ketahanan Pangan
Tabel 3. l identifikasi ketahanan pangan: Data analysis (2025)
|
No |
Lokasi |
Ketersediaan Pangan |
|
1. |
TPI Palabuhanratu |
Ketergantungan pada hasil laut (protein hewani), tetapi pasokan fluktuatif tergantung musim |
|
Sektor pertanian terbatas |
||
|
2. |
Jembatan Cidadap |
Sumber pangan padi |
|
Komoditas : Padi, sayuran, hasil kebun dan perikanan |
||
|
3. |
Goa Lalay |
Hasil laut dari aktivitas nelayan |
|
Pertanian padi skala kecil |
||
|
Sungai bawah tanah dan air tanah di sekitar gua |
||
|
4. |
Pantai Karang Hawu |
Ketahanan pangan didukung hasil laut |
|
pertanian skala kecil |
||
|
Banjir rob |
||
|
5. |
Geyser Cisolok |
Ketahanan pangan didukung hasil laut |
|
pertanian |
||
|
Gempa Bumi |
||
|
6. |
Kasepuhan Sinaresmi |
Mandiri pangan dengan lumbung padi (bertahan hingga 90 tahun) |
|
diversifikasi tanaman (umbi-umbian) |
||
|
Tidak tergantung pasar luar |
Sumber : Hasil Analisis 2025
PEMBAHASAN
- Aspek Sumber Daya
Kabupaten Sukabumi memiliki potensi sumber daya alam yang sangat beragam, baik di sektor perikanan, pertanian, maupun pariwisata. Di wilayah pesisir seperti Pelabuhan Ratu, aktivitas perikanan menjadi tulang punggung ekonomi dengan hasil tangkapan utama seperti ikan layur, tuna, dan tongkol (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2023). Para nelayan menggunakan teknologi modern seperti GPS dan sonar untuk meningkatkan hasil tangkapan, meskipun masih bergantung pada kondisi cuaca. Selain itu, sektor pertanian dan perkebunan juga berkembang pesat dengan komoditas unggulan seperti padi, teh, dan kelapa sawit yang menjadi andalan daerah.
Di bidang pariwisata, Sukabumi menawarkan berbagai destinasi unggulan yang memanfaatkan kekayaan alam dan budaya. Geyser Cisolok dan Goa Lalay menjadi daya tarik geowisata yang telah diakui UNESCO sebagai bagian dari Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (UNESCO, 2021). Selain itu, Kampung Adat Sinaresmi menawarkan pengalaman wisata budaya dengan sistem pertanian tradisional yang berkelanjutan. Namun, eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali, seperti penambangan dan alih fungsi lahan, dapat mengancam kelestarian lingkungan jika tidak dikelola secara bijak.
Keberagaman sumber daya alam di Sukabumi juga diimbangi dengan tantangan pengelolaan yang kompleks. Misalnya, aktivitas pertambangan di hulu Sungai Cimandiri telah menyebabkan sedimentasi dan meningkatkan risiko banjir di wilayah hilir (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi, 2023). Di sisi lain, sektor pariwisata menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan terpadu yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta untuk memastikan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Pada intinya yaitu Kabupaten Sukabumi termasuk pada wilayah yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari potensi kelautan di TPI Pelabuhan Ratu, pertanian tradisional di Kampung Adat Sinarresmi, hingga fenomena geothermal di Geyser Cisolok. Namun, kekayaan ini diiringi oleh tantangan kompleks dalam pengelolaan berkelanjutan. Aspek sumber daya menunjukkan bahwa meskipun setiap lokasi memiliki keunggulan komparatif (seperti perikanan di pesisir dan pertanian organik di pedalaman), eksploitasi berlebihan dan degradasi lingkungan mengancam kelestariannya. Aktivitas tambang ilegal di hulu sungai, misalnya, tidak hanya merusak DAS Cimandiri tetapi juga memperparah risiko bencana banjir di hilir.
- Aspek Kebencanaan
Kabupaten Sukabumi termasuk wilayah yang rentan terhadap berbagai bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, dan tsunami (BNPB, 2023). Banjir yang terjadi di sepanjang Sungai Cimandiri, misalnya, dipicu oleh curah hujan tinggi, sedimentasi, dan alih fungsi lahan di hulu. Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur dan lahan pertanian, tetapi juga mengancam nyawa dan mata pencaharian masyarakat. Sementara itu, wilayah pesisir seperti Pantai Karanghawu berisiko tinggi terhadap tsunami akibat lokasinya yang berdekatan dengan zona subduksi aktif di selatan Jawa.
Upaya mitigasi bencana di Sukabumi sudah mulai dilakukan, tetapi masih terdapat banyak tantangan. Pembangunan tembok penahan ombak di Pantai Karanghawu dan pembersihan sampah di daerah aliran sungai merupakan langkah positif (BPBD Kabupaten Sukabumi, 2023). Namun, kesadaran masyarakat tentang risiko bencana masih rendah, sebagian karena persepsi bahwa bencana adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Sosialisasi dari BPBD dan BMKG tentang tanda-tanda bencana serta langkah evakuasi perlu ditingkatkan, terutama di daerah rawan seperti Kampung Adat Sinaresmi yang pernah dilanda tanah longsor.
Pasca-bencana, respons pemulihan di Sukabumi umumnya mengandalkan bantuan sosial dan gotong royong warga. Pemerintah menyediakan bantuan sembako dan perbaikan infrastruktur, tetapi program jangka panjang untuk membangun ketahanan masyarakat masih kurang (Disaster Risk Reduction Forum, 2023). Misalnya, banyak rumah di daerah rawan bencana yang belum memenuhi standar bangunan tahan gempa atau longsor. Oleh karena itu, perlu ada integrasi antara mitigasi bencana dalam perencanaan pembangunan, termasuk pelatihan masyarakat, penguatan early warning system, dan pembangunan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan ancaman bencana.
Aspek kebencanaan menegaskan bahwa Sukabumi adalah "laboratorium bencana" dengan ancaman multidimensi, mulai dari tsunami di pesisir, banjir bandang di daerah aliran sungai, hingga longsor di perbukitan. Meskipun upaya mitigasi berbasis kearifan lokal (seperti terasering dan lumbung pangan) telah dilakukan, kapasitas adaptasi masyarakat masih terbatas akibat kurangnya infrastruktur pendukung dan sistem peringatan dini yang terintegrasi.
- Aspek Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan di Kabupaten Sukabumi masih sangat bergantung pada sektor perikanan dan pertanian tradisional. Masyarakat pesisir seperti di Pelabuhan Ratu menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan ikan (FAO, 2022) sementara wilayah pedalaman seperti Kampung Adat Sinaresmi mengandalkan pertanian padi huma dan produksi gula aren. Namun, ketergantungan pada cuaca dan fluktuasi harga pasar membuat stabilitas pasokan pangan rentan terganggu. Selain itu, akses terhadap pangan bergizi masih terbatas, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah di daerah pesisir.
Sistem pertanian tradisional yang diterapkan di beberapa wilayah, seperti Kampung Adat Sinaresmi, menunjukkan pendekatan yang harmonis dengan alam. Dengan menanam padi huma hanya sekali setahun, masyarakat setempat mampu menjaga kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem (Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, 2023). Namun, metode ini memiliki produktivitas yang terbatas dan kurang mampu memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Di sisi lain, urbanisasi dan alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman atau pertambangan juga mengancam ketahanan pangan jangka panjang.
Upaya untuk memperkuat ketahanan pangan di Sukabumi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah daerah perlu memperluas program bantuan pangan dan pelatihan pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas (Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat, 2023). Selain itu, pengembangan UMKM berbasis produk lokal, seperti keripik pisang dan gula aren, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendiversifikasi sumber pangan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta juga diperlukan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih resilien dan berkelanjutan.
Dari sisi ketahanan pangan, wilayah ini menghadapi ketimpangan antara daerah yang mandiri pangan (seperti Sinarresmi dengan lumbung padinya) dan wilayah yang masih bergantung pada pasokan eksternal (seperti kawasan pesisir yang fluktuatif hasil tangkapannya). Gangguan iklim dan bencana semakin memperlemah stabilitas pangan, terutama di daerah rawan seperti Jembatan Cidadap yang sering mengalami gagal panen akibat banjir. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pangan, penguatan cadangan komunitas, dan pemanfaatan teknologi penyimpanan tradisional-modern menjadi solusi krusial.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahap I di Kabupaten Sukabumi, dapat disimpulkan bahwa wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat beragam, mulai dari perikanan, pertanian, geowisata, hingga energi panas bumi. Namun, keberagaman tersebut tidak sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dan masih dihadapkan pada tantangan serius seperti alih fungsi lahan, degradasi lingkungan, serta ancaman bencana alam yang tinggi. Observasi di beberapa lokasi menunjukkan adanya ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya, yang dapat berdampak pada stabilitas ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Dari aspek kebencanaan, Kabupaten Sukabumi merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai jenis bencana, baik hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang, maupun bencana geologi seperti gempa bumi dan longsor. Tingginya risiko ini menuntut adanya strategi mitigasi bencana yang lebih komprehensif dan berbasis pada pemanfaatan data spasial. Selain itu, integrasi teknologi penginderaan jauh terbukti dapat meningkatkan pemahaman mengenai sebaran risiko bencana dan tutupan lahan yang rawan, sehingga menjadi landasan penting dalam perencanaan pembangunan wilayah yang tangguh terhadap bencana.
Dalam sisi ketahanan pangan, hasil dari KKL kami menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Sukabumi telah memiliki sistem pangan mandiri berbasis kearifan lokal, seperti di Kampung Adat Sinarresmi. Namun demikian, wilayah pesisir dan daerah yang sering terdampak bencana masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari luar dan belum memiliki sistem cadangan pangan yang kuat. Untuk itu, perlu adanya upaya diversifikasi pangan, perlindungan lahan produktif, serta penguatan sistem distribusi dan penyimpanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan bencana.
Sebagai saran, penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan lainnya lebih mengintegrasikan teknologi penginderaan jauh dalam proses perencanaan tata ruang dan pengelolaan sumber daya. Pendekatan partisipatif berbasis masyarakat juga perlu diperkuat, terutama dalam edukasi kebencanaan, pelestarian lingkungan, dan ketahanan pangan lokal. Selain itu, pemetaan risiko bencana dan tutupan lahan perlu dilakukan secara berkala dan diperbarui secara dinamis agar kebijakan yang diambil dapat responsif terhadap perubahan kondisi di lapangan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah terlibat baik yang memberikan dukungan maupun pendanaan pada penelitian ini terutama pada anggota kelompok 4 Kuliah Kerja Lapangan Tahap 1 Pendidikan Geografi 2024. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Riko Arrasyid, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Dede Sugandi, M.Si., Dr. Bagja Waluya, S.Pd., M.Sc., Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T. dan Bapak Andy Wibawa Nurrohman, S.Pd., M.Sc. atas masukan berharga yang membantu penyempurnaan artikel ini.
DAFTAR RUJUKAN
Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat. (2023). Program ketahanan pangan berbasis komunitas 2023. BKP Jabar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2023). Peta risiko bencana Kabupaten Sukabumi. BNPB.
BPBD Kabupaten Sukabumi. (2023). Laporan mitigasi bencana pesisir tahun 2023. BPBD Sukabumi.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. (2023). Laporan produksi perikanan tahunan 2023. Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi. (2023). Studi dampak penambangan di daerah aliran Sungai Cimandiri. DLH Sukabumi.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi. (2023). Sistem pertanian tradisional di Kampung Adat Sinaresmi. Dinas Pertanian Sukabumi.
Disaster Risk Reduction Forum. (2023). Post-disaster recovery assessment in West Java. DRRF Indonesia.
Food and Agriculture Organization (FAO). (2022). Fisheries and food security in coastal communities: Indonesia case study. FAO.
Herlina, N., & Sari, D. P. (2023). Analisis potensi sumber daya alam dan keberlanjutan lingkungan di Kabupaten Sukabumi. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 13(2), 245-258. https://doi.org/10.29244/jpsl.13.2.245-258
Pratama, R. A., Setiawan, B., & Wijaya, I. (2024). Mitigasi bencana dan dampaknya terhadap sistem ketahanan pangan di wilayah rawan bencana. Jurnal Manajemen Bencana, 10(1), 87-102. https://doi.org/10.25077/jmb.10.1.87-102
Purwanto, M. N. (2010). Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=307149
Riajaya, H., & Munandar, A. I. (2020). Strategi peningkatan ketahanan pangan dalam meminimalisasi stunting di Kabupaten Sukabumi. Jurnal AGRISEP: Kajian Masalah Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 19(2), 201-216. https://doi.org/10.31186/jagrisep.19.2.201-216
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1237486
Susanto, A., Handayani, M., & Kurniawan, T. (2023). Peran hutan dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat sekitar: Studi kasus di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 12(3), 312-325. https://doi.org/10.18330/jwallacea.2023.vol12iss3pp312-325
UNESCO. (2021). Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark: Annual conservation report. UNESCO Publishing.
Wulandari, S., Fitriani, A., & Rahman, D. (2024). Diversifikasi pangan lokal sebagai strategi ketahanan pangan berkelanjutan di daerah rawan pangan. Jurnal Pangan, 33(1), 45-62. https://doi.org/10.33964/jp.v33i1.645