Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UPI Goes to Wukirsari: Menyelami Desa Wisata Wukirsari sebagai Desa Juara Dunia

BANTUL, DIY - Desa Wisata Wukirsari yang terletak di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menjadi destinasi pembelajaran budaya bagi akademisi. Pada hari Senin, 11 Agustus 2025, rombongan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) untuk mempelajari sejarah dan kekayaan budaya lokal desa yang telah meraih pengakuan internasional tersebut.

Kunjungan mahasiswa diawali dengan acara pembukaan dan sambutan hangat dari Kepala Desa Wukirsari, Bapak Nurhadi. Dalam sambutannya, Pak Nurhadi memaparkan sejarah singkat desa yang kini menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.

"Batik di desa ini berakar dari Kerajaan Mataram Islam. Oleh karena itu, makam dari Raja Mataram yang paling terkenal, Sultan Agung, berada di desa ini," jelas Pak Nurhadi kepada para mahasiswa.

Menurut penjelasan Kepala Desa, pembelajaran batik telah diwariskan dari keraton ke masyarakat sejak tahun 1632, ketika Sultan Agung Hanyokrokusumo membangun kompleks Makam Raja Imogiri. Pada masa itu, sebagian warga desa merupakan abdi dalem yang bekerja di Kompleks Makam Raja Imogiri. Transfer ilmu ini menjadikan batik tulis sebagai tradisi turun-temurun yang tetap digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti siraman, tujuh bulanan, dan sebelum pernikahan.

Bangkit dari Reruntuhan Gempa Menuju Pengakuan Dunia

Perjalanan Wukirsari sebagai desa wisata berkelas dunia dimulai dari tragedi yang memilukan. Pascagempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006, banyak galeri batik di desa ini mengalami kerusakan parah. Namun, daripada menyerah, masyarakat justru bangkit dengan semangat gotong royong.

Setahun setelah bencana, masyarakat sepakat untuk memetakan kembali potensi desa mereka. Dari proses ini lahirlah kelompok-kelompok batik, termasuk kelompok tertua bernama Bimasakti. Pada tahun 2007, terbentuk 12 kelompok batik yang kemudian bersatu dalam Paguyuban Batik Giriloyo dengan membangun gazebo sebagai pusat kegiatan bersama.

Sejak 2008, desa mulai membangun brand untuk pengrajin batik dan wayang. Setahun kemudian, paket wisata berbasis masyarakat (community-based tourism) diperkenalkan, meliputi workshop batik, pembuatan wayang kulit, penginapan, hingga kunjungan ke Makam Raja Mataram. Tradisi ziarah ke makam ini masih diatur dengan ketat: setiap pengunjung wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Laki-laki diwajibkan menggunakan beskap, sedangkan perempuan diwajibkan menggunakan kemben dan menyanggul rambutnya.

Perkembangan Desa Wukirsari mencapai puncaknya pada tahun 2019 ketika sebanyak 29.000 wisatawan mengikuti paket batik yang disediakan. Namun, pandemi Covid-19 pada tahun 2020 membuat angka tersebut turun drastis hingga 73 persen. Menghadapi tantangan ini, pada 2021 pihak desa melengkapi fasilitas dengan tremocamp dan sarana cuci tangan, meskipun masih belum cukup untuk membangkitkan pariwisata karena adanya pembatasan aktivitas.

Tahun 2022 menjadi titik balik ketika Desa Wukirsari bangkit kembali dan mendaftarkan diri ke Kementerian Pariwisata sebagai desa berkelanjutan dengan sistem pengolahan limbah batik. Sejak itu, prestasi berturut-turut diraih: juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia kategori Desa Wisata Maju tahun 2023 dan pengakuan internasional sebagai salah satu dari 55 Best Tourism Village 2024 dari UN Tourism (UNWTO).

Pengumuman Desa Wisata Wukirsari sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Dunia tahun 2024 diumumkan di Cartagena de Indias, Kolombia. Pencapaian ini menjadikan Wukirsari sebagai representasi Indonesia yang membanggakan di kancah internasional.

Mendalami Proses Membatik dan Filosofi Motif

Dalam kunjungan ke Desa Wukirsari ini, mahasiswa Pendidikan Sosiologi ikut melaksanakan workshop membatik. Dalam sesi workshop ini, para peserta berkesempatan mempraktikkan proses membatik tradisional secara langsung. Tahapan yang diajarkan meliputi pembuatan pola di atas kain katun, pelapisan dengan malam atau lilin, pengulangan dari sisi belakang, pemberian variasi, hingga pewarnaan menggunakan bahan alami maupun kimia.

Aspek yang tak kalah menarik adalah pembelajaran filosofi motif batik. Para mahasiswa diperkenalkan dengan motif Parang Rusak atau Awisan Antik Larangan yang dahulu hanya boleh dipakai oleh raja, serta motif Kawung yang menjadi simbol kekuasaan Mataram. Setiap motif memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa.

Warisan Wayang dan Arsitektur Rumah Limasan

Selain batik, Wukirsari juga terkenal sebagai sentra kerajinan wayang kulit di Kampung Pucung. Seni tatah sungging yang merupakan teknik pembuatan wayang kulit telah diwariskan lintas generasi dan kini menjadi salah satu paket unggulan wisata desa.

Kearifan lokal juga tampak dalam arsitektur rumah limasan yang mendominasi pemukiman desa. Rumah tradisional berbentuk persegi panjang dengan teras depan dan atap genteng ini terbukti memiliki struktur yang lebih lentur dan mampu bertahan saat gempa 2006 melanda Yogyakarta.

Makam Raja Mataram: Jejak Sejarah yang Hidup

Kompleks Makam Raja Imogiri yang dibangun oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1632 memiliki luas mencapai 10 hektar dan menjadi tempat peristirahatan terakhir raja-raja yang pernah bertahta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta beserta keluarganya.

Sultan Agung wafat pada tahun 1646 dan menjadi raja pertama yang dimakamkan di Astana Pajimatan Himagiri, kemudian penerus wangsa Mataram dan keturunannya juga turut dimakamkan di sini. Keberadaan kompleks makam ini memperkuat posisi Desa Wukirsari sebagai kawasan yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.

Masa Depan Desa Wisata Berkelanjutan

Dengan meraih pengakuan sebagai Best Tourism Village 2024 dari UNWTO, Desa Wisata Wukirsari kini menjadi rujukan pengembangan desa wisata berkelanjutan di Indonesia. Desa ini menjadi destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman wisata edukatif, budaya, dan alam.

Keberhasilan Wukirsari dalam mentransformasi diri dari desa yang terdampak bencana menjadi desa wisata berkelas dunia membuktikan bahwa dengan kerja keras, gotong royong, dan inovasi berkelanjutan, setiap daerah di Indonesia memiliki potensi untuk bersinar di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *