Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
MENILIK DILEMA HUTAN DI TENGAH PEMBANGUNAN: INTERNATIONAL FORUM 2026 

Jumat, 7 Agustus 2026

Penulis: Nayla Calisha Hanalia (SaIG, 2501347)

Penyunting: Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)

Pada 7 Agustus 2026, bertempat di gedung Geugeut Winda, Universitas Pendidikan Indonesia, International Forum 2026 diselenggarakan oleh komunitas Graphein HIMA SaIG dengan mengangkat tema “Forests Between Development and Conservation”. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia sebagai ruang untuk bertukar perspektif dan mendiskusikan salah satu persoalan lingkungan yang terus menjadi perhatian di tengah perkembangan pembangunan. Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, serta memahami bahwa persoalan hutan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan keruangan.

Dok. Penulis

Dalam pelaksanaannya, International Forum 2026 tidak hanya mengajak peserta untuk memahami isu kehutanan secara umum, tetapi juga menempatkan mereka pada dua perspektif yang berseberangan, yaitu tim koalisi dan tim oposisi, untuk melihat persoalan pembangunan dari sudut pandang yang berbeda. Melalui diskusi simulasi, peserta ditantang untuk menyampaikan pandangan, mempertahankan kepentingan yang direpresentasikan, sekaligus merespons dan mengkritisi gagasan dari tim lainnya.

Sebelum memasuki sesi diskusi, peserta terlebih dahulu mengikuti Topic Introduction melalui penayangan video pemantik. Video tersebut menjadi titik awal bagi peserta untuk memahami konteks persoalan sekaligus membangun analisis dan argumen yang nantinya dikemukakan selama forum.

Dok. Penulis

Sesi diskusi simulasi menjadi bagian utama dari International Forum 2026. Perdebatan menyoroti dampak eksploitasi sumber daya alam di Papua terhadap ekologi dan masyarakat, khususnya karena manfaat yang diterima masyarakat adat dinilai belum sebanding dengan sumber daya yang diekstraksi, sementara pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia juga belum menunjukkan perkembangan yang seimbang. Pada awal forum, diskusi berlangsung relatif stagnan karena peserta masih cenderung berhati-hati dalam menyampaikan argumen. Namun, dinamika perlahan berubah ketika berbagai perspektif mulai dipertemukan. Perdebatan semakin intens ketika tim koalisi menyoroti bahwa persoalan di Papua lebih berfokus pada eksploitasi pertambangan dibandingkan perkebunan kelapa sawit.

Dari persoalan tersebut, dirumuskan draf resolusi berupa penerapan kerangka pembangunan berkelanjutan yang memberdayakan masyarakat adat, dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, hak atas lahan, mekanisme kompensasi, serta perlindungan masyarakat di wilayah terdampak eksploitasi. Melalui resolusi tersebut, pengelolaan sumber daya alam diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga mampu menjamin keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Setelah melalui sesi diskusi yang cukup ‘panas’, suasana forum dicairkan lewat Ice Breaking berupa permainan tebak gambar dan kata. Kegiatan ini menjadi jeda yang menyegarkan sebelum memasuki sesi rewarding. Pada akhir kegiatan, penghargaan Best Team diberikan kepada tim oposisi yang juga berhasil meraih nominasi Best Critical. Sementara itu, penghargaan Best Participant diberikan kepada salah satu peserta dari tim koalisi atas keaktifannya dalam menyampaikan tanggapan dan terlibat selama diskusi berjalan.

Dok. Penulis

Pada akhirnya, International Forum 2026 menunjukkan bahwa dilema pembangunan dan konservasi bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan dengan memilih salah satu dan mengesampingkan yang lain. Pembangunan tetap dibutuhkan, tetapi prosesnya perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan, hak masyarakat adat, serta pemerataan manfaat bagi masyarakat lokal. International Forum 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menyuarakan pendapat, tetapi juga belajar mencari titik temu dan merumuskan solusi terhadap persoalan global yang kompleks.

Dok. Penulis

The future of development lies not in how much we can exploit, but in how well we can balance progress, people, and the planet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *