Penulis: Vanya Chathy Kemala Dewi (SaIG, 2207657)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Tuntas sudah kewajiban saya untuk mengambil seluruh SKS yang menjadi syarat kelulusan di Program Studi Sains Informasi Geografi. Tuntas pula perjalanan saya menyerap ilmu-ilmu selama perkuliahan, mengerjakan tugas, melewati praktikum, mengikuti berbagai kegiatan, dan mencoba memahami banyak hal yang sebelumnya sama sekali tidak saya mengerti.
Setelah itu semua selesai, tibalah giliran saya untuk menghadapi satu tahap terakhir: tugas akhir.
Sebuah skripsi yang kelak akan membawa saya meraih gelar S.Geo. Sebuah karya yang seharusnya menjadi refleksi sekaligus penerapan dari ilmu-ilmu yang selama ini saya pelajari.
Saya pikir, mungkin inilah saatnya semua yang sudah saya pelajari menemukan bentuknya.
Ternyata, saya salah.
Perjalanan skripsi saya justru menjadi salah satu perjalanan paling panjang, melelahkan, dan penuh kejutan selama saya berkuliah.
Perjalanan skripsi saya dimulai sejak semester 6, tepatnya ketika saya mengambil mata kuliah Metode Penelitian.
Saat itu, saya memilih sebuah topik yang saya sukai dan berharap topik tersebut dapat saya lanjutkan menjadi tugas akhir. Saya mencurahkan keseriusan saya dalam mata kuliah tersebut, membaca berbagai referensi, menyusun gagasan, dan berusaha membuat proposal sebaik mungkin.
Topik yang saya angkat saat itu adalah perubahan garis pantai menggunakan metode Total Suspended Solid dengan mempertimbangkan proses abrasi dan sedimentasi di wilayah pesisir.
Ketika mata kuliah Metode Penelitian selesai, saya membawa proposal tersebut lebih jauh kepada dosen pembimbing proposal sekaligus dosen pembimbing akademik saya, Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T.
Saya datang dengan keyakinan bahwa saya sudah menemukan topik yang tepat.
Namun, setelah dua kali bimbingan, kabar yang sebenarnya tidak ingin saya dengar akhirnya datang.
Topik saya tidak dapat dilanjutkan.
Lokasi penelitian yang saya pilih tidak relevan dengan karakteristik topik yang ingin saya kaji. Saat itu, saya dihadapkan pada dua pilihan: mengganti lokasi penelitian ke wilayah pantai utara yang memiliki karakteristik lebih sesuai, atau mengganti judul sekaligus topik skripsi.
Dua-duanya terasa berat.
Namun, setelah dipertimbangkan, mengganti topik menjadi pilihan yang paling mungkin dilakukan. Jika saya mempertahankan topik tersebut dan berpindah lokasi, saya membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
Akhirnya, saya harus melepaskan sesuatu yang sudah saya bangun sejak awal.
Dan ternyata, melepaskan sebuah rencana yang sudah kita yakini tidak semudah yang dibayangkan.
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan topik baru.
Saya mencari ke berbagai jalan. Membaca banyak hal. Memikirkan berbagai kemungkinan. Berkali-kali merasa menemukan topik yang menarik, lalu kembali merasa bahwa topik tersebut bukan sesuatu yang ingin saya kerjakan selama berbulan-bulan.
Sampai akhirnya, ketika sudah berada di ujung kelelahan, saya teringat salah satu mata kuliah yang paling saya sukai selama perkuliahan: Penginderaan Jauh dan SIG untuk Konservasi dan Rehabilitasi Lahan.
Dari sanalah saya kembali menemukan jawaban.
Saya akhirnya membulatkan tekad untuk mengambil topik mengenai laju erosi dan erosi yang diperbolehkan di Sub-DAS Cidurian sebagai tugas akhir saya.
Dengan tenaga dan harapan yang saya bangun kembali, saya menyusun proposal dari awal.
Sekali lagi.
Saya menulis, membaca, memperbaiki, berkonsultasi, dan mengulang semuanya sampai proposal tersebut akhirnya rampung.
Proses bimbingan berjalan cukup lancar. Sampai akhirnya saya dinyatakan layak untuk mengikuti seminar proposal.
Seminar proposal itu berlangsung pada 9 Juli 2025.
Saya datang dengan perasaan bahwa proposal saya sudah cukup baik.
Ternyata, saya kembali harus belajar bahwa “sudah cukup baik” menurut diri sendiri belum tentu berarti sudah cukup baik menurut orang lain.
Seminar proposal menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan skripsi saya.
Proposal yang saya kira sudah cukup matang ternyata masih memiliki banyak kekurangan.
Salah satu yang memberikan banyak masukan berarti dalam seminar proposal tersebut adalah dosen yang sejak awal sangat saya kagumi, Pak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc.
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana.
Tetapi ternyata, jawabannya tidak sesederhana itu.
Saya mulai menyadari bahwa skripsi bukan hanya tentang bagaimana saya menyelesaikan sebuah penelitian, menghasilkan peta, melakukan pengolahan data, atau mendapatkan sebuah angka. Ada tanggung jawab di balik sebuah penelitian: untuk apa penelitian itu dilakukan, siapa yang dapat memanfaatkannya, dan apa yang dapat diberikan dari hasil yang saya kerjakan.
Dari berbagai masukan dan arahan pada seminar proposal tersebut, topik saya kembali berubah.
Dari kajian laju erosi dan erosi yang diperbolehkan, penelitian saya berkembang menjadi “Konservasi Lahan Alternatif Berdasarkan Laju Erosi di Sub-DAS Cidurian.”
Sekali lagi, saya harus mengubah apa yang sudah saya susun.
Namun kali ini, saya mulai memahami bahwa perubahan tersebut bukan berarti penelitian saya gagal.
Justru dari sanalah penelitian saya menjadi lebih bermakna.

Dok. Penulis
Setelah menyelesaikan seluruh revisi seminar proposal, akhirnya proposal saya disetujui.
Dan ada satu hal yang membuat saya sangat bersyukur: saya mendapatkan dua dosen pembimbing yang memang saya harapkan sejak awal, yaitu Pak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc. dan Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T.
Di titik inilah perjalanan skripsi saya yang sebenarnya dimulai.
Saya mulai melakukan bimbingan, memperbaiki tulisan, menyusun metode, mengolah data, dan mencoba memahami kembali penelitian saya dari berbagai sudut pandang.
Namun, perjalanan itu tidak langsung berjalan mulus.
Di tengah proses tersebut, saya menjalani kegiatan magang. Selama magang, intensitas bimbingan saya menurun drastis. Bahkan, saya sempat menghilang cukup lama—sekitar tujuh bulan.
Waktu yang sebenarnya bisa saya gunakan untuk menyelesaikan banyak hal.
Ketika mengingatnya kembali, tentu ada sedikit penyesalan. Ada perasaan bahwa waktu tersebut terbuang begitu saja.
Tetapi mungkin, saya memang membutuhkan waktu itu untuk belajar bahwa menyelesaikan sesuatu tidak hanya membutuhkan kemampuan, tetapi juga konsistensi.
Setelah magang selesai, saya kembali.
Dan kali ini, saya benar-benar berusaha untuk menyelesaikannya.
Saya mulai melakukan bimbingan secara intensif setiap minggu.
Ada banyak hal yang saya pelajari dari proses tersebut. Bukan hanya tentang penelitian, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya ilmiah seharusnya dibangun.
Saya mendapatkan banyak masukan dari kedua dosen pembimbing saya, mulai dari cara penulisan, pengolahan data, penyajian hasil, layout peta, hingga berbagai detail kecil yang sebelumnya sering luput dari pandangan saya.
Anehnya, di tengah semua revisi itu, saya justru merasa senang.
Bukan karena skripsinya mudah.
Justru karena saya bisa melihat skripsi saya perlahan berubah.
Sesuatu yang awalnya hanya berupa ide di kepala mulai menjadi proposal. Proposal berubah menjadi penelitian. Penelitian mulai menghasilkan data. Data mulai menjadi peta dan informasi. Dan semuanya perlahan tersusun menjadi sebuah karya yang utuh.
Saya mulai turun ke lapangan untuk mengambil data primer.
Saya melakukan pengolahan data.
Saya menyusun draft skripsi.
Saya melakukan bimbingan lagi.
Memperbaiki.
Mengulang.
Bimbingan lagi.
Sampai akhirnya, setelah perjalanan yang panjang, saya dinyatakan layak untuk mengikuti ujian sidang.
Saat itu, rasanya kelulusan sudah semakin dekat.
Saya mulai mempersiapkan sidang dan melengkapi segala persyaratan yang dibutuhkan. Setelah perjalanan panjang tersebut, akhirnya saya sampai pada hari yang selama ini saya tunggu.
10 Juli 2026.
Hari ketika saya melaksanakan ujian sidang skripsi.
Saya diuji oleh tiga dosen hebat: Bapak Drs. Asep Mulyadi, M.Pd., Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., dan Bapak Andy Wibawa Nurrohman, S.Pd., M.Sc.
Selama sidang, saya mendapatkan berbagai masukan dan arahan agar skripsi saya dapat menjadi lebih baik dan memberikan manfaat bagi siapa pun yang membacanya.
Ujian berjalan dengan baik dan lancar.
Dan saya kembali bersyukur karena proses bimbingan yang panjang bersama Pak Hendro dan Bu Silmi membuat tidak terlalu banyak hal yang harus saya ubah setelah sidang.

Dok. Penulis
Saya kemudian menyelesaikan seluruh revisi hingga akhirnya disetujui oleh ketiga dosen penguji.
Sampai akhirnya, saya mendaftarkan diri untuk yudisium.
14 Agustus 2026.
Hari itu, saya resmi menyelesaikan seluruh studi saya.
Resmi menyelesaikan tugas akhir.
Dan resmi dinyatakan sebagai seorang sarjana.
Sarjana Geografi.

Dok. Penulis
Tidak mungkin saya sampai di titik ini seorang diri.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada kedua dosen pembimbing saya, Bapak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc. dan Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., yang selalu sabar, terbuka, dan bersedia membimbing saya dalam setiap langkah pengerjaan skripsi.
Terima kasih kepada Bapak Drs. Asep Mulyadi, M.Pd., Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., dan Bapak Andy Wibawa Nurrohman, S.Pd., M.Sc. yang telah berkenan memberikan masukan, kritik, dan arahan sehingga skripsi saya dapat menjadi lebih baik.
Terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Sc. selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, atas segala arahan, bimbingan, dan pengawasan selama perjalanan studi saya.
Terima kasih kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan di Program Studi Sains Informasi Geografi yang telah mengajarkan begitu banyak hal kepada saya. Dari yang awalnya tidak tahu apa-apa, sampai akhirnya saya dianggap layak menyandang gelar Sarjana Geografi.
Dan tentu saja, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan Sains Informasi Geografi angkatan 2022 yang telah membersamai berbagai jatuh dan bangun selama perjalanan ini.
Tidak banyak hal yang menyenangkan dari proses mengerjakan skripsi.
Lebih banyak lelahnya.
Lebih banyak malam yang dihabiskan untuk berpikir.
Lebih banyak revisi daripada yang pernah saya bayangkan.
Ada energi yang terkuras, pikiran yang penuh, tenaga yang habis, biaya yang harus dikeluarkan, rasa bosan, rasa ingin menyerah, bahkan rasa bersalah karena pernah membiarkan waktu berjalan terlalu lama.
Tetapi, mungkin memang bukan kesenangan yang seharusnya saya cari dari perjalanan ini.
Karena skripsi ternyata tidak hanya mengajarkan saya bagaimana melakukan penelitian.
Skripsi mengajarkan saya tentang kesabaran ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kerendahan hati ketika menyadari bahwa karya kita masih jauh dari sempurna, keberanian untuk memulai kembali ketika semuanya harus diubah, dan tanggung jawab untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah kita mulai.
Saya belajar bahwa tidak semua hal harus berjalan cepat.
Ada kalanya kita harus berhenti.
Ada kalanya kita harus mengulang dari awal.
Ada kalanya apa yang kita yakini benar ternyata perlu diperbaiki.
Dan ada kalanya kita merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain sudah lebih dulu sampai.
Tetapi pada akhirnya, setiap orang punya waktunya masing-masing.
Skripsi saya mungkin tidak sempurna.
Perjalanannya juga jauh dari sempurna.
Saya pernah salah memilih topik. Saya pernah harus memulai kembali. Saya pernah kehilangan waktu selama tujuh bulan. Saya pernah lelah dan kehilangan arah.
Tetapi saya tetap kembali.
Saya tetap mengerjakannya.
Dan saya akhirnya sampai.
