(Senin, 09 Maret 2026)
Penulis : Fakhri Ibrahim (SaIG, 1905408)
Penyunting : Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Saya mulai mengerjakan skripsi ini di tengah semester yang cukup padat, sementara masa studi yang tersisa untuk bisa menyelesaikan kuliah ini juga semakin menipis. Selain menyusun skripsi dan mengumpulkan data, saat itu saya juga sedang menjalani magang, mengikuti pelatihan bahasa Inggris untuk tes PTESOL, menyelesaikan sertifikasi internasional Coursera, mengambil sertifikasi penginderaan jauh, serta menyusun laporan akhir magang dengan expose hasilnya. Semua itu berjalan bersamaan, dan ada masanya saya bingung harus mendahulukan yang mana.

Gambar 1 Magang di Dinas Sumber Daya Air
Pada awalnya saya mencoba membuat semacam jadwal supaya semua kebutuhan itu bisa berjalan berdampingan, tapi pada praktiknya jadwal itu sering berantakan. Ada minggu-minggu di mana saya harus fokus penuh ke pekerjaan magang karena ada deadline target yang harus diselesaikan, sehingga progres skripsi jadi tertunda. Ada juga masa di mana saya harus menyisihkan waktu untuk persiapan tes PTESOL dan menyelesaikan modul-modul di Coursera, yang meskipun bisa dikerjakan secara fleksibel, tetap memakan waktu yang tidak sedikit. Saya belajar bahwa semua syarat ini memang dirancang untuk melatih kemampuan mengatur prioritas, meskipun dalam praktiknya saya masih sering kesulitan mengaturnya dengan baik.
Proses pengumpulan data lapangan sendiri cukup menyita waktu. Saya perlu turun langsung ke beberapa titik di Kota dan Kabupaten Bekasi untuk mengambil sampel yang dibutuhkan. Ayah dan ibu saya selalu ada di setiap prosesnya, ayah sempat ikut mengantar dan menemani saya langsung ke lapangan, orang tua sama-sama memberi dukungan moral maupun materi sejak awal saya kuliah hingga skripsi ini selesai. Selain pengambilan sampel, saya juga harus mengolah data tersebut dengan berbagai perangkat lunak pengolahan data spasial, yang prosesnya tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya hasil pengolahan tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga saya harus mengulang beberapa tahapan dari awal, sesuatu yang cukup membingungkan mengingat waktu yang saya miliki sudah terbatas.


Gambar 2. Pengambilan Data Sampel Skripsi
Ada satu periode di mana saya benar-benar merasa sudah tertinggal jauh. Saat itu saya merasa persyaratan yang harus dipenuhi terlalu banyak dan waktu yang tersisa sudah tidak memungkinkan untuk mengejar semuanya. Saya sempat berpikir bahwa kalau memang harus drop out, saya sudah siap menerima itu sebagai konsekuensi, karena saya sendiri yang merasa sudah tidak bisa mengejar ketertinggalan tersebut.
Namun orang tua, Ketua Program Studi, serta dosen-dosen lain masih memberikan saya kesempatan untuk mencoba menyelesaikannya, sehingga saya memutuskan untuk mencoba sekali lagi, bukan karena yakin pasti berhasil, tapi karena masih ada pihak yang percaya saya bisa. Dari titik itu saya mencoba menata ulang cara kerja saya, tidak buru-buru menuntut hasil yang sempurna, tapi mulai mengerjakan sedikit demi sedikit, walaupun hasilnya belum jelas, yang penting ada progres yang bisa didiskusikan. Saya mulai membiasakan diri untuk datang bimbingan meskipun progres yang saya bawa belum banyak, karena saya sadar menunda bimbingan hanya karena merasa belum cukup siap justru akan membuat waktu semakin terbuang.
Saya juga berusaha lebih intens bimbingan dan menerima masukan dosen dengan serius. Salah satu hal yang saya ingat selama proses ini dari Bapak Lili Somantri, yang mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan momentum yang sudah diberikan, dan bahwa mengerjakan skripsi itu butuh komitmen, karena bukan hanya saya yang kesulitan, tapi juga pembimbing dan dosen lain yang ikut meluangkan waktu untuk membantu proses ini. Pesan itu membuat saya tidak menunda pekerjaan, dan perlahan membantu saya lebih disiplin menyelesaikan apa yang bisa dikerjakan hari itu juga, tanpa menunggu waktu yang lebih longgar.
Bapak Lili Somantri, selaku Ketua Program Studi sekaligus dosen pembimbing pertama saya, banyak memberi kesempatan dan dorongan motivasi selama masa perkuliahan sehingga skripsi ini selesai. Bapak Haikal Muhammad Ihsan, sebagai dosen pembimbing kedua, membantu memberikan masukan agar naskah ini bisa segera rampung, termasuk mengoreksi bagian-bagian teknis yang seringkali luput dari perhatian saya sendiri. Ada juga dosen wali akademik saya Ibu Asri Ria Affriani yang turut memperhatikan perkembangan akademik saya sejak awal semester. Selain itu, Ibu Siti Zahrotunisa dan Ibu Tiara Handayani, meskipun bukan pembimbing skripsi saya, tetap bersedia meluangkan waktu ketika saya bertanya banyak hal, baik soal magang, skripsi, maupun arah akademik saya ke depan.

Gambar 3. Pelaksanaan Yudisium
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Program Studi Sains Informasi Geografi beserta Ketua Program Studi, yang telah memberikan ruang, kesempatan, pengalaman dan kelonggaran bagi saya untuk tetap bisa menyelesaikan studi ini di tengah keterbatasan waktu yang saya hadapi. Tanpa kesempatan yang diberikan program studi, saya rasa proses ini akan jauh lebih sulit untuk saya selesaikan tepat pada waktunya.
Di rumah, kakak-kakak saya menemani proses ini dengan caranya masing-masing, entah sekadar menanyakan progres atau membahas hal-hal menyenangkan sebagai booster. Di kampus, beberapa teman menjadi rekan seperjuangan yang berproses bersama, saling membantu dan bertukar informasi soal penyelesaian skripsi, mulai dari format penulisan, maupun teknis pengolahan data. Teman-teman lain juga banyak membantu memberi pemahaman dan informasi terkait pengerjaan ini.
Semakin lama mengerjakan skripsi ini, saya menyadari bahwa kesulitan yang saya rasakan bukan sesuatu yang hanya saya alami sendiri. Hampir semua orang di sekitar saya melewati fase yang sama, entah soal waktu yang mepet, revisi yang berulang, atau harus membagi fokus dengan kegiatan lain. Saya melihat banyak orang lain yang kesibukannya jauh lebih padat dari saya, tapi tetap bisa melewatinya tanpa banyak mengeluh. Apalagi saya sudah diberi begitu banyak kesempatan dan dukungan dari berbagai pihak. Yang bisa saya lakukan hanyalah terus berjalan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya skripsi ini benar-benar selesai.
Saya sendiri bukan contoh mahasiswa yang menyelesaikan studi dengan cepat, jadi saya tidak ingin menggurui siapa pun soal bagaimana seharusnya menjalani proses ini. Kalau ada yang bisa diambil dari cerita ini, mungkin dari nasihat para dosen soal pentingnya komitmen dan tidak menunda-nunda kesempatan yang sudah diberikan, karena kesempatan seperti itu tidak selalu datang dua kali.

Gambar 4. Foto Bersama Setelah Yudisium