Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa UPI Mengungkap Transformasi Budaya Betawi di Setu Babakan

Jakarta, 7 Agustus 2025 — Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tergabung dalam kelompok Betropolitan Codes memulai misi budaya mereka di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Mengusung konsep “detektif budaya”, kelompok ini ingin mengungkap bagaimana budaya Betawi bertransformasi di tengah derasnya arus modernisasi ibu kota.

Setu Babakan resmi ditetapkan sebagai Perkampungan Budaya Betawi pada 2000, dengan lahan ±165 hektar hasil penataan Gubernur Bang Joss. Pada 2005, luas kawasan bertambah menjadi 285 hektar di masa Gubernur Hj. Wibowo. Kawasan ini menjadi pusat pelestarian tradisi—mulai dari rumah adat, seni pertunjukan, hingga kuliner khas seperti kerak telor dan bir pletok.

Bagi Betropolitan Codes, kunjungan ini bukan sekadar wisata budaya. Mereka datang untuk mempelajari makna di balik simbol-simbol tradisional, termasuk fenomena bergesernya fungsi ondel-ondel dari ritual sakral menjadi hiburan jalanan.

“Budaya Betawi itu jati diri,” tegas Pa Jaka Widya, pemandu Museum Betawi. Menurutnya, rasa percaya diri masyarakat Betawi meningkat signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

“Dulu banyak yang malu mengaku ‘gue orang Betawi’. Sekarang justru bangga. Mereka belajar, lalu cerita lagi ke orang lain bahkan di media sosial tentang bahasa, makanan, dan tradisi kampungnya. Ada kebanggaan tersendiri ketika bilang, ‘ini kampung gue, kalau mau lebaran kita bikin dodol seperti ini,’ sambil mempraktikkannya,” jelasnya.

Pa Jaka menegaskan bahwa budaya tak bisa lepas dari adaptasi. Salah satu contohnya adalah gambang kromong.

“Kalau cuma lima nada pentatonik, sekarang kita tambah jadi diatonik, biar musiknya bisa dinikmati generasi sekarang,” ujarnya. Alat musik tradisional tetap dipertahankan, namun diberi sentuhan modern seperti drum dan gitar agar relevan di telinga masa kini.

Tentang ondel-ondel, Pa Jaka menjelaskan pergeseran makna yang cukup besar.

“Dulu ondel-ondel itu penolak bala, dinantikan di hajatan karena membawa kegembiraan. Sekarang, di jalanan, sering dianggap menakutkan karena konteksnya mengemis. Bagus kalau bisa keliling sampai luar Jakarta, tapi harus tetap berpasangan dan sesuai pakem,” tuturnya.

Pemerintah telah mengadakan Workshop Laku Seni Ondel-Ondel agar masyarakat dapat membuat dan memainkan ondel-ondel secara benar. Sementara itu, Pa Sadeuli, Ketua RT setempat, tegas menolak penggunaan ondel-ondel sebagai media mengamen.

“Saya tidak pernah setuju ondel-ondel dijadikan media mengamen,” katanya.

Selain ondel-ondel, mahasiswa juga menyoroti delapan ikon Betawi: kembang kelapa, ornamen gigi balang, baju sadariah, kebaya kerancang, kain batik motif padi, kerak telor, bir pletok, dan kerajinan khas lainnya. Bir pletok, misalnya, yang dulu hanya dibuat dari 13–14 rempah tradisional, kini memiliki varian rasa modern seperti lemon, stroberi, dan mangga hasil eksperimen mahasiswa.

Bagi Betropolitan Codes, misi ini membuka mata bahwa budaya bukan hanya soal melestarikan, tetapi juga memaknai ulang identitas di era modern. Seperti pesan Pa Jaka:

“Di budaya itu ada yang pakem, ada yang boleh diubah. Yang penting, jangan sampai hilang akar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *