Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
PRODI SaIG: PRAKTIK DUNIAWI

Penulis: Nadiya Khansa (SaIG, 2403216)

Penyunting: Nanda Herry Fadillatu Yasmin

Dompet Kosong Nyaring Bunyinya

Bahwasannya hati

dikuasai oleh otak

yang maha berpikir.

Bahwasannya sukar

dikuasai oleh syukur

yang maha lapang.

Esok tanggal gajian,

dompet

diisi oleh angin

atau rindu?

Atau tunjangan hidup

entah siapa punya?

Terjajah Negeri

Aku persembahkan:

Untuk mereka

yang rutin menduga

rakyat jelata

adalah kaya bergelimang sutra.

Di era kemiskinan

yang menjalar sampai nadi,

sempoyongan aku berjalan

meniti sisa mimpi.

Pembodohan menjamur,

pendidikan serasa

diujung tanduk,

setan takluk.

Begini rasanya dijajah.

Pidato Soekarno rasanya

bukan apa-apa.

Saat wacana terlontar,

dari penjajah itu sendiri.

Dari dahulu kami

sudah dibudak-gerilya

disiksa

disabit

dicuri

samasekali.

Hanya kayu bakar tersisa.

Nenek moyang yang malang,

pemudi-pemuda

semakin jauh dari

penghidupan yang

mendarat, di tanah jelata.

Ia Meminum Belati, 3 Kali Sehari

Saban hari Ia menelan

duri mawar

dan menembus

hatinya yang berdebar

mati-matian.

Kemarin saat Kau

membujuknya untuk berdoa

sekali lagi,

sekali lagi..

sekali lagi.

Matanya diliputi niscaya,

lagi,

lagi..

lagi.

Sabtu ini serasa cuma khayalan,

sangsi Ia membangunkan.

Sementara

malam semakin masam,

dikoyak pagi

Ia terpejam dalam suram.

Membasuh wajah

air menikam pedih-peri.

Tak manjur?

Maka esok Ia ke dokter

yang katanya

punya belati

lebih sukar dari melati,

dan lebih brengsek

dari mati.

Peradaban

Tahun mencekam

gelisah dan basah

tulang pipinya rusak

hidung terpisah

mata semakin merah.

Diperkuda oligarki

Ia menantang mentari,

juga rembulan

yang menyembunyikan

kerabat-sanak.

Nama-nama terkapar

di aspal kasar.

Jiwa-jiwa terapung.

Laut tak bernama

penuh dengan tubuh

nun jauh.

“Esok, kamu turun lagi?”

“Iya, Bu. Masih ada peradaban

di jendela rumah.”

Nasib adalah nasib.

Ia terkubur

bersama suaranya

yang siapapun

takmampu lagi

mendengarnya.

“Setidaknya aku

mati dalam perjuangan..”

Perkembalian

Pada akhirnya

saat

bumi terbelah

kawah langit runtuh

semesta kembali

ke pangkuan-Nya.

Niscaya hanya Ia

yang kau cari

selama

lebih dari 1000 tahun lamanya.

Jendela Mata.

Aku duduk di jendela

yang bertengger

di matanya.

Menyusuri setiap sel,

tulang,

dan dinding jantungnya

yang lemah.

Saat membuka pintu,

benar bahwa aku percaya,

dan menelan tak sangsi

janji yang itu-itu lagi.

Sunyi muncul di temaram.

Aku ditemani siapa?

Saat sepi berkawan

dan bertahan di kaki muram.

Aku pernah melihatmu

di suatu jendela

rumahnya penuh kaca dan

kehangatan,

sedang aku digerogoti

suara asing

di malam rentan.

Tangan-tanganmu akhirnya

tak bisa kukecup,

sempurna sudah

Aku tenggelam

pada suatu gelap

tak berujung.

Merantau di Nama Asing

Dalam semalam

Aku membeku

Tanpa kecupsayang

dari Bibir

yang selalu kutunggu.

Apakah

dari kejauhan

terdengar sampai disana

remuk cahya purnama?

Temaram rumahnya

serasa makin pudar.

Sementara sengketa suara

tak ingin pergi dan mengakar.

Urailah Aku.

Hingga api biru mulai tergugu.

Dalam samudra rindu

yang menelenggelamkan haru.

November Rindu

Saat arah hilang dari

pandangan

dan malam

hanya diterangi bulan

menyusuri jalan berliku

Aku tahu

aku merinduimu.

Saat tak bersama

aku tak bisa menyapa

bahkan seekor kucing

yang selalu

meliuk di depan gerai.

Rasanya ingin sekali

berteduh

di matamu

yang gemerlapan

Dan menyantap

bakso hangat

dengan toping

hujan lebat

Maka kucuplah Aku

sampai musim

pergi ke hulu

hingga ke hilir

sanubariku.

Kerdip Cahaya: Ayah

Ia yang terlambat

berpikir matang,

dikoyak senja malang,

dan gagal mencapai menang.

Di langit yang sama

Ayah terluka sebab jam kerja

dan Ia terlelap dalam dahaga

mata yang kuyu

dan pundak yang layu.

Ayah tidak takut gelap,

tidak juga lolongan malam

yang buas.

Tidak banyak yang Aku tahu darinya.

Sedikit sekali Ia berkisah.

Namun yang pasti aku tahu,

Ia hanya khawatir

kami kehilangan figur Ayah.

Ia selalu sumringah

saat wajah kami menekuk.

Padahal di kalangannya

Ia dikenal judes, dan garang.

Kemasygulan tak

membuatnya melupa dunianya.

Bercengkerama hal yang serupa

sesekali, atau bahkan beribu kali.

Aku tidak takut apa-apa lagi.

Saat Ia menangkup

semesta pada genggamku.

Untukmu yang selalu Terdoakan.

Saat kedua tangan

tak mampu lagi melindungi,

maka niscaya, ku peluk dirimu

dengan doa di titik tersunyi.

Rindu menjamur dahsyat

di sekujur hayat,

Sementara Kau

semakin tak bisa ‘ku gapai.

Pada Malam yang tak lagi ‘ku kenal,

‘ku sebut namamu

dalam andai dan mangu.

Barangkali burung yang melayang-layang

di saban senja tenang

mampu mewarta

betapa biadabnya rindu ini

untukmu yang dekat

namun tak sempat ku erat.

Maka untukmu yang selalu

terdoakan..

Ketahuilah,

degup jantung ini

pada setiap purnama,

deras mengalir namamu,

kemilau cahyamu,

hangat tawamu..

“Ah, mungkin malam ini

Ia telah ingin

barangkali menyapaku”

Lalu ‘ku ketuk pintu mimpi,

dan berserah lagi

padamu

yang senantiasa ‘ku nanti.

Laut? Ujung Karsa.

Laut membawa tenang

seperti wangi

dedaunan yang gugur

saat gemerisik angin hablur

pada tubuhmu yang kabur.

Pada kesendirian

di hamparan pasir basah

Aku berdoa pada rembulan

agar menemu kita

pada malam yang merekah.

Lembaran senja,

terbit di surat kabar

rinduku. Sementara

Kamu terus membelah

sepi luasnya samudra,

pada sunyi yang merdeka.

Pada mataku

Kau tertelan ombak

dan dikubur kawah langit,

sedang Aku

terperangkap derai-derai pahit.

Malam ini rindu

menunggumu lagi

di pelabuhan

yang penuh kunang kenang.

Nirwana Punya Peran

Saat Kau jauh

yang ‘ku ingat hanya wajah

dan binar pandangmu.

Saat bercakap dengan senja

dalam cangkir kopi

yang sebentar lagi kandas,

tak sengaja

‘ku berdoa dengan

menyebut namanya.

Tidak 33x

Tidak 99x pula:

Benar hingga kembang

bersemi saat kemarau tiba.

Berkaca dihadap bayang hitam

luka ‘ku mendera

isi takdir dan menyelinap

membikin hati lebam.

Lalu ‘ku biarkan angin

membawa risau semalaman,

dan ‘ku biarkan

mawar nan melati

kuncup lagi bersama

sisa puing nafas ini..

Dalam pancaroba

semerbak namamu yang demokratis

tak etis meredakan bala

yang berdentum-dentum mistis.

Aniaya Asmaraloka

Setiap hari

Aku memakan

darah dan nanah

menahan

sunyi dan mati.

Gundah hingga lail,

gelisah memanggil-manggil.

Parau tak berakhir

‘ku tanya pada mata yang berair.

Kamu yakin

saat laut pasang menenggelamkan

hamparan kota,

Akulah yang kau telusuri,

hingga surutnya senja?

Gemerisik janji-janji

menjadi serapah yang cuma mimpi.

Di penghujung Surapati

‘ku masih menanti

ketika senyap mahabising

terasa tenang seperti

saat tubuhnya melindungi.

Arifin: Kota yang Malang.

Di hadapan: tata surya,

hiruk pikuk semestaraya,

merah putih yang terbenam

pada kaki tahun sembilan enam..

Kita bersumpah pada waktu

di suatu hari yang syahdu

menembus lara dan rindu

kita kembali menemu.

“Kenanglah kita, Arifin..”

‘ku merangkak di pagi buta

dengan rindu yang merdeka,

dan tubuhku berdahaga

akan kecupsayangmu.

Saban hari ‘ku mencoba musim,

dan pancaroba, namun

poni elok dan lentik jarinya

tak kunjung menyembul dari

penghujung Kayutangan.

Kau adalah Meraki.

Di Ujung Petaka, Sumatera Utara.

Siklus laut menghunus bumi manusia

luluh lantak tahta, dermaga,

jantung kota.

Diterjang air nyalang,

terseret malapetaka.

Malam dan siang sama saja,

perut hanya diisi doa yang lusuh.

Di ujung sederetan nyawa yang tergenang,

sunyi berkelindan,

ia berkhayal sijabat dikuasai nurani,

walau sekadar melempar

sekelumit beras basi.

Cakrawala mencekam,

nafas pengharapan tinggal sejengkal,

pada cahyaMu

ku melintang tertinggal.

Lumpur mencuat dan berpulang

ke rumahku.

Inikah saatnya kembali?

bertanya pada mayat yang sepi.

Apakah hidup

berhenti di sini?

Tak ada esok atau lain hari,

mentari mati rembulan pergi?

Ah! dalam remang miang ‘ku terkapar.

mengiris hati, kali ini

digadang-gadang sebagai

“Kota Zombie”

mungkin hari ini Aku mati,

sanakku juga.

Mereka tak peduli,

yang penting bukan mereka

yang terkuak takdir –

entah sial atau – menjadi

batu loncatan menuju surga abadi.

Di Suatu Malam Asing

Kemalangan dalam waktu,

hati makin keras, sukma kelu.

Jangan-jangan esok berita kematian

bertamu, salam tak perlu.

Rasanya di suatu malam asing

Aku melihatnya sedan tersedu

menahan isak dan rindu

entah kapan dapat digugu.

Suram serampangan

Ku membaca Laut Biru

agar pengar ini surut dan menyerah,

cengkrama sendiri, kian jengah.

Dirajam lebam dan luka

suara tersentak sekelibat maut taklagi fana.

Memaksa nafas berguna

mata terkantuk Aku tak lagi relevan pada dunia.

Tersesat di jalan muram durja

cahya rembulan bahkan tak sampai juga.

Merangkak saat hujan berpacu

bergeming saat senja melagu.

Lupa sadar. Lupa asalnya.

Lupa dunia hanya rekayasa.

Lupa nanti Ia dikepung mati.

Lupa jadi manusia seutuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *