Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
EKSPLORASI TATA RUANG DAN JEJAK PERADABAN DIENG DI KULIAH KERJA LAPANGAN I 

Penulis: Mutia Marwah (SaIG, 2501400), Naila Fadhilah Purwadani (SaIG, 2503738)
Penyunting : Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)

Tanggal Kegiatan: 27 April - 2 Mei 2026

Teori yang dipelajari di bangku kuliah sejatinya tidak terbatas pada dinding-dinding kelas sehingga diperlukan ruang nyata untuk diuji dan diimplementasikan. Kesadaran inilah yang melandasi adanya kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 1 menuju Jawa Tengah pada 27 April hingga 2 Mei 2026 lalu. Perjalanan ini bergerak di bawah payung tema: LENTERA (Lingkungan, Ekosistem, dan Navigasi Tata Ruang). Bagai sebuah penerang, selama 6 hari menjelajahi berbagai daerah di Jawa Tengah, kami menemukan berbagai sudut pandang baru yang membuka mata dan mengubah deretan teori di ruang kelas menjadi ruang diskusi di lapangan. 

Pada hari ke-5, perjalanan membawa kami menjelajahi Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, menyambangi site Batu Pandang Ratapan Angin, Kawah Sikidang, Museum Kailasa dan Candi Arjuna. 

Dok. Penulis

Di situs Batu Pandang Ratapan Angin yang berada pada ketinggian 2.100 mdpl, kami disuguhi pemandangan memanjakan mata terkait kontrasnya warna Telaga Pengilon dan Telaga Warna yang berdampingan. Selanjutnya, kami pun melakukan observasi visual secara menyeluruh terhadap bentang alam khas Dieng yang berkaitan erat dengan pemanfaatan lahan untuk pertanian yang didominasi tanaman kentang dan pepaya gunung (carica) di lereng-lereng curam. Latar belakang penamaan tempat ini berasal dari fenomena angin yang melintasi celah-celah tebing sehingga menciptakan suara melengking dramatis, sedangkan dalam sudut pandang masyarakat setempat, terdapat cerita rakyat turun-temurun yang menghubungkan suara melengking dramatis tersebut dengan legenda tragis seorang permaisuri dan selingkuhannya yang dikutuk menjadi batu dan suara tersebut diartikan sebagai bentuk dari tangis penyesalan mereka. 

Dok. Penulis

Kawah Sikidang menjadi pemberhentian berikutnya. Setibanya di sana, aroma belerang langsung menyengat indra penciuman kami dan kepulan asap putih tebal terlihat sangat jelas. Kawasan pasca-vulkanik aktif ini menjadi salah satu ciri khas dari dinamika aktivitas geotermal bawah tanah Dataran Tinggi Dieng, dengan kawah utama yang terus berpindah-pindah menjadi bahan analisis yang perlu dipelajari lebih lanjut untuk membuat tindakan mitigasi bencana. Pendayagunaan energi panas bumi melalui PLTP Dieng, menjadi salah satu bentuk nyata pemanfaatan energi terbarukan yang berfungsi untuk mengaliri listrik pemukiman masyarakat setempat. Setelah dari Kawah Sikidang ini, kami melakukan ishoma.

Selepas melaksanakan shalat Jumat dan makan siang, perjalanan kami berlanjut menuju Museum Kailasa yang berada tidak jauh dari kawasan Kompleks Candi Arjuna Dieng. Museum ini menjadi ruang pembelajaran yang melengkapi observasi lapangan sebelumnya, karena di dalamnya tersimpan berbagai peninggalan sejarah, arca, serta informasi mengenai perkembangan peradaban Hindu di Dataran Tinggi Dieng. Nama “Kailasa” sendiri diambil dari Gunung Kailash di India yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa dalam ajaran Hindu Siwa. Melalui penjelasan pemandu museum, kami memahami bahwa Dieng berasal dari istilah “Di Hyang” yang berarti tempat bersemayam para dewa. Tidak hanya itu, kami juga dikenalkan pada berbagai arca asli peninggalan abad ke-7 hingga abad ke-8 yang berasal dari masa Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Kehadiran kami di museum ini membuat kami menyadari bahwa kawasan Dieng bukan hanya sekadar destinasi wisata alam, melainkan juga pusat peradaban dan spiritualitas penting pada masa lampau.

Dok. Penulis

Di dalam museum, kami memperoleh banyak pengetahuan mengenai simbol-simbol kepercayaan Hindu, seperti arca Ganesha yang melambangkan ilmu pengetahuan dan penghalau rintangan, serta kisah Dewi Parwati dan sapi Nandi yang menjadi kendaraan Dewa Siwa. Penjelasan tersebut memperlihatkan bagaimana unsur religi, budaya, dan nilai kehidupan masyarakat masa lampau saling berkaitan. Selain itu, kami juga mempelajari alasan mengapa kawasan Dieng dipilih sebagai tempat pembangunan candi. Kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi, berkabut, memiliki sumber air, serta aktivitas vulkanik dianggap menyerupai Gunung Mahameru, gunung suci dalam kepercayaan Hindu. Menariknya lagi, kami diperkenalkan dengan fenomena anak berambut gimbal yang menjadi budaya khas Dieng dan masih dipercaya masyarakat hingga sekarang sebagai bagian dari tradisi spiritual turun-temurun.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kompleks Candi Arjuna, salah satu peninggalan Hindu tertua di Pulau Jawa. Walaupun kondisi disini lumayan ramai, hamparan candi batu yang berdiri di tengah udara sejuk Dieng ini tetap menghadirkan suasana yang begitu tenang. Kami mengetahui bahwa Candi Arjuna ditemukan kembali pada abad ke-19 oleh tentara Belanda bernama Theodorf Van Elf dalam kondisi tergenang air akibat lingkungan rawa di sekitarnya. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa bagian candi dan arca mengalami kerusakan, sehingga proses pemugaran dan penggalian masih terus dilakukan hingga saat ini. Dari hasil pengamatan langsung, terlihat bagaimana struktur bangunan candi dibangun dengan teknik batuan yang sangat detail, menunjukkan kemampuan arsitektur masyarakat masa lampau yang luar biasa pada zamannya.

Dok. Penulis

Kunjungan ke Kompleks Candi Arjuna memberikan pemahaman bahwa peninggalan sejarah tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan mengenai perkembangan budaya, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu. Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa bentang alam, aktivitas vulkanik, sejarah kerajaan, hingga kepercayaan masyarakat lokal memiliki hubungan yang saling mempengaruhi dalam membentuk karakter kawasan Dieng seperti yang dikenal saat ini.

Perjalanan hari kelima tersebut menjadi pengalaman yang memperluas sudut pandang kami terhadap keterkaitan antara lingkungan alam, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Dari keindahan Batu Pandang Ratapan Angin, aktivitas geotermal Kawah Sikidang, nilai historis Museum Kailasa, hingga kemegahan Kompleks Candi Arjuna, seluruh rangkaian observasi memberikan pelajaran bahwa Dieng menyimpan cerita panjang yang dapat dipahami melalui pengamatan langsung. Kegiatan KKL ini pada akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan akademik, tetapi juga ruang refleksi untuk memahami bagaimana manusia, alam, dan sejarah saling terhubung dalam membentuk identitas suatu wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *