Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Menelusuri Bentang Alam, Merangkai Titik Akhir: Catatan Perjalanan di Balik Penyusunan Skripsi

Penulis: Melani Kartika Sari (SaIG, 2209712)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis

Ada yang bilang bahwa skripsi adalah cermin dari caranya seseorang menghadapi ketidakpastian. Saya baru benar-benar memahami ungkapan itu ketika menjalani sendiri prosesnya. Jika harus diringkas dalam satu kalimat, perjalanan skripsi saya adalah proses belajar membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang, yaitu aktivitas tektonik, melalui sesuatu yang justru sangat terlihat, yaitu bentuk permukaan bumi. Prosesnya panjang, penuh dengan angka, peta, revisi, dan tentu saja rasa lelah, tetapi pada akhirnya membawa saya pada satu titik yang telah lama saya nantikan: menyelesaikan studi sebagai mahasiswa Sains Informasi Geografi dan mendapat gelar Sarjana Geografi (S.Geo).

Skripsi saya berjudul “Penentuan Indeks Aktivitas Tektonik Relatif Berdasarkan Analisis Indeks Geomorfik Menggunakan Data Demnas di Sub DAS Cisokan”. Secara sederhana, penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat aktivitas tektonik relatif di wilayah Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisokan, Kabupaten Cianjur, dengan memanfaatkan berbagai indeks geomorfik seperti kerapatan jaringan sungai, rasio lebar dan tinggi lembah, kelurusan kaki pegunungan, rasio percabangan sungai, hingga asimetri DAS. Seluruh indeks tersebut diturunkan dari data DEMNAS, sehingga penelitian ini dapat dilakukan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada survei lapangan yang intensif. Di balik judul yang terdengar teknis tersebut, tersimpan proses panjang yang jauh lebih rumit daripada sekadar mengolah data di layar laptop.

Perjalanan ini sebenarnya tidak langsung dimulai dari topik tektonik. Seperti kebanyakan mahasiswa lain, saya sempat melewati fase mencari-cari arah penelitian yang sesuai dengan minat dan kemampuan yang saya miliki. Ada banyak pertimbangan yang muncul saat itu, mulai dari ketersediaan data, kemudahan akses citra maupun DEM, hingga metode analisis yang realistis untuk dikerjakan dalam waktu satu sampai dua semester. Ketertarikan saya terhadap geomorfologi dan kebencanaan geologi, ditambah pengalaman menganalisis morfotektonik dan morfometri ketika magang di Pusat Survei Geologi (PSG) dan menyelesaikan proyek akhir mata kuliah survei pemetaan geologi dan geomorfologi pada semester 6, akhirnya mengantarkan saya pada topik indeks aktivitas tektonik relatif menggunakan pendekatan morfotektonik dan morfometri.

Setelah mendapatkan Surat Keputusan pembimbing, saya mulai benar-benar masuk ke dalam dunia skripsi yang sesungguhnya. Saya bersyukur dapat dibimbing oleh Bapak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc. selaku dosen pembimbing pertama dan Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc. selaku dosen pembimbing kedua. Dari proses bimbingan bersama keduanya, saya belajar bahwa sebuah penelitian bukan hanya tentang menghasilkan peta dan angka indeks sebanyak mungkin, tetapi tentang bagaimana setiap nilai yang dihasilkan dapat dijelaskan secara ilmiah dan dipertanggungjawabkan hingga ke akar konsepnya.

Pada awalnya saya cukup percaya diri karena seluruh data yang dibutuhkan bersumber dari DEMNAS yang dapat diunduh secara bebas dan gratis, sehingga saya sempat berpikir prosesnya akan berjalan relatif mudah. Namun anggapan tersebut perlahan runtuh begitu saya mulai masuk ke tahap pengolahan. Delineasi Sub DAS Cisokan, ekstraksi jaringan sungai, hingga perhitungan setiap indeks geomorfik satu per satu ternyata menuntut ketelitian yang jauh lebih tinggi daripada yang saya bayangkan. Kesalahan kecil dalam menentukan titik outlet DAS saja dapat mengubah seluruh hasil delineasi dan itu berarti seluruh perhitungan setelahnya harus diulang dari awal.

Tantangan lain muncul ketika saya harus memahami dan menghitung berbagai indeks geomorfik yang masing-masing memiliki logika dan cara pandang berbeda terhadap bentang alam, mulai dari rasio lebar dan tinggi lembah yang mencerminkan proses bentuk lembah sungai, sinuositas kaki pegunungan, hingga asimetri DAS yang mengindikasikan kemiringan tektonik. Awalnya rumus-rumus tersebut hanya saya pahami secara tekstual dari jurnal acuan, tetapi ketika harus diterjemahkan ke dalam praktik pengolahan menggunakan perangkat lunak SIG, saya menyadari bahwa jarak antara memahami teori dan menerapkannya di lapangan pengolahan data ternyata cukup jauh.

Dok. Penulis

Ada masa ketika satu proses delineasi DAS yang seharusnya sederhana justru memakan waktu berhari-hari karena data DEM yang digunakan masih menyimpan kesalahan kecil berupa sink dan noise yang memengaruhi arah aliran. Ada pula masa ketika saya sudah merasa berada di tahap akhir, tetapi setelah dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, ternyata masih ada beberapa indeks yang perlu ditambahkan analisisnya. Pada titik itu saya belajar bahwa dalam penelitian berbasis data spasial, kesabaran untuk memeriksa ulang data jauh lebih penting daripada sekadar terburu-buru menyelesaikan seluruh tahapan.

Di tengah proses tersebut, saya juga semakin menyadari pentingnya diskusi dengan dosen pembimbing. Banyak kebingungan yang jika dipikirkan sendiri di depan laptop justru terasa semakin rumit, tetapi setelah didiskusikan bersama Bapak Hendro dan Ibu Tiara, permasalahan tersebut ternyata memiliki solusi yang jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan. Dari proses bimbingan itu pula saya belajar untuk tidak terlalu melekat pada hasil pekerjaan sendiri. Ketika ada bagian yang harus direvisi, bukan berarti seluruh penelitian saya keliru, melainkan revisi tersebut menjadi bagian dari proses menjadikan penelitian ini lebih kuat secara metodologis.

Kehadiran teman-teman seperjuangan Sains Informasi Geografi angkatan 2022 juga menjadi salah satu hal yang paling membantu selama proses ini berlangsung. Meskipun masing-masing memiliki topik dan kesibukan yang berbeda, sekadar bertukar cerita tentang kendala pengolahan data, saling mengingatkan progres, atau bahkan hanya mengeluh bersama mengenai revisi, cukup membuat saya merasa tidak sendirian dalam menjalani proses ini. Diskusi-diskusi kecil tersebut sering kali justru membuka sudut pandang baru yang membantu saya keluar dari kebuntuan berpikir.

Dok. Penulis

Setelah melalui berbagai proses pengolahan data serta penyusunan hasil dan pembahasan yang berulang kali direvisi, skripsi saya perlahan mulai menemukan bentuk akhirnya. Semakin mendekati jadwal sidang, perasaan saya campur aduk antara lega karena akhirnya sampai pada tahap tersebut dan gugup karena harus mempertanggungjawabkan seluruh proses yang telah dikerjakan selama ini. Ketika hari sidang benar-benar tiba, saya berdiri di hadapan dosen penguji bukan lagi sekadar sebagai mahasiswa, melainkan sebagai peneliti yang harus mampu menjelaskan dan mempertahankan setiap keputusan metodologis yang telah diambil.

Rasa gugup tentu tidak dapat dihindari, tetapi begitu sidang berlangsung, suasananya ternyata tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya. Setiap pertanyaan yang diberikan justru menjadi kesempatan bagi saya untuk menjelaskan lebih dalam mengenai penelitian saya. Dari pengalaman tersebut saya menyadari bahwa ketakutan sebelum sidang, pada kenyataannya, sering kali jauh lebih besar dibandingkan sidang itu sendiri.

Dok. Penulis

Melihat kembali keseluruhan proses ini, saya menyadari bahwa skripsi mengajarkan banyak hal yang tidak pernah tertulis dalam buku metodologi penelitian mana pun. Saya belajar bahwa penelitian berbasis data spasial menuntut ketelitian yang tidak bisa ditawar, bahwa hasil yang tidak sesuai ekspektasi awal bukanlah kegagalan melainkan bagian dari temuan yang harus dijelaskan secara jujur, dan bahwa kemampuan untuk terus mencoba meskipun berkali-kali menemui kesalahan pengolahan jauh lebih berharga daripada sekadar keinginan untuk cepat selesai. Skripsi juga mengajarkan saya untuk lebih sabar menghadapi proses yang berulang, lebih teliti dalam mengambil setiap keputusan analisis, dan lebih percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan sesuatu yang di awal terasa begitu asing.

Untuk adik-adik tingkat khususnya SaIG angkatan 2023 yang sedang menghadapi skripsi serta adik-adik tingkat SaIG angkatan 2024 dan seterusnya, saya ingin menyampaikan bahwa rasa takut sebelum memulai adalah hal yang wajar, tetapi jangan biarkan rasa takut tersebut menahan langkah untuk memulai. Akan ada data yang harus diperiksa ulang, hasil yang meleset dari perhitungan, dan revisi yang datang berkali-kali, tetapi semua itu adalah bagian dari proses yang pada akhirnya akan menjadi cerita berharga setelah berhasil dilalui. Jangan pula membandingkan kecepatan progres skripsimu dengan orang lain, karena setiap topik dan setiap orang memiliki tantangannya masing-masing. Fokuslah menyelesaikan satu langkah kecil hari ini, karena satu langkah kecil yang konsisten pada akhirnya akan mengantarkan pada garis akhir.

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi. Terima kasih atas arahan, kebijakan, serta budaya akademik yang telah dibangun selama saya menempuh studi di SaIG. Lingkungan akademik yang mendorong ketekunan dan tanggung jawab tersebut sangat berperan dalam membentuk cara saya menghadapi setiap tantangan selama proses penelitian ini, termasuk ketika harus menghadapi Bapak sebagai salah satu sosok yang senantiasa mengingatkan mahasiswa untuk terus menuntaskan apa yang telah dimulai.

Dok. Penulis

Ucapan terima kasih yang sangat mendalam juga saya sampaikan kepada Bapak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc., selaku dosen pembimbing pertama, dan Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., selaku dosen pembimbing kedua. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membimbing, mengoreksi, serta memberikan arahan yang jelas di setiap tahap penelitian. Setiap masukan yang diberikan, baik yang menenangkan maupun yang membuat saya harus mengulang perhitungan dari awal, menjadi bagian penting yang membentuk kualitas akhir dari penelitian ini.

Terima kasih pula saya sampaikan kepada seluruh dosen dan jajaran Program Studi Sains Informasi Geografi yang telah memberikan ilmu selama masa perkuliahan. Berbagai mata kuliah yang pada awalnya terasa berdiri sendiri, seperti geomorfologi, penginderaan jauh, sistem informasi geografis, hingga pengolahan data spasial, ternyata saling terhubung dan menjadi bekal yang sangat berarti ketika diterapkan dalam penelitian ini. Tidak lupa, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan SaIG angkatan 2022 yang telah menjadi tempat berbagi cerita, saling mengingatkan, dan menjadi penyemangat sederhana namun berarti sepanjang perjalanan perkuliahan hingga penyelesaian skripsi.

Pada akhirnya, skripsi ini bukan sekadar dokumen ilmiah yang membahas indeks aktivitas tektonik relatif di Sub DAS Cisokan. Skripsi ini adalah rekaman perjalanan panjang tentang bagaimana saya belajar membaca bentang alam sekaligus belajar memahami diri sendiri, bahwa proses yang berliku dan penuh revisi bukanlah hambatan, melainkan jalan yang memang harus dilalui untuk sampai pada pemahaman yang lebih utuh, baik tentang topik penelitian maupun tentang kemampuan diri sendiri dalam menghadapi sesuatu yang di awal terasa mustahil untuk diselesaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *