Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
JELAJAH: Jejak Lapangan untuk Validasi Data Penginderaan Jauh Lahan dan Vegetasi

Bandung,1-2 Agustus 2026

Penulis: Kelompok 1A

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis

Selama dua hari kami berlima menyusuri berbagai sudut di Desa Gudangkahuripan dan Wangunsari. Sebanyak 125 titik sampel menjadi sasaran Kelompok 1 dalam kegiatan ground checking Praktikum Penginderaan Jauh Lahan dan Vegetasi yang berlangsung pada tanggal 1-2 Agustus 2026. Dengan membawa data titik sampel dan citra Bing Satelit dari SAS Planet, lima mahasiswa terjun langsung ke Desa Gudangkahuripan dan Desa Wangunsari untuk mengecek kondisi lahan yang sebelumnya hanya mereka amati melalui citra.

Penentuan titik sampel dilakukan terlebih dahulu berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Titik-titik tersebut tersebar pada berbagai kondisi lahan yang sudah dilakukan digitasi sebelumnya, sehingga masing-masing lokasi memiliki karakteristik yang berbeda. Setibanya di lapangan, kami tidak hanya berfokus pada pencarian titik menggunakan data koordinat, tetapi juga mengamati objek-objek yang berada di sekitar titik tersebut. Seluruh temuan dicatat dan didokumentasikan sebagai bahan pembanding terhadap hasil interpretasi citra.

Dok. Penulis

Pengamatan di lapangan mengacu pada 21 kelas penggunaan dan tutupan lahan berdasarkan klasifikasi KUGI dengan skala 1:10.000, meliputi kawasan pertahanan, permukiman, fasilitas pendidikan, perumahan, arena olahraga, industri pariwisata, kawasan industri, niaga, pemakaman, sarana ibadah, perkantoran pemerintahan, rumah sakit, hutan lahan tinggi, kebun, ladang, lahan kosong, perkebunan, semak belukar, taman, hingga lahan campuran. Keberagaman kelas ini menuntut ketelitian dalam pengamatan, mengingat sejumlah objek yang tampak serupa pada citra dapat menunjukkan kondisi yang berbeda ketika dilihat secara langsung di lapangan.

Perjalanan menuju setiap titik sampel ternyata tidak selalu berjalan mulus. Dari 125 titik yang direncanakan, sebanyak 115 titik berhasil dilakukan pengecekan, sementara 10 titik lainnya tidak dapat dijangkau. Kendala utama yang dihadapi adalah adanya sejumlah titik yang berada di dalam kompleks TNI sehingga tidak dapat diakses. Selain itu, beberapa titik terletak di medan yang, berada di kawasan perbukitan, dan jurang,  sehingga kita tidak melakukan survei ke sana karena memiliki tingkat risiko tinggi untuk didatangi.

Faktor kendaraan juga menjadi pertimbangan tersendiri selama perjalanan. Akses menuju beberapa titik memerlukan kendaraan dengan kemampuan yang memadai untuk melintasi jalan menanjak dan kondisi medan tertentu. Keterbatasan alat transportasi yang tersedia menyebabkan beberapa titik akhirnya tidak dapat dikunjungi secara langsung.

Meskipun menghadapi berbagai kendala, proses pengambilan data tetap dilaksanakan pada titik-titik yang masih dapat dijangkau. Kelompok 1 yang beranggotakan Stevan Rafael, Rizky Surya, Dion Faisal, Nabila Widya, dan Nandina Khairunnisa bekerja secara kolaboratif dalam mencari titik koordinat, mengamati kondisi lahan, mencatat hasil pengamatan, serta mendokumentasikan setiap lokasi yang didatangi.

Bagi kami, pengalaman lapangan memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan dengan proses interpretasi yang dilakukan di depan layar. Objek yang terlihat jelas pada citra terkadang menunjukkan kondisi yang berbeda ketika ditemui secara langsung. Di sisi lain, pengamatan langsung di lapangan turut memperkaya pemahaman kami terhadap karakteristik suatu objek, sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap hasil interpretasi yang telah dibuat sebelumnya.

Perjalanan menuju setiap titik sampel tidak selalu berjalan sesuai rencana. Sehingga tidak semua titik bisa dijangkau oleh kami. Salah satu kendala yang ditemui adalah beberapa titik berada di dalam kompleks akademi TNI sehingga akses menuju lokasi tidak memungkinkan. Selain itu, terdapat titik yang berada di kawasan perbukitan dengan kondisi medan yang cukup sulit, termasuk lokasi yang berdekatan dengan jurang. Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama sehingga beberapa titik tersebut tidak dipaksakan untuk didatangi.

Selama dua hari pelaksanaan, kami benar-benar menjelajahi dan menjadikan ini sebagai ajang untuk melihat secara nyata bagaimana data penginderaan jauh diterapkan dalam kondisi sesungguhnya. Dari 125 titik yang direncanakan, 115 titik berhasil ditelusuri dan menjadi bagian dari proses validasi data lahan dan vegetasi di Desa Gudangkahuripan serta Desa Wangunsari.

Dok. Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *