Penulis: Athina Azzahra Idham (2207845)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Kalau saya diminta menceritakan perjalanan skripsi saya, mungkin saya tidak akan memulainya dari judul penelitian, metode yang digunakan, atau kapan pertama kali saya mengerjakan Bab I. Saya justru ingin memulainya dari satu hal yang paling saya ingat: saya berkali-kali kehilangan arah. Ada banyak momen ketika saya merasa tahu apa yang sedang saya kerjakan, tetapi ternyata belum benar-benar memahami ke mana penelitian tersebut akan dibawa. Ada saat ketika saya merasa sudah menemukan jawaban, tetapi kemudian justru menemukan pertanyaan baru. Ada saat ketika saya merasa tinggal sedikit lagi menuju akhir, tetapi kemudian harus kembali membuka bagian yang sebelumnya saya pikir sudah selesai. Skripsi bagi saya bukan perjalanan yang lurus. Ia lebih menyerupai perjalanan yang membuat saya beberapa kali harus berhenti, melihat kembali posisi saya, bertanya apakah saya masih berada di jalur yang benar, kemudian mencoba berjalan lagi.
Sebelum bercerita lebih jauh tentang perjalanan tersebut, ada satu hal yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu. Sebagai bagian dari Angkatan 2022, saya merasa sangat bersyukur pernah menjalani proses pendidikan di Program Studi Sains Informasi Geografi dalam lingkungan yang sangat membantu kami untuk bertumbuh sampai pada tahap akhir ini. Karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG). Terima kasih banyak, Pak, atas segala bentuk dukungan dan fasilitas yang telah diberikan kepada kami selama menjadi mahasiswa SaIG. Bagi saya, fasilitas dalam sebuah program studi bukan hanya tentang sarana yang terlihat secara langsung, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa diberi ruang untuk belajar, bertanya, berkembang, menyelesaikan persoalan, dan pada akhirnya menyelesaikan tanggung jawab akademiknya. Sebagai bagian dari Angkatan 2022 yang akhirnya berhasil menyelesaikan skripsi tepat waktu, saya merasa bahwa perjalanan tersebut tidak terlepas dari lingkungan akademik yang telah dibangun dan difasilitasi selama kami menjalani perkuliahan.

Dok. Penulis
Menjadi mahasiswa tingkat akhir membuat saya semakin menyadari bahwa proses untuk sampai pada kelulusan tidak hanya ditentukan oleh mahasiswa itu sendiri. Di balik satu skripsi yang akhirnya selesai, ada banyak sistem dan orang yang bekerja agar proses tersebut dapat berlangsung. Ada program studi yang memberikan ruang dan fasilitas, ada dosen yang memberikan ilmu, ada dosen pembimbing yang mengarahkan, ada teman-teman yang menjadi bagian dari keseharian, dan tentu saja ada mahasiswa yang harus menjalani seluruh proses tersebut. Karena itu, ketika akhirnya saya dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu sebagai bagian dari Angkatan 2022, saya tidak melihat pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang sepenuhnya saya lakukan seorang diri. Ada banyak tangan dan banyak bentuk dukungan yang membuat saya bisa sampai di titik ini. Untuk itu, sekali lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kami sebagai mahasiswa SaIG. Semoga segala kebaikan, perhatian, dan dedikasi Bapak dalam memfasilitasi mahasiswa selalu mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT dan menjadi keberkahan yang terus mengalir.
Ketika pertama kali memulai skripsi, saya memiliki bayangan yang cukup sederhana mengenai bagaimana penelitian akan berjalan. Saya membayangkan bahwa setelah menentukan topik, saya hanya perlu mengumpulkan data, melakukan pengolahan, mendapatkan hasil, menulis pembahasan, kemudian menyelesaikannya. Secara teori, alurnya memang terlihat sederhana. Namun, ketika benar-benar berada di dalam prosesnya, saya menyadari bahwa penelitian tidak pernah berjalan sesederhana diagram yang kita lihat di buku. Setiap tahapan memiliki persoalannya sendiri. Data tidak selalu tersedia dalam bentuk yang kita inginkan. Hasil pengolahan tidak selalu sesuai dengan dugaan awal. Metode yang terlihat mudah ketika dipelajari secara teori dapat menjadi jauh lebih kompleks ketika harus diterapkan pada data penelitian sendiri. Dan yang paling membuat saya harus banyak belajar adalah kenyataan bahwa mengetahui suatu konsep ternyata tidak sama dengan memahami konsep tersebut.
Saya sering berada pada posisi ketika saya merasa sudah memahami apa yang saya kerjakan, tetapi setelah berdiskusi atau mendapatkan pertanyaan, saya baru menyadari bahwa pemahaman saya masih belum cukup. Ada hal-hal yang selama ini saya anggap sudah jelas ternyata masih harus saya pertanyakan. Ada keputusan yang saya ambil karena merasa itu adalah pilihan yang paling masuk akal, tetapi kemudian saya harus kembali mencari dasar mengapa keputusan tersebut memang tepat. Ada hasil yang awalnya ingin segera saya masukkan ke dalam skripsi, tetapi ternyata masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Semua itu membuat perjalanan skripsi saya terasa panjang. Bukan karena saya tidak ingin selesai, tetapi karena saya mulai memahami bahwa menyelesaikan penelitian tidak cukup hanya dengan menghasilkan sesuatu. Saya harus mampu menjelaskan bagaimana sesuatu tersebut diperoleh dan mengapa hasil tersebut layak untuk dipercaya.
Di titik inilah saya mulai memahami mengapa skripsi sering kali terasa berat bagi mahasiswa. Bukan hanya karena jumlah halaman yang harus ditulis, tetapi karena skripsi memaksa kita untuk bertanggung jawab atas cara berpikir kita sendiri. Ketika masih berada di kelas, mungkin kita dapat memahami suatu materi berdasarkan penjelasan dosen atau buku yang digunakan. Namun, ketika mengerjakan skripsi, kita harus mengambil keputusan sendiri. Kita harus menentukan pendekatan, mencari alasan, membaca data, mengevaluasi hasil, dan mempertanggungjawabkan setiap pilihan. Kita tidak lagi hanya ditanya “apa”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana”. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut ternyata dapat membawa kita sangat jauh ke dalam penelitian.
Dan di sanalah saya berkali-kali kehilangan arah.
Ada masa ketika saya merasa sudah memahami penelitian saya, tetapi ternyata masih banyak bagian yang belum benar-benar saya mengerti. Ada masa ketika saya merasa pekerjaan saya sudah berkembang cukup jauh, tetapi setelah mendapatkan masukan, saya justru harus kembali melihat bagian-bagian yang sebelumnya saya lewati terlalu cepat. Ada pula saat ketika saya merasa bahwa persoalan yang saya hadapi terlalu besar untuk diselesaikan sendiri. Bukan karena saya tidak ingin berusaha, tetapi karena saya tidak selalu tahu harus mulai memperbaikinya dari mana. Pada titik-titik seperti itu, skripsi terasa seperti perjalanan yang jalannya tidak selalu terlihat jelas. Saya tahu ada tujuan yang ingin dicapai, tetapi terkadang saya tidak tahu apakah langkah yang sedang saya ambil benar-benar membawa saya mendekati tujuan tersebut.
Saya rasa, salah satu kesulitan terbesar dalam perjalanan skripsi saya adalah berusaha memahami penelitian saya sendiri. Bagi saya, mengetahui sebuah metode atau istilah tidak otomatis berarti memahami bagaimana konsep tersebut bekerja ketika diterapkan pada kondisi nyata. Saya harus belajar melihat hubungan antara teori, data, metode, hasil, dan interpretasi. Saya harus belajar memahami bahwa setiap keputusan dalam penelitian memiliki konsekuensi terhadap tahapan berikutnya. Saya juga harus belajar bahwa hasil penelitian tidak selalu harus sesuai dengan apa yang sejak awal saya bayangkan. Ketika hasil yang diperoleh berbeda dari dugaan, yang perlu dilakukan bukan memaksakan hasil tersebut agar terlihat sesuai dengan ekspektasi, melainkan kembali bertanya mengapa hasil tersebut muncul. Apakah terdapat persoalan pada data? Apakah metode yang digunakan sudah sesuai? Apakah ada asumsi yang belum diperiksa? Atau justru hasil tersebut menunjukkan sesuatu yang memang perlu dijelaskan lebih lanjut? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu perlahan mengubah cara saya melihat penelitian.
Dalam proses tersebut, saya juga beberapa kali mengalami perasaan tertinggal. Ketika melihat teman sudah menyelesaikan bagian tertentu sementara saya masih berkutat dengan persoalan yang sama, saya sempat bertanya apakah saya berjalan terlalu lambat. Ketika melihat orang lain terlihat lebih mudah memahami penelitiannya, saya sempat mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Namun, semakin lama saya menjalani proses ini, semakin saya memahami bahwa membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain sering kali tidak menghasilkan apa-apa selain membuat kita lupa melihat perkembangan diri sendiri. Setiap penelitian memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang cepat menemukan arah, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dikerjakan. Saya akhirnya belajar bahwa perjalanan akademik tidak harus selalu terlihat cepat untuk dapat disebut sebagai perjalanan yang baik.
Bagi saya, ada perbedaan yang sangat besar antara mengatakan “saya tidak bisa” dan “saya belum bisa”. Kalimat pertama terasa seperti sebuah keputusan akhir, sedangkan kalimat kedua masih memberikan ruang untuk belajar. Skripsi membuat saya lebih sering memilih kalimat kedua. Ketika saya tidak memahami sesuatu, berarti saya perlu mempelajarinya lagi. Ketika hasil saya belum baik, berarti masih ada bagian yang harus diperbaiki. Ketika saya salah mengambil arah, berarti saya perlu mengevaluasi kembali langkah yang sudah dilakukan. Pola berpikir sederhana tersebut mungkin terdengar biasa, tetapi bagi saya justru menjadi salah satu hal yang paling penting selama mengerjakan skripsi.
Dan dalam perjalanan untuk menemukan kembali arah tersebut, saya sangat bersyukur memiliki dua orang dosen pembimbing yang selalu membantu saya kembali melihat jalannya, yaitu Bapak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T., yang saya panggil Pak Andika, dan Bapak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T., yang saya panggil Pak Ihsan. Kalau harus menggambarkan peran keduanya dalam perjalanan skripsi saya, mungkin saya akan mengatakan bahwa Pak Andika dan Pak Ihsan adalah dua orang yang berkali-kali mengembalikan saya ke arah yang benar ketika saya kehilangan arah.

Dok. Penulis
Ada banyak momen ketika saya datang ke bimbingan dengan membawa pekerjaan yang masih penuh dengan pertanyaan. Saya mungkin datang dengan keyakinan bahwa saya sudah berada di jalur yang benar, kemudian pulang dengan pemahaman baru bahwa masih ada beberapa hal yang perlu saya perbaiki. Pada awalnya, tentu saja revisi dan koreksi tidak selalu terasa menyenangkan. Ada bagian yang sudah dikerjakan dengan waktu dan tenaga yang cukup panjang, tetapi ternyata masih perlu dibuka kembali. Namun, perlahan saya belajar melihat koreksi bukan sebagai tanda bahwa saya gagal, melainkan sebagai cara untuk membuat penelitian saya menjadi lebih baik.
Pak Andika dan Pak Ihsan tidak hanya membantu saya menemukan apa yang salah, tetapi juga membantu saya memahami mengapa sesuatu perlu diperbaiki. Bagi saya, hal tersebut sangat berarti. Karena ketika kita hanya mengetahui bahwa sesuatu salah tanpa memahami alasannya, kita mungkin hanya mampu memperbaiki satu bagian. Tetapi ketika kita memahami alasan di balik koreksi tersebut, kita belajar cara berpikir yang dapat digunakan kembali pada persoalan lain.

Dok. Penulis
Skripsi saya memang sulit bagi saya. Sulit dalam proses pengerjaannya, sulit dalam memahami berbagai bagian yang harus dikerjakan, dan sulit dalam menjaga keyakinan bahwa saya mampu menyelesaikannya. Namun, ada satu hal yang membuat proses tersebut terasa berbeda: saya tidak pernah merasa kecil dalam setiap prosesnya. Saya tidak pernah merasa bahwa karena saya belum memahami sesuatu, maka saya menjadi mahasiswa yang tidak mampu. Entah bagaimana caranya, Pak Andika dan Pak Ihsan selalu memberikan ruang bagi saya untuk belajar. Mereka tetap memberikan koreksi ketika ada yang salah, tetapi koreksi tersebut tidak membuat saya merasa bahwa seluruh usaha saya tidak berarti. Bagi saya, kepercayaan seperti itu sangat berharga. Terkadang seorang mahasiswa tidak membutuhkan seseorang yang mengatakan bahwa semuanya mudah. Justru kita membutuhkan seseorang yang dapat mengatakan bahwa sesuatu memang sulit, tetapi tetap bisa dipelajari dan diselesaikan. Saya merasa mendapatkan hal tersebut selama proses bimbingan saya bersama Pak Andika dan Pak Ihsan.
Semakin lama menjalani skripsi, saya semakin memahami bahwa dosen pembimbing bukan hanya orang yang memeriksa tulisan mahasiswa. Pembimbing juga menjadi seseorang yang membantu mahasiswa melihat sesuatu dari sudut pandang yang mungkin tidak dapat dilihat ketika mahasiswa terlalu tenggelam dalam penelitiannya sendiri. Ketika kita sudah terlalu lama mengerjakan satu persoalan, terkadang kita menjadi sulit membedakan mana yang sebenarnya penting dan mana yang hanya membuat kita semakin bingung. Pada kondisi seperti itu, arahan dari orang yang lebih berpengalaman dapat menjadi sangat berarti.
Saya merasakan hal tersebut berkali-kali bersama Pak Andika dan Pak Ihsan. Ada kalanya saya terlalu jauh memikirkan suatu persoalan, sementara sebenarnya ada hal yang lebih mendasar yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Ada saat ketika saya terlalu fokus mengejar hasil, padahal dasar dari proses tersebut masih harus diperkuat. Dan ada pula saat ketika saya merasa harus mengetahui seluruh jawaban sebelum melangkah, padahal yang sebenarnya saya perlukan hanyalah menyelesaikan satu tahap terlebih dahulu. Bimbingan membuat saya belajar untuk membedakan mana persoalan utama dan mana persoalan yang hanya muncul karena saya terlalu jauh berpikir sebelum menyelesaikan dasar masalahnya.
Saya juga belajar bahwa penelitian membutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia menerima bahwa asumsi awal kita mungkin salah. Kita harus bersedia menerima bahwa data dapat menunjukkan sesuatu yang berbeda dari ekspektasi. Kita harus bersedia mengakui bahwa ada bagian yang belum kita pahami. Dan yang tidak kalah penting, kita harus bersedia menerima bahwa pekerjaan kita masih dapat diperbaiki. Bagi saya, menerima hal-hal tersebut tidak selalu mudah. Ada rasa lelah ketika harus mengulang pekerjaan. Ada rasa kecewa ketika sesuatu yang sudah dikerjakan ternyata masih perlu diperbaiki. Tetapi pada akhirnya, saya memahami bahwa proses tersebut memang bagian dari penelitian.
Saya juga belajar bahwa penelitian membutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia menerima bahwa asumsi awal kita mungkin salah. Kita harus bersedia menerima bahwa data dapat menunjukkan sesuatu yang berbeda dari ekspektasi. Kita harus bersedia mengakui bahwa ada bagian yang belum kita pahami. Dan yang tidak kalah penting, kita harus bersedia menerima bahwa pekerjaan kita masih dapat diperbaiki. Bagi saya, menerima hal-hal tersebut tidak selalu mudah. Ada rasa lelah ketika harus mengulang pekerjaan. Ada rasa kecewa ketika sesuatu yang sudah dikerjakan ternyata masih perlu diperbaiki. Tetapi pada akhirnya, saya memahami bahwa proses tersebut memang bagian dari penelitian.
Dari skripsi, saya belajar bahwa penelitian yang baik bukan penelitian yang sejak awal tidak pernah mengalami kesalahan. Penelitian yang baik adalah penelitian yang prosesnya dapat dipertanggungjawabkan, yang setiap keputusannya memiliki alasan, dan yang bersedia melakukan perbaikan ketika ditemukan kekurangan. Karena itu, saya mulai melihat revisi dengan cara yang berbeda. Revisi bukan lagi sekadar daftar pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum skripsi dapat dikumpulkan. Revisi adalah bagian dari proses untuk membuat penelitian menjadi lebih matang.

Dok. Penulis
Mungkin salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari skripsi adalah bahwa hasil memang penting, tetapi proses memiliki harga yang tidak kalah penting. Saya sangat bersyukur dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu sebagai bagian dari Angkatan 2022. Namun, ketika melihat kembali perjalanan yang sudah saya lalui, saya tidak ingin hanya mengingat bahwa saya berhasil selesai tepat waktu. Saya ingin mengingat bagaimana saya sampai di sana. Saya ingin mengingat bahwa ada banyak hal yang awalnya tidak saya pahami, tetapi kemudian perlahan saya pelajari. Ada banyak kesalahan yang akhirnya saya perbaiki. Ada banyak momen ketika saya ingin menyerah pada kebingungan, tetapi akhirnya tetap memilih untuk mencari tahu.
Dan mungkin, itulah makna proses bagi saya.
Proses tidak selalu terlihat indah ketika sedang dijalani. Kadang-kadang proses terasa melelahkan, berulang, dan bahkan membuat kita mempertanyakan keputusan sendiri. Namun, ketika sudah sampai di akhir, kita dapat melihat bahwa setiap bagian memiliki peran dalam membentuk diri kita. Saya mungkin tidak akan mengingat setiap revisi yang pernah saya kerjakan, tetapi saya akan mengingat bagaimana saya belajar menerima bahwa sesuatu yang saya anggap sudah benar ternyata masih dapat diperbaiki.
Saya juga belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, kita memang harus belajar mandiri. Tetapi mandiri tidak berarti harus menyelesaikan semuanya sendiri. Mandiri berarti mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaan sendiri sekaligus mampu mengenali kapan kita membutuhkan arahan. Saya belajar untuk membawa pertanyaan ke bimbingan, bukan hanya membawa hasil yang sudah jadi. Saya belajar mengatakan bahwa saya belum memahami sesuatu. Saya belajar bahwa bertanya bukan berarti kita tidak mampu. Justru, kemampuan untuk bertanya dengan baik menunjukkan bahwa kita sedang berusaha memahami.
Untuk adik-adik tingkat yang suatu hari nanti akan memulai perjalanan skripsi, mungkin kalian akan menemukan diri kalian berada di posisi yang sama. Kalian mungkin akan memiliki topik yang pada awalnya sangat kalian sukai, tetapi kemudian terasa begitu rumit ketika mulai dikerjakan. Kalian mungkin akan mendapatkan revisi yang membuat kalian harus kembali membuka bagian yang sudah dikerjakan. Kalian mungkin akan melihat teman-teman kalian melaju lebih cepat dan mulai bertanya apakah kalian tertinggal. Kalian mungkin juga akan mengalami hari ketika membuka laptop saja terasa berat karena tidak tahu harus mengerjakan apa.
Kalau suatu hari kalian berada di posisi itu, saya ingin kalian mengingat bahwa kehilangan arah bukan berarti kalian gagal. Jangan langsung menganggap bahwa karena kalian belum memahami sesuatu, berarti kalian tidak mampu. Beri diri kalian kesempatan untuk belajar. Kalau tidak tahu, bertanya. Kalau salah, perbaiki. Kalau hasilnya tidak sesuai harapan, cari tahu penyebabnya. Kalau pekerjaan terasa terlalu besar, pecah menjadi bagian-bagian kecil. Jangan memikirkan bagaimana seluruh skripsi harus selesai dalam satu waktu. Pikirkan apa yang dapat kalian selesaikan hari ini.
Jangan terlalu sibuk membandingkan kecepatan kalian dengan orang lain. Kalian tidak sedang mengerjakan penelitian yang sama. Kalian tidak memiliki data yang sama. Kalian tidak memiliki persoalan yang sama. Bahkan kalian tidak memiliki cara belajar yang sama. Maka, tidak adil jika perkembangan diri kalian diukur hanya dari seberapa cepat orang lain menyelesaikan pekerjaannya. Yang jauh lebih penting adalah apakah hari ini kalian sedikit lebih memahami penelitian kalian dibandingkan kemarin.
Dan satu hal lagi yang menurut saya penting: jangan hanya mengejar skripsi agar cepat selesai. Usahakan untuk memahami apa yang kalian kerjakan. Karena suatu hari nanti, mungkin skripsinya sudah tidak lagi kalian buka. Tetapi cara berpikir yang kalian bangun selama mengerjakannya akan tetap kalian bawa. Pada akhirnya, skripsi mengajarkan saya sesuatu yang mungkin tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali memulainya. Saya mengira saya sedang belajar melakukan penelitian. Ternyata saya juga sedang belajar bagaimana menghadapi ketidakpastian, bagaimana menerima kesalahan, bagaimana meminta bantuan, bagaimana menerima kritik, dan bagaimana tetap melangkah ketika saya tidak sepenuhnya yakin dengan arah yang saya pilih.
Saya datang ke perjalanan ini dengan banyak pertanyaan. Saya meninggalkannya dengan beberapa jawaban, tetapi juga dengan lebih banyak pertanyaan baru. Dan menurut saya, itu bukan sesuatu yang buruk. Justru mungkin itu tanda bahwa proses belajar benar-benar terjadi. Karena semakin banyak yang kita pelajari, semakin kita menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Saya juga semakin memahami bahwa menyelesaikan skripsi bukan hanya pencapaian individu. Ada banyak orang yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Karena itu, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu saya sampai pada titik ini. Terima kasih kepada dosen pembimbing akademik yang telah mendampingi perjalanan akademik saya selama menjadi mahasiswa. Terima kasih kepada seluruh dosen SaIG yang telah memberikan ilmu, pengalaman, arahan, kritik, dan perspektif selama proses perkuliahan. Mungkin tidak semua materi yang pernah diberikan akan saya ingat secara detail beberapa tahun dari sekarang, tetapi saya percaya bahwa cara berpikir yang dibangun selama menjadi mahasiswa akan tetap menjadi bagian dari diri saya.
Terima kasih juga kepada teman-teman yang menjadi bagian dari perjalanan Angkatan 2022. Skripsi memang pada akhirnya dikerjakan secara individual, tetapi menjalani masa skripsi tidak pernah benar-benar menjadi perjalanan individual. Ada teman yang menjadi tempat bertanya, ada yang menjadi tempat mengeluh, ada yang membantu ketika kita tidak memahami sesuatu, dan ada pula yang mungkin tidak memberikan solusi apa pun tetapi kehadirannya saja sudah cukup membuat hari yang berat terasa sedikit lebih ringan. Hal-hal tersebut mungkin tidak pernah masuk ke dalam halaman skripsi, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita yang akan saya ingat.
Dan untuk Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., sekali lagi saya ingin menyampaikan terima kasih atas segala fasilitas, dukungan, dan ruang yang telah diberikan kepada kami sebagai mahasiswa SaIG, khususnya kami yang berasal dari Angkatan 2022. Terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan kami hingga dapat mencapai tahap ini. Semoga segala dedikasi Bapak dalam mendampingi dan memfasilitasi mahasiswa selalu mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.
Kepada Bapak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T., atau Pak Andika, dan Bapak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T., atau Pak Ihsan, terima kasih mungkin tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan apa yang saya rasakan selama proses bimbingan. Terima kasih banyak, Pak, karena telah sabar membimbing saya, mengoreksi saya, mengarahkan saya, dan terutama karena telah berkali-kali mengembalikan saya ke arah yang benar ketika saya kehilangan arahnya. Bagi saya, skripsi ini memang sulit, baik dalam proses pengerjaannya maupun dalam upaya saya untuk memahaminya. Tetapi saya tidak pernah merasa kecil selama menjalaninya. Saya selalu merasa masih memiliki ruang untuk belajar dan memperbaiki diri. Dan bagi saya, kepercayaan bahwa saya masih dapat berkembang tersebut merupakan sesuatu yang sangat berarti.
Saya mungkin tidak akan mampu mengingat semua nasihat yang pernah diberikan secara kata demi kata. Saya juga mungkin tidak akan mampu mengingat setiap revisi yang pernah saya kerjakan. Tetapi saya akan mengingat perasaan ketika berada dalam proses bimbingan: bahwa meskipun ada hal yang salah, masih ada jalan untuk memperbaikinya; bahwa meskipun saya belum memahami sesuatu, saya masih dapat mempelajarinya; dan bahwa terlepas dari bagaimana hasil akhirnya nanti, proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh tetap memiliki nilai. Semoga Allah selalu membalas setiap kebaikan Pak Andika dan Pak Ihsan dengan keberkahan yang tidak ada habisnya, memberikan kesehatan, kemudahan dalam setiap urusan, serta menjadikan setiap ilmu yang diberikan kepada mahasiswa sebagai amal yang terus mengalir.
Jika sekarang saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya tidak ingin hanya mengingat bagian ketika skripsi akhirnya selesai. Saya ingin mengingat seluruh prosesnya. Saya ingin mengingat kebingungan yang pernah saya rasakan, kesalahan yang pernah saya lakukan, revisi yang pernah saya kerjakan, dan orang-orang yang membantu saya ketika saya tidak tahu harus melangkah ke mana. Karena semua itu adalah bagian dari perjalanan yang membuat saya sampai pada titik ini. Sebagai bagian dari Angkatan 2022 yang akhirnya dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu, saya tentu merasa bersyukur dan bangga. Tetapi saya tidak ingin menjadikan kata “tepat waktu” sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Bagi saya, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kapan skripsi selesai, yaitu siapa diri kita setelah proses tersebut selesai. Apakah kita menjadi lebih teliti? Apakah kita menjadi lebih berani bertanya? Apakah kita lebih mampu menerima kritik? Apakah kita lebih mampu mempertanggungjawabkan keputusan yang kita ambil? Apakah kita menjadi lebih sabar ketika berhadapan dengan sesuatu yang belum kita pahami? Jika jawabannya iya, maka mungkin skripsi tersebut telah memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah nilai.
Saya tidak tahu seperti apa perjalanan saya setelah ini. Mungkin saya akan kembali berada dalam situasi ketika saya tidak tahu harus berjalan ke mana. Mungkin saya akan kembali menemukan persoalan yang terasa terlalu sulit. Mungkin saya akan kembali meragukan kemampuan diri sendiri. Tetapi setidaknya sekarang saya tahu bahwa kehilangan arah bukanlah akhir dari perjalanan. Saya pernah mengalaminya berkali-kali, dan saya berhasil melewatinya. Saya tahu bahwa ketika tidak tahu harus ke mana, saya bisa berhenti sejenak, mengevaluasi, bertanya kepada orang yang lebih memahami, kemudian mengambil satu langkah lagi.
Satu langkah mungkin terasa kecil. Tetapi ketika dilakukan terus-menerus, ia dapat membawa kita sangat jauh. Mungkin itulah hal paling sederhana yang saya bawa dari perjalanan skripsi ini. Kita tidak harus selalu tahu seluruh jalan untuk dapat sampai ke tujuan. Kita tidak harus selalu yakin untuk dapat terus berjalan. Kita tidak harus selalu sempurna untuk dapat menghasilkan sesuatu yang berarti. Kadang-kadang kita hanya perlu bersedia belajar, bersedia dikoreksi, dan bersedia mencoba lagi ketika langkah sebelumnya ternyata kurang tepat.
Untuk adik-adik tingkat yang akan memulai perjalanan ini, jangan takut jika suatu hari kalian merasa kehilangan arah. Jangan takut jika penelitian kalian ternyata lebih sulit daripada yang kalian bayangkan. Jangan takut jika revisi kalian banyak. Jangan takut jika kalian membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami sesuatu. Dan jangan takut meminta bantuan. Kalian tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari. Kalian hanya perlu memastikan bahwa setiap hari, sekecil apa pun, ada satu langkah yang kalian ambil untuk mendekatkan diri pada tujuan. Karena pada akhirnya, skripsi bukan hanya tentang bagaimana kita menghasilkan sebuah karya ilmiah. Skripsi adalah tentang bagaimana kita belajar bertahan ketika tidak tahu, belajar menerima ketika salah, belajar memperbaiki ketika kurang, dan belajar percaya bahwa proses yang panjang tetap memiliki arti.
Dan ketika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan menyadari bahwa ternyata kita tidak benar-benar tersesat. Kita hanya sedang belajar menemukan jalan.Dan kalau saya boleh menyimpulkan perjalanan skripsi saya sendiri, mungkin kalimatnya tetap sama sejak awal: saya berkali-kali kehilangan arah, tetapi saya tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Karena selalu ada orang-orang yang membantu menunjukkan jalan kembali. Dan untuk semua orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan itu, saya akan selalu mengingatnya sebagai salah satu bagian paling berharga dari perjalanan saya sebagai mahasiswa.
