Penulis: Fany Apriliyany Suci (2406680)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

Gambar 1: Titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di Pulau Kalimantan.
Langit di atas Pulau Kalimantan kembali memerah dan tertutup kabut asap tebal. Memasuki pertengahan Agustus 2026, fenomena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melonjak tajam. Berdasarkan pantauan peta digital terkini, titik api atau hotspot tampak tersebar pekat merata di hampir seluruh provinsi, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur. Kondisi ini membuat suasana di sejumlah kota terasa mencekam dengan udara yang terasa sesak dan baunya menyengat. Bagi masyarakat Kalimantan, ancaman kabut asap seolah menjadi bencana tahunan yang tak kunjung usai. Namun, jika dilihat dari kacamata geografi, maraknya titik api saat ini tidak terjadi begitu saja. Musim kemarau yang berada pada puncaknya membuat kondisi vegetasi hutan mengering. Ditambah lagi dengan hembusan angin yang kencang, percikan api kecil dari aktivitas pembersihan lahan dapat dengan sangat cepat membesar dan meluas ke mana-mana tanpa terkendali.
Titik api terbanyak saat ini terkonsentrasi di daerah-daerah yang memiliki hamparan lahan luas dan semak belukar mengering. Kota-kota besar seperti Pontianak, Palangkaraya, dan Banjarbaru mulai merasakan dampak terburuknya. Pada pagi dan sore hari, jarak pandang warga merosot tajam, mengancam keselamatan para pengguna jalan dan melumpuhkan berbagai rutinitas harian warga setempat.

Gambar 2: Petugas Manggala Agni bersama tim gabungan menyemprotkan air untuk memadamkan kebakaran lahan gambut di lapangan.
Sumber Gambar: Dokumentasi Menteng News / Sabang Merauke News (Agustus 2026)
Banyak warga bertanya-tanya mengapa kebakaran di Kalimantan kerap memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa benar-benar padam. Jawabannya terletak pada karakteristik tanahnya. Sebagian besar wilayah Kalimantan yang terbakar merupakan area ekosistem gambut. Tanah gambut terdiri dari sisa-sisa pepohonan dan tumbuhan purba yang menumpuk tebal selama ribuan tahun. Saat musim kemarau tiba dan air di dalam tanah menyusut, tanah gambut berubah menjadi seperti spons kering yang sangat mudah terbakar. Masalah utamanya adalah api tidak hanya membakar pepohonan di atas tanah, tetapi juga merambat turun ke dalam tanah (kebakaran bawah tanah). Hal inilah yang memicu timbulnya asap putih tebal yang tidak berhenti keluar meskipun bagian atas tanah sudah disiram air oleh petugas.
Petugas pemadam di lapangan sering kali terkecoh. Dari luar, tanah tampak sudah padam dan hanya mengeluarkan asap tipis, tetapi di dalam tanah dengan kedalaman satu hingga dua meter, bara api masih terus menyala dan menjalar ke tempat lain. Ditambah lagi dengan keterbatasan akses jalan menuju tengah hutan, proses pemadaman menjadi ujian yang sangat berat bagi para petugas di lapangan.
Tabel Sebaran Kondisi Udara di Wilayah Kalimantan
Berikut adalah gambaran kondisi kualitas udara dan tingkat keparahan asap di beberapa daerah terdampak di Kalimantan:
|
Provinsi |
Kondisi Lahan Dominan |
Tingkat Keparahan Asap |
Dampak Utama Pada Warga |
Wilayah Terparah
|
|
Kalimantan Barat |
Semak Belukar & Gambut Dangkal |
Sangat Pekat |
Sekolah diliburkan, penerbangan tertunda |
Kubu Raya, Pontianak, Ketapang |
|
Kalimantan Tengah |
Hutan Gambut Dalam |
Bahaya / Pekat Sekali |
Puskesmas dipenuhi pasien batuk/ISPA |
Palangkaraya, Kotawaringin Barat |
|
Kalimantan Selatan |
Rawa & Lahan Pertanian |
Sedang - Pekat |
Jarak pandang jalan raya sangat pendek |
Banjarbaru, Tanah Laut |
|
Kalimantan Timur |
Perkebunan & Hutan Sekunder |
Sedang |
Kualitas udara menguning/kotor |
Penajam Paser Utara, Kutai |

Gambar 3: Operasi pengeboman air (water bombing) menggunakan helikopter BNPB untuk memadamkan Karhutla dari udara.
Sumber Gambar: Dokumentasi BNPB / detikKalimantan / Kompas.com (Agustus 2026)
Bencana kebakaran hutan ini membawa dampak buruk yang dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Dampak-dampak tersebut meliputi:
1. Kualitas Udara Buruk dan Ancaman Penyakit ISPA
Asap Karhutla bukan sekadar asap kayu biasa, melainkan mengandung partikel abu sangat kecil yang berbahaya jika terhirup paru-paru. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, jumlah pasien yang berobat ke puskesmas dan rumah sakit akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat pesat. Anak-anak kecil, bayi, dan lansia menjadi kelompok yang paling menderita karena kesulitan bernapas segar.
2. Sekolah Terpaksa Diliburkan dan Belajar dari Rumah
Karena pekatnya asap pada pagi hari, beberapa pemerintah daerah mengambil langkah cepat dengan meliburkan sekolah tatap muka. Para siswa kembali diminta belajar secara daring dari rumah untuk menghindari paparan racun asap di luar ruangan. Hal ini tentu mengganggu proses belajar-mengajar yang baru saja berjalan normal.

Gambar 4: Penampakan ruas jalan di Palangka Raya dan Pontianak yang diselimuti kabut asap tebal hingga membatasi jarak pandang.
Sumber Gambar: Dokumentasi Kompas.com / Liputan Regional (Agustus 2026)
3. Penerbangan Tertunda dan Aktivitas Ekonomi Terganggu
Kabut asap juga melumpuhkan aktivitas moda transportasi. Di beberapa bandara lokal, penerbangan pagi mengalami penundaan jadwal (delay) karena jarak pandang pilot yang terhalang tebalnya kabut asap. Di jalan raya, pengemudi harus menyalakan lampu utama di siang hari untuk menghindari kecelakaan. Para pedagang dan pekerja luar ruangan juga mengeluhkan sepinya pembeli karena warga memilih berdiam diri di dalam rumah.
Di era digital saat ini, keberadaan titik api di tengah hutan yang luas dapat dideteksi dengan sangat cepat. Melalui bantuan teknologi satelit dan peta digital, posisi koordinat kebakaran dapat langsung diketahui secara real-time tanpa perlu mendatangi lokasi satu per satu. Teknologi pemetaan ini bekerja dengan cara memindai suhu panas di permukaan bumi dari luar angkasa. Ketika ada area tanah atau hutan yang suhunya melonjak tinggi melebihi batas normal, satelit akan secara otomatis menandainya sebagai titik merah (hotspot) pada peta. Data inilah yang kemudian dipakai oleh tim satgas di lapangan untuk langsung meluncur ke lokasi kejadian sebelum apinya merembet semakin luas.
Agar Bencana tahunan ini tidak terus berulang di masa depan, dibutuhkan kerja sama dari semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga mahasiswa. Ada beberapa langkah sederhana namun penting yang harus dilakukan:
1. Stop Membuka Lahan dengan Cara Membakar: Kebiasaan membakar lahan semak belukar karena dianggap cepat dan murah harus dihentikan total. Api kecil di musim kemarau sangat cepat berubah menjadi bencana besar.
2. Menjaga Lahan Gambut Tetap Basah: Parit-parit di lahan gambut harus dibendung (dibuatkan sekat) agar air tidak mengalir keluar habis ke sungai, sehingga tanah gambut di sekitarnya tetap lembap dan sulit terbakar.
3. Kesadaran dan Edukasi Warga: Masing-masing warga desa harus saling menjaga dan memantau lingkungannya. Jika melihat ada percikan api kecil atau oknum yang sengaja membakar lahan, segera laporkan ke petugas setempat.
Bencana kebakaran hutan di Kalimantan adalah pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya tugas petugas pemadam kebakaran di lapangan, melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai warga masyarakat.
Semoga dengan semakin tingginya kepedulian masyarakat dan respon cepat dari semua pihak, kabut asap di Kalimantan dapat segera teratasi, dan warga dapat kembali menghirup udara segar serta beraktivitas dengan tenang.