
PADANG - Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Siti Komariah, M.Si., Ph.D., beserta tim peneliti mendiseminasikan hasil riset inovatifnya pada ajang konferensi internasional International Conference on Education, Sociology, Anthropology, and Communication (ICESAC) di Universitas Negeri Padang (UNP). Melalui paparan bertajuk "Melampaui Pubertas Biologis", riset ini menawarkan rekonstruksi pendidikan seksualitas yang komprehensif melalui paradigma aqil baligh untuk mengatasi permasalahan "infantisasi mental" dan kerentanan digital pada remaja awal.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena masa kini di mana pubertas datang lebih awal, sementara regulasi diri dan daya tahan mental berkembang lebih lambat. Kondisi ini memicu berbagai risiko digital pada remaja, seperti penyebaran sexting hingga kekerasan seksual siber. Sayangnya, pendidikan seksualitas di Indonesia seringkali masih mandek karena dianggap tabu, dinilai tidak selaras dengan norma agama, dan terlalu berfokus pada biologi ketimbang penalaran moral sehari-hari.
Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, Siti Komariah dan tim mengusung pendekatan Fikih Islam dan konsep psikologi Ibnu Sina. Dalam paparannya, dijelaskan bahwa seseorang menjadi mukallaf (bertanggung jawab secara moral) hanya ketika kedewasaan fisik (baligh) dan kematangan akal sehat (aqil) bertemu. Mengetahui suatu hal buruk belum tentu bisa mengendalikannya, sehingga dibutuhkan pelatihan "akal praktis" agar remaja tidak mudah terbawa syahwat dan manipulasi di dunia maya.
Tim peneliti kemudian merumuskan Model Resiliensi Digital Aqil Baligh yang mencakup empat pilar: Secure Identity (pijakan jati diri sebagai hamba Allah), Secure Mind (kemampuan membedakan mudarat dan manfaat), Secure Body (menjaga privasi dan batas tubuh), serta Secure Soul (kesadaran diawasi Tuhan dan kendali diri).
Model ini telah diuji coba melalui desain kuasi-eksperimen terhadap siswa fase murahiq (usia 12-14 tahun) di salah satu SMP di Kabupaten Bandung. Intervensi dilakukan secara interaktif menggunakan Modul Pendidikan Aqil Baligh dan permainan kartu skenario bertajuk "Mukallaf Quest". Temuan awal menunjukkan fakta bahwa meskipun kesadaran remaja terkait bahaya digital sudah tinggi (98,7%), sikap protektif mereka masih sangat rapuh saat menghadapi tekanan teman sebaya, kebingungan menolak ajakan, hingga mudah percaya pada orang baru di internet.
Pasca-intervensi, skor sikap protektif siswa tercatat meningkat. Namun, merujuk pada filosofi Ibnu Sina, peneliti menggarisbawahi bahwa kendali akal hanya bisa tumbuh maksimal melalui latihan yang berulang dan berjangka panjang, tidak cukup hanya melalui intervensi singkat.
Sebagai kesimpulan dari presentasinya di ICESAC, Siti Komariah menegaskan bahwa penggunaan bahasa "aqil baligh" terbukti sangat efektif untuk membuka jalan masuknya materi tentang batas tubuh dan groomingdigital di lingkungan sekolah Islam tanpa menimbulkan penolakan dari guru maupun orang tua. Ia berpesan bahwa pendidikan seksualitas bagi generasi masa kini harus berani melampaui urusan pubertas biologis semata, demi membentuk akal remaja yang sungguh-sungguh mampu mengendalikan diri.