Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Jurusan
Pendidikan Sosiologi UPI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) interaktif
mengenai pendidikan anak. Acara yang dilaksanakan pada Rabu, 29 Agustus 2025, ini berfokus
pada pentingnya Pendidikan Aqil-Baligh sebagai pola asuh preventif terhadap risiko kenakalan
remaja. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Baca Sosiologi, FPIPS Lantai 5, ini
mempertemukan perwakilan orang tua dan guru SD untuk berbagi pengalaman dan merumuskan
strategi bersama.FGD ini mengusung tema “Implementasi Pendidikan Aqil-Baligh Sebagai Bentuk Pola Asuh
Orang Tua Sebagai Pencegahan Kenakalan Remaja.” Tujuan utamanya adalah menggali
pemahaman dan tantangan yang dihadapi orang tua dan guru dalam mendidik anak memasuki
masa pubertas, terutama untuk membekali mereka dengan kesadaran akan tanggung jawab,
batasan, dan perubahan fisik/emosional. Isu ini dinilai krusial mengingat hasil diskusi
menunjukkan anak-anak rentan terhadap pengaruh negatif, seperti bullying dan pergaulan yang
mengarah pada early dating, sehingga pendidikan batasan agama dan sosial sangat diperlukan.
Kegiatan ini melibatkan dua kelompok peserta utama:
- Perwakilan Orang Tua Murid dari SDN 138 Gegerkalong, SD Labschool, SDPN
Setiabudi, dan SDN 178 Gegerkalong - Guru Sekolah Dasar (Guru PAI, Guru BK, dan Wali Kelas) dari SDN 128 Gegerkalong,
SD Labschool, SDPN Setiabudi, dan SDN 178
Sesi diskusi orang tua dan guru SD dimoderatori oleh mahasiswa Pendidikan Sosiologi UPI. Kegiatan dilaksanakan pada Pukul 14.00 hingga 17.00 WIB dengan waktu FGD selama 60 menit di Ruang Baca Sosiologi, FPIPS Lantai 5.Rangkaian acara diawali dengan Pembukaan, dilanjutkan dengan Kata Sambutan dari dosen sebagai perwakilan tim pengabdian. Untuk memberikan gambaran media ajar yang akan dirancang, acara dilanjutkan dengan demonstrasi permainan boardgame di hadapan peserta.
Selanjutnya, dilakukan pematerian singkat mengenai urgensi pendidikan aqil baligh sebelum
masuk ke inti kegiatan: Sesi FGD. Acara ditutup dengan sesi dokumentasi bersama.Diskusi berlangsung secara mendalam, mengungkapkan berbagai temuan penting:Tantangan Orang Tua: Mayoritas orang tua mengakui canggung atau kesulitan mencari
kata-kata yang tepat saat menjelaskan isu sensitif terkait aqil-baligh dan batasan hubungan fisik, bahkan dengan ayahnya sendiri. Mereka juga khawatir anak menyebarkan informasi sensitif tersebut kepada teman-temannya. Meskipun demikian, mereka aktif mencari ilmu melalui penelusuran mandiri, sekolah parenting, dan pengajian.Kebutuhan Sekolah: Guru SD mengonfirmasi bahwa materi baligh telah terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka (khususnya kelas 4). Sekolah juga telah melakukan inisiasi seperti seminar pubertas dan kegiatan "Keputrian". Guru menekankan bahwa keberhasilan pendidikan ini sangat
bergantung pada pendampingan intensif dari orang tua di rumah.Rekomendasi Media Pembelajaran: Baik orang tua maupun guru menyambut baik ide media pembelajaran edukatif. Orang tua menyukai pendekatan santai seperti boardgame, namun mengingatkan agar tidak terlalu kompetitif. Sementara itu, para guru menyarankan media harus sesuai dengan kognitif anak di setiap fase usia, menggunakan visual dan roleplay, dan untuk kelas awal (Fase A), harus berfokus pada praktik dan mengenal diri sendiri tanpa banyak teori.
Media seperti boardgame dinilai efektif jika memiliki komponen moving, visual, dan auditori yang jelas.Melalui FGD ini, ditekankan bahwa kerja sama antara rumah dan sekolah, didukung dengan media pembelajaran yang inovatif, menjadi kunci keberhasilan dalam membekali anak-anak menghadapi masa aqil-baligh secara sehat dan bertanggung jawab. Kegiatan ini menegaskan komitmen Tim PkM Jurusan Pendidikan Sosiologi UPI untuk berkontribusi dalam penguatan pola asuh orang tua melalui media edukasi yang inovatif.