Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
DI BALIK PETA KEBENCANAAN: MENGINTIP PENGELOLAAN INFORMASI GEOSPASIAL DI BPBD KOTA BANDUNG

Penulis :
Najib Ali Parhan (SaIG, 2408419)
Irgi Chandra (SaIG, 2406613)

Penyunting : Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)

Berawal dari bagaimana sebuah wilayah dapat mengetahui potensi bencananya dan menentukan langkah yang tepat ketika bencana terjadi? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang kami coba pahami melalui kunjungan ke BPBD Kota Bandung pada 20 dan 27 Juli 2026. Kunjungan ini memberikan gambaran secara langsung mengenai bagaimana informasi geospasial digunakan dalam mendukung kegiatan penanggulangan bencana, sekaligus memperlihatkan berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam pengelolaannya.

Dok. Penulis

Dalam menjalankan tugasnya, BPBD Kota Bandung mengelola berbagai informasi yang berkaitan dengan kondisi dan kejadian kebencanaan. Data tersebut meliputi peta rawan banjir, longsor, gempa, dan kekeringan, serta titik dan jalur evakuasi, wilayah terdampak, sebaran kejadian bencana, hingga infrastruktur kritis. Sebagian besar data yang digunakan merupakan Informasi Geospasial Tematik (IGT) dengan Informasi Geospasial Dasar sebagai salah satu referensinya.

Pemanfaatan informasi tersebut tidak berhenti pada kebutuhan pemetaan. Data geospasial digunakan untuk membantu mengidentifikasi kondisi wilayah, mendukung mitigasi dan kesiapsiagaan, hingga membantu proses pengambilan keputusan ketika bencana terjadi. Dengan demikian, informasi mengenai di mana suatu kejadian berlangsung menjadi bagian penting dalam menentukan tindakan yang perlu dilakukan.

Namun, pengelolaan informasi geospasial di BPBD Kota Bandung masih berada dalam tahap pengembangan. Salah satu kendala yang cukup menonjol adalah keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini belum terdapat tenaga khusus seperti GIS Analyst, Remote Sensing Specialist, kartografer, surveyor, maupun administrator geoportal. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap tenaga dengan kompetensi geospasial masih cukup besar.

Keterbatasan juga ditemukan pada sisi infrastruktur. BPBD masih dalam proses mengembangkan kebutuhan seperti server GIS, database spasial, geoportal, dan WebGIS. Dalam pelaksanaannya, BPBD masih memanfaatkan sistem dan data yang dikelola BNPB. Di satu sisi, kondisi ini membantu BPBD memperoleh dan menggunakan data yang dibutuhkan. Namun di sisi lain, pengembangan kemampuan pengelolaan data secara mandiri tetap menjadi kebutuhan penting agar proses analisis dan pembaruan informasi dapat dilakukan dengan lebih optimal.

Dok. Penulis

Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana data tersebut dapat digunakan secara bersama oleh berbagai pihak. Dalam implementasi Kebijakan Satu Peta, BPBD Kota Bandung masih berada pada tahap pengembangan dan mengacu pada sistem serta standar yang digunakan BNPB. Keseragaman acuan tersebut dibutuhkan agar informasi yang digunakan antarinstansi dapat lebih konsisten, terutama dalam menganalisis wilayah terdampak dan mendukung koordinasi penanggulangan bencana.

Jika dilihat dari perspektif Sains Informasi Geografi (SaIG), kondisi di BPBD Kota Bandung menunjukkan bahwa kompetensi geospasial memiliki ruang penerapan yang luas dalam dunia kerja. Kemampuan GIS dan analisis spasial dapat digunakan dalam pengolahan serta analisis data kebencanaan, sedangkan fotogrametri dan GNSS dapat mendukung proses akuisisi data di lapangan. Selain itu, kemampuan dalam pengelolaan data menjadi penting untuk memastikan data dapat tersimpan, diperbarui, dan digunakan sesuai kebutuhan. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa kompetensi GIS, analisis spasial, fotogrametri, GNSS, dan analisis kebencanaan menjadi kemampuan yang relevan untuk bekerja di lingkungan BPBD.

Dari kunjungan tersebut, kami tidak hanya melihat bagaimana peta digunakan dalam penanggulangan bencana, tetapi juga memahami bahwa pengelolaan informasi geospasial membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat peta. Ketersediaan SDM, infrastruktur, standar data, serta koordinasi antarinstansi turut menentukan kualitas informasi yang dihasilkan.

Bagi mahasiswa SaIG, pengalaman ini menjadi gambaran bahwa kompetensi yang dipelajari selama perkuliahan memiliki penerapan yang nyata. GIS, penginderaan jauh, survei, fotogrametri, hingga manajemen data bukan sekadar materi pembelajaran, tetapi dapat menjadi bagian dari proses penyediaan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung penanggulangan bencana dan pelayanan kepada masyarakat.

Maka dari itu besar harapan kita untuk bisa masuk ke instansi pemerintahan termasuk BPBD ini, dengan skill dan pelajaran yang dipelajari selama perkuliahan ternyata memang dibutuhkan di dunia kerja, termasuk di instansi pemerintahan seperti BPBD ini. Dengan menjalin silaturahmi berupa kunjungan ini besar harapan bisa terjalin kerja sama antar instansi dan mahasiswa terutama universitas guna melebarkan sayap SaIG agar bisa lebih dikenal dan dibutuhkan lagi oleh banyak instansi dan perusahaan.

Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *