Penulis: Silmi Afina Aliyan
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Selama mengabdi sebagai dosen SaIG saya melihat kultur yang berkembang di Prodi Sains Informasi Geografi UPI sebagai salah satu kekuatan utama. Posisi SaIG sebagai pelopor Prodi S1 di Indonesia bukan sekadar status historis, tetapi telah membentuk mindset kolektif untuk terus menjadi rujukan. Dalam konteks keilmuan geologi dan remote sensing, budaya ini sangat penting karena perkembangan metode, algoritma, dan data (misalnya citra satelit beresolusi tinggi atau machine learning untuk interpretasi geologi) berlangsung sangat cepat. Tanpa budaya membaca, menulis, dan mempublikasikan, kita akan tertinggal. Saya melihat ekosistem SaIG sudah berada di jalur yang tepat, tinggal diperkuat dengan target publikasi yang lebih terarah, misalnya ke jurnal bereputasi internasional dan kolaborasi lintas disiplin.
Fondasi gotong royong antarelemen internal juga menjadi nilai yang sangat strategis. Dibutuhkan kolaborasi antara dosen dengan keahlian berbeda, mahasiswa yang adaptif terhadap teknologi baru, serta dukungan tenaga kependidikan yang memastikan sistem berjalan lancar. Kultur kolektif seperti ini mempercepat transfer pengetahuan dan meningkatkan produktivitas riset. Namun, ke depan penting juga menjaga keseimbangan antara kolaborasi dan penguatan kapasitas individu, agar setiap insan SaIG tetap memiliki distinct expertise.
Relasi yang kuat dengan pihak eksternal, alumni, masyarakat, dan industri menjadi keunggulan lain yang sangat relevan dengan kebutuhan saat ini. Alumni yang tersebar di berbagai sektor juga dapat menjadi knowledge bridge sekaligus membuka akses data dan studi kasus. Ini adalah modal penting jika SaIG ingin mengembangkan program S2 berbasis riset (Master by Research), karena topik-topik penelitian bisa langsung bersumber dari kebutuhan lapangan.
Secara keseluruhan, kultur SaIG yang mengedepankan pionir, literasi-publikasi, gotong royong, dan jejaring eksternal sudah sangat progresif. Tantangan ke depan adalah mengelola kultur ini agar semakin terarah: memperkuat research roadmap, meningkatkan kualitas publikasi (bukan hanya kuantitas), serta memastikan kolaborasi internal dan eksternal menghasilkan inovasi yang konkret.