Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
PARADIGMA

Rabu, 22 Juli 2026 & Selasa, 8 September 2026

Penulis: Naila Fadhilah P (SaIG, 2503738) & Moses Zifora Imanuel G (SaIG, 2508076)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Keberagaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Perbedaan keyakinan dan cara pandang menjadi realitas yang perlu dihadapi dengan sikap saling memahami dan menghargai. Melihat dari hal tersebut, HIMA Sains Informasi Geografi (SaIG) menyelenggarakan program kerja PARADIGMA dengan tema “Menguatkan Spiritualitas dan Merangkul Keberagaman”. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua pertemuan sebagai ruang diskusi untuk memahami makna kehidupan, memperkuat spiritualitas, serta melihat keberagaman agama melalui perspektif yang lebih terbuka dan toleran. Sebagai rangkaian pertama, PARADIGMA 1 dilaksanakan pada 22 Juli 2026 dan PARADIGMA 2 dilaksanakan pada 8 September 2026.

Dok. Penulis

Pada PARADIGMA 1, peserta duduk melingkar di Taman Isola sambil mendapatkan pemaparan materi dari Kak M. Yakshyallah Liddinillah, S.H. yang membahas spiritualitas dan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Pembahasan diawali dengan mengangkat kejadian intoleransi di Lampung sebagai salah satu gambaran mengenai tantangan dalam menyikapi perbedaan. Dari persoalan tersebut, peserta diajak memahami pentingnya sikap moderat, yaitu kemampuan untuk menjalankan keyakinan dengan teguh sekaligus tetap menghargai keberadaan dan keyakinan orang lain. Materi kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai iman, agama sebagai jalan kebaikan, serta taqwa, yang tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut dapat tercermin melalui sikap dan kebaikan kepada sesama.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi terbuka yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, maupun pemikiran terkait materi yang telah disampaikan. Antusiasme peserta terasa selama diskusi berlangsung. Interaksi yang terbangun membuat kegiatan tidak hanya berjalan sebagai pemaparan satu arah, tetapi berkembang menjadi ruang bertukar perspektif mengenai spiritualitas, iman, sikap moderat, serta bagaimana menyikapi keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.

Dok. Penulis

Paradigma 2 memiliki topik pembicaraan yang berbeda, perdebatan mengenai hubungan antara sains dan agama sering kali memicu pertentangan, padahal keduanya beroperasi di ranah yang berbeda namun saling melengkapi. Agama berfokus pada keimanan dan pencarian makna hidup dengan menjawab pertanyaan dasar tentang mengapa manusia dan alam semesta ada. Di sisi lain, sains berfokus pada pengetahuan empiris dan metode ilmiah untuk menjawab bagaimana fenomena alam bekerja. Melalui kacamata ilmu geografi—sebagai disiplin yang memadukan analisis fisik dan sosial—nalar ilmiah dan nilai spiritual dapat berjalan berdampingan secara harmonis.

Dok. Penulis

Secara geografis, seluruh manusia hidup dalam satu biosfer yang sama di mana hukum-hukum alam berlaku setara tanpa memandang latar belakang keyakinan. Sains geografi memberikan data objektif mengenai kondisi alam dan potensi kerusakannya, sementara nilai keimanan menghadirkan dorongan etis dan moral bagi manusia untuk merawat ruang hidup bersama tersebut. Selain memperluas pemahaman ekologis, sains juga membantu memurnikan pemahaman keagamaan dari takhayul serta mendukung praktik ibadah melalui pemanfaatan teknologi navigasi dan pemetaan. Pada akhirnya, sains dan agama bukanlah dua kompas yang saling diadu, melainkan dua pemandu yang berjalan beriringan: sains memberikan data dan alat navigasi, sedangkan keimanan memberikan arah kemanusiaan dan landasan moral.

Pada akhirnya, program kerja PARADIGMA mengingatkan kita bahwa memperkuat spiritualitas dan memahami sains bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan landasan untuk menghargai setiap perbedaan. Dari Taman Isola hingga ruang-ruang diskusi akademis, benih-benih toleransi dan keterbukaan ini diharapkan dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *