Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Catatan dari Balik Layar Laptop Mahasiswa Akhir: Menyelami Skripsi, Memahami Keterbatasan Diri

Penulis: Ridho Alfi Mubarok (SaIG, 2206471)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Melihat sebuah dokumen final dengan nama file RIDHO ALFI MUBAROK_SKRIPSI PEMBUKUAN ditandatangani.pdf di layar laptop rasanya membawa kembali seluruh pusaran perjalanan yang telah saya lewati selama beberapa bulan terakhir. Ratusan halaman yang telah dibukukan itu bukan sekadar formalitas birokrasi kampus. Dokumen tersebut adalah saksi bisu dari sebuah perjalanan intelektual, pertarungan melawan ego dan idealisme diri sendiri, serta sebuah proses pendewasaan yang luar biasa.

Dok. Penulis

Skripsi yang saya tulis, "Pemodelan Spasial Multibahaya Seismik Skala Meso Berbasis Skenario Menggunakan OpenQuake Engine di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung: Studi Kasus Sesar Lembang, Cimandiri, dan Garsela", mengkaji anatomi patahan bumi dan potensi bahayanya. Namun, secara tidak langsung, proses pengerjaannya juga memaksa saya untuk membedah anatomi pikiran dan manajemen waktu saya sendiri. Tulisan ini adalah sebuah retrospeksi dari perjalanan tersebut.

Semuanya terasa begitu menjanjikan ketika tanggal 21 Januari 2026 tiba. Hari itu adalah hari pelaksanaan Seminar Proposal (Sempro). Berdiri di hadapan para dosen, memaparkan rancangan penelitian mengenai pemodelan multibahaya seismik dengan pendekatan geospasial, memberikan suntikan euforia yang luar biasa. Proposal disetujui, dan di momen itu, ada rasa percaya diri yang meluap-luap.

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Di awal perjalanan ini, saya dikuasai oleh sebuah idealisme yang naif. Sebagai mahasiswa yang terbiasa bergerak cepat, saya merasa memiliki kapasitas yang tak terbatas. Dalam pikiran saya saat itu, mengerjakan skripsi hanyalah satu dari sekian banyak deretan daftar tugas. Saya merasa bisa menggarap skripsi ini secara paralel bersamaan dengan mengerjakan hal-hal lain. Saat itu saya berpikir, "Ah, saya bisa kok mengerjakan skripsi sambil ambil proyek, lanjut magang, ngerjain tugas lain, atau ikut lomba-lomba."

Namun, realitas riset memiliki caranya sendiri untuk memberikan tamparan pelajaran. Memasuki fase pengolahan data, skripsi ini mulai menuntut haknya: fokus yang tak terbagi. Membangun Earthquake Rupture Model, merumuskan parameter sumber gempa, hingga menyusun Additional Site File untuk OpenQuake Engine bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan sisa-sisa tenaga di penghujung hari. Ketika script gagal berjalan, ketika visualisasi spasial orientasi patahan terasa janggal (seperti ketika strike 90 derajat secara keliru menampilkan orientasi utara-selatan yang membuat saya sangat frustrasi), atau ketika harus menyadari bahwa model suseptibilitas likuefaksi Zhu 2015 dan Zhu 2017 adalah dua entitas yang benar-benar berbeda dengan tingkat eror masing-masing, semua itu tidak bisa diselesaikan dengan pikiran yang terpecah belah.

Multitasking yang awalnya saya banggakan ternyata menjadi musuh terbesar. Progres skripsi melambat drastis, pikiran menjadi sangat cepat lelah, dan file skripsi hanya berakhir menjadi tumpukan draft yang tidak tersentuh. Di situlah saya tersadar dan menyerah pada ego: mengerjakan skripsi butuh fokus penuh. Menyelesaikan pemodelan seismik yang kompleks ini menuntut ketenangan, dedikasi, dan waktu yang didedikasikan secara eksklusif, bukan sekadar waktu sisa. Saya pun mulai mengurangi beban di luar skripsi dan memusatkan seluruh pikiran pada Kawasan Cekungan Bandung.

Hal yang membuat perjalanan skripsi ini terasa jauh lebih menantang sekaligus membanggakan adalah kesempatan untuk berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kesempatan ini membawa saya langsung ke dapur penelitian kebumian sesungguhnya di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN. Yang lebih luar biasa lagi, salah satu periset dari BRIN, Bapak Dr. Adi Patria, S.T., M.Sc., bersedia menjadi dosen pembimbing pertama saya.

Mengerjakan skripsi di bawah bimbingan langsung seorang periset profesional memberikan atmosfer yang sepenuhnya berbeda. Standar yang ditetapkan sangat tinggi. Diskusi yang terjadi bukan lagi sekadar pemenuhan format penulisan akademik, melainkan membedah logika sains di balik setiap piksel peta yang dihasilkan. Berada di lingkungan BRIN memaksa saya untuk bertransformasi dari sekadar "mahasiswa pengguna software" menjadi seseorang yang harus paham mengapa algoritma tersebut bekerja sedemikian rupa.

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Proses ini sangat menguji ketahanan mental. Menghadapi engine OpenQuake tidak jarang memunculkan kendala komputasi yang rumit, yang memaksa saya harus berkorespondensi hingga ke OpenQuake User Group internasional. Salah satu momen paling berbekas adalah ketika kebingungan menghadapi eror kalkulasi, yang ternyata solusinya adalah arahan dari komunitas untuk menghapus blok Hazard sites dari konfigurasi bukan menghapus parameter PGA-nya. Berada di lingkungan ini menyadarkan saya bahwa kebingungan dan eror adalah bagian dari rutinitas ilmuwan; yang membedakan adalah daya juang untuk mencari akar masalahnya.

Setelah berbulan-bulan berkutat dengan data percepatan tanah, atenuasi, dan model likuefaksi serta longsor koseismik, tibalah fase krusial pada 8 Juni 2026. Hari itu, saya melaksanakan bimbingan akademik bersama Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) yang difokuskan untuk melaporkan progres pengerjaan skripsi sekaligus menyusun langkah-langkah strategis persiapan sidang. Membawa draf akhir yang berisi integrasi pemodelan dari kelima skenario patahan, ada perasaan lega yang bercampur dengan ketegangan. Di tengah rasa jenuh yang sempat melanda akibat rutinitas revisi dan pengolahan data, pertemuan pada tanggal 8 Juni tersebut justru menjadi titik balik yang menyegarkan kembali semangat saya.

Dok. Penulis

Melalui tulisan ini, saya ingin secara khusus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi, atas inisiatif dan arahannya pada momen bimbingan akademik tersebut. Wejangan, evaluasi progres, serta dukungan moril yang beliau berikan terkait persiapan sidang sangatlah bermanfaat. Pertemuan itu memberikan pencerahan, meyakinkan saya bahwa saya sudah berada di tahap akhir, dan sukses memacu kembali motivasi saya untuk segera menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Melihat seluruh peta, tabel luaran, dan grafik atenuasi yang telah disusun berminggu-minggu akhirnya membentuk sebuah narasi ilmiah yang utuh membuat saya semakin siap mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan spasial yang ditarik di hadapan dosen penguji.

Berbekal motivasi dari bimbingan akademik, saya memacu diri menyelesaikan draf akhir yang memuat integrasi pemodelan kelima skenario patahan. Puncaknya tiba pada tanggal 1 Juli 2026, hari penentuan di mana saya harus mempresentasikan dan mempertahankan riset saya di ruang sidang.

Dok. Penulis

Berdiri di hadapan dosen penguji yang terdiri dari Bapak Dr. Adi Patria, S.T., M.Sc., Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., dan Bapak Achmad Fadhilah S.Pd., M.Sc., adalah momen yang mendebarkan sekaligus melegakan. Sidang tersebut tidak hanya sekadar ajang evaluasi, melainkan terasa seperti sebuah diskusi ilmiah yang komprehensif. Menjawab setiap pertanyaan, membedah alur logika dari peta yang dihasilkan, hingga menerima masukan kritis dan konstruktif dari para penguji membuat saya sadar betapa berharganya setiap rintangan yang telah saya lewati. 

Perjalanan panjang dalam pengerjaan skripsi ini meninggalkan jejak pelajaran yang terukir dalam di benak saya:

  1. Fokus adalah Kunci Pencapaian: Idealisme untuk bisa mengerjakan segalanya (proyek, magang, lomba) dalam satu waktu seringkali berujung pada tidak ada satu pun hal yang selesai dengan maksimal. Menurunkan ego, melepaskan sejenak proyek atau ambisi lain demi menyelesaikan skripsi bukanlah sebuah kekalahan, melainkan strategi kemenangan. Skripsi adalah lari maraton, bukan lari cepat; ia membutuhkan ritme, konsistensi, dan fokus penuh.
  2. Kekuatan Sebuah Validasi dan Teliti: Berurusan dengan data kebumian mengajarkan arti presisi. Kesalahan kecil dalam mendefinisikan parameter geometri sesar, salah menginterpretasikan versi model referensi, atau keliru mengatur strike/dip/rake dapat berdampak fatal pada luaran spasial yang dihasilkan. Sains tidak menoleransi asumsi yang terburu-buru.
  3. Pentingnya Ketahanan Mental dan Komunikasi: Ketika perangkat lunak gagal merender data, ketika kode error di tengah malam, ketahanan mental adalah satu-satunya pelampung. Namun, ketahanan mental ini harus diiringi dengan komunikasi yang baik. Berdiskusi dengan pembimbing, bertanya pada forum global, dan tidak malu mengakui kebuntuan adalah jalan tol menuju solusi.

