Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
ARTIKEL OPINI KELOMPOK 1: Deforestasi Alam: Studi Kasus Banjir Sumatra

Dibuat Oleh Kelompok 1, 16 Desember 2025 Kegiatan Character Building Departemen Geografi.

Deforestasi merupakan salah satu persoalan lingkungan paling serius yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Istilah deforestasi merujuk pada proses hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat aktivitas manusia, seperti penebangan hutan, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, pertambangan, serta pembangunan infrastruktur. Padahal, hutan memiliki peran ekologis yang sangat penting, terutama sebagai pengatur siklus hidrologi, penahan erosi, serta penyangga keseimbangan ekosistem. Ketika hutan rusak atau hilang, kemampuan alam dalam mengendalikan air dan menjaga stabilitas lingkungan ikut melemah.

Provinsi Sumatra Utara menjadi salah satu wilayah yang terdampak signifikan akibat deforestasi. Kawasan hutan di daerah hulu sungai dan wilayah pegunungan mengalami tekanan besar akibat pembukaan lahan skala besar dan eksploitasi sumber daya alam. Akibatnya, fungsi hutan sebagai daerah resapan air menurun drastis. Kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana banjir di berbagai daerah Sumatra Utara, terutama saat curah hujan tinggi. Sungai-sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang berlebihan karena daerah tangkapan air telah mengalami kerusakan.

Banjir yang terjadi di Sumatra Utara tidak dapat dipandang semata-mata sebagai fenomena alam, melainkan sebagai dampak dari ketidakseimbangan lingkungan akibat deforestasi yang tidak terkendali. Oleh karena itu, artikel opini ini bertujuan untuk membahas deforestasi sebagai faktor utama yang memperparah banjir di Sumatra Utara, dengan menitikberatkan pada dampaknya terhadap aspek lingkungan. Pembahasan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan hutan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan.

Deforestasi di Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat

Sejak akhir November 2025, provinsi-provinsi di pulau Sumatra terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda hujan ekstrem akibat dari Tropis Cyclone Senyar yang merupakan sebuah sistem badai tropis langka yang terjadi di daerah Sumatera Utara yang menimbulkan curah hujan yang tinggi. Kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan

yang rapuh menyebabkan sungai meluap, banjir meluas, dan longsor di banyak daerah. Banjir ini menenggelamkan ribuan rumah, membuat akses jalan serta infrastruktur vital terputus, dan memaksa banyak warga mengungsi. Analisis menunjukkan bahwa penyebab bencana bukan hanya cuaca ekstrem. Degradasi lingkungan seperti berkurangnya tutupan hutan di hulu sungai, alih fungsi lahan untuk perkebunan, tambang, dan pemukiman tanpa mitigasi ikut memperparah dampak banjir. Dengan berkurangnya daya serap tanah dan meningkatnya aliran air permukaan, hujan deras pun dengan cepat berubah menjadi bencana bagi masyarakat di hilir.

Akibat banjir dan longsor:

  1. Ribuan rumah rusak atau hilang, banyak wilayah tergenang air, dan infrastruktur umum seperti jalan serta jembatan rusak parah.
  2. Ratusan ribu hingga jutaan warga terpaksa mengungsi termasuk anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
  3. Akses pelayanan dasar seperti listrik, air bersih, komunikasi, dan kesehatan terhambat, memperparah kondisi krisis.

Manusia & alam tidak bisa dipisahkan. Eksploitasi alam tanpa kesiapan mitigasi dapat membawa ancaman besar. Kebijakan tata ruang harus berbasis risiko serta lingkungan. Mengizinkan pembalakan, pertambangan atau pembangunan di Daerah Aliran Sungai (DAS) tanpa studi dampak jangka panjang sangatlah berbahaya dan beresiko. Kesiapsiagaan bencana harus ditingkatkan dari sistem peringatan dini hingga perencanaan evakuasi dan perlindungan warga yang rentan.

Ancaman Hidrologi yang Diakibatkan Deforestasi

Hutan sangat berfungsi bagi kehidupan biosfer untuk peresapan air hujan, terlebih untuk lokasi pada daerah hulu sungai, hutan tersebut berperan vital dalam penataan persebaran air karena fungsinya yaitu menyerap, menahan, serta melepas air pada daerah hulu sungai. Apabila terjadi deforestasi pada wilayah tersebut, maka ancaman nyata akan bencana alam dapat terjadi dikemudian hari, salah satunya adalah banjir bandang akibat tidak ada penyangga air pada hulu sungai sehingga distribusi air pada sungai menjadi berlebih apabila terjadi hujan dengan curah hujan tinggi yang kelak akan mengakibatkan banjir bandang. Sepanjang 2025 banyak terjadi peristiwa hidrometeorologi di Indonesia yang mayoritas dipicu kombinasi deforestasi dan curah

hujan ekstrim yang melebihi 300mm perhari. Ketika hutan kehilangan fungsinya yang tak lagi mampu menyerap air hujan deras langsung mengalir ke sungai dan mempercepat kenaikan debit air. Situasi ini memperbesar resiko banjir bandang terutama di daerah topografi curam dan hutan yang telah beralih fungsi. Banjir dan longsor di Sumatera telah mengubah lanskap jalur sungai. Air mengalir dari hulu perbukitan melalui sungai, kini 0-*-----sudah berdampingan dengan perumahan penduduk. Wilayah ini menjadi rawan banjir susulan usai BMKG memperingatkan hujan lebat hingga sepekan ke depan.

Menurut Dwikorita, eks Ketua BMKG mengatakan pemanasan global yang terjadi dalam 150 tahun terakhir terjadi berkali-kali lipat lebih cepat dibandingkan perubahan alamiah maupun dalam kurun waktu geologis. Menurutnya, kontribusi terbesae datang dari aktivitas manusia seperti emisi gas rumah kaca, defortasi, da indrustialisasi. Ia mengatakan bahwa kenaikan suhu tersebut memperbesar kapasitas udara dalam menyimpan uap air. Sehingga, saat dilepaskan dalam bentuk hujan, energinya jauh lebih besar dan lebih eksplosif.

Peran Aktivitas Manusia

Alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, hingga pembangunan infrakstruktur, menyebabkan neraca air terganggu. Akibatnya secara alami ekosistem akan membuang air lebih banyak di bandingkan kondisi normal hingga banjir terjadi Tecatat penyusutan hutan 1990-2024 menjadi 690,777 hektar lahan sawit, kawasan tambang 2160 hektar, kawasan perkotaan 9666 hektar, hutan tanaman industri (HTI) 69.733 hektar. Sisanya merupkan fungsilahan seperti pertanian, hutan bakau, dan karamba.

Kesimpulan

Banjir yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra bukan hanya disebabkan oleh curah hujan ekstrem, tetapi diperparah oleh deforestasi yang melemahkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air. Ditambah lagi dengan pemanasan global yang memperbesar kapasitas udara menyimpan uap air. Sehingga, saat dilepaskan dalam bentuk hujan, energinya jauh lebih besar. Dan di situlah tersambungnya faktor antropogenik dengan faktor alamiah. Hilangnya tutupan hutan di daerah hulu sungai membuat daya serap tanah menurun dan aliran permukaan meningkat, sehingga banjir dan longsor menjadi semakin sering dan merusak. Oleh karena itu, diperlukan berbagai peran baik dari masyarakat maupun pemerintah seperti, perlindungan hutan, pengelolaan DAS yang berkelanjutan, serta kebijakan tata ruang berbasis risiko lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi ancaman bencana dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *