Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
PENGALAMAN DAN ILMU DALAM KUNJUNGAN MANAJEMEN KELEMBAGAAN: INSTANSI PEMERINTAH DAN SWASTA  

Penulis: Brandon Indrawan (SaIG, 2401681)  

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Perjalanan kami Kelompok 4 untuk memahami bagaimana teori manajemen kelembagaan dan informasi geospasial diterapkan di dunia nyata akhirnya terwujud. Pada tanggal 27 Juli 2026 dan 1 Agustus 2026, kami melakukan kunjungan manajemen kelembagaan ke dua instansi yang memiliki latar belakang sangat berbeda, yakni Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat sebagai perwakilan pemerintah daerah, dan PT. Geoservices yang mewakili sektor industri swasta. Kunjungan ini bukan sekadar penyelesaian tugas kampus biasa, melainkan sebuah gerbang yang membuka mata kami terhadap realitas dunia kerja yang sesungguhnya. 

Langkah pertama kami dimulai di Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Di sana, kami dihadapkan pada realitas bahwa mengelola tata ruang dan kawasan hutan bukanlah pekerjaan di balik layar komputer semata. Kami mendapatkan ilmu baru bahwa instansi ini memiliki tanggung jawab besar untuk terjun langsung ke lapangan, memberikan penyuluhan, dan memberdayakan perekonomian masyarakat yang masih bergantung pada hasil hutan melalui program Perhutanan Sosial. Hal yang cukup mengejutkan sekaligus menambah wawasan kami adalah fakta bahwa Dinas Kehutanan rupanya hanya berstatus sebagai pengguna (user) data. Mereka tidak memproduksi Informasi Geospasial Dasar (IGD) sendiri, melainkan diwajibkan menggunakan peta dasar dari Badan Informasi Geospasial (BIG) yang kemudian mereka olah menjadi peta tematik.  

Namun, dari kunjungan pertama ini kami juga belajar tentang tantangan nyata yang kerap membayangi sektor pemerintahan. Meskipun mereka telah berupaya mengimplementasikan Kebijakan Satu Peta dan mengelola platform andalan bernama SINGMANFAAT, mereka harus berjuang menghadapi keterbatasan anggaran untuk pengadaan alat survei modern. Bahkan, kami mendapati bahwa persentase tenaga ahli pengelola data yang memiliki sertifikasi kompetensi masih sangat minim, di mana lisensi untuk pilot drone pemantau pun belum mereka miliki.  

Dok. Penulis

Beberapa hari kemudian, kami mengunjungi ke PT. Geoservices dan langsung disambut oleh atmosfer kerja yang sepenuhnya berbeda. Jika di instansi pemerintah kami banyak berdiskusi tentang pelayanan dan keterbukaan data publik, di perusahaan swasta ini kerahasiaan adalah urat krusialnya. Kami mendapat pelajaran berharga bahwa dalam dunia industri, seluruh data geospasial yang dikelola terikat oleh perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement atau NDA) yang sangat ketat dengan para klien, seperti BUMN atau perusahaan tambang. Atas dasar itulah, mereka sama sekali tidak ikut serta dalam Kebijakan Satu Peta dan mewajibkan seluruh penyimpanan data dilakukan secara tertutup di server lokal (on-premise) demi keamanan tingkat tinggi.  

PT. Geoservices juga mengajarkan kami tentang tingginya standar profesionalisme yang dituntut oleh industri swasta. Keahlian teknis saja tidak cukup jika tidak disamakan dengan legalitas, yang dibuktikan dengan syarat 100% pegawai pengelola informasi geospasial wajib memiliki sertifikasi kompetensi. Selain itu, kami melihat bagaimana teknologi mutakhir diadopsi dengan begitu cepat dalam operasional mereka mulai dari penggunaan Digital Twin untuk memodelkan kondisi bawah permukaan secara tiga dimensi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Machine Learning/AI) untuk memproses anomali data geologi dan geofisika secara lebih efisien.  

Dok. Penulis

Pada akhirnya, kedua kunjungan ini merajut sebuah refleksi dan pemahaman yang utuh bagi kami. Di ruang kelas, kami lebih banyak dijejali dengan teori tentang standar pemetaan yang ideal dan pentingnya open-data seperti Kebijakan Satu Peta. Namun, realitas di lapangan menyuguhkan dinamika yang jauh lebih kompleks. Dari Dinas Kehutanan, kami belajar tentang pentingnya pengabdian kepada masyarakat di tengah berbagai keterbatasan birokrasi dan fasilitas. Sementara dari PT. Geoservices, kami menyerap ilmu tentang pentingnya kedisiplinan pada tenggat waktu klien, wajibnya sertifikasi profesi, dan keharusan untuk terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi di tengah kerasnya persaingan industri. Pengalaman magis ini benar-benar menjadi jembatan yang menghubungkan teori akademis dengan realitas profesional yang kelak akan kami hadapi. Salam hangat dari Kelompok 4B Manajemen Kelembagaan (Aripin Amar Hakim, Brandon Indrawan, Hanung Putri Titisari, Keisya Davia Tama, Morgan Rasla Sakty Simarmata). 

Dok. Penulis 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *