Penulis: Auliya Dewi Ayu Pujaretna (SaIG, 2203284)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Kalau ditanya kapan saya mulai mengerjakan skripsi, mungkin jawabannya bukanlah ketika saya pertama kali mendaftarkan proposal skripsi di kampus. Perjalanan itu justru dimulai ketika saya mencoba mendaftar magang di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada semester 7.
Saat itu, BRIN menyediakan beberapa daftar riset terbuka untuk mahasiswa. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Riset Pengembangan Platform Digital Pemantauan Landsubsidence. Saya kemudian mencoba mendaftar dengan membuat proposal magang, meskipun saat itu saya bahkan belum menentukan wilayah kajian yang nantinya akan diteliti. Saya akhirnya diterima dan mendapatkan kesempatan berharga untuk dibimbing oleh Bapak Joko Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., seorang pakar di bidang Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR).
Beliau menyarankan penggunaan metode Persistent Scatterer Interferometry (PS-InSAR) untuk mengkaji penurunan muka tanah di sepanjang Pantai Utara Jawa. Sebelumnya, sudah ada mahasiswa magang lain yang mengolah data InSAR untuk wilayah Jakarta dengan rentang waktu sekitar 2019 hingga awal 2025. Setelah mahasiswa tersebut menyelesaikan magangnya, saya diminta melanjutkan pengolahan dengan memperpanjang rentang waktu menjadi 2018 hingga akhir 2025. Pada awalnya, saya menganggapnya hanya sebagai bagian dari kegiatan magang. Saya belajar mengolah data dan memahami metode PS-InSAR tanpa membayangkan bahwa pengalaman tersebut nantinya akan menjadi fondasi awal dari skripsi saya.

Dok. Penulis
Setelah magang selesai, saya mulai memikirkan topik skripsi. Daripada harus kembali mencari topik dan data dari awal, saya memilih menggunakan pengalaman dan data yang sudah diperoleh selama magang sebagai pijakan. Namun, saat itu analisis saya masih berada pada skala regional. Setelah mencari berbagai penelitian terdahulu, saya menemukan bahwa kajian penurunan muka tanah dari perspektif perkotaan secara umum sudah cukup banyak dilakukan. Saya pun mulai mencari sisi lain yang masih menarik untuk dikaji.
Dari pencarian tersebut, saya menemukan beberapa penelitian yang menggunakan PS-InSAR untuk mengkaji infrastruktur linear, termasuk konstruksi terowongan MRT di Jakarta. Kebetulan saat itu pembangunan MRT Fase 2 sedang berlangsung, sehingga saya sempat mempertimbangkan MRT sebagai objek penelitian. Ide tersebut kemudian saya diskusikan dengan beberapa peneliti BRIN. Menurut mereka, topik tersebut menarik, tetapi membutuhkan banyak pertimbangan karena terdapat berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi penurunan muka tanah di kawasan tersebut.
Saya pun kembali mencari alternatif. Perhatian saya akhirnya tertuju pada kawasan pesisir Jakarta dan jalur KRL Commuter Line Jakarta Kota–Tanjung Priok. Dari situlah saya mulai memantapkan objek penelitian skripsi saya.
Perjalanan menentukan bentuk penelitian juga tidak langsung selesai begitu saja. Pada tahap awal bimbingan di kampus, saya mendapatkan masukan bahwa topik yang saya bawa masih perlu disesuaikan dengan fokus keilmuan dan arah penelitian prodi. Rancangan awal saya juga masih cukup kompleks. Setelah melalui beberapa diskusi dan arahan dosen pembimbing, penelitian tersebut perlahan disederhanakan hingga akhirnya berfokus pada identifikasi dan perhitungan laju penurunan muka tanah di sepanjang koridor KRL Jakarta Kota–Tanjung Priok menggunakan PS-InSAR.

Dok. Penulis
Memasuki tahap pengolahan data, saya sempat mengira bahwa pengolahan PS-InSAR akan menjadi bagian paling sulit. Ternyata, setelah data tersedia, pengolahan utamanya justru dapat saya selesaikan dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari. Kesulitan terbesar malah datang dari proses memperoleh data pendukung dari instansi eksternal.
Salah satu momen yang paling menguji kesabaran adalah ketika mencoba mendapatkan data pendukung dari PT KAI. Awalnya saya mengajukan permohonan melalui sistem daring, tetapi tidak kunjung mendapatkan persetujuan. Saya akhirnya nekat datang langsung ke Stasiun Juanda untuk mencari informasi, tetapi kemudian diarahkan ke kantor Daop 1 PT KAI di sekitar Stasiun Cikini. Saya kembali mengajukan permohonan dan mendapat informasi bahwa prosesnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu.
Dua minggu kemudian saya melakukan follow-up, tetapi ternyata terdapat kendala pada sistem pusat sehingga saya diminta mengajukan kembali dari awal. Proses mengajukan, menunggu, dan melakukan tindak lanjut tersebut terus berulang hingga kurang lebih tiga bulan lamanya. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan penelitian tanpa menggunakan data tambahan tersebut karena sifatnya yang hanya sebagai pendukung. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa penelitian tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada data yang kita harapkan bisa diperoleh dengan mudah, tetapi ternyata membutuhkan waktu yang panjang. Pada akhirnya, kita perlu menentukan prioritas dan mengetahui kapan harus mengambil langkah rasional dengan data yang tersedia.
Setelah pengolahan data selesai, saya justru menemukan tantangan lain yang tidak kalah pelik: menulis bab pembahasan. Saya tahu hasil penelitian yang diperoleh, tetapi sering kali bingung bagaimana mengembangkan hasil tersebut menjadi narasi pembahasan yang runtut secara ilmiah. Saya bahkan sempat berhenti mengerjakan skripsi selama sekitar satu minggu karena merasa buntu, yang tentu saja ditambah dengan serangan rasa malas.
Sampai suatu ketika, saya mendapatkan pemanggilan akademik dari program studi untuk membahas rencana dan timeline sidang. Saat mengetahui batas waktunya, saya mulai sadar bahwa saya tidak bisa terus-menerus menunda. Saya kembali mengejar bagian-bagian yang belum selesai, merampungkan pembahasan dan revisi, kemudian mempersiapkan diri untuk mendaftar sidang.

Dok. Penulis
Sebenarnya, sejak awal saya cukup takut dengan skripsi, terutama saat membayangkan proses sidangnya. Namun, saya mencoba meyakinkan diri sendiri dengan pemikiran sederhana: sidang hanya berlangsung satu hari, skripsi hanya memakan waktu beberapa bulan dalam perjalanan hidup yang panjang, dan kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalimat tersebut membantu saya melewati rasa takut yang sebelumnya terasa begitu besar. Saya belajar bahwa kita tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk mulai bergerak. Terkadang, kita hanya perlu mengerjakan satu bagian terlebih dahulu, kemudian melanjutkan ke bagian berikutnya.

Dok. Penulis
Jika melihat kembali perjalanan ini, saya menyadari bahwa skripsi saya sebenarnya tidak pernah benar-benar dimulai dari meja penyusunan skripsi. Semuanya berawal dari keputusan sederhana untuk mencoba mendaftar magang di BRIN. Dari sana saya mengenal PS-InSAR, melanjutkan pengolahan data, mencari objek penelitian, mempertimbangkan berbagai opsi, hingga akhirnya memilih koridor KRL Jakarta Kota–Tanjung Priok. Ada data yang harus ditunggu berbulan-bulan, penelitian yang beberapa kali berubah arah, pembahasan yang sempat membuat saya berhenti, dan tenggat waktu (deadline) yang akhirnya memaksa saya untuk kembali bergerak.
Dari seluruh proses tersebut, saya belajar bahwa skripsi bukan hanya tentang kemampuan teknis spasial dan hasil akhir penelitian. Skripsi juga mengajarkan saya untuk menerima perubahan, menghadapi ketidakpastian birokrasi, menentukan prioritas, menerima masukan dengan bijak, dan tetap melanjutkan sesuatu meskipun prosesnya tidak selalu berjalan mulus sesuai harapan.
Untuk teman-teman yang sedang atau akan memulai skripsi, perjalanan setiap orang tentu berbeda. Ada yang langsung menemukan topik dengan cepat, ada pula yang harus berkali-kali berganti ide. Ada yang lancar dalam pengolahan data, ada juga yang harus menghadapi berbagai rintangan di lapangan. Tidak perlu terlalu membandingkan proses kita dengan proses orang lain. Fokus saja pada langkah yang sedang dihadapi di depan mata. Kalau belum bisa menyelesaikan satu bab penuh, kerjakan satu halaman. Kalau belum tahu harus mulai dari mana, mulailah dari hal kecil yang paling bisa dikerjakan.
Perjalanan ini tentu tidak dapat saya lalui seorang diri. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Program Studi Sains Informasi Geografi UPI, khususnya Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi, serta seluruh dosen dan sivitas akademika yang telah menanamkan kultur akademik yang luar biasa dan memberikan dukungan selama saya menjadi mahasiswa SaIG.
Terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada Bapak Dr. Andie Setiyoko, S.T., M.Tech. dan Ibu Asri Ria Affriani, S.T., M.Eng. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing, memberikan arahan, masukan, serta kesabaran selama proses penyusunan skripsi ini. Terima kasih kepada BRIN, khususnya Bapak Joko Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., yang menjadi bagian penting dari awal mula perjalanan penelitian ini hingga mengantarkan saya mengenal dunia InSAR.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kita tidak selalu harus mengetahui seluruh peta jalan sejak hari pertama. Terkadang, kita hanya perlu berani mengambil langkah pertama dan belajar menyesuaikan diri dengan setiap dinamika yang ditemui di sepanjang jalan. Dulu saya merasa gentar dengan skripsi dan sidang, tetapi sekarang saya sangat bersyukur pernah melewati setiap prosesnya.
Sidang hanya satu hari. Skripsi hanya beberapa bulan. Dan jika bukan sekarang, kapan lagi?
