Penulis: Fazrul Ramadhanni (2406956)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

Gambar 1. Foto bersama seluruh panitia mahasiswa dari HMPG dan Prodi SaIG UPI bersama pengurus Yayasan Sosial dan Pendidikan Caraka Aditya Danadhyaksa di lokasi kegiatan di Bandung.
Bandung — Menyambut semarak Hari Raya Idul Adha, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi (HMPG) menginisiasi kegiatan sosial keagamaan yang berdampak langsung pada masyarakat. Dengan semangat untuk terus menghadirkan kebermanfaatan, agenda mulia ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam pelaksanaan kurban dan penyerahan infaq bersama Yayasan Sosial dan Pendidikan Caraka Aditya Danadhyaksa. Inisiatif ini bukan sekadar program kerja biasa, melainkan sebuah bentuk nyata kepedulian mahasiswa untuk terjun langsung di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk menyadari peran penting mereka sebagai agen perubahan sosial di lingkungan sekitar. Kehadiran mereka di tengah warga diharapkan mampu memperluas jangkauan manfaat dan kebaikan dari ibadah kurban itu sendiri.
Jauh sebelum gema takbir berkumandang, persiapan kegiatan ini telah dilakukan secara matang oleh para panitia mahasiswa. Panitia membuka ruang partisipasi publik melalui penggalangan infaq yang secara khusus ditujukan untuk yayasan tersebut. Dana yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk menopang berbagai kegiatan sosial dan pendidikan di Yayasan Sosial dan Pendidikan Caraka Aditya Danadhyaksa. Proses penghimpunan dana kebaikan ini terus berjalan secara intensif dan transparan hingga H-1 perayaan Idul Adha. Seluruh amanah yang telah dititipkan masyarakat kemudian diserahterimakan secara langsung kepada pihak pengurus yayasan. Penyerahan ini menjadi wujud nyata integritas serta tanggung jawab sosial dari seluruh pihak penyelenggara yang terlibat.
Keberhasilan dan kelancaran kegiatan ini tentu tidak lepas dari kerja keras panitia di lapangan. Di bawah komando Destri Meliani dan Naziha Ayna Yasmin sebagai ketua pelaksana, kegiatan ini sukses menggerakkan partisipasi aktif dari seluruh anggota himpunan. Menariknya, momentum kurban pada tahun ini terasa jauh lebih istimewa dan berskala lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan HMPG merajut kolaborasi yang sangat erat dengan rekan-rekan mahasiswa dari Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG). Sinergi ini membuktikan bahwa semangat kepedulian sosial dapat dibangun dengan kokoh secara lintas program studi. Keterlibatan dua program studi di bawah satu departemen yang sama ini turut menyatukan berbagai potensi mahasiswa untuk mencapai tujuan mulia.
Rangkaian aksi nyata di lapangan mulai dieksekusi tepat setelah ibadah salat Idul Adha usai dilaksanakan. Rombongan mahasiswa bergerak secara bersama-sama meninggalkan titik kumpul di Universitas Pendidikan Indonesia, Kampus Setiabudi, Bandung. Mereka menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 45 menit untuk bisa sampai menuju lokasi yayasan. Setibanya di sana, antusiasme rombongan mahasiswa ini langsung disambut dengan sangat hangat oleh warga sekitar. Jajaran pengurus yayasan juga turut memberikan sambutan yang memunculkan rasa kekeluargaan di antara seluruh hadirin. Sambutan penuh senyum tersebut memberikan kesan awal yang manis, sehingga semangat gotong royong langsung terasa kental sejak menit pertama kegiatan dimulai.
Dalam pelaksanaan kurban itu sendiri, mahasiswa tidak sekadar hadir sebagai tamu atau panitia penyalur bantuan semata. Mereka justru membaur tanpa sekat dan menjadikan momen ini sebagai ruang belajar interaktif yang menyenangkan. Para mahasiswa memanfaatkan kesempatan berharga ini untuk merasakan langsung setiap tahapan dalam tata laksana kurban. Para peserta turut turun tangan mendampingi proses penyembelihan hewan, menguliti, hingga memisahkan daging dari tulangnya. Tidak hanya itu, mereka juga ikut mencacah daging dan menimbangnya secara presisi agar siap didistribusikan secara adil kepada masyarakat. Tentu saja, setiap langkah kerja ini dieksekusi dengan ekstra hati-hati di bawah pengawasan ketat. Mahasiswa senantiasa mematuhi setiap arahan dari warga setempat yang memang sudah lebih berpengalaman dalam mengurus hewan kurban.
Keterlibatan fisik yang sangat intens ini pada akhirnya memberikan pencerahan tersendiri bagi para peserta. Mereka mendapatkan pengalaman berharga yang melampaui berbagai teori tekstual di dalam ruang kelas perkuliahan. Ilmu yang diserap di lapangan ternyata tidak melulu terbatas pada keterampilan teknis operasional semata. Walaupun memang, mereka juga belajar banyak hal praktis seperti cara memegang pisau yang aman atau teknik memotong daging yang benar. Lebih dari itu, mahasiswa juga belajar banyak mengenai pentingnya menjaga adab dan niat suci saat menjalankan ibadah. Pengalaman terjun langsung ini berhasil mengasah kedewasaan sosial dan memperkaya nilai spiritual masing-masing individu.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan ini memberikan pemahaman yang sangat mendalam mengenai esensi sejati dari perayaan Idul Adha. Momen kurban terbukti bukan sekadar rutinitas tahunan untuk membagikan daging kepada masyarakat yang membutuhkan. Lebih dari sekadar ritual, ini adalah sebuah panggilan jiwa tentang keikhlasan, pengorbanan tanpa pamrih, dan indahnya kebersamaan. Proses gotong royong di lapangan memperlihatkan bahwa kolaborasi dapat menjadi jalan terbaik untuk memberdayakan masyarakat secara luas. Melalui sinergi dan pengabdian langsung ini, mahasiswa diharapkan dapat terus menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif. Langkah kecil ini semoga mampu merawat tradisi kepedulian sosial yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
![]() |
![]() |
Gambar 2 dan 3. Proses Penyembelihan Domba & Pembelajaran Menguliti Hewan Kurban
Dalam pelaksanaan kegiatan kurban kali ini, kehadiran mahasiswa tidak sekadar berperan sebagai perantara atau panitia penyalur bantuan semata. Lebih jauh dari itu, mereka membaur dengan warga dan menjadikan momen ini sebagai ruang belajar interaktif untuk merasakan langsung setiap tahapan tata laksana kurban. Para peserta mendapatkan kesempatan berharga untuk turun tangan dan terlibat aktif dalam berbagai proses krusial. Mulai dari mendampingi proses penyembelihan hewan, tahapan menguliti, memisahkan daging dari tulang, mencacah daging menjadi potongan yang proporsional, hingga menimbangnya secara presisi agar siap didistribusikan secara adil. Seluruh rangkaian tugas ini tentu tidak dilakukan sembarangan; setiap langkah dieksekusi dengan ekstra hati-hati, senantiasa mematuhi arahan warga setempat, dan diawasi langsung oleh pihak-pihak yang sudah berpengalaman.
Keterlibatan fisik yang intens ini pada akhirnya memberikan banyak sekali pencerahan dan pembelajaran baru bagi para mahasiswa. Ilmu yang diserap di lapangan ternyata tidak hanya terbatas pada keterampilan teknis semata, melainkan juga menyentuh aspek spiritual dan kedewasaan sosial. Secara praktis, para peserta diajarkan hal-hal detail yang sangat berguna, seperti bagaimana postur tubuh dan cara memegang pisau yang aman, teknik menyayat daging yang efektif agar kualitasnya tetap terjaga, hingga pemahaman mendalam mengenai adab dan niat suci yang menjadi fondasi utama dalam ibadah kurban.
Pengalaman berharga semacam ini menjadi bentuk pembelajaran nyata (experiential learning) yang sangat jarang bisa didapatkan jika hanya mengandalkan teori di dalam ruang kelas perkuliahan. Dengan turun langsung berbaur bersama warga, mahasiswa dapat melihat dan merasakan sendiri bagaimana sebuah ibadah yang sarat akan nilai kemanusiaan dieksekusi dengan penuh tanggung jawab, ketelitian, dan semangat gotong royong yang kuat.

Gambar 4. Mahasiswa dari HMPG UPI sibuk mencacah daging kurban untuk disiapkan menjadi potongan-potongan kecil.
Praktik penyembelihan hewan kurban dalam perayaan Idul Adha sejatinya merepresentasikan dimensi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar ritual keagamaan tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari internalisasi nilai-nilai filantropi dan penguatan kohesi sosial di tengah masyarakat. Momentum ini memberikan ruang dialektika sekaligus pemahaman akademis yang mendalam mengenai esensi pengorbanan. Kurban bukan sekadar mekanisme distribusi logistik kepada kelompok masyarakat, melainkan sebuah diskursus tentang keikhlasan, altruisme (pengorbanan tanpa pamrih), kepedulian yang holistik, dan rajutan kebersamaan. Dalam konteks ini, mahasiswa didorong untuk memahami bahwa nilai fundamental dari kurban bermuara pada kesediaan untuk berbagi dan kemampuan untuk hadir secara fisik maupun empati di tengah realitas sosial masyarakat yang membutuhkan.
Sinergitas dan interaksi sosial yang terbangun antara entitas mahasiswa, warga masyarakat, serta pengurus yayasan menjadi instrumen krusial dalam suksesi kegiatan ini. Proses kolaborasi yang terjalin melalui kerja kolektif, sikap saling membantu, dan manajemen distribusi tugas secara langsung memperlihatkan secara empiris bahwa partisipasi lintas elemen merupakan pendekatan efektif untuk memberdayakan masyarakat (community empowerment) pada skala yang lebih luas. Implementasi kegiatan ini sekaligus menjadi medium refleksi dan penguatan kesadaran kolektif; bahwa kapasitas keilmuan dan diskursus organisasional tidak boleh mengalami stagnasi di dalam ruang-ruang eksklusif akademik. Sebaliknya, ilmu pengetahuan harus didekatkan pada praksis sosial dan diaktualisasikan sebagai solusi dalam dinamika kehidupan masyarakat.
Melalui inisiatif fasilitasi peringatan Idul Adha dan optimalisasi penghimpunan infaq ini, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi (HMPG) bersama entitas akademik Program Studi Sains Informasi Geografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memproyeksikan terbangunnya sebuah tradisi kepedulian sosial yang berkelanjutan (sustainable social care). Manifestasi kegiatan ini menjadi pembuktian nyata mengenai pengejawantahan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada pilar Pengabdian kepada Masyarakat. Hal ini menegaskan kembali peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of social change) elemen intelektual yang tidak hanya dituntut untuk memiliki kecakapan berpikir kritis pada tatanan konseptual, tetapi juga harus memiliki kecerdasan sosial untuk bergerak, beradaptasi, dan memformulasikan dampak nyata yang terukur bagi masyarakat sekelilingnya.
Pada akhirnya, praksis pengabdian ini meninggalkan jejak pengalaman empiris yang sangat esensial bagi seluruh partisipan. Penerimaan warga yang hangat, proses pembelajaran manajemen tata laksana kurban di lapangan, serta kristalisasi nilai kebersamaan yang dirasakan menjadi sebuah refleksi filosofis yang kuat. Idul Adha terbukti menjadi momentum strategis untuk merevitalisasi kepedulian dan merajut kembali solidaritas komunal yang mulai terkikis. Dengan mengusung semangat filantropi, kolaborasi, dan dedikasi pengabdian, inisiatif ini diharapkan mampu menjadi katalisator progresif, sebuah langkah kecil yang akan terakumulasi menjadi kemanfaatan sosial berskala besar, baik bagi pemberdayaan masyarakat maupun keharmonisan lingkungan secara spasial dan sosial.

