Penulis: Bambang Arie Rusyandi (SaIG, 201746)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis
Kalau boleh jujur, perjalanan skripsi saya tidak pernah benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Jauh sebelum penelitian ini dimulai, saya sebenarnya sudah memiliki rencana untuk mengangkat topik mengenai kesehatan vegetasi. Saat itu saya mulai memikirkan arah penelitian, data yang akan digunakan, hingga bagaimana nantinya penelitian tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah skripsi. Namun, ternyata rencana tersebut tidak bertahan lama. Sebuah diskusi bersama kelompok skripsi saya, Nauval Hanif dan Dafa, justru membawa saya ke arah yang sama sekali berbeda.
Dalam proses mencari dan menentukan topik penelitian, kami berdiskusi dengan Pak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. dan mendapatkan informasi mengenai sebuah topik yang saat itu terasa cukup baru dan menarik, yaitu 3D Modelling menggunakan metode 3D Gaussian Splatting. Awalnya saya benar-benar belum familiar dengan metode tersebut. Saya masih mencoba memahami apa itu 3D Gaussian Splatting, bagaimana cara kerjanya, bagaimana data harus diambil, hingga bagaimana nantinya data tersebut dapat diolah menjadi sebuah model tiga dimensi. Dibandingkan dengan topik kesehatan vegetasi yang sebelumnya sudah saya pikirkan, topik ini terasa seperti memulai semuanya dari nol. Tetapi justru dari ketidaktahuan itu muncul rasa penasaran. Saya mulai berpikir bahwa mungkin tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru.
Akhirnya, saya memutuskan untuk mengubah arah penelitian. Dari yang awalnya ingin membahas kesehatan vegetasi, saya beralih ke 3D Modelling menggunakan metode 3D Gaussian Splatting. Keputusan tersebut menjadi awal dari perjalanan yang panjang. Saya mulai mencari berbagai referensi, mempelajari konsep yang belum pernah saya pelajari sebelumnya, memahami metode, menentukan kebutuhan data, hingga mencoba membayangkan bagaimana penelitian ini nantinya dapat diwujudkan di lapangan. Banyak hal yang harus saya pelajari dari awal dan tidak semuanya langsung dapat dipahami. Ada banyak kebingungan, banyak pertanyaan, dan banyak hal yang harus dicoba. Namun, perlahan saya mulai menemukan arah.
Setelah memiliki gambaran penelitian yang lebih jelas, saya mulai menyusun proposal skripsi. Proses ini menjadi perjalanan tersendiri. Saya harus menyusun latar belakang, mencari referensi, menentukan rumusan masalah, menyusun metode penelitian, hingga memastikan bahwa penelitian yang saya rancang benar-benar dapat dilaksanakan. Proposal yang awalnya hanya berupa sebuah ide perlahan mulai memiliki bentuk. Berkali-kali saya melakukan perbaikan, berdiskusi, melakukan bimbingan, menerima masukan, kemudian kembali membuka dokumen untuk memperbaikinya. Terkadang satu bagian yang saya pikir sudah selesai ternyata masih harus diperbaiki lagi. Namun, semua itu saya jalani karena saya tahu bahwa setiap revisi merupakan satu langkah menuju penelitian yang lebih baik.
Sampai akhirnya, hari yang ditunggu datang. Saya berhasil melaksanakan Seminar Proposal. Rasanya campur aduk. Ada rasa tegang karena harus mempresentasikan penelitian di hadapan dosen, ada rasa khawatir jika penelitian yang saya susun masih memiliki banyak kekurangan, tetapi ada juga rasa lega dan bangga karena berhasil melewati salah satu tahapan penting dalam perjalanan skripsi. Namun, saya sadar bahwa Seminar Proposal bukanlah garis akhir. Justru setelah sempro, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai.
Saya tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Hanya tiga hari setelah Seminar Proposal, saya langsung berangkat menuju Stone Garden Citatah untuk mengambil data penelitian. Semangat setelah sempro masih sangat tinggi dan saya ingin memanfaatkan momentum tersebut sebaik mungkin. Tidak ada alasan untuk menunggu terlalu lama karena saya tahu masih banyak tahapan yang harus diselesaikan. Saya ingin penelitian ini segera berjalan, bukan hanya berhenti sebagai proposal yang tersimpan di dalam laptop.

Dok. Penulis
Stone Garden Citatah menjadi tempat di mana penelitian yang selama ini hanya saya bayangkan dan tuliskan akhirnya benar-benar saya lakukan. Saya harus turun langsung ke lapangan, membawa peralatan, menyusuri lokasi, dan memastikan data yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan baik. Pengambilan data tentu tidak selalu berjalan semudah yang dibayangkan. Ada rasa lelah, kondisi medan yang harus dihadapi, cuaca, hingga berbagai hal teknis yang terkadang tidak sesuai dengan rencana. Tetapi saat itu saya hanya berpikir bagaimana caranya agar data yang saya peroleh bisa sebaik mungkin sehingga proses penelitian dapat terus berjalan.
Setelah data berhasil dikumpulkan, saya langsung masuk ke tahap berikutnya, yaitu pengolahan data. Di sinilah saya kembali menemukan tantangan baru. Data yang sudah saya perjuangkan di lapangan harus diolah hingga dapat menghasilkan model tiga dimensi menggunakan metode 3D Gaussian Splatting. Ternyata prosesnya tidak sesederhana yang saya bayangkan. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, ada hasil yang tidak sesuai harapan, ada proses yang harus diulang, dan ada kesalahan yang membuat saya harus kembali mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pada tahap inilah saya mulai memahami bahwa skripsi bukan hanya tentang menulis. Skripsi adalah tentang mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil, kemudian mencari tahu mengapa hal tersebut gagal. Tentang mengulang pekerjaan yang sudah dilakukan berjam-jam karena hasilnya belum sesuai. Tentang membuka berbagai referensi ketika sudah merasa tidak tahu harus berbuat apa. Tentang bertanya ketika tidak memahami sesuatu. Dan tentang tetap melanjutkan pekerjaan meskipun terkadang rasa lelah sudah mulai datang.
Di tengah proses pengolahan data, bimbingan juga terus berjalan. Setiap perkembangan penelitian saya bawa untuk didiskusikan. Setiap kekurangan diperbaiki, setiap kesalahan dikoreksi, dan setiap masukan menjadi bahan untuk membuat penelitian ini semakin baik. Hari-hari saya kemudian dipenuhi dengan pengolahan data, penulisan, membaca referensi, bimbingan, revisi, dan kembali mengerjakan apa yang masih kurang. Perlahan, penelitian yang awalnya hanya berupa proposal mulai berubah menjadi sebuah karya yang utuh.
Tentu saja perjalanan tersebut tidak selalu berjalan dengan semangat yang sama. Ada hari ketika saya merasa sangat bersemangat dan mampu mengerjakan banyak hal. Namun ada juga hari ketika rasanya membuka laptop saja sudah terasa berat. Ada saat ketika hasil pengolahan tidak sesuai harapan, revisi terasa tidak ada habisnya, dan muncul pertanyaan dalam diri sendiri apakah penelitian ini benar-benar bisa diselesaikan. Tetapi setiap kali rasa ingin menyerah itu datang, saya mencoba mengingat kembali sejauh apa saya sudah berjalan. Saya sudah berani mengubah topik, belajar sesuatu yang baru, menyusun proposal, melewati Seminar Proposal, turun ke lapangan hanya tiga hari setelah sempro, hingga berjuang mengolah data. Rasanya terlalu jauh untuk berhenti di tengah jalan.
Waktu terus berjalan. Sedikit demi sedikit, penelitian mulai menemukan bentuk akhirnya. Hal-hal yang sebelumnya terasa sulit mulai dapat dipahami. Data yang awalnya hanya berupa kumpulan hasil pengambilan di lapangan mulai berubah menjadi sebuah model. Tulisan yang sebelumnya penuh dengan catatan dan revisi mulai tersusun menjadi sebuah penelitian yang utuh. Dan tanpa terasa, saya mulai semakin dekat dengan tahap yang selama ini saya tunggu: sidang skripsi.
Sidang menjadi salah satu momen yang membuat saya kembali mengingat semuanya dari awal. Saya teringat bagaimana penelitian ini bahkan tidak pernah menjadi rencana awal saya. Saya teringat diskusi bersama Hanif, Nauval dan Dafa, pembicaraan dengan Pak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. mengenai 3D Gaussian Splatting, proses belajar dari nol, penyusunan proposal, Seminar Proposal, perjalanan ke Stone Garden Citatah, pengambilan data, proses pengolahan yang panjang, hingga berbagai bimbingan dan revisi yang telah saya lalui.
Ketika akhirnya saya berdiri untuk mempertanggungjawabkan penelitian tersebut di hadapan penguji, saya menyadari bahwa semua perjuangan selama ini memang memiliki tujuan. Skripsi yang dahulu terasa begitu asing kini menjadi sesuatu yang berhasil saya bawa sampai ke tahap akhir. Ada rasa tegang, tetapi di balik itu semua ada rasa bangga karena saya berhasil bertahan sampai titik tersebut.

Dok. Penulis
Setelah sidang selesai, perjalanan saya kemudian berlanjut hingga yudisium. Di titik itu saya baru benar-benar menyadari bahwa perjalanan skripsi ternyata bukan hanya tentang mendapatkan sebuah gelar. Ada begitu banyak hal yang saya pelajari selama proses tersebut. Saya belajar untuk berani mencoba sesuatu yang baru, belajar menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai rencana, belajar menghadapi kegagalan, belajar menerima kritik, belajar untuk bersabar, dan belajar untuk terus berjalan meskipun terkadang saya sendiri tidak yakin apakah saya mampu menyelesaikannya.

Dok. Penulis
Namun, saya juga sadar bahwa perjalanan ini tidak mungkin saya lewati seorang diri. Ada begitu banyak orang yang hadir di sepanjang perjalanan saya, baik melalui doa, arahan, ilmu, dukungan, maupun kepercayaan yang diberikan kepada saya. Karena itu, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Terima kasih atas segala doa, harapan, arahan, perhatian, serta bimbingan yang telah diberikan selama saya menjadi bagian dari Program Studi Sains Informasi Geografi. Setiap arahan dan nasihat yang diberikan menjadi salah satu bagian penting yang membantu saya untuk terus berkembang dan berprogress selama menjalani perkuliahan. Terima kasih karena telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada saya hingga akhirnya saya dapat menyelesaikan salah satu perjalanan terpenting selama menjadi mahasiswa. Saya mungkin tidak akan pernah mampu membalas seluruh kebaikan dan perhatian yang telah diberikan, tetapi saya akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan yang membawa saya sampai pada titik ini.

Dok. Penulis
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing pertama, dan Anisa Nabila Rizki Ramadhani, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing kedua, atas seluruh waktu, ilmu, kesabaran, arahan, masukan, koreksi, serta bimbingan yang telah diberikan kepada saya sejak awal hingga akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Terima kasih, Pak dan Bu, karena telah mendampingi saya dalam setiap proses, mulai dari ketika saya masih mencari dan menentukan arah penelitian, hingga menghadapi berbagai tantangan selama proses penyusunan dan pengolahan skripsi. Terlebih kepada Pak Ihsan, terima kasih telah membuka kesempatan bagi saya untuk mengenal dan mengembangkan penelitian mengenai 3D Gaussian Splatting yang akhirnya menjadi bagian penting dalam perjalanan skripsi saya. Setiap diskusi, arahan, koreksi, dan masukan yang diberikan menjadi bagian yang sangat berarti dalam proses saya belajar dan berkembang. Mungkin kata terima kasih tidak akan pernah cukup untuk membalas seluruh waktu, ilmu, dan kebaikan yang telah Bapak dan Ibu berikan, tetapi saya akan selalu bersyukur pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar, dibimbing, dan didampingi oleh Bapak dan Ibu hingga akhirnya saya mampu menyelesaikan perjalanan ini.
Untuk adik-adik tingkat yang nantinya akan menjalani skripsi, jangan terlalu takut sebelum benar-benar menghadapinya. Kalian mungkin akan mendengar banyak cerita tentang sulitnya skripsi, revisi yang tidak ada habisnya, bimbingan yang melelahkan, hingga penelitian yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, percayalah bahwa setiap perjalanan memiliki ceritanya masing-masing. Jangan takut jika topik berubah atau kalian harus mempelajari sesuatu yang sebelumnya tidak dipahami. Saya sendiri awalnya ingin meneliti kesehatan vegetasi, tetapi akhirnya justru beralih ke 3D Modelling dan 3D Gaussian Splatting, dan perubahan tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan saya. Ketika skripsi terasa berat, jangan terlalu memikirkan kapan semuanya akan selesai. Kerjakan saja satu per satu apa yang ada di depan mata, terus belajar, bertanya ketika tidak memahami, memperbaiki ketika salah, dan mencoba kembali ketika gagal. Jangan membandingkan perjalanan kalian dengan orang lain karena setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat selesai, tetapi siapa yang mampu bertahan hingga akhirnya menyelesaikan apa yang telah dimulai.
Pada akhirnya, perjalanan saya dimulai dari sebuah rencana yang berubah dan sebuah diskusi sederhana, kemudian membawa saya mengenal 3D Gaussian Splatting, menyusun proposal, melewati Seminar Proposal, tiga hari kemudian turun mengambil data di Stone Garden Citatah, mengolah data, menjalani bimbingan dan revisi, hingga akhirnya sampai pada sidang dan yudisium. Bagi saya, semua proses tersebut bukan sekadar perjalanan untuk mendapatkan gelar, tetapi perjalanan yang penuh dengan rasa lelah, takut, bingung, kecewa, semangat, bahagia, dan bangga. Dari sana saya belajar bahwa tidak semua perjalanan harus dimulai dengan kepastian. Terkadang kita hanya perlu berani mengambil langkah pertama dan terus berjalan, karena sesuatu yang awalnya tidak pernah kita rencanakan justru bisa menjadi salah satu perjalanan yang paling kita syukuri.
