[Bandung] – Program Studi Manajemen Resort dan Leisure (MRL), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terus memperkuat perannya dalam pengembangan pariwisata berbasis ilmu pengetahuan melalui kegiatan Pelatihan Astrowisata di Desa Wisata Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Binaan UPI yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis edukasi dan keberlanjutan.
Pelatihan menghadirkan tim multidisiplin yang terdiri atas kolaborasi Dosen Program studi Manajemena Resort dan Leisure FPIPS UPI dan Dosen Program Studi Pendidikan Fisika FMIPA UPI, yaitu Dr. Fitri Rahmafitria, Dr. Yudistira Aria Utama, Widyastuti, S.Sos., M.P.Par, Armanda Redo Pratama, M.Sc, dan Cahyo Puji Asmoro, M.Si. Kolaborasi lintas keilmuan ini menjadi wujud implementasi pendekatan interdisipliner dalam mengembangkan produk wisata yang tidak hanya menarik secara rekreatif, tetapi juga memiliki nilai edukatif, ilmiah, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam paparannya, Dr. Fitri Rahmafitria menjelaskan bahwa astrowisata merupakan salah satu bentuk wisata minat khusus yang masih relatif baru di Indonesia, namun memiliki prospek besar untuk dikembangkan melalui dukungan perguruan tinggi. Menurutnya, pengembangan wisata astronomi tidak hanya berorientasi pada aktivitas mengamati benda langit, tetapi juga pada penciptaan pengalaman belajar yang bermakna melalui interpretasi ilmiah dan storytelling yang mampu menjelaskan fenomena astronomi kepada wisatawan. "Pengalaman wisata akan menjadi lebih bernilai ketika wisatawan tidak hanya melihat fenomena langit malam, tetapi juga memahami makna ilmiah, budaya, dan kearifan lokal yang menyertainya," jelasnya.
Sementara itu, Cahyo Puji Asmoro menyoroti pentingnya menjaga kualitas langit malam melalui pengendalian polusi cahaya (light pollution). Ia menjelaskan bahwa meningkatnya pencahayaan buatan di kawasan perkotaan menyebabkan semakin sulitnya pengamatan benda langit dengan mata telanjang maupun teleskop. Dalam konteks tersebut, Desa Wisata Alamendah memiliki potensi strategis karena kondisi langit malamnya masih relatif baik untuk kegiatan observasi astronomi.
Pengembangan astrowisata di Desa Wisata Alamendah juga menerapkan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), yang mana penyampaian materi tersebut disampaikan oleh dosen Prodi MRL Widyastuti, M.P.Par dengan melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi potensi langit gelap (dark sky), mendokumentasikan pengetahuan astronomi lokal, serta menyusun konsep wisata berbasis kearifan lokal. Melalui pendekatan partisipatif ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif sebagai mitra dalam mengembangkan destinasi wisata astronomi yang edukatif, berkelanjutan, dan berakar pada identitas budaya lokal.
Lebih lanjut, Armandha Redo Pratama, M.Sc memandu para tourb guide di Desa Wisata Alam Endah dalam mempraktikkan penyusunan paket wisata astronomi menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) untuk merancang produk wisata yang memiliki nilai edukasi, potensi pasar, serta model pengelolaan yang berkelanjutan. Pada perspektif pengembangan destinasi, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa astrowisata dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat desa. Melalui peningkatan kompetensi pemandu wisata, penyusunan narasi interpretasi, serta pengembangan paket wisata berbasis edukasi, masyarakat memperoleh peluang untuk menciptakan produk wisata bernilai tambah yang mampu memperluas lama tinggal wisatawan dan meningkatkan manfaat ekonomi lokal.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok sadar wisata, serta masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola destinasi yang berkelanjutan. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dapat berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas masyarakat melalui transfer pengetahuan dan inovasi.
Bagi Program Studi Manajemen Resort dan Leisure UPI, kegiatan ini menjadi implementasi nyata pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang mengintegrasikan kajian pariwisata, lingkungan, budaya, dan sains dalam satu ekosistem pengembangan destinasi. Astrowisata dipandang bukan sekadar produk wisata baru, tetapi juga sebagai media edukasi publik, konservasi langit malam, serta strategi pengembangan desa wisata yang adaptif terhadap tren pariwisata berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi MRL UPI berharap pengembangan wisata astronomi di Desa Wisata Alamendah dapat menjadi model kolaborasi akademik yang mampu menghasilkan inovasi pariwisata berbasis ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal secara berkelanjutan, sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).*
========
Instagram : @mrl.upi | @mrlproject | @desawisataa_alamendah