Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
ARTIKEL OPINI KELOMPOK 18: BENCANA BANJIR AKIBAT DEFORESTASI DI TAMIANG ACEH TIMUR YANG MEMENGARUHI ASPEK EKONOMI

Ditulis Oleh: Kelompok 18

Editor: Syalwa Ramadianti (2407430)

Bandung 2025 - Analisis Tim Jurnalisme Data Kompas mengungkap, selama 1990-2024, hilangnya hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat rata-rata 36.305 hektar per tahun. Jika dikonversikan per hari, ditemukan angka sekitar 99,46 hektar hilang per hari.

Dampak deforestasi terhadap banjir terlihat jelas di Tamiang, ketika hutan gundul di perbukitan membuat air hujan turun deras tanpa hambatan dan berubah menjadi banjir bandang yang menghantam kawasan pesisir. Hilangnya vegetasi membuat tanah kehilangan kemampuan menahan air, sehingga aliran permukaan meningkat drastis. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sangat rentan terhadap banjir berulang setiap musim hujan.

Aceh Tamiang menjadi wilayah paling parah terdampak banjir bandang. Rumah warga porak- poranda, dan di sejumlah titik seluruh desa rata dengan tanah. Ternak seperti sapi dan kambing mati terkapar di jalan. Ekonomi di sekitar wilayah menjadi lumpuh.

Menurut saya, Banjir di Aceh Tamiang umumnya terjadi akibat meluapnya sungai ketika curah hujan tinggi, terutama karena meningkatnya aliran air dari wilayah hulu ke hilir. Kerusakan hutan di daerah hulu akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan dan kegiatan ekonomi lainnya menyebabkan daya serap tanah menurun, sehingga air hujan tidak terserap dengan baik dan langsung mengalir ke sungai dalam jumlah besar. Aliran air yang tidak terkendali ini juga memicu erosi tanah yang berujung pada pendangkalan sungai, sehingga kapasitas sungai berkurang dan mudah meluap. Selain itu, perkembangan permukiman dan aktivitas ekonomi di bantaran sungai tanpa perencanaan yang matang memperparah dampak banjir. Dalam hal ini, curah hujan tinggi hanya menjadi pemicu, sementara penyebab utama banjir adalah aktivitas manusia dan lemahnya pengelolaan lingkungan, yang akhirnya membuat masyarakat di wilayah hilir menjadi pihak paling terdampak, contoh aktivitas manusia yang menyebabkan banjir, yaitu deforestasi dan degradasi hutan di DAS Aceh dan Sumatera.

Kerusakan ekonomi tidak dapat di hindari dalam bencana banjir di pulau sumatera terutama di Kabupaten Aceh Tamiang. Sektor perekonomian di Aceh Tamiang di dominasi oleh pertanian, perkebunan, serta pertambangan, yang mana saat ini tidak beroperasi karena banjir yang melanda. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani, peternak, bahkan penambang kehilangan perkerjaan nya karena wilayah yang rusak akibat banjir.

Dengan hilangnya pekerjaan masyarakat Aceh Tamiang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, ditambah pemerintah belum menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional yang membuat bantuan belum terpenuhi

Dapat di simpulkan bahwa kasus Deforestasi di Kabupaten Aceh Tamiang banyak terjadi karena tekanan ekonomi masyarakat  yang  bergantung pada pembukaan lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh sebab itu, solusi utama perlu diarahkan pada peningkatan perekonomian masyarakat agar mereka tidak bergantung pada aktivitas penebangan hutan. Pemerintah dan pihak terkait dapat mengembangkan sumber mata pencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar hutan, seperti usaha agroforestri, budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi, serta pengolahan hasil hutan non-kayu. Dengan adanya peluang usaha yang stabil dan berkelanjutan, masyarakat tetap dapat memperoleh penghasilan tanpa harus merusak hutan sebagai sumber daya utama.

Selain itu, peningkatan perekonomian masyarakat juga dapat dilakukan melalui pemberdayaan usaha kecil dan menengah serta perluasan akses pasar. Masyarakat perlu diberikan pelatihan keterampilan, modal usaha, dan pendampingan agar mampu mengolah hasil alam menjadi produk bernilai jual tinggi. Dukungan koperasi dan pemasaran digital dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan. Jika kesejahteraan ekonomi masyarakat meningkat dan kebutuhan hidup dapat terpenuhi dari usaha yang legal dan berkelanjutan, maka dorongan untuk melakukan deforestasi akan berkurang secara alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *