Penulis: Gyna Alicaxandra S.F (2500069) dan Syifa Isnaeni R (2408999)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)
Masyarakat Indonesia belakangan ini dihadapkan pada rentetan fenomena bencana ekologis yang terjadi secara beruntun di berbagai pulau utama. Dua peristiwa besar yang menyita perhatian publik adalah Kebakaran Hutan dan Lahan yang melanda ekosistem gambut di Kalimantan serta bencana banjir bandang dan galodo yang menerjang wilayah Padang dan sekitarnya di Sumatra Barat. Selama ini publik sering memandang kedua fenomena tersebut sebagai dua musibah alam biasa yang terpisah. Padahal jika ditinjau dari disiplin ilmu geografi terpadu, Karhutla di Kalimantan dan banjir bandang di Padang merupakan gambaran dari akar masalah yang sama, yaitu kerusakan sistemis pada lapisan geosfer akibat intervensi aktivitas manusia yang diperparah oleh fenomena anomali iklim global.
Secara konsep geografi, peristiwa bencana tidak pernah berdiri tunggal melainkan merupakan hasil interaksi antara atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer. Pada kasus Karhutla di Kalimantan, ekosistem gambut yang pada kondisi alaminya merupakan bentang alam basah penampung air justru mengering akibat kanalisasi dan pembukaan lahan secara masif oleh manusia. Ketika musim kemarau atau fenomena El Niño melanda, tanah gambut yang mengering berubah menjadi bahan bakar reaktif yang memicu kebakaran bawah permukaan.
Kedua fenomena ini membuktikan betapa besarnya dampak multidimensi yang ditimbulkan bagi kehidupan masyarakat. Dari sisi kesehatan publik, asap pekat Karhutla memicu krisis infeksi saluran pernapasan akut secara massal, sementara banjir bandang di Padang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan trauma psikologis bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Dari sisi ekonomi dan aksesibilitas, kabut asap melumpuhkan jadwal penerbangan dan aktivitas bisnis di Kalimantan, sedangkan banjir bandang di Sumatra Barat merusak infrastruktur jembatan serta memutus jalur logistik darat utama antarprovinsi.
Daftar Pustaka
Alfarisyi, H., Sutikno, S., & Rinaldi. (2020). Analisis pembasahan lahan gambut akibat pembangunan sekat kanal (studi kasus: Desa Lukun, Kabupaten Kepulauan Meranti). Jurnal Teknik, 14(1), 45–52. https://doi.org/10.31849/teknik.v14i1.3347
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2026, 5 April). Perkembangan musim kemarau dan prediksi El Niño tahun 2026: Kemarau lebih kering dan panjang, BMKG tekankan pentingnya antisipasi. https://www.bmkg.go.id/berita/perkembangan-musim-kemarau-dan-prediksi-el-nino-tahun-2026-kemarau-lebih-kering-dan-panjang-bmkg-tekankan-pentingnya-antisipasi
CNN Indonesia. (2026, 14 Oktober). Kemenkes catat 283.270 orang idap ISPA akibat karhutla.
KabarBursa. (2025, 30 November). Kerugian banjir dan longsor di Sumbar bisa tembus lebih dari Rp485 miliar. https://www.kabarbursa.com/makro/kerugian-banjir-dan-longsor-di-sumbar-bisa-tembus-lebih-dari-rp485-miliar
Metro TV. (2025, 30 November). Kerugian infrastruktur banjir Kota Padang capai Rp202,8 miliar. https://www.metrotvnews.com/read/b3JC5Yqw-kerugian-infrastruktur-banjir-kota-padang-capai-rp202-8-miliar
Page, S. E., & Hooijer, A. (2016). In the line of fire: The peatlands of Southeast Asia. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 371(1696), Article 20150176. https://doi.org/10.1098/rstb.2015.0176
Sindonews. (2026, 19 Juli). Kemenhut: 107.465 hektare hutan dan lahan ludes terbakar sepanjang 2026. https://nasional.sindonews.com/read/1729941/15/kemenhut-107465-hektare-hutan-dan-lahan-ludes-terbakar-sepanjang-2026-1784444824
Triadi, L. B. (2020). Restorasi lahan rawa gambut melalui metode rewetting dan paludikultur. Jurnal Sumber Daya Air, 16(2), 103–118. https://doi.org/10.32679/jsda.v16i2.677
Wisner, B., Blaikie, P., Cannon, T., & Davis, I. (2004). At risk: Natural hazards, people’s vulnerability and disasters (2nd ed.). Routledge. https://www.routledge.com/At-Risk-Natural-hazards-peoples-vulnerability-and-disasters/Wisner-Blaikie-Cannon-Davis/p/book/9780415252164
Gambar 1 Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan
Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2025.
Kebakaran tipe ini sangat sulit dipadamkan dan menghasilkan kabut asap beracun yang tebal. Sementara itu pada kasus Padang, topografi terjal Pegunungan Bukit Barisan dan struktur tanah yang peka terhadap erosi berpadu dengan fenomena curah hujan ekstrem. Ketika tutupan vegetasi di kawasan hulu sungai terdegradasi akibat penebangan dan alih fungsi lahan, kapasitas infiltrasi tanah menurun drastis. Air hujan yang tidak terserap kemudian berubah menjadi aliran permukaan deras yang mengikis tebing, membawa material batuan vulkanik dan kayu lapuk, lalu menerjang pemukiman warga di kawasan hilir sebagai banjir bandang dan galodo.Tabel 1. Perbandingan Rantai Sebab Akibat Geosfer Karhutla dan Banjir Bandang
| Faktor Geosfer | Karhutla Ekosistem Gambut (Kalimantan) | Banjir Bandang & Galodo (Sumatra Barat) |
| Atmosfer | Fenomena El Niño dan kemarau yang lebih kering (BMKG, 2026). | Anomali curah hujan ekstrem di kawasan hulu. |
| Litosfer / Lahan | Gambut yang rentan kering dan turun permukaannya akibat drainase. | Topografi terjal Bukit Barisan, tanah peka erosi, dan material vulkanik. |
| Antroposfer | Kanalisasi dan pembukaan lahan secara masif. | Penebangan dan alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai. |
| Proses Fisik | Api menjalar di bawah permukaan (sulit dipadamkan). | Infiltrasi turun drastis, aliran permukaan menjadi sangat deras. |
Gambar 2. Dampak banjir bandang di Kota Padang
Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2025.
Selain itu, kerusakan ekologis yang ditimbulkan bersifat jangka panjang, mulai dari hilangnya keanekaragaman hayati dan satwa langka hingga terlepasnya emisi karbon raksasa ke atmosfer yang mempercepat laju pemanasan global. Dampak multidimensi tersebut pada data empiris. Kementerian Kesehatan mencatat hingga Oktober 2026, lebih dari 283.000 jiwa mengidap ISPA akibat kabut asap karhutla (CNN Indonesia, 2026). Di sisi ekonomi infrastruktur, kerugian di Sumatra Barat diestimasikan sangat tinggi, seperti yang disajikan pada tabel berikut ;Tabel 2. Estimasi kerugian Infrastruktur Akibat Banjir di Sumatra Barat
| Wilayah Terdampak | Perkiraan Kerugian (Miliar Rupiah) |
| Padang Pariaman | Rp 268,5 |
| Kota Padang | Rp 202,8 |
| Kabupaten Agam | Rp 13,9 |
Sumber: Diolah dari Metro TV (2025) dan KabarBursa (2025).
Gambar 3. Kerusakan infrastruktur akibat banjir dan longsor di Sumatra Barat
Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 2025.
Melalui pendekatan geografi terpadu, penyelesaian masalah bencana serial ini tidak dapat dilakukan secara parsial di kawasan hilir saja, melainkan harus menyentuh akar masalah tata ruang di kawasan hulu dan kawasan lindung. Integrasi teknologi geospasial seperti Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis menjadi instrumen yang sangat vital. Citra satelit termal dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi titik panas Karhutla secara tepat waktu, sementara pemetaan citra satelit berkala dapat digunakan untuk memantau perubahan tutupan lahan dan tingkat kerentanan banjir di daerah aliran sungai. Langkah mitigasi yang konkret harus segera diambil oleh pemerintah dan masyarakat. Untuk kawasan Kalimantan, upaya restorasi gambut melalui program pembasahan kembali dengan penyekatan kanal serta penanaman vegetasi asli harus dijalankan secara konsisten. Bagi wilayah Padang dan Sumatra Barat, rehabilitasi kawasan hulu sungai, pembangunan struktur penahan aliran di sepanjang aliran sungai, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang wilayah menjadi harga mati. Penguatan sistem peringatan dini berbasis masyarakat juga perlu dibangun agar warga di kawasan rawan bencana memiliki kesiapsiagaan yang tinggi. Pada akhirnya, menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan merupakan kunci utama untuk mewujudkan wilayah Indonesia yang tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan.Tabel 3. Ringkasan Strategi Mitigasi Berkelanjutan
| Lokasi / Aspek | Tindakan Mitigasi Prioritas |
| Gambut Kalimantan | Program 3R (Rewetting, Revegetation, Revitalization): Pembasahan kembali lewat penyekatan kanal, penanaman vegetasi asli. |
| Hulu Sumatra Barat | Rehabilitasi kawasan hulu, penegakan hukum ketat terhadap pelanggaran tata ruang, dan penghentian deforestasi. |
| Hilir DAS | Pembangunan struktur penahan aliran/sedimen, infrastruktur tangguh bencana. |
| Sistem Geospasial | Pemanfaatan citra satelit termal untuk deteksi dini titik panas; pemetaan PJ/SIG untuk tutupan lahan. |