Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Analisis Komprehensif Bencana Gempa Bumi di Nusa Tenggara Timur: Tatanan Tektonik, Dampak Historis, dan Strategi Mitigasi Berbasis Teknologi serta Kearifan Lokal

Penulis: Zahran Dhya`Ulhaq Mahameru (2407807)

Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

 

https://news.detik.com/berita/d-8620033/korban-meninggal-akibat-gempa-m-7-ntt-bertambah-jadi-38-orang

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu wilayah dengan tingkat seismisitas tertinggi di Indonesia. Terletak di zona konvergensi antara Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, wilayah ini tidak hanya memiliki ancaman dari jalur subduksi, tetapi juga dari sesar aktif di belakang busur seperti Flores Back-arc Thrust. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis tatanan tektonik yang mengontrol kegempaan di NTT, meninjau kembali sejarah bencana besar seperti Gempa dan Tsunami Maumere 1992, serta mengevaluasi strategi mitigasi yang ada saat ini. Evaluasi mitigasi mencakup pendekatan teknologi modern seperti penggunaan prekursor anomali sinyal Ultra Low Frequency (ULF) dan penguatan konstruksi rumah tahan gempa, hingga pendekatan kultural melalui kearifan lokal seperti yang diterapkan oleh masyarakat Rote Ndao. Melalui sintesis dari berbagai literatur, artikel ini merekomendasikan pendekatan hibrida dalam mitigasi bencana yang menggabungkan kemajuan sains dan kearifan masyarakat lokal.

Wilayah kepulauan Nusantara secara geografis dan geologis berada pada kawasan cincin api Pasifik (Ring of Fire) dan merupakan pertemuan dari beberapa lempeng tektonik utama dunia. Konsekuensi dari letak geologis ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kerawanan bencana gempa bumi tertinggi di dunia. Salah satu provinsi yang memiliki tingkat aktivitas seismik sangat aktif adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT tidak hanya terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil yang membentang dari barat ke timur, tetapi juga dikelilingi oleh aktivitas tektonik bawah laut yang sangat dinamis.

Ancaman bencana gempa bumi di NTT tidak dapat dipandang sebelah mata. Guncangan tektonik tidak jarang memicu bencana sekunder berupa tsunami yang mematikan. Mengingat sebagian besar pusat permukiman dan perekonomian masyarakat NTT berada di pesisir pantai, kerentanan (vulnerability) kawasan tersebut meningkat secara eksponensial. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai karakter kegempaan wilayah NTT menjadi suatu urgensi mutlak bagi seluruh pemangku kepentingan.

Tulisan ini mengupas secara mendalam tentang fenomena kegempaan di NTT. Pembahasan dimulai dari tatanan geologi dan tektonik yang menjadi "mesin" penghasil gempa, rekam jejak bencana-bencana dahsyat di masa lalu yang menyisakan trauma kolektif, hingga berbagai upaya mitigasi. Lebih jauh lagi, mitigasi tidak lagi dipandang sebagai domain saintifik semata. Penggabungan antara teknologi modern dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dipercaya mampu menciptakan sistem ketangguhan masyarakat yang lebih holistik.

Secara geologi regional, tatanan tektonik wilayah NTT dibentuk oleh proses konvergensi yang kompleks. Menurut berbagai kajian geofisika, NTT dipengaruhi secara langsung oleh pergerakan aktif Lempeng Indo-Australia yang menunjam (subduksi) ke arah utara menyusup di bawah Lempeng Eurasia. Proses penunjaman ini terjadi di sepanjang Palung Jawa-Timor, menciptakan zona subduksi yang memanjang dari Sumatra, Jawa, hingga ke timur (Sunda-Banda Arc), dan memicu terbentuknya rangkaian gunung api di Kepulauan Nusa Tenggara.

Kompleksitas tektonik NTT semakin bertambah dengan hadirnya sistem sesar naik di utara kepulauan tersebut, yang dikenal sebagai Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-arc Thrust). Sesar ini memanjang dari utara Bali, NTB, hingga ke utara laut Flores dan Wetar. Dalam catatan sejarah seismologi Indonesia, sistem sesar inilah yang bertanggung jawab atas terjadinya beberapa gempa bumi merusak yang diikuti oleh tsunami di pesisir utara kepulauan Nusa Tenggara.

Selain zona subduksi dan sesar naik, aktivitas lempeng yang mendesak juga mengakibatkan terbentuknya lipatan dan patahan aktif di daratan (crustal faults), khususnya di Pulau Timor yang posisinya berada persis di atas wilayah deformasi tumbukan (collision zone) antara tepi Benua Australia dan Busur Banda. Gaya tekan ini membuat batuan penyusun pulau mengalami patahan, yang melepaskan energi dalam bentuk gempa-gempa darat dangkal.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260820083315-20-1394270/gempa-m-58-kembali-guncang-ntt-warga-panik-keluar-rumah

Berbicara mengenai kegempaan di NTT tidak lengkap rasanya jika tidak mengingat salah satu bencana terburuk yang pernah melanda wilayah ini, yakni Gempa dan Tsunami Flores pada 12 Desember 1992. Terjadi pelepasan energi raksasa dari aktivitas Flores Back-arc Thrust dengan magnitudo sangat besar, dilaporkan mencapai M 7,5 hingga M 7,8 dengan kedalaman sumber yang dangkal.

Guncangan hebat yang berlangsung puluhan detik tersebut meruntuhkan bangunan di pesisir utara Flores, terutama di Kabupaten Sikka (Maumere). Gempa tersebut memicu longsoran bawah laut dan pergeseran dasar laut yang membangkitkan gelombang tsunami. Dalam kurun waktu kurang dari 15 menit, gelombang setinggi belasan meter menghantam wilayah pesisir.

Kampung nelayan seperti Kampung Wuring merupakan salah satu titik terdampak paling parah. Banyak kesaksian mencatat fenomena air laut surut drastis (drawdown) setelah gempa, disusul gulungan ombak laksana raksasa hitam. Kejadian ini mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Tragedi Maumere 1992 menjadi titik balik kesadaran seismologi nasional bahwa ancaman tsunamigenik dari utara Busur Sunda-Kecil (Lesser Sunda) nyata dan mematikan.

Dampak gempa di wilayah NTT sangat berkorelasi dengan tingkat kerentanan infrastruktur. Salah satu faktor mengapa gempa berskala moderat tetap memicu kerusakan adalah kualitas konstruksi bangunan yang sebagian besar belum memenuhi standar SNI untuk rumah tahan gempa. Permukiman masih sering dibangun menggunakan beton bertulang dengan proporsi campuran atau kolom yang tidak ideal.

Kerentanan fisik ini diperparah dengan kondisi geomorfologi daerah. Banyak permukiman dibangun di lahan dengan kelerengan curam tanpa terasering, sehingga berisiko memicu tanah longsor. Di wilayah pesisir, bangunan banyak yang berdiri di zona rawan sapuan tsunami (elevasi kurang dari 5 mdpl), tidak memberikan cukup waktu untuk evakuasi.

https://www.cna.id/indonesia/gempa-ntt-flores-tsunami-korban-49821

Selain kerentanan fisik, kerentanan sosial-ekonomi juga menjadi isu krusial. Sebagian besar masyarakat pesisir berprofesi sebagai nelayan yang sangat bergantung pada akses laut. Relokasi seringkali mendatangkan penolakan, sehingga harus ada jalan tengah di mana masyarakat tetap bisa beraktivitas dengan sistem peringatan dini yang memadai.

Memprediksi kapan waktu pasti gempa masih menjadi tantangan terbesar seismologi. Namun, studi prekursor gempa mulai berkembang. Di NTT, khususnya kawasan Kupang, studi akademik mulai menganalisis anomali pada lingkungan geofisika lokal, salah satunya melalui analisis sinyal Ultra Low Frequency (ULF).

Riset menunjukkan bahwa sebelum gempa merusak di Kupang, sensor elektromagnetik sering merekam fluktuasi anomali sinyal ULF. Anomali ini diasumsikan berasal dari akumulasi pelepasan regangan tektonik mikro pada batuan kerak bumi. Pengintegrasian penelitian tentang anomali prekursor ini ke dalam Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) berpotensi meningkatkan kewaspadaan pemda pada periode siaga.

Konsep dasar dalam mitigasi gempa adalah: "Bukan gempanya yang membunuh, melainkan bangunannya." Penerapan konstruksi Rumah Tahan Gempa (RTG) secara konsisten mutlak diperlukan. Melalui pendekatan penyuluhan, tukang-tukang lokal diajari merangkai pembesian sengkang yang benar dan sambungan siku yang memadai antara sloof, kolom, dan ring balok.

Selain struktur beton, kearifan lokal menggunakan struktur kayu dengan sambungan pasak (bukan paku) juga kembali dipopulerkan. Struktur kayu memiliki tingkat fleksibilitas tinggi yang terbukti sanggup berayun mengikuti deformasi tanah tanpa mengalami keruntuhan fatal.

Sistem teknologi sering kali kurang menjangkau wilayah pelosok. Di sinilah mitigasi berbasis kearifan lokal (local wisdom) mengambil peran. Masyarakat tradisional di Rote Ndao memiliki serangkaian pengetahuan lokal dalam menghadapi ancaman gempa.

Masyarakat Rote diajarkan mengamati perubahan perilaku satwa. Ketika satwa endemik berperilaku gelisah dan keluar dari sarang secara tidak wajar, masyarakat memaknainya sebagai alarm alam. Pengetahuan ini berkorelasi dengan sains modern, di mana hewan diyakini lebih sensitif merespons gelombang seismik awal (P-wave).

Selain itu, masyarakat lokal memiliki aturan adat berupa pantangan bermukim di zona "terlarang", yang secara sains seringkali merupakan jalur rekahan aktif. Desain arsitektur rumah tradisional juga menggunakan material ringan dan sistem bantalan batu pipih yang berfungsi secara mekanis sebagai base isolator alami penahan guncangan gempa.

Provinsi NTT diapit oleh ancaman gempa merusak dan tsunami secara permanen akibat subduksi Lempeng Indo-Australia dan aktivitas Flores Back-arc Thrust. Bencana Tsunami Flores 1992 menjadi bukti sejarah betapa rapuhnya persiapan mitigasi di masa lalu.

Dalam memitigasi bencana, pendekatan hibrida harus dikedepankan. Dari segi modernitas, pemanfaatan InaTEWS, eksplorasi teknologi pemantauan sinyal ULF, serta standar konstruksi rumah tahan gempa adalah agenda krusial. Di sisi lain, kekayaan kebudayaan masyarakat NTT menawarkan solusi ketangguhan yang inklusif. Pengetahuan adat untuk membaca tanda alam dan arsitektur tradisional adalah warisan berharga. Dengan mensinergikan sains modern dan harmoni kultural, masyarakat NTT akan mampu berdiri teguh beradaptasi dengan ritme alam yang dinamis di Cincin Api.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (2024). Katalog Gempa Bumi Signifikan dan Merusak di Kepulauan Nusa Tenggara. Jakarta: Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Ejurnal Undana. (2024). "Menguak Sejarah Tsunami Maumere Tahun 1992 Di Wuring". Jurnal Floresiensis, Vol 3 No 2.

Yulyta, R. dkk. (2025). "Analisis Anomali Sinyal Ultra Low Frequency (ULF) sebagai Indikator Penentu Prekursor Gempabumi di Kota dan Kabupaten Kupang Tahun 2023". Magnetic: Research Journal of Physics and It's Application, Universitas San Pedro.

Thene, Jonas. (2016). "Mitigasi Bencana Gempa Bumi Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Rote Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur". Jurnal Teori dan Praksis Pembelajaran IPS, Vol 1(2): 102-106. Universitas Negeri Malang.

Lenting FPRB Provinsi NTT. (2023). "Optimalisasi Mitigasi Bahaya Gempa Bumi Melalui Penyuluhan Rumah Tahan Gempa Di Kelurahan Rewarangga Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur". Layanan Repositori Pengetahuan dan Data Bencana NTT.

Nur, R.H. (2021). "Mengenang Kembali Gempa dan Tsunami Flores 12 Desember 1992". Kompas Cetak & Digital Archive.

Hidayat, M. (2019). "Tatanan Tektonik Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Tanimbar: Evaluasi Zona Konvergensi Busur Banda". Geoscience Review Indonesia.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *