Penulis : Mariah Zahirah Maftuh (SaIG, 2509375) & R. Muhamad Althaf Zakwan Bachtiar (SaIG, 2508089)
Penyunting : Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Sejak resmi berdiri pada tahun 2018, Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) Universitas Pendidikan Indonesia terus berkembang sebagai program studi yang mengedepankan inovasi di bidang geospasial. Berbagai capaian akademik, prestasi mahasiswa, hingga pengembangan budaya organisasi telah menjadi bagian dari perjalanan SaIG. Namun, di tengah perkembangan tersebut, terdapat satu identitas yang selama ini belum dimiliki, yaitu sebuah mars yang mampu menyuarakan semangat dan cita-cita bersama, serta gesture yang menjadi simbol karakter dan jati diri mahasiswa SaIG. Melalui semangat kolaborasi dan rasa memiliki terhadap almamater, kebutuhan tersebut akhirnya diwujudkan menjadi sebuah karya yang akan menjadi bagian dari sejarah perjalanan SaIG.

Dok. Penulis
Sebagai mahasiswa yang dipercaya untuk menginisiasi, menyusun, dan mengembangkan mars SaIG serta gesture SaIG, proses ini menjadi pengalaman yang tidak hanya menantang bagi kami, tetapi juga penuh makna. Setiap lirik, nada, hingga makna di balik setiap gerakan dirancang melalui berbagai tahapan diskusi, penyempurnaan, dan evaluasi agar mampu merepresentasikan nilai-nilai yang dimiliki Program Studi Sains Informasi Geografi. Setelah melalui proses yang panjang dan memperoleh persetujuan resmi, mars dan gesture SaIG akhirnya hadir sebagai identitas baru yang tidak hanya menjadi pelengkap dalam berbagai kegiatan akademik maupun himpunan, tetapi juga sebagai legacy yang akan terus diwariskan kepada setiap generasi mahasiswa SaIG di masa mendatang.
Perjalanan membuat mars dimulai setelah kami, angkatan 2025 resmi menjadi anggota Himpunan Mahasiswa SaIG. Saat itu kami sebagai bagian dari biro kesenian Komunitas Spectral langsung diberi tugas yang berat yaitu membuat sebuah mars dan juga gesture SaIG sebagai bentuk identitas baru SaIG. Tentu saja itu merupakan hal yang sangat berat mengingat untuk membuat mars dan gesture baru SaIG membutuhkan sebuah komitmen yang tinggi karena mars dan gesture sendiri akan dijadikan legacy abadi untuk identitas SaIG di masa sekarang dan masa depan.
Untuk mars sendiri pengerjannya dimulai sebelum pelaksanaan proker In House Training (IHT). Untuk pengerjaannya dibutuhkan banyak sekali langkah-langkah yang harus dikerjakan. Langkah awal membuat mars SaIG adalah belajar teori musik serta cara membuat musik di aplikasi seperti FL Studio terlebih dahulu di internet lebih tepatnya YouTube. Tentu saja langkah tersebut bukanlah hal yang mudah mengingat banyak sekali hal yang harus di pelajari seperti mempelajari scale musik (tangga nada), progresi chord, dan cara membuat lirik yang baik itu sendiri. Belum lagi mempelajari hal teknis seperti cara menggunakan aplikasinya sendiri.
Setelah belajar bagaimana cara membuat musik dan sudah membuat lirik musik, langkah selanjutnya adalah berkonsultasi Dr. Lili Somantri, S. Pd., M,Si. selaku Ketua Prodi Sains Informasi Geografi untuk meminta pendapat dan juga arahan dari beliau terkait lirik mars SaIG. Alhamdulillah, saat berkonsultasi, beliau langsung menyutujui dan mengapresiasi lirik yang sudah diajukan. setelah berkonsultasi, langkah selanjutnya adalah mulai membuat musiknya itu sendiri.
Saat proses pengerjaan musik, banyak sekali hal yang harus kami lakukan seperti mencari inspirasi lagu, memastikan lagu tidak mirip dengan lagu lain (plagiat), dan juga merancang instrumen yang digunakan di lagu tersebut. Saat pengerjaannya juga, kami dibantu oleh pihak eksternal yaitu dari produser musik bernama Osake (Instagram : @sndbyosake) untuk meminta saran terkait pembuatan musik ini.
Saat musik instrumennya sudah jadi, langkah selanjutnya adalah merekam vokal dari mars saig itu sendiri. Perekaman dilakukan di rumah Kang Shakti Aulia Alamsyah dari SaIG angkatan 2023 yang bersedia untuk membantu proses rekaman mars SaIG. Proses perekamannya ditemani oleh biro kesenian Komunitas Spectral dan untuk penyanyi dari mars saig ini, dinyanyikan oleh beberapa mahasiswa SaIG yaitu Kang Shakti Aulia Alamsyah dari angkatan 23, Kang Zakara Jatsiyah Bardan H dari angkatan 24, Muhammad Azri dari angkatan 25, dan R. Muhamad Althaf Zakwan Bachtiar dari angkatan 25. Proses perekaman mars SaIG rupanya tidak semudah yang dibayangkan, karena banyak dinamika dan problem yang dihadapi seperti suara yang kurang pas dan juga beberapa penyesuaian yang di lakukan saat perekaman. Untuk durasi dari perekaman ini, dilakukan mulai dari jam 3 sore sampai jam 5 pagi.
Berbeda dengan proses penyusunan mars yang berfokus pada penciptaan identitas melalui lirik dan musik, proses perancangan gesture SaIG memiliki tantangan tersendiri. Kami menyadari bahwa setiap gerakan yang diciptakan akan menjadi simbol yang melekat pada Program Studi Sains Informasi Geografi. Oleh karena itu, proses perancangannya tidak hanya mempertimbangkan aspek visual, tetapi juga makna yang ingin disampaikan kepada setiap orang yang melihat maupun memperagakannya.
Langkah awal yang saya lakukan adalah mengeksplorasi berbagai referensi gesture. Dari proses tersebut, lahirlah berbagai alternatif gesture yang masing-masing memiliki filosofi berbeda. Namun, kami merasa bahwa gesture SaIG tidak cukup jika hanya terlihat menarik atau mudah diingat. Gestur tersebut harus mampu menggambarkan karakter mahasiswa SaIG sebagai individu yang visioner, memiliki cara pandang yang luas terhadap perkembangan ilmu geospasial, serta berani menjadi trendsetter yang menghadirkan inovasi dan membuka arah baru bagi lingkungan sekitarnya.
Proses pemilihan gestur pun tidak berlangsung dalam satu kali percobaan. Berbagai bentuk gerakan terus dievaluasi dan diperbaiki karena belum mampu merepresentasikan nilai yang ingin dibangun. Meskipun beberapa kali muncul keraguan apakah gestur yang dirancang sudah tepat, proses tersebut justru menjadi bagian yang paling berharga. Setiap masukan yang diberikan menjadi pembelajaran untuk menyempurnakan gesture hingga akhirnya diperoleh bentuk yang sederhana, mudah diikuti, namun tetap memiliki filosofi yang kuat dan sesuai dengan identitas SaIG.
Bagi kami, gestur ini bukan hanya sekadar gerakan yang digunakan ketika menyanyikan mars. Lebih dari itu, gestur ini merupakan bahasa tanpa kata yang merepresentasikan semangat, kebersamaan, dan arah yang ingin dituju oleh Program Studi Sains Informasi Geografi. Kami berharap setiap mahasiswa yang memperagakannya tidak hanya menghafal setiap gerakan, tetapi juga memahami makna di baliknya sehingga Gesture SaIG dapat terus hidup sebagai identitas yang diwariskan kepada setiap generasi.
Seluruh proses tersebut kemudian kami tuangkan dalam tulisan ini sebagai bentuk dokumentasi perjalanan lahirnya Mars dan Gesture SaIG. Kami meyakini bahwa sebuah karya akan memiliki nilai yang lebih besar ketika proses di balik penciptaannya turut diabadikan. Sebuah program studi tidak hanya dibangun melalui prestasi dan inovasi, tetapi juga melalui cerita yang ditulis, didokumentasikan, dan diwariskan. Dengan demikian, Mars dan Gesture SaIG tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah yang akan terus dikenang oleh keluarga besar SaIG.

Dok. Penulis

Dok. Penulis
