Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
[MRL UPI News] PENGABDIAN MASYARAKAT DOSEN PRODI MRL BERKOLABORASI DENGAN FISIKA UPI KEMBANGKAN WISATA ASTRONOMI BERBASIS BUDAYA SUNDA DI DESA WISATA ALAMENDAH

"Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat, Tim Dosen MRL UPI Mengembangkan Paket Wisata Sains-Budaya “Pranata Mangsa” dan Model Interpretasi Astronomi-Sunda"

Bandung – Program Studi Manajemen Resort dan Leisure (MRL), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan pariwisata berbasis ilmu pengetahuan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Wisata Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Kegiatan bertajuk “Pelatihan Astrowisata dan Pengembangan Paket Wisata Sains-Budaya Berbasis Budaya Sunda” ini diarahkan untuk menghasilkan produk wisata astronomi yang edukatif, berkelanjutan, dan memiliki keterkaitan kuat dengan kehidupan serta budaya masyarakat setempat.

Tim dosen pelaksana terdiri atas Dr. Fitri Rahmafitria, M.Si, Dr. Yudistira Aria Utama, M.Si, Armanda Redo Pratama, M.Sc dan Widyastuti, S.Sos., M.P.Par. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman, serta masyarakat, pemandu lokal, pengelola homestay, dan pelaku UMKM Desa Wisata Alamendah sebagai mitra dalam pengembangan produk wisata.

Foto 1. Sesi Diskusi Bersama Peserta Workshop (Dokumentasi, 2026)

Mengembangkan Astrowisata sebagai Wisata Sains dan Budaya

Pengembangan astrowisata dalam kegiatan ini tidak ditempatkan semata-mata sebagai aktivitas pengamatan bintang, tetapi sebagai pengalaman wisata yang mempertemukan astronomi dengan budaya Sunda. Gagasan tersebut dirumuskan melalui paket wisata “Pranata Mangsa” dengan tema “Membaca Bumi, Membaca Langit”. Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa dalam kosmologi Sunda lama, langit, bumi, dan manusia dipandang sebagai kesatuan yang saling berkaitan. Pengetahuan palintangan atau ilmu titen kemudian menjadi salah satu landasan narasi interpretasi, yaitu kebiasaan mengamati tanda-tanda alam dan langit untuk memahami arah, waktu, musim, serta kehidupan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, wisatawan diposisikan bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai peserta yang belajar membaca alam bersama masyarakat desa. Konsep ini menjadi pembeda utama paket wisata karena pengalaman astronomi dibangun melalui hubungan antara fenomena langit, lingkungan, aktivitas pertanian, pangan, arah, waktu, dan budaya Sunda.

Foto 2. Pematerian Interpretasi dan Aktivitas Paket Wisata Astronomi Sunda (Dokumentasi, 2026)

Luaran Utama: Paket Wisata “Pranata Mangsa” dan Model Interpretasi Astronomi-Sunda

Luaran utama kegiatan PkM adalah rancangan paket wisata sains-budaya “Pranata Mangsa” yang dilengkapi dengan model interpretasi makna astronomi-Sunda. Dokumen pengembangan paket tersebut merumuskan rangkaian pengalaman wisata selama dua hari satu malam, dengan setiap sesi memiliki makna filosofis, aktivitas wisatawan, peran pemandu lokal, serta integrasi STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Rangkaian kegiatan dirancang mengikuti alur relasi manusia–bumi–langit. Hari pertama dimulai dengan “Wilujeng Sumping: Ngabuka Tanda Alam”, yaitu aktivitas membuka kesadaran wisatawan terhadap lingkungan melalui pengamatan arah, cahaya, udara, dan tanda alam. Wisatawan menggunakan gnomon sederhana dan kompas untuk mengamati arah jatuhnya bayangan matahari serta memverifikasi orientasi arah. Aktivitas ini sekaligus memperkenalkan konsep titen sebagai praktik pengamatan cermat.

Sesi berikutnya, “Maca Taneuh: Taneuh nu Masihan Tanda”, menghubungkan pertanian dengan siklus alam. Wisatawan diajak menyusuri kebun stroberi dan lahan pertanian, mengamati kelembapan tanah, warna tanah, kondisi tanaman, serta mendiskusikan hubungan tanda-tanda tersebut dengan musim tanam. Konsep pranata mangsa digunakan sebagai narasi penghubung antara pengamatan langit dan aktivitas masyarakat di bumi.

Foto 3. Trekking Area Kawasan Wisata Astronomi (Dokumentasi, 2026)

Salah satu aktivitas yang menarik dari paket wisata astronomi Sunda ini yaitu adanya aktivitas trekking dan orientasi yang mengajarkan wisatawan menentukan arah mata angin berdasarkan posisi matahari, bayangan, dan tanda alam. Sesi ini menegaskan bahwa kemampuan membaca ruang dan arah menjadi dasar sebelum wisatawan membaca langit malam.

Foto 3. Sesi Pengamatan Lnagit Gelap (Dokumentasi, 2026)

Puncak pengalaman hari pertama adalah “Palintangan: Ngabaca Langit Sunda”, berupa stargazing dengan teleskop dan storytelling mengenai rasi bintang, termasuk Bentang Wuluku/Orion. Dalam sesi ini, langit dipahami bukan hanya sebagai objek astronomi, tetapi sebagai ruang pengetahuan dan narasi budaya. Wisatawan diajak mengenali rasi, memahami makna musim dan arah, serta mendengarkan cerita yang menghubungkan pengamatan langit dengan kehidupan masyarakat Sunda.

Integrasi STEM dalam Pengalaman Wisata

Keunggulan lain dari luaran paket “Pranata Mangsa” adalah integrasi STEM ke dalam aktivitas wisata tanpa menghilangkan karakter budaya Sunda. Unsur Science hadir melalui pengamatan matahari, bintang, planet, tanah, tanaman, dan lingkungan. Technology diterapkan melalui kompas, teleskop, peta langit, aplikasi pendukung, serta penggunaan lampu LED. Engineering muncul melalui praktik instalasi alat sederhana dan permainan yang menuntut keseimbangan, sedangkan Mathematics diterapkan melalui pengukuran sudut, arah, jarak, langkah, waktu, dan kebutuhan energi.

Integrasi tersebut menjadikan wisatawan sebagai pembelajar aktif. Mereka tidak hanya menerima informasi dari pemandu, tetapi melakukan pengamatan, mencoba alat, mencatat temuan, melakukan verifikasi, berdiskusi, membuat karya, dan melakukan refleksi. Dengan demikian, paket wisata berfungsi sekaligus sebagai media experiential learning.

   

Foto 4. Aktivitas STEM LED Rasi Bintang (Dokumentasi, 2026)

Penguatan Kapasitas Pemandu Lokal

Luaran kegiatan juga mencakup penguatan peran pemandu lokal sebagai interpreter. Pemandu tidak hanya bertugas menyampaikan informasi teknis, tetapi diarahkan untuk membangun alur cerita, mengajukan pertanyaan pemantik, memfasilitasi pengamatan, menghubungkan aktivitas STEM dengan budaya Sunda, serta mengarahkan wisatawan pada refleksi dan tindakan konservasi.

Dalam model yang dikembangkan, pemandu lokal berperan sejak wisatawan tiba di desa, memandu aktivitas membaca tanda alam dan tanah, menjelaskan hubungan pangan dengan siklus alam, memfasilitasi orientasi arah, memberikan briefing konservasi langit gelap, memandu stargazing dan storytelling rasi, hingga menutup pengalaman melalui sesi refleksi dan pengenalan produk UMKM.

Mendorong Nilai Tambah Ekonomi Masyarakat

Pengembangan produk juga dirancang agar masyarakat menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata. Pemandu lokal, pemilik homestay, pelaku UMKM, serta penyedia pangan dan produk lokal memperoleh ruang keterlibatan dalam setiap tahapan pengalaman wisata. Sesi pangan lokal, interaksi UMKM, penggunaan jasa pemanduan, akomodasi, dan pembelian produk lokal diharapkan menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat identitas destinasi.

Foto 5. Dokumentasi Foto Bersama Tim Dosen PKM dan Tour Guide Alamendah (Dokumentasi, 2026)

Kontribusi terhadap Tridarma dan Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan ini memperlihatkan peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam mengembangkan inovasi pariwisata yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus berakar pada budaya. Keterlibatan mahasiswa memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman, sementara kolaborasi dengan masyarakat membuka ruang penerapan pengetahuan akademik dalam konteks destinasi nyata.

Pada sisi pembangunan berkelanjutan, kegiatan diarahkan untuk mendukung pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan produk wisata dan keterlibatan masyarakat, pengelolaan destinasi yang lebih berkelanjutan, serta kemitraan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui kegiatan PkM ini, Program Studi Manajemen Resort dan Leisure UPI tidak hanya menghasilkan sebuah paket wisata astronomi, tetapi juga merancang sebuah pengalaman interpretasi yang menghubungkan manusia, bumi, dan langit melalui budaya Sunda. Paket “Pranata Mangsa” menempatkan wisatawan sebagai pembaca alam, pemandu lokal sebagai interpreter, mahasiswa sebagai pembelajar lapangan, dan masyarakat sebagai mitra utama pengembangan destinasi.*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *