Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
REFLEKSI KULTUR SaIG

Penulis: Nusan Mauli Pranata, S.Pd.

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

  1. Apa yang dipikirkan
    Kultur SaIG UPI menegaskan bahwa kekuatan institusi tidak hanya terletak pada sistem,
    tetapi pada konsistensi seluruh sumber daya manusia dalam menjalankan nilai-nilai
    yang telah dibangun, seperti produktivitas melalui tulisan, kolaborasi lintas pihak, serta
    keberanian menjadi trendsetter di bidang geospasial. Nilai ini selaras dengan kebutuhan
    pengembangan ke depan, termasuk dalam mendukung rencana S2 SaIG yang
    menuntut kerja cepat, efisien, dan berbasis tim. Saya juga berpikir bahwa menjaga kultur
    sama menantangnya dengan membangun kultur, karena membutuhkan komitmen
    berkelanjutan dari semua pihak. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang kuat
    antara dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan mitra agar nilai-nilai
    tersebut tetap terjaga. Selain itu, keberlanjutan SaIG ke depan sangat ditentukan oleh
    peran dosen-dosen muda sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan, menjaga,
    dan mengembangkan kultur yang telah dibangun.
  2. Apa yang dirasakan
    Saya teringat saat pertama kali bergabung di SaIG UPI hingga saat ini yang sudah
    hampir dua tahun. Pada awalnya terdapat proses penyesuaian, namun alhamdulillah
    dapat dilalui dengan baik karena lingkungan yang suportif dan terbuka. Hal ini
    menumbuhkan rasa kebersamaan, dan kepercayaan diri untuk terus berkembang serta
    kebanggaan menjadi bagian dari SaIG yang besar, maju, keren, unggul, dan memiliki
    peran penting. Saya juga merasakan bahwa kultur kolaboratif yang ada menjadi
    kekuatan utama dalam membangun suasana akademik yang produktif.
    ● Budaya menulis mendorong untuk terus belajar dan berkembang secara
    akademik.
    ● Kolaborasi membuat suasana kerja lebih ringan, saling mendukung, dan tidak
    berjalan sendiri.
    ● Semangat menjadi trendsetter mendorong untuk terus berinovasi.
    ● Identitas sebagai “the heart of geospatial” menumbuhkan kebanggaan sekaligus
    tanggung jawab.
    ● Nilai cinta geografi dan Indonesia memberikan makna lebih dalam terhadap
    pekerjaan yang dilakukan
    Di sisi lain, muncul kesadaran bahwa untuk mempertahankan kultur tersebut diperlukan
    peran aktif setiap individu, termasuk dosen muda, agar tetap konsisten dan tidak
    mengalami penurunan kualitas. Refleksi ini juga mendorong saya untuk terus
    meningkatkan kapasitas diri, termasuk melalui rencana melanjutkan studi S3, agar dapat
    berkontribusi lebih optimal dalam keberlanjutan SaIG.
  3. Apa yang didapatkan
    Memperkuat pemahaman bahwa budaya menulis, kolaborasi, dan keberanian menjadi
    pelopor merupakan fondasi utama SaIG. Selain itu, terlihat adanya keterkaitan yang
    kuat antara kultur yang dibangun dengan kesiapan institusi dalam menangkap
    momentum pengembangan, termasuk pembukaan S2 SaIG. Saya juga mendapatkan
    pemahaman bahwa keberlanjutan kultur sangat bergantung pada sinergi seluruh
    elemen, serta kesiapan generasi dosen muda dalam mengambil peran strategis ke
    depan. Lingkungan yang suportif menjadi modal penting yang perlu dijaga melalui
    komunikasi dan kerja sama agar kultur tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *