Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
DARI PESISIR YANG RENTAN HINGGA DIRI YANG BELAJAR BERTAHAN

Rabu, 15 Juli 2026

Penulis: Iwan Fahmi ( SaIG, 2209409)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Menjadi mahasiswa tingkat akhir ternyata bukan hanya tentang menyelesaikan mata kuliah dan memenuhi kewajiban akademik. Ada satu tahap yang perlahan mengajarkan saya tentang arti tanggung jawab, yaitu menyelesaikan skripsi. Pada awalnya, saya menganggap skripsi hanya sebagai tugas akhir yang harus diselesaikan agar dapat memperoleh gelar sarjana. Namun, setelah menjalaninya sendiri, saya menyadari bahwa skripsi ternyata merupakan perjalanan yang jauh lebih panjang dan memberikan banyak pelajaran. Perjalanan tersebut saya jalani dengan berbagai perasaan. Ada saat ketika saya merasa percaya diri dengan penelitian yang saya kerjakan, tetapi ada juga saat ketika saya merasa bingung, lelah, bahkan meragukan kemampuan diri sendiri. Di tengah proses tersebut, saya mulai memahami bahwa menyelesaikan skripsi bukan hanya tentang kemampuan akademik. Ada kesabaran, konsistensi, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus mencoba ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Penelitian yang saya lakukan membahas identifikasi dampak pembangunan reklamasi terhadap kerentanan pesisir di wilayah Pantai Indah Kapuk I menggunakan metode Coastal Vulnerability Index. Ketertarikan terhadap topik tersebut muncul dari keinginan saya untuk memahami bagaimana perubahan wilayah pesisir akibat pembangunan dapat berkaitan dengan kondisi kerentanan lingkungan. Sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi, saya melihat bahwa fenomena tersebut dapat dikaji melalui pendekatan spasial dengan memanfaatkan berbagai data dan parameter fisik pesisir. Dari sanalah perjalanan penelitian saya dimulai. Saya mulai mencari dan membaca berbagai literatur, memahami data yang digunakan, mempelajari metode, mengolah data, membuat peta, hingga mencoba memahami bagaimana hasil penelitian tersebut dapat dijelaskan dengan baik.

Pada awalnya, saya mengira menentukan topik penelitian merupakan bagian yang paling sulit. Setelah menjalaninya, ternyata saya justru menyadari bahwa tantangan sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan penelitian tersebut sampai selesai. Sebuah topik yang sudah ditentukan tetap membutuhkan proses panjang untuk dapat menghasilkan penelitian yang baik. Banyak hal yang harus saya pelajari kembali. Setiap data memiliki karakteristik yang berbeda dan tidak semuanya dapat langsung digunakan. Saya harus memastikan data yang digunakan sesuai, memahami proses pengolahannya, melakukan analisis spasial, menentukan klasifikasi, hingga menyusun hasil penelitian agar dapat dipahami secara sistematis. Dalam proses tersebut, saya beberapa kali menemukan hasil yang belum sesuai dengan harapan. Ada data yang harus diperiksa kembali, ada tahapan pengolahan yang perlu diulang, dan ada bagian tulisan yang harus diperbaiki. Pada saat-saat seperti itu, saya sempat merasa bahwa pekerjaan yang sudah dilakukan menjadi sia-sia. Namun, semakin lama saya menjalani prosesnya, saya mulai memahami bahwa dalam penelitian, kesalahan dan revisi merupakan sesuatu yang wajar. Saya belajar bahwa penelitian tidak selalu berjalan lurus. Ketika satu masalah selesai, terkadang muncul masalah lainnya. Ketika merasa sudah memahami suatu bagian, masukan dari dosen dapat menunjukkan bahwa masih ada hal yang perlu diperbaiki. Awalnya, hal tersebut cukup membuat saya merasa tertekan. Namun, kemudian saya menyadari bahwa kritik dan revisi justru menjadi bagian penting dalam membuat penelitian menjadi lebih baik. Bimbingan menjadi salah satu bagian yang sangat menentukan dalam perjalanan skripsi saya. Melalui proses bimbingan, saya tidak hanya mendapatkan koreksi terhadap tulisan, tetapi juga belajar bagaimana menyusun pemikiran secara lebih terstruktur. Saya mulai memahami bahwa latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode, hasil, dan pembahasan harus memiliki hubungan yang jelas. Dari proses tersebut, saya belajar bahwa skripsi bukan sekadar mengumpulkan banyak informasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana memilih informasi yang benar-benar berkaitan dengan penelitian dan mampu menjelaskan permasalahan yang sedang dikaji. Ada masa ketika saya merasa sangat lelah. Pekerjaan yang dilakukan berulang kali terkadang membuat saya bertanya kapan semuanya akan selesai. Membaca literatur, mengolah data, membuat peta, menulis, mendapatkan revisi, kemudian memperbaikinya kembali merupakan bagian dari rutinitas yang harus saya jalani. Namun, saya kemudian mencoba mengubah cara berpikir. Saya tidak lagi terlalu memikirkan kapan skripsi akan selesai. Saya mencoba fokus pada pekerjaan yang dapat diselesaikan hari itu. Satu halaman, satu tabel, satu peta, atau satu bagian pembahasan mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus, semuanya akhirnya menjadi bagian dari skripsi yang utuh. Ketika semakin mendekati tahap akhir, saya mulai merasakan perubahan dalam diri saya sendiri. Hal-hal yang dahulu terasa sulit perlahan menjadi lebih familiar. Saya mulai lebih memahami penelitian yang saya lakukan dan lebih percaya diri ketika menjelaskan alasan di balik setiap tahapan analisis. Kepercayaan diri tersebut tidak muncul karena saya merasa sudah mengetahui semuanya. Justru, saya menyadari bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui. Namun, saya sudah lebih terbiasa menghadapi masalah dan mencari jalan keluarnya. Pada akhirnya, penyelesaian skripsi bagi saya bukan hanya tentang menghasilkan sebuah naskah penelitian. Di balik naskah tersebut terdapat banyak waktu yang dihabiskan untuk membaca, mengolah data, memperbaiki kesalahan, melakukan revisi, dan mencoba kembali ketika hasil belum sesuai. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk saya sebagai mahasiswa.

Setelah melalui seluruh proses tersebut, saya menyadari bahwa ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari skripsi. Pelajaran tersebut tidak semuanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Hal pertama yang saya pelajari adalah kesabaran. Saya belajar bahwa tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat. Ada proses yang memang membutuhkan waktu dan ketelitian. Ketika menghadapi masalah, memaksakan sesuatu untuk segera selesai justru terkadang membuat masalah menjadi lebih besar. Saya juga belajar tentang konsistensi. Tidak setiap hari saya memiliki semangat yang sama. Ada hari ketika saya sangat bersemangat mengerjakan skripsi, tetapi ada juga hari ketika rasanya sulit untuk memulai. Dari situ, saya belajar bahwa menyelesaikan sesuatu tidak selalu membutuhkan motivasi yang besar setiap hari. Terkadang, yang dibutuhkan hanya kemauan untuk tetap mengerjakan meskipun sedikit. Pelajaran lainnya adalah berani menerima kesalahan. Dalam proses penelitian, kesalahan mungkin tidak dapat sepenuhnya dihindari. Yang penting adalah bagaimana kita menyadari kesalahan tersebut dan berusaha memperbaikinya. Skripsi juga mengajarkan saya tentang tanggung jawab. Setiap data, metode, hasil analisis, dan kesimpulan yang saya tuliskan harus dapat dipertanggungjawabkan. Saya tidak bisa hanya mengikuti suatu langkah karena melihat orang lain melakukannya. Saya harus memahami alasan di balik apa yang saya kerjakan. Selain itu, saya belajar untuk tidak terlalu sering membandingkan proses diri sendiri dengan orang lain. Selama mengerjakan skripsi, tentu ada teman yang menyelesaikan lebih cepat. Ketika melihat teman sudah berada pada tahap yang lebih jauh, terkadang muncul perasaan tertinggal. Namun, setiap mahasiswa memiliki kondisi dan proses yang berbeda. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjuangan yang dilalui orang lain, sebagaimana orang lain juga tidak mengetahui seluruh perjuangan yang kita jalani. Karena itu, saya belajar bahwa yang paling penting bukan siapa yang paling cepat selesai, tetapi bagaimana kita mampu menyelesaikan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Skripsi juga membuat saya memahami bahwa kemampuan untuk menyelesaikan masalah jauh lebih penting daripada keinginan agar semuanya berjalan sempurna. Ketika menghadapi masalah, saya belajar untuk berhenti sejenak, mencari penyebabnya, kemudian mencari jalan keluar. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kemampuan teknis yang saya dapatkan selama mengerjakan skripsi memang penting. Namun, kemampuan untuk bertahan, menerima masukan, mengatur waktu, menyelesaikan masalah, dan tetap berusaha merupakan pelajaran yang akan saya bawa jauh setelah skripsi selesai.

Untuk adik-adik tingkat yang nantinya akan memasuki tahap penyusunan skripsi, saya ingin menyampaikan agar jangan terlalu takut sebelum memulainya. Skripsi memang tidak selalu mudah. Akan ada masa ketika kalian bingung menentukan topik, kesulitan mendapatkan data, mengalami masalah dalam pengolahan, mendapatkan banyak revisi, atau merasa penelitian yang dikerjakan tidak kunjung selesai. Namun, jangan menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Tidak perlu merasa harus langsung memahami semuanya. Tidak ada mahasiswa yang sejak awal langsung mengetahui seluruh proses penelitian. Semuanya dipelajari sedikit demi sedikit. Jika belum memahami suatu metode, pelajari. Jika belum mengerti cara mengolah data, cari tahu. Jika mendapatkan revisi, perbaiki. Jika melakukan kesalahan, jangan takut untuk mengulang. Jangan juga terlalu sibuk mencari penelitian yang terlihat sempurna. Pilihlah topik yang memang kalian pahami dan memungkinkan untuk dikerjakan. Penelitian yang sederhana tetapi dapat diselesaikan dengan baik jauh lebih baik daripada penelitian yang terlalu besar tetapi akhirnya sulit diselesaikan. Kemudian, jangan takut untuk bertanya kepada dosen. Bertanya bukan berarti kita tidak mampu. Justru dengan bertanya, kita dapat mengetahui kesalahan lebih cepat dan memahami penelitian dengan lebih baik. Ketika mendapatkan revisi, jangan langsung menganggap bahwa pekerjaan kalian buruk. Cobalah melihat revisi tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki penelitian. Saya juga ingin berpesan agar kalian tidak terlalu sering membandingkan diri dengan teman. Ada yang lulus lebih cepat dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Itu bukan berarti salah satunya lebih baik. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Jika suatu saat kalian merasa lelah, tidak apa-apa untuk beristirahat. Namun, setelah itu, cobalah kembali melanjutkan. Tidak harus langsung menyelesaikan banyak hal. Satu halaman pun tidak masalah. Yang penting tetap bergerak. Saya pernah berada di posisi ketika merasa ragu apakah penelitian ini dapat diselesaikan. Saya juga pernah merasa lelah dan ingin segera terbebas dari semua prosesnya. Namun, ketika akhirnya melihat kembali perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa setiap masalah yang pernah dihadapi ternyata dapat dilewati satu per satu. Jadi, jika suatu saat kalian merasa skripsi terlalu sulit, ingat bahwa kalian tidak harus menyelesaikannya dalam satu hari. Tidak perlu selalu berlari. Berjalan pun tidak masalah selama kalian tidak berhenti.

Perjalanan menyelesaikan skripsi ini tentu tidak saya jalani sendirian. Ada banyak orang yang memberikan bantuan, arahan, doa, dan dukungan sehingga saya dapat sampai pada tahap ini. Pertama, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Sc., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Terima kasih atas peran dan tanggung jawab yang telah diberikan dalam membangun dan menjaga lingkungan akademik di Program Studi Sains Informasi Geografi. Selama menjadi mahasiswa, saya menyadari bahwa program studi bukan hanya tempat untuk mengikuti perkuliahan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus. Bagi saya, Bapak Lili menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan akademik yang saya jalani. Selanjutnya, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membimbing saya selama proses penelitian. Terima kasih atas setiap masukan, koreksi, pertanyaan, dan arahan yang diberikan selama penyusunan skripsi. Saya menyadari bahwa tanpa bimbingan tersebut, penelitian yang saya lakukan mungkin tidak akan dapat berkembang seperti sekarang. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Ibu Dr. Alnidi Safarach Bratanegara, S.Kep., M.Si., selaku dosen pembimbing akademik, serta kepada seluruh dosen Program Studi Sains Informasi Geografi yang telah memberikan ilmu selama masa perkuliahan. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang selalu memberikan doa, perhatian, dan dukungan. Terima kasih karena tetap percaya ketika saya sendiri terkadang merasa ragu terhadap kemampuan saya. Terima kasih kepada teman-teman yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama kuliah. Ada banyak cerita, pengalaman, dan perjuangan yang telah dilalui bersama. Kehadiran teman-teman membuat perjalanan sebagai mahasiswa menjadi lebih berwarna. Ketika pertama kali memulai skripsi, saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan ini akan memberikan begitu banyak pelajaran. Saya pikir saya hanya perlu menyelesaikan penelitian, menyusun laporan, mengikuti sidang, kemudian mendapatkan gelar sarjana. Ternyata, kenyataannya jauh lebih dari itu. Skripsi membuat saya belajar mengenai kesabaran, tanggung jawab, konsistensi, keberanian menerima kritik, kemampuan menyelesaikan masalah, dan yang paling penting adalah bagaimana tetap berjalan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Revisi membuat saya belajar menjadi lebih teliti. Kesalahan membuat saya belajar untuk lebih berhati-hati. Kesulitan dalam pengolahan data membuat saya belajar mencari solusi. Pertanyaan dari dosen membuat saya belajar memahami penelitian sendiri. Kelelahan membuat saya belajar menghargai proses. Semua itu pada akhirnya membawa saya sampai pada satu titik yang dahulu terasa cukup jauh, yaitu menyelesaikan skripsi. Bagi saya, menyelesaikan skripsi bukan berarti saya sudah mengetahui semuanya. Justru setelah menyelesaikannya, saya semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui dan masih banyak hal yang harus saya pelajari. Gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar. Setelah lulus nanti, akan ada lingkungan baru, tanggung jawab baru, tantangan baru, dan mungkin kembali muncul rasa ragu seperti ketika pertama kali memulai skripsi. Namun, saya ingin membawa satu hal dari perjalanan ini, yaitu keyakinan bahwa sesuatu yang sulit tetap dapat diselesaikan apabila kita mau terus berusaha. Saya mungkin tidak selalu berjalan dengan cepat. Saya mungkin pernah berhenti untuk beristirahat. Saya mungkin pernah merasa ragu terhadap kemampuan sendiri. Namun, saya tetap melanjutkan perjalanan. Dan ternyata, itu sudah cukup untuk membawa saya sampai di titik ini. Jika ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada diri saya sendiri setelah menyelesaikan perjalanan ini, mungkin kalimatnya sederhana: “Ternyata saya mampu, hanya saja sebelumnya saya terlalu takut untuk percaya.” Skripsi telah selesai, tetapi perjalanan hidup tentu belum selesai. Setelah ini akan ada perjalanan berikutnya yang mungkin lebih sulit. Namun, saya ingin menjalaninya dengan bekal pengalaman yang telah saya dapatkan selama menjadi mahasiswa. Saya ingin membawa rasa ingin belajar, keberanian untuk mencoba, dan kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan. Pada akhirnya, saya tidak ingin hanya mengingat berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan skripsi. Saya ingin mengingat bagaimana saya belajar selama proses tersebut. Karena mungkin, nilai terbesar dari sebuah skripsi bukan hanya terletak pada naskah yang akhirnya selesai atau gelar yang diperoleh setelahnya. Nilai terbesar dari skripsi adalah pribadi yang terbentuk selama proses menuju penyelesaian. Dari keraguan, saya belajar percaya diri. Dari kesalahan, saya belajar memperbaiki. Dari revisi, saya belajar menerima masukan. Dari kelelahan, saya belajar bertahan. Dan dari perjalanan yang panjang ini, saya akhirnya belajar bahwa sebuah pencapaian tidak selalu dimulai dari keyakinan bahwa kita pasti berhasil. Terkadang, sebuah pencapaian justru dimulai dari seseorang yang masih merasa ragu, tetapi memilih untuk tetap mencoba. Saya adalah salah satu dari orang tersebut. Dan hari ini, saya bersyukur karena pernah memilih untuk tetap berjalan. Karena pada akhirnya skripsi bagi saya bukan hanya tentang mendapatkan gelar, melainkan tentang pribadi tangguh yang terbentuk selama prosesnya.

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *