Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Spasialita Magazine Vol. 2: Solusi Geospasial untuk Kota dan Lingkungan

Penulis: Sri Dewi Wahyuni (SaIG, 2401190)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Kota terus tumbuh, lahan hijau perlahan menyempit. Di tengah situasi itu, peta tidak lagi sekadar gambar lokasi. Peta menjadi alat untuk membaca kondisi lingkungan, merencanakan ruang, dan mengambil keputusan yang lebih bijak. Dari gagasan itulah Komunitas SCALE menghadirkan Spasialita Magazine Volume 2. Ini merupakan program kerja kedua kami setelah penerbitan edisi pertama. Edisi kali ini mengangkat tema “Green Mapping: Solusi Geospasial untuk Kota dan Lingkungan”. Lewat tema tersebut, kami ingin menampilkan beragam sisi geospasial dalam satu majalah, dari analisis jaringan sampai globe tiga dimensi. Lebih dari sekadar publikasi, edisi kali ini adalah manifestasi dari semangat kolaborasi lintas disiplin di dunia geospasial.

Dok. Penulis

Empat bab, empat cara membaca ruang

Hasil Kegiatan Rutin Komunitas (KRK) dari setiap komunitas menjadi satu bab dalam majalah. Setiap bab punya judul besar dan fokus pembahasan tersendiri.

Bab pertama, “Smart Mobility Network”, dari komunitas IMAGIS. Bab ini mengangkat pertanyaan yang dekat dengan hidup sehari-hari “Apakah fasilitas di Kabupaten Sleman sudah merata?” Jawabannya dicari melalui network analysis. Metode ini tidak mengukur jarak lurus di peta. Ia menghitung rute dari jaringan jalan yang sebenarnya. Dari analisis closest facility dan service area, pembaca diajak melihat “titik buta” akses rumah sakit. Ada wilayah yang secara administratif dekat, tetapi secara waktu tempuh jauh dari layanan kesehatan. Bab ini juga mengaitkannya dengan konsep Green Network, yaitu jaringan ruang hijau yang terhubung dengan fasilitas kota.

Dok. Penulis

Bab kedua, “Blue Inside”, dari komunitas RASTER. Fokusnya adalah NDTI atau Normalized Difference Turbidity Index. Indeks ini membaca kekeruhan air dari citra satelit. Bab ini membawa kita ke Selat Bengkalis di Riau dan mengamati perubahannya dari tahun 2022 sampai 2025. Pengolahannya menggunakan perangkat lunak Google Earth Engine. Ditemukan hal menarik, yakni alur utama selat tetap menjadi bagian paling keruh dari tahun ke tahun, sedangkan laut terbuka cenderung jernih. Bab ini ditutup dengan pesan bahwa menjaga Selat Bengkalis bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat dan pelaku usaha. 

Dok. Penulis

Bab ketiga, “Unseen Green”, dari komunitas WGS 84. Lokasi pengambilan data berada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda di Bandung. WGS 84 membahas fotogrametri melalui drone multispektral. Foto-foto udara yang saling tumpang-tindih disatukan menjadi orthomosaic. Dari sana dihitung indeks vegetasi seperti NDVI, lalu dipetakan. Hasilnya memperlihatkan bagian vegetasi yang rapat dan sehat, juga area permukiman dan badan air yang bernilai rendah. Informasi ini lalu dikaitkan dengan konsep Green Campus.

Dok. Penulis

Bab keempat, “Rising Terrain”, adalah bab yang kami kerjakan sendiri sebagai SCALE, dengan judul isi “Ketika Peta Menjadi 3D”. Peta datar memiliki keterbatasan karena bumi yang bulat harus diproyeksikan ke bidang dua dimensi, dan proses itu selalu menimbulkan distorsi. Globe 3D menjadi jawabannya. Kami mengolah data spasial di QGIS, mengekspornya ke SVG, lalu membangunnya menjadi globe di Blender. Daratan dipotong, dilengkungkan, dan ditempelkan ke permukaan bola, setelah itu kami menambahkan warna, grid, pencahayaan, dan jalur kamera agar globe berputar halus. Hasilnya bukan alat ukur yang akurat, karena Blender belum mendukung sistem proyeksi. Namun, sebagai media visual, globe ini membuat data spasial terasa lebih hidup dan mudah dinikmati pembaca.

Dok. Penulis

Jika dibaca berurutan, keempat bab ini membentuk satu cerita. Ada akses kota, kualitas air, ruang hijau, dan cara baru menyajikan peta. Semuanya berpusat pada satu pesan: data geospasial bisa membantu kita merawat kota dan lingkungan.

Empat tim di balik layar

Seluruh pengurus SCALE dikerahkan dan dibagi menjadi empat tim.

Tim Koordinator yang terdiri dari Sri Dewi, Ibrahim, dan Dea Vita, menjadi penghubung dengan komunitas kolaborator. Mereka memastikan pengerjaan majalah tetap berjalan lancar pada setiap timnya.

Tim Editorial yang diisi oleh Raditiya Hanif sebagai ketua tim, serta Rakha Raditiya, Isfan Fierzan, dan Shalom Laura sebagai anggota tim. Tim editorial ini berfokus pada penyusunan markdown dan alur cerita majalah. Mereka memastikan materi teknis dari empat komunitas tetap enak dibaca oleh pembaca umum.

Tim Geospatial Expert yang diketuai oleh Alya Mauliany serta Brandon Indrawan dan Dea sebagai anggota tim. Tim ini mengolah data dan membuat visualisasi peta dari data yang sudah diberikan dari komunitas lain. Dari tangan merekalah data mentah menjadi peta yang informatif.

Tim Design menjadi titik inti seluruh pengerjaan. Semua materi bersatu di sini. Tata letak, warna, tipografi, dan ilustrasi diatur agar bab-bab dari komunitas berbeda tampil menyatu sebagai satu majalah. Tim design ini diketuai oleh Gina Febyanti dengan anggota Faraz Nagita dan Haidar Danish.

Spasialita Magazine Volume 2 membuktikan bahwa kolaborasi bisa menghasilkan karya yang lebih kaya. Empat komunitas, empat tim kerja, dan satu tema besar bertemu dalam satu majalah. Kami berharap kerja sama ini mempererat hubungan antarkomunitas dan menjadi bekal bagi generasi SCALE berikutnya untuk melanjutkan majalah ini. 

Terima kasih kepada Komunitas IMAGIS, RASTER, dan WGS 84 yang sudah berkolaborasi penuh. Terima kasih juga kepada seluruh pengurus SCALE di tim koordinator, editorial, geospatial expert, dan design yang telah berkontribusi sepenuh hati. Tanpa kerja bersama, majalah ini tidak akan terwujud.

Sampai jumpa di edisi berikutnya!

Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *