
PADANG - Akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali mendiseminasikan hasil penelitiannya. Pada ajang The 2nd International Conference on Education, Sociology, Anthropology, and Communication (ICESAC) 2026 di Universitas Negeri Padang (UNP), tim peneliti UPI yang diketuai oleh Dr. Wilodati, M.Si., mempresentasikan hasil riset terbaru mereka mengenai pola pengasuhan berbasis kearifan lokal.
Presentasi yang diwakili oleh anggota tim, Dr. Mirna Nur Alia Abdullah, membawakan makalah bertajuk "Pancawaluya Ethno-Parenting: Strengthening Seven 'Great Indonesian Child' Character Traits in Adolescents Within the Family Environment". Riset ini berangkat dari kegelisahan bahwa pendidikan karakter saat ini masih sangat bergantung pada model pengasuhan Barat yang seringkali kurang relevan dengan konteks budaya lokal Indonesia.
Untuk mengisi kekosongan tersebut, tim peneliti mengeksplorasi konsep Pancawaluya, sebuah kearifan lokal budaya Sunda, untuk diintegrasikan sebagai pendekatan pengasuhan (ethno-parenting) di ranah keluarga. Tujuannya adalah untuk memperkuat tujuh karakter unggul "Anak Hebat Indonesia" pada usia remaja.
Melalui studi kasus kualitatif yang melibatkan orang tua, siswa, dan guru di salah satu SMA di Kabupaten Bandung, penelitian ini mengungkap bahwa nilai-nilai filosofis Pancawaluya berhasil diinternalisasi oleh orang tua melalui keteladanan sehari-hari (role modeling) dan penanaman kebiasaan yang berakar pada ruang dialog.

Tentu saja proses ini tidak lepas dari tantangan. Peneliti menjelaskan bahwa resistensi dari remaja dan kuatnya dominasi media sosial menjadi rintangan utama di rumah. Namun, kendala tersebut dapat diatasi melalui komunikasi yang persuasif serta penerapan aturan rumah tangga yang disepakati bersama antara orang tua dan anak.
Secara keseluruhan, ethno-parenting Pancawaluya terbukti mampu menjadi kerangka adaptif bagi pembentukan moral dan karakter remaja. Pendekatan ini berhasil mengubah tujuan abstrak pendidikan karakter nasional menjadi praktik nyata dalam rutinitas pengasuhan sehari-hari yang mengakar pada budaya.
Sebagai penutup, tim peneliti merekomendasikan agar kearifan lokal semacam ini tidak hanya berhenti di lingkup keluarga, tetapi diintegrasikan secara praktis dalam program sinergi kemitraan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ke depannya, riset serupa diharapkan dapat diperluas untuk mengkaji berbagai kearifan etnis lain yang tersebar di seluruh Indonesia.
