Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Perjalanan Rido rahman dalam menjalani mata kuliah Kerangka Dasar Horizontal dan Vertikal

Disusun oleh : Rido Rahman NIM: 2510597

Diampu oleh: Dr. Muhammad Ihsan, S.T, M.T dan Dr. Tania Septi Anggraini, S.T, M.T, Ph.D Annisa Nabila Rizki, S.T, M.T

Saya belajar mata kuliah Kerangka dasar horizontal dan vertikal sebagai mahasiswa tingkat 1 semester 2. Menjalani Matakuliah Kerangka Dasar Horizontal dan Vertikal menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, selain dari aspek akademik saya pun memahami bahwa menjalani mata kuliah ini tidak bisa hanya dijalann kan secara individu namun selalu membutuhkan kerjasama yang kolaboratif menjadi sebuah tim.

Pada awal perkuliahan kami mendapat pembelajaran tentang konsep dasar mata kuliah ini. Ketika mempelajari konsep dasar saya sangat tertarik dengan apa yang disampaikan oleh dosen pengampu dibuktikan dengan saya aktif berdiskusi dan bertanya kepada dosen pengajar, dengan semakin banyak berdiskusi semakin saya ingin mencari tahu terhadap mata kuliah ini. Hal itu pula yang membuat saya tidak puas hanya dengan memahami konsep secara permukaan, tetapi berusaha keras untuk menguasai setiap detail, mulai dari prinsip dasar pengukuran kerangka horizontal dan vertikal hingga teknis pengolahan data di lapangan. Kebiasaan belajar mandiri dengan dibantu kaka tingkat yaitu yang paling sering menjadi teman berdiskusi adalah Kang Hasby Al-Ghifari dan Kang deden SPIG angkatan 2023, membaca referensi tambahan, dan mencoba memecahkan beberapa studi kasus dalam pengukuran secara konsisten membuat pemahaman saya tumbuh jauh melampaui ekspektasi awal saya sendiri.

Penguasaan materi yang saya bangun secara bertahap ini kemudian membawa dampak yang lebih luas dan mendorong saya untuk terus berdiskusi tentang mata kuliah ini. Teman-teman pun mulai menyadari bahwa saya memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap materi kuliah,

dan satu per satu mereka datang untuk berdiskusi dan berkonsultasi. Saya menjadi rujukan bagi hampir seluruh kelompok di kelas bahkan di angkatan, baik untuk memahami konsep yang belum jelas, mengecek metode pengukuran yang digunakan, maupun mendiskusikan hasil pengolahan data yang kami peroleh dari lapangan.

Selain dari hal hal diatas yang menjadi faktor saya untuk semangat mempelajari lebih dalam mata kuliah ini saya pun ditunjuk menjadi kepala divisi akademik pada Kuliah Kerja Lapangan 1 (KKL 1) yang berfokus pada praktik pengukuran secara langsung pada lingkungan masyarakat.

Gambar ketika pengukuran KDV

Selain memahami konsep dasar pengukuran di kelas kami pun mempelajari hal hal teknis pengukuran dengan praktikum yang dilakukan setiap 1 kali dalam 1 minggu, pada praktikum tersebut saya menjadi ketua kelompok dengan beranggotakan 4 orang, kami pun bergiliran peran pada setiap pengukuran terkadang menjadi Surveyor, drafter, dan yang melakukan kontrol kualitas bagi hasil pengukuran dan centering leveling teman sekelompok.

Gambar ketika pengukuran

Lalu tiba pada waktu menjelang semester ini berakhir kami memiliki tugas besar berupa project pemutakhiran sebaran Benchmark di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung). Dalam project ini kami menggunakan konsep Kerangka Dasar Horizontal dan Vertikal menggunakan polygon tertutup dengan distribusi koreksi menggunakan metode Bowditch yang area pengukuran setiap kelompok itu saling bertampalan.

Gambar Area pengukuran

Dalam pengerjaan tugas besar ini kami pertamakali menghadapi kasus yang seperti ini, hal yang membuat bingung bagi kami adalah konsep yang saling Benchmark yang saling bertampalan dan jenis polygon yang berbeda, saya pun menginisiasi untuk membuat pertemuan satu angkatan membahas terkait konsep pengukuran dan arah pengukuran bagi setiap kelompok, adapun hasil dari diskusi tersebut adalah adanya jenis polygon yang berbeda yaitu polygon tertutup

menggunakan 2 titik acuan yang diketahui dan polygon terutup terhadap 1 titik acuan dan mengambil azimuth dari titik lain yang tidak masuk ke dalam polygon sesuai pembelajaran dan arahan dari dosen sebelumnya.

Gambar ketika berdiskusi hasil pengukuran

Dengan banyak memberi masukan kepada setiap kelompok terkait perencanaan pengukuran menjadikan saya menjadi lebih banyak berdiskusi terkait konsep pengukuran yang dilakukan oleh setiap kelompok. Dari situ, peran saya berkembang menjadi sesuatu tanggung jawab moril untuk membantu teman teman, yaitu menjadi pelaksana quality control terhadap hasil pengolahan data seluruh kelompok. Saya memeriksa satu per satu output data yang mereka hasilkan, mencari bagian mana yang keliru dalam proses perhitungan, lalu memberikan masukan agar mereka tahu harus diperbaiki dari mana. Yang penting bagi saya bukan sekadar menunjuk kesalahan, tetapi memastikan mereka benar-benar paham kenapa itu salah dan bagaimana cara membenahinya. Memang tidak selalu mudah, apalagi harus menyampaikan koreksi tanpa membuat orang lain merasa dijatuhkan, tapi justru di situlah saya belajar banyak tentang bagaimana berkomunikasi dengan baik sambil tetap menjaga standar yang benar.

Gambar ketika berdiskusi hasil pengukuran

Kami pun sampai pada fase pengolahan data setelah semua pengukuran selesai kami pin menghadapi berbagai tantangan dalam hasil pengolahan data, pada akhirnya saya mencoba membantu mengecek hasil pengolahan data, dan saya mendapati beberapa masalah yang Alhamdulillah bisa diselesaikan, diantaranya: kesalahan pengguanaan rumus pada excel yang digunakan, kesalahan pengambilan titik acuan untuk digunakan sebagai pencarian azimuth. Adapun permasalahan yang cukum menarik yang kami dapati ketika pengukuran adalah ketika BM 22 yang digunakan oleh 4 kelompok dan memiliki hasil koordinat berbeda, hasil analisis kami pun pada akhirnya sampai di kesimpulan adanya kesalahan dalam perencanaan pengukuran yang dimana setiap Benchmark yang saling bertampalan ketika Benchmark diharuskan memiliki titik bantu untuk menghubungkan setiap Benchmark seharusnya setiap kelompok menggunakan titik bantu yang sama agar ketika titik bantu nya sudah diketahui koordinat nya maka tidak perli dikoreksi oleh kelompok lain, tapi kami pada pelaksanaan nya malah menggunakan titik bantu yang berbeda sehingga Benchmark yang bertampalan tidak perlu di koreksi kembali. Jadi pada akhir kesimpulan project tersebut kami merekomendasikan jika ada project serupa, setiap area

pengukuran yang saling bertampalan atau ber irisan lebih baik menggunakan titik bantu yang sama.

Dari hasil pengalam saya belajar pada mata kuliah ini saya mendapat pengalaman yang sangat berharga diantaranya: kepercayaan yang timbul dari teman teman saya membuat bahan bakar bagi semangat untuk terus belajar lebih dari teman teman.

Kerangka dasar horizontal dan vertikal bagi saya bukan hanya sekedar titik titik yang memiliki koordinat untuk menjadi acuan dalam pengukuran, namun juga sebaga pola pikir dasar seorang Surveyor untuk memecahkan masalah masalah pada jenis jenis pengukuran lain nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *