Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini di Desa Mekarsaluyu menjadi momentum penting dalam upaya mengembalikan kesadaran masyarakat terhadap urgensi menjaga keberlanjutan bumi. Serangkaian kegiatan edukatif dan aksi nyata digelar secara terpadu, menghadirkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, komunitas lokal, akademisi, mahasiswa, serta organisasi non-pemerintah. Dengan mengusung tema "Memetakan Krisis, Menanam Solusi: Gerakan Hijau untuk Bumi Lestari", rangkaian kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman teoretis, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan aplikatif yang dapat diterapkan langsung dalam menangani isu lahan kritis yang semakin kompleks.

Desa Mekarsaluyu sendiri merupakan salah satu wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan ekologis akibat perubahan penggunaan lahan, penebangan liar, hingga pembangunan yang tidak berkelanjutan. Kondisi ini menjadikan desa tersebut sebagai lokasi strategis untuk menyelenggarakan kegiatan Hari Lingkungan Hidup, sekaligus menguatkan komitmen masyarakat setempat untuk kembali menata ruang hidup mereka. Sebagai desa yang memiliki potensi geografis dan ekologis cukup tinggi, peringatan ini menjadi alarm sekaligus peluang besar untuk membangun kesadaran ekologis baru yang lebih inklusif dan berbasis ilmu pengetahuan.
Kegiatan utama yang mewarnai peringatan ini meliputi lokakarya pemetaan lahan kritis, sesi pematerian mengenai urgensi penanganan degradasi lingkungan, dialog interaktif lintas generasi, dan aksi penanaman pohon massal. Masing-masing rangkaian acara tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi sehingga membangun pemahaman utuh mengenai hubungan antara permasalahan, solusi, serta implementasinya.

Salah satu sesi yang paling menarik dan sarat makna adalah workshop intensif mengenai pemetaan lahan kritis. Workshop ini menargetkan mahasiswa Pendidikan Geografi sebagai peserta utama, mengingat mahasiswa dalam bidang ini memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan berbasis kajian ilmiah. Dengan dipandu oleh Kang Satria—seorang praktisi sistem informasi geografis yang berpengalaman—para peserta diajak untuk memahami metodologi identifikasi, pengolahan, hingga visualisasi data spasial yang berkaitan dengan lahan kritis.
Materi workshop disusun secara bertahap. Pada sesi awal, peserta diperkenalkan pada konsep dasar lahan kritis, indikator degradasi tanah, proses erosi, hingga fenomena alih fungsi lahan yang sering kali tidak terencana. Penjelasan ini sangat penting karena pemahaman teoretis menjadi fondasi dalam membaca pola-pola kerusakan yang tampak pada data spasial. Peserta kemudian diajak untuk mengoperasikan software QGIS, sebuah perangkat SIG berbasis open-source yang sangat populer dan sering digunakan dalam kajian lingkungan.
Dalam sesi praktik, mahasiswa mempelajari teknik mengumpulkan data menggunakan citra satelit, peta tutupan lahan, indeks vegetasi (NDVI), serta data kemiringan lereng yang menjadi indikator awal untuk menilai tingkat kerentanan suatu wilayah. Mereka diberi contoh nyata bagaimana degradasi dapat dikenali dari penurunan indeks vegetasi, meningkatnya area terbuka, hingga pola sedimentasi pada aliran sungai. Tidak hanya itu, Kang Satria juga memberikan studi kasus mengenai keberhasilan beberapa desa mengembalikan kondisi lahan mereka setelah dilakukan pemetaan akurat.
Output dari workshop ini bukan sekadar kumpulan peta, tetapi juga analisis mendalam yang menjadi dasar penentuan prioritas intervensi. Pemetaan yang dilakukan tidak hanya merepresentasikan kondisi lapangan, tetapi juga memuat rekomendasi teknis, seperti jenis tanaman yang cocok untuk rehabilitasi berdasarkan kondisi tanah, ketersediaan air, dan potensi tumbuhnya vegetasi lokal. Dengan bekal tersebut, mahasiswa memiliki kompetensi baru untuk berperan aktif membantu pemerintah desa dalam merancang program rehabilitasi yang lebih efektif.
Setelah mendapatkan pengalaman teknis melalui workshop, peserta dihadapkan pada sesi pematerian yang memperluas wawasan mengenai isu krisis lahan secara multidimensional. Dalam sesi ini, para akademisi, pemerhati lingkungan, dan praktisi kehutanan memberikan materi yang menyoroti bagaimana degradasi lahan berdampak pada kehidupan manusia dari berbagai sisi.
Dari perspektif ekologis, narasumber menjelaskan bagaimana degradasi lahan dapat memicu rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati. Ekosistem yang tidak seimbang akan mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap air, menurunkan kualitas udara, serta mengakibatkan hilangnya habitat bagi flora dan fauna lokal. Penjelasan ini didukung dengan pemaparan data dan contoh kasus yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Dari sudut pandang sosial, degradasi lahan menciptakan ancaman terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat desa. Ketika lahan pertanian kehilangan kesuburannya, produksi pangan menurun dan pendapatan masyarakat ikut tergerus. Hal ini dapat memicu konflik sumber daya, migrasi penduduk, hingga melemahnya struktur sosial masyarakat yang bertumpu pada sektor agraris. Diskusi ini membuka ruang bagi peserta untuk memahami bahwa lingkungan bukan sekadar ruang fisik, tetapi juga ruang hidup yang berkaitan erat dengan dinamika sosial manusia.
Aspek ekonomi pun tidak kalah penting. Degradasi lahan mengakibatkan biaya rehabilitasi yang tinggi, hilangnya produktivitas tanah, serta berkurangnya potensi ekonomi berbasis alam seperti pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Para pemateri menekankan bahwa investasi pada rehabilitasi lahan menjadi langkah strategis yang tidak hanya bermanfaat untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
Sesi ini diakhiri dengan dialog interaktif yang membuka peluang refleksi mendalam. Mahasiswa dan warga desa diajak merenungkan bahwa krisis lahan bukan hanya persoalan Mekarsaluyu, tetapi bagian dari isu global yang membutuhkan perubahan paradigma bersama. Tanggapan peserta menunjukkan bahwa kegiatan ini berhasil menggugah pemikiran kritis dan mendorong kesadaran kolektif.
Puncak acara dirayakan melalui aksi penanaman pohon massal di berbagai titik lahan kritis Desa Mekarsaluyu. Kegiatan ini bukan sekadar simbol seremonial, tetapi wujud nyata komitmen untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan yang telah mengalami degradasi. Ratusan relawan, mahasiswa, warga desa, tokoh masyarakat, hingga perwakilan instansi bahu membahu menanam ribuan bibit pohon endemik.
Jenis pohon yang ditanam dipilih secara selektif, mulai dari pohon buah-buahan seperti manglid, nangka, alpukat, hingga jenis pelindung seperti damar, puspa, dan suren. Pemilihan jenis tanaman mempertimbangkan adaptasi terhadap tanah lokal, daya tahan terhadap erosi, serta manfaat ekonomis jangka panjang bagi masyarakat. Kegiatan ini juga memperkenalkan prinsip "agroforestry”, yaitu teknik mengombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman produktif sehingga memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomis.
Suasana kebersamaan sangat terasa. Setiap lubang tanam yang digali menjadi simbol komitmen baru, setiap bibit yang ditanam menjadi harapan bagi masa depan ekologis desa. Gotong royong yang tercipta memperlihatkan bahwa upaya penyelamatan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau akademisi, melainkan tanggung jawab bersama.
Selain itu, momentum peringatan ini turut membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai pentingnya membangun budaya ekologis sejak dini. Para pendidik yang hadir dalam kegiatan tersebut menekankan perlunya integrasi pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler desa. Anak-anak dan remaja diajak terlibat dalam pengamatan vegetasi, pengenalan jenis tanah, dan pemahaman siklus air melalui kegiatan lapangan yang menyenangkan. Pendekatan edukatif semacam ini diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian yang berakar kuat, sehingga perilaku menjaga lingkungan menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya wacana.
Rangkaian kegiatan ini juga mendorong terbentuknya jejaring kolaborasi antarinstansi yang sebelumnya belum berjalan secara optimal. Pemerintah desa, lembaga pendidikan tinggi, dan organisasi non-pemerintah mulai merancang program tindak lanjut yang mencakup pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kewirausahaan hijau. Program tersebut meliputi pengembangan komoditas lokal berbasis keberlanjutan, seperti budidaya tanaman herbal, pembibitan pohon endemik, serta pelatihan pengolahan hasil hutan bukan kayu. Dengan demikian, upaya konservasi tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.
Selain menghasilkan peta lahan kritis, kegiatan pemetaan yang dilakukan mahasiswa juga menciptakan database lingkungan desa yang sangat penting bagi pengambilan keputusan. Data tersebut mencakup informasi tingkat kerentanan erosi, pola tutupan lahan, tingkat kesuburan tanah, hingga wilayah dengan risiko bencana hidrometeorologi yang tinggi. Pemerintah desa menyambut baik hasil ini dan berencana menggunakannya dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Desa (RTTR). Integrasi data ilmiah ke dalam kebijakan desa menjadi langkah maju yang memastikan bahwa setiap keputusan pembangunan mengikuti prinsip keberlanjutan.
Tidak hanya itu, kegiatan ini turut memantik diskusi tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air yang lebih terencana. Beberapa narasumber mengingatkan bahwa krisis lahan sering kali berkaitan erat dengan menurunnya kualitas dan kuantitas air di daerah hulu. Oleh karena itu, rehabilitasi tidak cukup dilakukan melalui penanaman saja, tetapi juga melalui pembangunan terasering, pembuatan sumur resapan, serta perlindungan daerah mata air. Masyarakat Mekarsaluyu menyambut gagasan ini dengan antusias, karena mereka menyadari bahwa air merupakan kebutuhan fundamental yang menopang seluruh aspek kehidupan.
Akhirnya, kegiatan peringatan ini menunjukkan bahwa membangun kesadaran lingkungan yang kokoh memerlukan pendekatan inklusif. Keterlibatan perempuan, pemuda, tokoh adat, dan kelompok tani menjadi bukti bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki peran signifikan dalam menjaga keberlanjutan desa. Partisipasi beragam pihak ini bukan hanya memperkaya sudut pandang, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap program rehabilitasi yang dijalankan. Dengan cara inilah, Gerakan Hijau untuk Bumi Lestari tidak sekadar menjadi slogan, melainkan gerakan sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat Mekarsaluyu.
Secara keseluruhan, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Desa Mekarsaluyu berhasil merangkum konsep belajar, berdiskusi, dan beraksi dalam satu rangkaian kegiatan terpadu. Workshop pemetaan memberikan keterampilan teknis yang berharga, pematerian memperluas wawasan dan membangun kesadaran kolektif, sedangkan aksi penanaman pohon menjadi langkah konkret yang menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil namun konsisten.
Namun, keberhasilan ini tentu tidak boleh berhenti pada momen peringatan saja. Harapan yang tertanam bersama bibit-bibit pohon harus terus dijaga dengan komitmen jangka panjang. Monitoring pertumbuhan pohon, perawatan rutin, hingga evaluasi berkala harus dilaksanakan agar tujuan rehabilitasi benar-benar tercapai. Dengan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah desa, masyarakat, akademisi, dan relawan, Mekarsaluyu berpotensi menjadi contoh desa yang berhasil bangkit menghadapi krisis lahan.
Acara ini menjadi bukti bahwa dengan sinergi yang kuat dan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, tantangan lingkungan yang tampak rumit sekalipun dapat dihadapi dengan optimisme. Masa depan Desa Mekarsaluyu yang hijau, mandiri, dan berkelanjutan bukan hanya impian, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan komitmen bersama.
Dokumentasi Kegiatan



Penulis : Zahran Dhya`Ulhaq Mahameru (2407807), Rizky Ramadhan (2304412)
Editor : Syalwa Ramadianti (2407430)