Penulis: Fajar Rizky Ramadhan (SaIG, 2210174)
Penyunting: Tio Noviar
Bagi saya, perjalanan menuju skripsi bukanlah perjalanan yang dimulai ketika memasuki semester akhir. Jauh sebelum itu, saya sudah terbiasa menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus pekerja. Sejak semester 3, saya mulai kuliah sambil bekerja, baik melalui pekerjaan freelance maupun pekerjaan remote. Awalnya, pekerjaan tersebut saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan uang saku sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, penghasilan tersebut juga saya gunakan untuk membantu orang tua membayar biaya praktikum. Salah satu alasan yang membuat saya merasa perlu melakukan hal tersebut adalah karena saya merupakan mahasiswa yang diterima melalui jalur Seleksi Mandiri (SM) UPI. Saya menyadari bahwa biaya yang harus dikeluarkan melalui jalur tersebut cukup besar. Karena itu, ada perasaan bersalah dalam diri saya apabila saya hanya berfokus pada kehidupan akademik tanpa berusaha membantu meringankan beban orang tua.

Mungkin karena terbiasa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, saya kemudian tumbuh menjadi seseorang yang cukup terbiasa bekerja dengan sistem deadline. Masalahnya, saya juga memiliki sifat perfeksionis. Kombinasi antara deadliner dan perfeksionis tersebut ternyata menjadi salah satu hal yang cukup memperparah perjalanan saya dalam mengerjakan proposal skripsi. Saya sempat membuat sekitar empat sampai lima outline judul skripsi. Ide-ide tersebut sebenarnya sudah ada, bahkan beberapa di antaranya sudah saya pikirkan cukup jauh. Namun, semuanya berhenti pada satu masalah yang sama: saya tidak benar-benar memulai menulis.
Saya terlalu banyak berpikir sebelum mulai mengerjakan. Saya ingin semuanya terlihat sempurna sejak awal, padahal kesempurnaan tersebut justru membuat saya tidak bergerak sama sekali. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mengerjakan skripsi bukan hanya mengenai kemampuan akademik, tetapi keberanian untuk memulai.
Saya kemudian mencoba melakukan bimbingan outline skripsi untuk pertama kalinya dengan Ibu Annisa Joviani. Dari bimbingan tersebut, saya mendapatkan banyak insight, terutama karena topik yang saya pilih berkaitan dengan lingkungan. Pada awalnya, saya ingin mengangkat topik mengenai degradasi hutan. Namun, semakin saya memahami topik tersebut, semakin saya menyadari bahwa degradasi hutan bukanlah sesuatu yang sederhana untuk dianalisis. Berbeda dengan deforestasi yang lebih mudah didefinisikan melalui perubahan tutupan hutan, degradasi hutan memiliki banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Kondisi struktur pohon, tanah, biodiversitas, hingga berbagai indikator lainnya dapat menjadi bagian dari pembahasan mengenai degradasi hutan.
Di satu sisi, saya menyadari bahwa topik tersebut menarik. Namun, di sisi lain, saya juga mulai melihat kenyataan bahwa waktu yang saya miliki semakin terbatas. Saya kemudian berpikir bahwa saya membutuhkan sebuah topik yang realistis untuk dikerjakan dalam waktu yang singkat. Dari sanalah muncul sebuah target yang cukup nekat: saya ingin merancang skripsi yang dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan.
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, akhirnya saya memilih topik mengenai fragmentasi hutan. Bagi saya, keputusan tersebut bukan semata-mata karena topiknya lebih mudah, tetapi karena saya merasa topik tersebut masih memiliki keterkaitan dengan ketertarikan saya terhadap isu lingkungan sekaligus memungkinkan saya membuat batasan penelitian yang lebih jelas.
Setelah menentukan arah penelitian, saya kembali melakukan bimbingan outline, kali ini dengan Ibu Siti Zahrotunisa. Salah satu insight yang paling saya ingat adalah pentingnya memiliki satu sampai dua jurnal utama sebagai pijakan penelitian. Saya juga diarahkan agar memiliki fokus dan batasan yang jelas sehingga penelitian tidak berkembang terlalu luas. Hal yang tidak kalah penting adalah satu nasihat sederhana yang pada saat itu justru sangat relevan bagi saya: segera mulai menulis.
Nasihat yang sama juga saya dapatkan ketika kembali berdiskusi dengan Ibu Annisa Joviani. Saya diingatkan bahwa jangan menunggu semuanya sempurna baru mulai menulis. Justru dengan menulis, kemudian melakukan bimbingan, saya dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Saya mulai memahami bahwa skripsi bukanlah sesuatu yang harus langsung sempurna sejak halaman pertama. Skripsi adalah sesuatu yang dibangun sedikit demi sedikit melalui proses menulis, membaca, berdiskusi, mendapatkan kritik, memperbaiki, dan mengulanginya kembali.
Di tengah proses tersebut, terdapat pemanggilan akademik oleh Kaprodi bagi mahasiswa yang belum mencapai tahap seminar proposal. Pada saat itu, kami sebagai mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai kendala dan keluhan yang selama ini dihadapi. Bagi saya, momen tersebut menjadi salah satu titik penting karena Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. beserta dosen-dosen lainnya bersedia membantu mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi. Dari proses tersebut, saya kemudian masuk dalam bimbingan Ibu Tiara Handayani untuk menyelesaikan proposal skripsi.
Bimbingan bersama Ibu Tiara kemudian membawa saya sampai pada tahap seminar proposal pada awal Juni 2026. Pada saat itu, judul penelitian saya adalah “Dinamika Spatiotemporal Fragmentasi Hutan di Sub DAS Citarum Hulu Berdasarkan Morphological Spatial Pattern Analysis dan Geo-Detector pada Periode 2005–2025.” Setelah melewati berbagai proses yang sebelumnya terasa begitu berat, akhirnya saya berhasil mencapai salah satu tahapan penting dalam perjalanan skripsi.

Namun, perjuangan ternyata belum selesai. Pada tahap revisi setelah seminar proposal, saya mengalami kendala pada batas wilayah Sub DAS. Terdapat perbedaan batas Sub DAS yang saya gunakan dengan batas yang berasal dari BBWS Citarum. Masalah tersebut membuat proses pengerjaan saya sempat terhenti. Padahal, pada saat itu saya sedang berusaha mengejar pengolahan awal agar ketika sudah mendapatkan dosen pembimbing, saya dapat langsung membawa hasil pengolahan tersebut untuk dibimbing dan dikembangkan ke dalam BAB IV.
Saya akhirnya mendapatkan kepastian mengenai batas Sub DAS setelah melakukan bimbingan dengan Ibu Annisa Joviani. Tidak lama setelah itu, pada tanggal 1 Juli 2026, saya mendapatkan informasi mengenai dosen pembimbing skripsi. Ibu Annisa Joviani Astari, M.Sc., M.IL., PhD. menjadi dosen pembimbing pertama saya, sedangkan Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc. menjadi dosen pembimbing kedua.
Bimbingan pertama saya dilakukan pada 2 Juli 2026 bersama Ibu Annisa Joviani dan teman-teman SaIG 22 lainnya. Bimbingan tersebut menjadi salah satu momen yang sangat berarti bagi saya. Saya mendapatkan begitu banyak insight yang kemudian sangat membantu dalam proses penyelesaian skripsi. Banyak hal yang sebelumnya saya pikir rumit mulai terasa lebih jelas setelah mendapatkan arahan.
Namun, beberapa hari kemudian saya mendapatkan informasi yang kembali membuat saya tertekan. Daftar sidang terakhir ternyata dijadwalkan pada 15 Juli 2026. Saya melihat waktu yang tersisa dan merasa hampir mustahil untuk mengejarnya. Saya mulai merasa frustrasi dan khawatir. Salah satu hal yang paling saya takutkan adalah harus menambah semester dan kembali membayar UKT. Bagi mahasiswa yang masuk melalui jalur SM UPI seperti saya, biaya tersebut bukan sesuatu yang ringan. Saya kembali teringat alasan mengapa sejak semester 3 saya memilih untuk bekerja sambil kuliah. Saya tidak ingin kembali menambah beban biaya kepada orang tua.
Pada fase tersebut, saya bahkan sempat tidak mengerjakan skripsi selama beberapa hari. Saya lebih banyak berada di kamar dan mengurung diri. Rasanya seperti semua usaha yang sudah dilakukan sebelumnya tidak cukup untuk mengejar waktu yang semakin sedikit. Di tengah kondisi tersebut, saya menemukan sebuah lagu karya Ghea Indrawari. Sulit untuk menjelaskan secara sederhana, tetapi bagi saya, lagu tersebut hadir pada waktu yang tepat. Bisa dikatakan bahwa karya Ghea Indrawari menjadi salah satu hal yang membantu saya melewati fase tersebut. Saya mulai berdamai dengan keadaan.
Saya kembali mengingat alasan mengapa sejak awal saya merancang skripsi ini untuk dapat selesai dengan cepat. Ketakutan mengenai kemungkinan membebani orang tua dengan biaya tambahan justru perlahan berubah menjadi dorongan untuk kembali berjuang. Saya akhirnya memberanikan diri untuk datang ke kampus dan bertemu dengan teman-teman.
Lantai 3 FPIPS kemudian menjadi salah satu saksi penting dalam perjalanan saya mengejar ketertinggalan skripsi. Di tempat tersebut, saya banyak berdiskusi dan mendapatkan insight dari teman-teman SaIG 22, khususnya Sandi dan Fikri. Saya kembali merasakan bahwa mengerjakan skripsi ternyata tidak harus selalu dilakukan sendirian.
Saya kemudian mencoba berkomunikasi dengan Ibu Tiara Handayani untuk mengejar kesempatan daftar sidang pada 15 Juli 2026. Ibu Tiara merupakan salah satu orang yang sangat berjasa dalam proses pengerjaan skripsi saya. Beliau memberikan dukungan penuh dan sangat terbuka ketika saya membutuhkan bantuan, bahkan ketika saya bertanya pada hari libur maupun malam hari. Dukungan tersebut membuat saya merasa bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk berjuang.
Saya kemudian benar-benar mengejar skripsi tersebut. Selama sekitar tiga sampai empat hari, saya fokus menyelesaikan pengolahan untuk Rumusan Masalah 1 sampai 3. Hampir seluruh hari saya habiskan di kamar, duduk di depan laptop dan mengerjakan pengolahan data. Saya terus aktif berkomunikasi dan melakukan bimbingan dengan Ibu Tiara. Setelah pengolahan selesai, saya memberanikan diri menghadap Ibu Annisa Joviani pada 13 Juli 2026 untuk meminta izin dan kesempatan mengejar daftar sidang pada 15 Juli. Saya datang dengan segala keterbatasan yang ada. Namun, Alhamdulillah, dengan kerendahan hati dan kebaikannya, Ibu Annisa bersedia membantu dan mengizinkan saya untuk mengejar kesempatan tersebut. Tentunya, ada berbagai saran dan masukan yang harus saya selesaikan dalam waktu dua sampai tiga hari, sekaligus menyelesaikan draft skripsi secara keseluruhan.
Dua sampai tiga hari berikutnya menjadi salah satu fase paling melelahkan dalam perjalanan skripsi saya. Saya menghabiskan hampir seluruh waktu di depan laptop untuk menyelesaikan draft. Aktivitas fisik menjadi sangat minim, waktu makan sering terlambat, dan waktu tidur pun berkurang. Pada akhirnya, kondisi tubuh saya menurun dan saya jatuh sakit. Namun, saat itu saya merasa tidak punya banyak pilihan selain terus melanjutkan.
Saya terus mengerjakan draft hingga akhirnya skripsi tersebut selesai. Alhamdulillah, saya berhasil menyelesaikan draft dan segera melakukan proses pendaftaran sidang. Sebelum mendaftar, saya dan teman-teman juga mendapatkan nasihat dari Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. Beliau mengingatkan kami untuk memiliki attitude yang baik, tidak sombong, serta selalu membantu teman-teman yang sedang mengalami kesulitan. Nasihat tersebut ternyata terus teringat dalam perjalanan saya setelahnya.

Saya akhirnya melaksanakan sidang skripsi pada 23 Juli 2026. Alhamdulillah, seluruh proses berjalan dengan lancar. Setelah melewati berbagai tekanan, rasa takut, revisi, begadang, dan berbagai ketidakpastian, akhirnya saya sampai juga pada titik tersebut. Namun, bagi saya, perjalanan ini belum benar-benar selesai.

H+1 setelah sidang, tepatnya pada 24–26 Juli 2026, saya langsung membantu teman saya, Azka, mengambil data lapangan ke Kabupaten Pangandaran. Selain itu, saya juga membantu Early dalam hal kepenulisan dan memberikan berbagai saran berdasarkan insight yang saya dapatkan selama proses bimbingan skripsi. Bagi saya, hal tersebut merupakan bentuk kecil dari nasihat yang sebelumnya disampaikan oleh Pak Lili.

Saya kemudian kembali membantu teman SaIG 22 lainnya. Pada 10 Agustus 2026, saya membantu Riyan mengambil data di Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Saya merasa bahwa setelah melalui perjalanan skripsi yang cukup berat, salah satu hal yang dapat saya lakukan adalah membantu teman lain agar mereka tidak harus menghadapi kesulitan sendirian. Alhamdulillah, satu per satu teman saya akhirnya menyelesaikan perjuangan mereka. Azka dan Early berhasil melalui sidang dan kemudian yudisium pada 20 Agustus 2026. Riyan juga akhirnya dapat melaksanakan sidang pada tanggal yang sama.

Sementara itu, saya sendiri berhasil mengikuti yudisium pada 14 Agustus 2026. Setelah menyelesaikan berbagai revisi pascasidang dan memenuhi persyaratan untuk yudisium, akhirnya saya resmi menyelesaikan perjalanan sebagai mahasiswa dan memperoleh gelar S.Geo. Ketika melihat kembali perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa skripsi bagi saya bukan sekadar penelitian tentang fragmentasi hutan. Skripsi menjadi sebuah perjalanan untuk mengenal diri sendiri. Saya belajar bahwa sifat perfeksionis dapat menjadi kekuatan, tetapi juga dapat menjadi penghambat apabila membuat seseorang tidak berani memulai. Saya belajar bahwa deadline terkadang memang dapat menjadi pemicu, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan untuk bergerak. Saya juga belajar bahwa meminta bantuan bukan berarti kita lemah. Justru, salah satu hal terbesar yang saya dapatkan dari perjalanan ini adalah bahwa saya tidak pernah benar-benar menyelesaikan semuanya sendirian.

Ada dosen-dosen yang memberikan arahan ketika saya tidak tahu harus berjalan ke mana. Ada teman-teman yang memberikan insight ketika saya mengalami kebuntuan. Ada orang tua yang menjadi alasan saya terus berusaha. Ada karya dan lagu yang hadir ketika kondisi mental saya sedang berada di titik rendah. Dan ada begitu banyak kebaikan kecil dari orang lain yang membuat perjalanan panjang ini terasa mungkin untuk diselesaikan. Karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., Ibu Annisa Joviani Astari, M.Sc., M.IL., PhD., Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., dan Ibu Siti Zahrotunisa atas segala arahan, ilmu, kesempatan, dan dukungan yang diberikan selama perjalanan skripsi saya. Tanpa Bapak dan Ibu dosen, mungkin saya masih akan berada di depan empat atau lima outline skripsi yang tidak pernah benar-benar saya mulai.
Saya juga berterima kasih kepada teman-teman SaIG 22 yang telah hadir dalam perjalanan ini. Sandi, Fikri, Rafi, Azka, Early, Riyan, dan teman-teman lainnya yang mungkin tidak semuanya dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan yang pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana saya menyelesaikan skripsi, tetapi juga bagaimana kami saling membantu untuk sampai ke garis akhir.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya masing-masing. Ada yang selesai lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang terlihat mulus dari luar, tetapi ternyata menyimpan banyak perjuangan di belakangnya. Begitu pula dengan perjalanan saya. Saya pernah merasa tertinggal. Saya pernah takut gagal. Saya pernah mengurung diri karena merasa tidak sanggup. Saya pernah sakit karena terlalu memaksakan diri. Tetapi saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya mendapat bantuan ketika berada di titik terendah, bagaimana rasanya bangkit setelah merasa hampir menyerah, dan bagaimana rasanya melihat sesuatu yang selama ini terasa mustahil akhirnya benar-benar selesai.
Alhamdulillah, Allah permudah jalan saya. Jika ada satu hal yang paling saya pelajari dari perjalanan ini, mungkin bukan tentang bagaimana menyelesaikan skripsi dalam waktu tiga bulan. Bukan pula tentang bagaimana mengejar deadline dalam hitungan hari. Tetapi tentang bagaimana seseorang harus tetap berjalan meskipun belum mengetahui dengan pasti bagaimana akhirnya. Karena terkadang, kita tidak membutuhkan jalan yang sempurna untuk sampai pada tujuan. Kita hanya perlu berani mengambil langkah pertama, bersedia menerima bantuan, dan terus melangkah ketika keadaan terasa berat. Dan pada akhirnya, setelah perjalanan yang panjang itu, saya sampai juga pada satu titik yang dulu sempat saya ragukan: S.Geo. Bukan sekadar gelar, tetapi sebuah pengingat bahwa di balik tiga huruf tersebut terdapat begitu banyak doa, perjuangan, bantuan, air mata, waktu yang dikorbankan, serta orang-orang baik yang pernah hadir dalam perjalanan saya.