Teruntuk rekan-rekan dan adik-adik tingkat di Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) Universitas Pendidikan Indonesia yang akan atau sedang menyusuri jalan ini: Bidang keilmuan yang kita pelajari adalah bidang yang sangat luas, dinamis, dan memegang peranan krusial bagi kehidupan nyata. Eksplorasilah berbagai perangkat lunak, bacalah berbagai jurnal internasional, dan pelajari bahasa pemrograman, karena teknologi geospasial modern menuntut kemampuan komputasi yang kuat.

Ketika tiba waktunya kalian menyusun skripsi nanti, mungkin kalian akan merasa sanggup membagi fokus dengan magang, freelance, atau lomba-lomba bergengsi, persis seperti yang saya rasakan dulu. Dari pengalaman tersebut, satu hal yang saya pelajari adalah pentingnya mengukur kapasitas diri dengan jujur. Skripsi ternyata membutuhkan dedikasi ruang dan waktu yang absolut. Terkadang, ego untuk terlihat "produktif di segala bidang" justru bisa membuat tugas akhir kita terbengkalai. Selesaikanlah apa yang telah kalian mulai. Nikmati proses revisinya, nikmati rasa frustasi saat software mendadak error, karena dari sanalah insting seorang analis spasial terbentuk. Teruslah berproses, karena bumi yang luas ini selalu menunggu inovasi dari kalian.

Tak lupa, Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan, bimbingan, serta doa dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat dan penghargaan, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Kedua orang tua saya, yang selalu mengusahakan, mendoakan, dan memberikan kesempatan kepada saya untuk memperoleh pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Serta Kakak saya, atas dukungan, doa, dan motivasinya selama masa perkuliahan ini.
  2. Bapak Dr. Adi Patria, S.T., M.Sc. dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, selaku pembimbing magang sekaligus Pembimbing I. Terima kasih atas ilmu, wawasan, kesabaran, dan standar riset tinggi yang Bapak tanamkan kepada saya.
  3. Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., selaku Pembimbing II. Terima kasih atas ketelitian, saran, sentuhan teknis, dan kesabaran Ibu yang senantiasa mendampingi proses penulisan ini hingga tuntas.
  4. Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Terima kasih atas visi besar Bapak yang selalu mendorong kami untuk berkembang, ekosistem akademik SaIG yang luar biasa, serta secara khusus atas wejangan dan arahan yang menjadi pelecut semangat saya untuk menuntaskan skripsi ini.
  5. Bapak Haikal Muhammad Ihsan, S.Pd., M.Sc., selaku Dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih telah selalu sedia membimbing, mendengarkan keluh kesah, dan mengarahkan saya dalam kehidupan perkuliahan.
  6. Bapak Achmad Fadhilah S.Pd., M.Sc. dan Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., selaku dosen bagian kemahasiswaan dan akademik, yang selalu membersamai kami, angkatan 2022, dalam menjalani tugas akhir ini.
  7. Seluruh dosen dan staf Program Studi SaIG UPI atas ilmu dan pelayanan yang tak kenal lelah.
  8. Beasiswa KIP Kuliah, yang telah memberikan saya jalan dan kesempatan mewujudkan pendidikan tinggi.
  9. Bapak Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, S.T., M.T. (Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN) atas penyediaan data penelitian, ilmu, dan bimbingan yang luar biasa.
  10. Direktorat Manajemen Talenta dan Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN atas kesempatan magang dan riset tugas akhir ini.
  11. OpenQuake User Group atas diskusi komprehensif dan bantuan teknisnya, serta Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) atas penyediaan data geometri sesar aktif yang esensial.
  12. Teman-teman, sahabat, dan rekan seperjuangan SaIG angkatan 2022, Himpunan Mahasiswa SaIG, serta seluruh pihak yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih telah menjadi bagian dari dinamika hidup saya.

Pada akhirnya, penulis menyampaikan apresiasi kepada diri sendiri atas dedikasi dalam menyelesaikan seluruh rangkaian perkuliahan hingga menuntaskan skripsi ini dan meraih Gelar Sarjana Geografi (S.Geo.). Segala dinamika yang dilewati selama menjadi mahasiswa telah memberikan pemahaman yang mendalam bahwa sungguh setiap orang yang ditemui adalah guru, setiap tempat yang didatangi adalah kelas, dan setiap kejadian yang dialami adalah pelajaran.

Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *