Penulis: Catherine Matilda Andrean (SaIG, 2506417), Zasmina Silva Setiawan Putri (SaIG, 2505504)
Penyunting: Muhammad Naufal Rifasyah (SaIG, 2500436)

Dok. Penulis
Hari Selasa 28 April 2026 merupakan hari kedua Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pertama kami dimulai pada Selasa, 28 April 2026. Suasana pagi yang sejuk menyelimuti penginapan saat kami merampungkan pengukuran untuk mata kuliah Meteorologi dan Klimatologi hingga pukul 07.30 WIB. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju lokasi kajian berikutnya, yakni Pantai Ayah, Kebumen. Tiba sekitar pukul 11.30 WIB, kami langsung menerima pemaparan materi dari dosen pengampu mengenai kondisi geomorfologi dan geologi kawasan tersebut.
Berbekal arahan tersebut, kami segera menelusuri area Pantai Ayah untuk menghimpun data geofisik secara mendalam. Pantai Ayah ini membentuk teluk yang menjorok ke daratan dan berbatasan langsung dengan muara Sungai Ijo yang berdampingan dengan adanya tebing gamping yang curam. Pasir di pesisir pantai ini berasal dari material klastik yang terbawa oleh aliran sungai. Perpaduan antara proses fluvial dari sungai dan proses marin dari Samudera Hindia membuat dinamika sedimentasi di sini jauh lebih kompleks dibandingkan wilayah sekitarnya. Tak hanya terpaku pada bentang alam, kami juga berinteraksi dan berbincang hangat dengan warga setempat. Hal ini kami lakukan untuk membedah kondisi sosial masyarakat, guna melengkapi pemahaman kami mengenai aspek geografi manusia di wilayah pesisir ini.
Usai menuntaskan kajian di Pantai Ayah, langkah kami berlanjut menuju Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Lahan Basah Mangrove "Muara Kali Ijo". Lokasinya tidak jauh, namun atmosfernya terasa sangat berbeda. Kami disambut hangat oleh pengelola yang membagikan kisah inspiratif di balik hijaunya kawasan ini. Siapa sangka, inisiatif konservasi ini lahir dari kesadaran komunitas anak jalanan setempat. Mereka tergerak untuk memulihkan ekosistem laut sekaligus membangun benteng alami guna mitigasi bencana, berkaca pada sejarah kelam tsunami tahun 2006 silam.
Kami berkesempatan menyusuri jembatan kayu yang membentang panjang di tengah rimbunnya berbagai jenis tanaman mangrove. Berjalan di atas jembatan kayu panjang sembari mengenal berbagai jenis mangrove memberikan perspektif baru tentang pentingnya mitigasi bencana berbasis alam. Satu jam yang singkat namun penuh makna, sebelum akhirnya kami memutar kemudi menuju keajaiban perut bumi di Goa Jatijajar.
Kami tiba di Goa Jatijajar, sebuah goa yang terbentuk pada lapisan batugamping formasi kalipucang. Pada mulut goa, kami disuguhi pemandangan stalaktit dan stalagmit yang telah terbentuk selama ribuan tahun melalui proses pelarutan. Di Goa Jatijajar kami mengamati keberadaan sungai bawah tanah yang masih aktif. Pada dinding-dinding goa banyak terdapat tulisan nama-nama para pemimpin dari zaman dahulu seperti nama presiden pertama yaitu Ir. Soekarno sampai presiden saat ini yaitu Prabowo.
Di dalam Goa Jatijajar terdapat banyak sekali patung-patung yang menceritakan tentang Legenda Lutung Kasarung. Selain patung di Goa Jatijajar juga terdapat dua mata air atau biasa masyarakat lokal menyebutnya dengan sendang, sendang yang kami kunjungi yaitu sendang mawar yang memiliki mitos dapat membuat awet muda, lalu sendang kantil memiliki mitos mempermudah niat atau cita-cita seseorang.
Berakhir sudah kajian kami pada hari kedua dan dilanjut agenda yang paling dinanti sekaligus mendebarkan pun tiba yaitu Sesi Expose. Expose merupakan forum bagi setiap kelompok untuk memaparkan hasil data dari lapangan yang telah dilakukan sepanjang hari. Suasana diskusi yang berlangsung cukup intens dengan dosen pengampu yang memberikan tanggapan terhadap hasil data lapangan kami.
Pada sesi expose kami diasah untuk tetap tenang dalam menyajikan argumen berbasis data lapangan. Expose bukan sekedar presentasi, melainkan ruang untuk mempertanggungjawabkan data yang telah kami kaji di lapangan.

Dok. Penulis

Dok. Penulis

Dok. Penulis
