Penulis : Khalisha Noer Mumtaz (SaIG, 2201324)
Penyunting: Tio Noviar
“Ternyata, skripsi bukan cuma tentang bagaimana kita menyelesaikan sebuah penelitian, tetapi juga tentang bagaimana kita bertahan ketika apa yang sudah kita rencanakan tidak berjalan sesuai harapan.”
Kalau mengingat kembali perjalanan skripsi saya, rasanya banyak sekali hal yang sudah dilewati. Awalnya saya berpikir bahwa membuat skripsi hanya tentang menentukan topik, mencari data, melakukan penelitian, kemudian menyelesaikannya. Ternyata kenyataannya jauh lebih panjang dari yang saya bayangkan. Ada rasa senang, bingung, kecewa, stres, bahkan sempat merasa ingin menyerah. Tetapi dari semua proses tersebut, justru banyak hal yang akhirnya saya pelajari. Skripsi bagi saya bukan hanya sebuah kewajiban untuk menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga menjadi salah satu perjalanan yang membuat saya belajar tentang diri sendiri, tentang kesabaran, dan tentang bagaimana tetap berjalan meskipun keadaan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Perjalanan tersebut bahkan sudah dimulai sejak saya pertama kali menentukan topik penelitian. Pada awalnya, saya memilih topik mengenai ruang terbuka hijau. Saya merasa topik tersebut menarik dan cukup sesuai dengan ketertarikan saya terhadap lingkungan. Saya sudah mulai membayangkan penelitian seperti apa yang akan dilakukan dan bagaimana nantinya skripsi tersebut akan dikembangkan. Namun, ternyata rencana tersebut harus berhenti karena topik yang saya pilih sudah cukup sering digunakan. Ketika dosen menyampaikan bahwa topik tersebut kurang bisa dilanjutkan, tentu ada rasa kecewa. Rasanya seperti harus mengulang kembali dari awal ketika sebenarnya saya sudah mulai merasa nyaman dengan topik tersebut. Saat itu saya sempat bingung harus mencari topik apa lagi dan harus mulai dari mana. Tetapi setelah beberapa waktu, saya mencoba untuk tidak terlalu lama berada dalam rasa kecewa tersebut dan mulai mencari topik baru yang memang benar-benar saya minati.
Dari situlah saya kembali melihat sesuatu yang memang dekat dengan kehidupan sehari-hari saya, yaitu lingkungan. Saya memang cukup tertarik dengan isu lingkungan karena semakin ke sini rasanya kondisi lingkungan semakin memprihatinkan. Salah satu masalah yang paling sering saya lihat adalah polusi udara, terutama polusi yang berasal dari kendaraan bermotor. Sebagai orang yang sering beraktivitas di Kota Bandung, kemacetan menjadi sesuatu yang sudah sangat biasa ditemui. Hampir setiap hari kita bisa melihat jalanan yang dipenuhi kendaraan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja atau kuliah. Melihat kondisi tersebut membuat saya penasaran, apakah semakin tingginya jumlah kendaraan bermotor benar-benar memiliki pengaruh terhadap kualitas udara di Kota Bandung? Dari rasa penasaran tersebut akhirnya muncul ide penelitian baru yang kemudian saya jadikan sebagai topik skripsi, yaitu melihat hubungan antara jumlah kendaraan bermotor dengan kualitas udara di Kota Bandung menggunakan analisis regresi.
Awalnya saya cukup percaya diri dengan topik tersebut. Dalam pikiran saya, logikanya sederhana: semakin banyak kendaraan bermotor, semakin banyak juga emisi yang dihasilkan, sehingga seharusnya kualitas udara ikut terpengaruh. Saya kemudian mulai mengumpulkan data, mengolah data, dan mencoba melakukan analisis regresi. Namun, ternyata bagian inilah yang kemudian menjadi salah satu struggle terbesar selama pengerjaan skripsi. Hasil regresi yang saya dapatkan ternyata tidak menunjukkan pengaruh seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya sempat bingung dan merasa seperti penelitian saya tidak berhasil. Berulang kali saya mencoba memahami data dan hasil analisisnya, tetapi tetap saja hasil yang keluar tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Di titik itu saya mulai bertanya-tanya, “Kalau ternyata tidak berpengaruh, terus bagaimana dengan skripsi saya?” Saya merasa bahwa sebuah skripsi seharusnya menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan hipotesis atau dugaan awal. Namun, semakin sering saya berdiskusi dan melakukan bimbingan, saya akhirnya mulai memahami bahwa penelitian memang tidak selalu seperti itu. Data tidak bisa dipaksa untuk memberikan hasil yang kita inginkan. Justru hasil yang tidak sesuai dengan dugaan awal juga merupakan sebuah hasil penelitian yang harus diterima dan dijelaskan.
Dari perjuangan dengan regresi tersebut, saya akhirnya mendapatkan pelajaran yang menurut saya cukup penting: tidak semua skripsi harus sempurna. Selama ini saya terlalu berpikir bahwa skripsi yang bagus adalah skripsi yang hasilnya sesuai dengan harapan, semua analisisnya berjalan lancar, dan tidak memiliki banyak kekurangan. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Skripsi tetap merupakan sebuah proses belajar. Ada kesalahan, ada kebingungan, ada hasil yang tidak sesuai dugaan, dan ada banyak hal yang baru kita pahami setelah menjalaninya. Saya akhirnya belajar untuk lebih menerima hasil penelitian saya sendiri dan tidak terlalu memaksakan agar semuanya terlihat sempurna. Yang penting adalah saya memahami apa yang saya teliti, memahami proses yang saya lakukan, dan mampu mempertanggungjawabkan hasilnya. Bagi saya, justru di situlah salah satu nilai dari perjalanan skripsi ini, yaitu belajar menerima bahwa tidak semua hal dalam hidup akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Di tengah semua perjuangan tersebut, saya merasa sangat terbantu dengan adanya teman-teman seperjuangan. Kalau dikerjakan sendirian mungkin perjalanan skripsi akan terasa jauh lebih berat. Ada banyak momen ketika kami mengerjakan skripsi bersama di kafe, kampus, perpustakaan, bahkan di rumah masing-masing. Kadang kami benar-benar fokus mengerjakan skripsi sampai lupa waktu, tetapi tidak jarang juga waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan malah berubah menjadi sesi ngobrol dan bercanda. Namun, justru hal-hal sederhana seperti itu yang membuat perjalanan skripsi menjadi lebih menyenangkan. Ketika sedang merasa stres karena revisi atau bingung dengan penelitian, melihat teman-teman yang juga sedang berjuang membuat saya merasa bahwa saya tidak sendirian. Kami sama-sama punya masalah dengan skripsi masing-masing, sama-sama pernah mengeluh, sama-sama pernah merasa capek, tetapi pada akhirnya kami juga saling memberikan semangat untuk terus melanjutkan. Rasanya menyenangkan bisa melewati masa-masa sulit tersebut bersama orang-orang yang mengalami hal yang sama.
Setelah melewati berbagai proses tersebut, tantangan berikutnya datang ketika saya harus mengejar sidang dalam waktu sekitar dua minggu, sementara pada saat itu draft skripsi saya masih belum bisa dibilang sempurna. Waktu yang tersedia terasa sangat singkat dibandingkan dengan pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Saya harus mengejar revisi, melakukan bimbingan, memperbaiki bagian-bagian penelitian, menyelesaikan draft, sekaligus mulai mempersiapkan presentasi untuk sidang. Hampir setiap hari rasanya ada saja yang harus dikerjakan. Dalam kondisi seperti itu, rasa panik tentu ada, apalagi ketika melihat teman-teman yang mungkin sudah lebih dulu siap. Tetapi saya mencoba untuk fokus pada apa yang masih bisa saya lakukan. Saya sadar kalau terus memikirkan rasa takut dan panik, pekerjaan saya justru tidak akan selesai. Akhirnya saya memilih untuk mengerjakan satu per satu sampai akhirnya draft yang sebelumnya masih berantakan perlahan mulai menjadi skripsi yang siap untuk dipertanggungjawabkan.
Dalam proses mengejar sidang tersebut, saya semakin sadar bahwa saya tidak mungkin bisa sampai di tahap akhir sendirian. Ada banyak orang yang memberikan bantuan, baik dalam bentuk bimbingan, dukungan, maupun kesempatan bagi saya untuk bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu. Salah satu orang yang sangat saya apresiasi adalah Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi. Beliau sudah banyak membantu saya dan teman-teman Angkatan 2022 dalam melewati masa-masa akhir perkuliahan. Bagi saya, bantuan beliau memiliki arti yang sangat besar, terutama ketika kami sedang berada di fase yang cukup melelahkan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Di saat kami sedang sibuk dengan skripsi, revisi, administrasi, dan persiapan sidang, beliau menjadi salah satu orang yang banyak membantu agar kami bisa terus melangkah sampai garis akhir. Mungkin kalau hanya diucapkan dengan kata “terima kasih”, rasanya tidak akan cukup untuk menggambarkan rasa apresiasi saya. Karena ketika seseorang membantu kita pada saat kita benar-benar membutuhkan bantuan, hal tersebut akan selalu diingat. Untuk itu, saya sangat berterima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri atas segala bantuan, perhatian, dan dukungannya kepada saya dan teman-teman Angkatan 2022. Saya berharap semua kebaikan yang sudah diberikan kepada kami bisa menjadi sesuatu yang terus kami ingat bahkan setelah kami meninggalkan kampus nanti.

Perjalanan skripsi saya juga tidak akan lengkap tanpa cerita tentang kedua dosen pembimbing yang sudah banyak membantu saya. Ibu Annisa Joviani Astari, M.IL., M.Sc., Ph.D. yang banyak membantu saya dalam membangun konsep dan perencanaan skripsi dari awal sampai akhirnya selesai. Ketika pertama kali mencari topik baru setelah topik ruang terbuka hijau saya ditolak, saya masih cukup bingung menentukan arah penelitian. Dari proses bimbingan bersama beliau, saya perlahan mulai memahami bagaimana sebuah ide yang awalnya hanya berasal dari rasa penasaran terhadap suatu masalah bisa dikembangkan menjadi sebuah konsep penelitian. Mulai dari menentukan arah penelitian, menyusun konsep, sampai akhirnya penelitian tersebut bisa berkembang menjadi sebuah skripsi. Bimbingan beliau menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan saya karena dari situlah saya bisa mulai membangun kembali penelitian setelah sebelumnya harus meninggalkan topik yang pertama.

Selain itu, saya juga sangat berterima kasih kepada, saya mendapatkan bimbingan dari Ibu Dr. Tania Septri Aggraini, S.T., M.T., Ph.D. yang membimbing saya selama kurang lebih lima bulan yang dengan sabar menghadapi berbagai struggle saya selama mengerjakan skripsi, terutama dalam memahami dan menyelesaikan analisis regresi. Saya sadar bahwa proses bimbingan saya tidak selalu mudah. Ada banyak hal yang harus saya tanyakan, ada hasil yang harus diperbaiki, dan ada bagian penelitian yang harus saya pahami kembali. Tetapi beliau tetap sabar dalam membimbing saya sampai akhirnya saya bisa memahami penelitian yang saya lakukan. Dari proses tersebut saya belajar bahwa dosen pembimbing bukan hanya membantu memperbaiki tulisan, tetapi juga membantu mahasiswa memahami apa yang sebenarnya sedang mereka kerjakan. Saya sangat berterima kasih atas kesabaran dan waktu yang sudah diberikan selama lima bulan tersebut.

Setelah semua perjuangan tersebut, akhirnya datang juga hari yang saya tunggu-tunggu, yaitu 22 Juli 2026, hari ketika saya melaksanakan sidang skripsi. Sebelum masuk ruang sidang, tentu saja ada rasa gugup dan takut. Setelah berbulan-bulan mengerjakan skripsi, akhirnya semua yang sudah saya kerjakan harus dipresentasikan dan dipertanggungjawabkan di hadapan para dosen penguji. Saya sempat takut kalau nantinya ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab atau ada bagian penelitian yang dianggap masih kurang. Namun, setelah sidang berjalan, saya justru merasa bersyukur karena ketiga dosen penguji memberikan suasana yang sangat baik. Pertanyaan, kritik, dan saran yang diberikan tidak terasa seperti sesuatu yang menjatuhkan, tetapi justru menjadi masukan yang membantu saya melihat kekurangan dari penelitian saya. Bagi saya, pengalaman sidang tersebut menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan karena saya bisa mendapatkan masukan dari sudut pandang yang berbeda dan belajar untuk menerima kritik sebagai bagian dari proses menjadi lebih baik.

Ketika akhirnya sidang selesai, rasanya benar-benar lega. Semua rasa capek, stres, bingung, takut, dan panik yang selama ini dirasakan seperti terbayar ketika saya akhirnya bisa keluar dari ruang sidang. Kalau sekarang saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya sadar bahwa skripsi saya ternyata bukan hanya tentang penelitian mengenai kendaraan bermotor dan kualitas udara di Kota Bandung. Lebih dari itu, skripsi ini menjadi cerita tentang bagaimana saya belajar bangkit setelah topik pertama ditolak, belajar menghadapi hasil regresi yang tidak sesuai harapan, belajar menerima bahwa penelitian tidak harus sempurna, dan belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti kita lemah. Justru karena adanya orang-orang di sekitar saya, perjalanan yang awalnya terasa berat bisa dilalui sedikit demi sedikit.
Untuk adik-adik tingkat SAIG, perjalanan perkuliahan mungkin tidak selalu mudah dan sesuai dengan apa yang kalian rencanakan, tetapi percayalah bahwa setiap proses, kesalahan, kegagalan, dan perjuangan yang kalian lewati akan menjadi bagian penting dari perjalanan kalian ke depannya. Jangan takut ketika menghadapi kesulitan, jangan merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain, dan jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna, karena yang terpenting adalah terus belajar, berproses, dan berani melangkah sedikit demi sedikit. Manfaatkan waktu selama menjadi mahasiswa untuk memperbanyak pengalaman, membangun relasi, mengembangkan kemampuan, dan tentunya saling mendukung satu sama lain, karena perjalanan di dunia perkuliahan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama. Saya berharap SAIG ke depannya semakin berkembang, semakin solid, mampu melahirkan mahasiswa dan lulusan yang kompeten, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan perkembangan keilmuan geospasial. Teruslah membawa nama baik SAIG dengan karya dan prestasi kalian, dan jadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga suatu hari nanti, ketika kalian melihat kembali perjalanan selama kuliah, kalian bisa tersenyum dan berkata bahwa semua perjuangan yang pernah dilakukan ternyata sangat layak untuk diperjuangkan.
Pada akhirnya, skripsi ini bukan hanya sekumpulan halaman yang akhirnya dijilid dan disidangkan. Di baliknya ada banyak cerita yang tidak terlihat di dalam lembaran skripsi: ada waktu yang dihabiskan bersama teman-teman di kafe dan perpustakaan, ada revisi yang dikerjakan sampai malam, ada rasa panik ketika mengejar sidang, ada kesabaran dosen pembimbing, ada bantuan dari pihak program studi, dan ada banyak orang yang tanpa sadar menjadi bagian dari perjalanan saya sampai akhirnya bisa menyelesaikan semuanya. Saya mungkin masih jauh dari kata sempurna, begitu juga dengan skripsi saya. Tetapi sekarang saya belajar bahwa menyelesaikan sesuatu dengan segala kekurangannya tetap jauh lebih berarti daripada berhenti hanya karena takut hasilnya tidak sempurna. Dan kalau suatu hari nanti saya melihat kembali masa-masa kuliah, mungkin perjalanan skripsi inilah yang akan saya ingat sebagai salah satu perjalanan paling melelahkan, tetapi juga paling berharga dalam hidup saya.
