Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Upaya Pencegahan Pernikahan Dini Melalui Edukasi dan Interaksi Sosial di Desa Pakuhaji, Ngamprah 

Pernikahan dini merupakan masalah sosial yang kompleks karena melibatkan berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga budaya. Berdasarkan laporan yang luas dipublikasikan oleh portal berita di media sosial, Indonesia masih dikategorikan dalam keadaan “darurat pernikahan dini.” Fenomena ini umum terjadi di daerah pedesaan dan pinggiran kota, di mana kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan nilai-nilai tradisional yang kuat menjadi faktor utama. Pernikahan di bawah usia 18 tahun tidak hanya menghambat perkembangan psikologis anak-anak tetapi juga berpotensi menyebabkan

dampak jangka panjang seperti kemiskinan struktural, kualitas sumber daya manusia yang rendah, dan kerentanan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. 

Mengingat urgensi ini, langkah-langkah pencegahan yang melibatkan masyarakat secara langsung diperlukan, terutama melalui kegiatan pendidikan dan peningkatan kesadaran sosial. Kegiatan pelayanan masyarakat yang dilaksanakan di Desa Pakuhaji merupakan manifestasi konkret dari upaya sinergis antara perguruan tinggi, lembaga pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun kesadaran bersama akan pentingnya menunda pernikahan hingga usia yang matang. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap fenomena sosial yang mereka alami sehari-hari. 

Program ini akan diselenggarakan pada tanggal 25 dan 26 Oktober 2025, di RW 08, Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 40552. Tim panitia terdiri dari dosen yang bertindak sebagai pembicara utama, mahasiswa sebagai anggota panitia lapangan, dan organisasi Generasi Berencana (GenRe), yang merupakan bagian dari lembaga di bawah Kantor Wilayah yang berfokus pada isu-isu pemuda dan kesehatan reproduksi. Acara ini dirancang untuk berlangsung selama dua hari, masing-masing dengan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik peserta.Hari pertama berfokus pada acara talkshow dengan tema “Mencegah Pernikahan Dini, Mewujudkan Generasi yang Terencana dan Terpelajar”. Kegiatan ini menampilkan dosen dan perwakilan GenRe sebagai pembicara. Mereka membahas berbagai aspek penting terkait pernikahan dini, mulai dari penyebab sosio-ekonomi dan konsekuensi psikologis hingga peran keluarga dan lembaga pendidikan dalam mengurangi jumlah pernikahan di usia muda. Sesi ini juga mencakup dialog interaktif, di mana peserta dapat mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, dan mendiskusikan strategi pencegahan yang sesuai dengan konteks sosial desa mereka. Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan bermain dan belajar bersama anak-anak setempat. Pendekatan ini diambil dengan tujuan menumbuhkan semangat belajar, membangun kepercayaan diri, dan memperkenalkan nilai-nilai pendidikan melalui metode yang menyenangkan. Komite mahasiswa berperan aktif dalam merancang permainan edukatif seperti kuis pengetahuan umum, simulasi karier, dan kompetisi kecil yang melatih kerja sama dan komunikasi. Dengan metode ini, anak-anak dapat belajar tentang pentingnya sekolah dan cita-cita tanpa merasa terbebani. 

Kegiatan ini mendapat respons yang sangat positif dari masyarakat Desa Pakuhaji. Berdasarkan data komite, jumlah peserta mencapai lebih dari 100 orang, jauh melebihi target awal sebanyak 30 peserta. Peserta terdiri dari remaja, orang tua, dan beberapa pemimpin masyarakat yang tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan hingga selesai. Antusiasme juga terlihat dari keaktifan peserta dalam sesi diskusi, di mana mereka berbagi pandangan dan pengalaman pribadi mengenai tekanan sosial untuk menikah di usia muda. Selain itu, kesuksesan kegiatan ini juga terlihat dari liputannya di media sosial. Dokumentasi kegiatan yang diunggah oleh panitia mendapatkan lebih dari 300 tayangan, melebihi target yang telah ditetapkan sebelumnya. Prestasi ini menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memiliki dampak langsung di lapangan, tetapi juga mampu memperluas jangkauan pesan edukatifnya melalui platform digital.

Respons komunitas juga sangat beragam namun umumnya positif. Beberapa warga mengakui bahwa kegiatan ini memperluas pemahaman mereka tentang risiko pernikahan dini dan pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Seorang warga bahkan mengatakan bahwa sebelumnya, banyak keluarga menganggap pernikahan dini sebagai cara keluar dari kesulitan ekonomi, tetapi setelah mengikuti kegiatan ini, pandangan mereka mulai berubah. Mereka menyadari bahwa pendidikan sebenarnya adalah cara yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan menghindari kemiskinan antar generasi. Dari sudut pandang komunitas, kegiatan ini juga memberikan pengalaman belajar sosial yang berharga. Mahasiswa yang terlibat menyatakan bahwa keterlibatan langsung dengan masyarakat membantu mereka memahami bagaimana teori-teori sosiologi dan pendidikan yang dipelajari di kampus dapat diterapkan dalam konteks dunia nyata. Hal ini sejalan dengan semangat Kampus Merdeka, yang menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis masyarakat. 

Kegiatan pelayanan masyarakat di Desa Pakuhaji, Ngamprah, menunjukkan bahwa pendidikan partisipatif dan interaksi sosial dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah pernikahan dini. Kesuksesan kegiatan ini terlihat dari tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi, antusias peserta, dan dampak positif yang muncul baik secara langsung maupun melalui media digital. Meskipun menghadapi beberapa kendala teknis, semua kegiatan berjalan lancar berkat kerja sama yang solid antara panitia, narasumber, dan masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini menekankan bahwa perubahan sosial memerlukan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan. Pendidikan dan kesadaran kolektif merupakan kunci dalam membangun generasi muda yang berdaya dan beradab. Oleh karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga pemerintah, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar masalah sosial seperti pernikahan dini dapat secara bertahap diminimalkan melalui upaya pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan dan pemberdayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *