Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
KETIKA CITRA BERTEMU REALITA: PERJALANAN KELOMPOK 4B MENYUSURI DESA CIBOGO DAN CIKOLE DALAM PRAKTIKUM PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGGUNAAN LAHAN DAN VEGETASI 

Sabtu-Minggu, 01 Agustus-02 Agustus 2026

Penulis: Nayla Calisha Hanalia (SaIG, 2501347)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Pembelajaran terbaik tidak selalu hadir dari dalam ruang kelas. Kegiatan ground checking di Desa Cibogo dan Cikole, Kecamatan Lembang yang dilakukan kelompok 4B dalam praktikum mata kuliah Penginderaan Jauh untuk Penggunaan Lahan dan Vegetasi membawa kami merasakan pengalaman baru melalui alam sebagai laboratorium terbuka. Di sini, citra satelit yang telah diolah menjadi peta bertemu dengan kondisi nyata di lapangan, memperlihatkan bahwa setiap piksel memiliki cerita yang hanya dapat dipahami melalui observasi langsung. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman mengenai interpretasi penggunaan lahan dan vegetasi serta evaluasi indeks vegetasi, tetapi juga melatih ketelitian, kemampuan observasi, kerja sama, hingga komunikasi dengan masyarakat selama proses pengumpulan data.

Sebelum turun ke lapangan, kami telah mengolah berbagai data penginderaan jauh menjadi peta penggunaan lahan dan indeks vegetasi. Proses ini mencakup digitasi manual menggunakan citra resolusi tinggi, klasifikasi LULC berbasis OBIA, pemanfaatan citra Sentinel dan Landsat, serta perhitungan indeks vegetasi seperti EVI, SAVI, dan NDVI.  Kami juga membuat instrumen ground checking untuk membantu kami melakukan pendataan di lapangan.

Dok. Penulis

Pada pagi hari yang cerah di tanggal 1 Agustus 2026, kami memulai perjalanan dari Universitas Pendidikan Indonesia sekitar pukul 08.00 WIB. Perjalanan menyusuri lanskap Cibogo dan Cikole dibagi ke dalam tiga tim dengan wilayah pengamatan yang mencakup bagian utara, tengah, dan selatan kedua desa. Setiap tim bertugas mengunjungi titik-titik ground checking yang telah ditentukan sebelumnya. Titik  sampel dari kelompok kami sendiri berjumlah 150 titik dengan pertimbangan agar kami mendapatkan hasil akurasi di rentang yang baik. Namun, perjalanan tersebut ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tantangan datang silih berganti, mulai dari baterai device yang habis di tengah proses pengambilan data, pertanyaan dari warga maupun aparat setempat mengenai tujuan kegiatan, hingga titik pengamatan yang berada di lokasi sulit dijangkau, seperti lereng yang curam atau berada di balik tembok dan pagar yang tidak memungkinkan untuk dimasuki.

Terlepas semua tantangan yang kami lalui, banyak pula pengalaman menarik yang kami rasakan. Salah satunya ketika kami menjumpai titik sampel yang kondisi sebenarnya tidak sesuai dengan hasil klasifikasi yang telah kami lakukan. Momen itu membuat kami sadar bahwa citra satelit mampu memberikan gambaran yang luar biasa, tetapi tidak selalu dapat menceritakan keseluruhan kisah sebuah lanskap. Ada perubahan, detail, dan dinamika yang hanya dapat dipahami ketika kami berdiri langsung di lokasi pengamatan.

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Pengalaman menarik lainnya terjadi ketika kami harus menjelaskan tujuan kedatangan kepada warga maupun pengelola lokasi tempat dilakukannya ground checking. Tidak semua titik pengamatan berada di ruang terbuka yang dapat diakses dengan bebas. Ada kalanya kami harus meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan pengamatan; membuat kami menyadari bahwa kemampuan berkomunikasi dan negosiasi menjadi keterampilan yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan teknis dalam praktikum ini.

Hari pertama ditutup dengan pencapaian 129 dari 150 titik ground checking. Meski sebagian besar titik berhasil diverifikasi, masih terdapat beberapa lokasi yang sulit, bahkan tidak mungkin dijangkau secara langsung karena berada di area yang tertutup atau memiliki kondisi medan yang berbahaya. Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus pembelajaran bahwa kondisi di lapangan tidak selalu sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya.

Memasuki malam hari di villa tempat kami menginap, seluruh kelompok mengikuti expose untuk mengevaluasi hasil pengecekan lapangan sekaligus mulai mengolah data yang telah dikumpulkan. Diskusi berlangsung untuk menyusun strategi kegiatan pada hari berikutnya, termasuk menentukan titik-titik yang tidak memungkinkan dikunjungi secara langsung sehingga validasinya akan dilakukan menggunakan citra Google Earth. Setelah expose, malam menjadi lebih hangat dengan kebersamaan mahasiswa SaIG angkatan 2025. Makan malam bersama, canda tawa, dan api unggun yang menyala di tengah udara dingin Lembang menjadi penutup hari yang penuh pengalaman.

Dok. Penulis

Keesokan paginya, Minggu, 2 Agustus 2026, kegiatan diawali dengan expose singkat mengenai hasil pengolahan data, termasuk pembahasan confusion matrix sebagai evaluasi akurasi klasifikasi penggunaan lahan. Sesi refleksi dan penyampaian kesan-pesan menjadi penutup rangkaian praktikum. Sebelum kembali ke agenda masing-masing, dilakukan sesi foto bersama. Sebagian kelompok melanjutkan ground checking untuk menyelesaikan titik yang tersisa, sementara kelompok lainnya bersiap kembali pulang.

Dok. Penulis

Pada akhirnya, praktikum ini mengajarkan bahwa teknologi dan observasi lapangan bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi untuk menghasilkan informasi geospasial yang lebih akurat dan bermakna. 

“Ketika citra bertemu realita, kita tidak hanya memvalidasi data, tetapi juga belajar bahwa setiap lanskap memiliki cerita yang hanya dapat dipahami dengan melihatnya dari dekat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *