Penulis: Adithya Kresna Sumaamijaya (2204418)
Penyunting: Muhammad Naufal Rifasyah (2500436)
20/07/2026 - Kalau ada yang bertanya kepada saya, dari mana perjalanan skripsi ini dimulai, jawabannya bukan dari proposal penelitian ataupun seminar proposal. Semuanya justru berawal dari sebuah rasa penasaran yang sederhana. Saya sering bertanya-tanya bagaimana sebuah Artificial Intelligence (AI) mampu memahami apa yang sedang saya diskusikan. Mengapa jawaban yang diberikan kepada setiap orang bisa berbeda, padahal pertanyaannya sama? Bagaimana sebuah sistem dapat memahami kebutuhan penggunanya? Pertanyaan-pertanyaan kecil itulah yang perlahan membawa saya pada perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dok. Penulis
Rasa penasaran tersebut mendorong saya untuk mulai mempelajari AI dan Machine Learning secara mandiri. Semakin banyak membaca, semakin saya menyadari bahwa di balik teknologi yang terlihat "cerdas" terdapat proses pembelajaran yang dilakukan komputer secara berulang hingga mampu mengenali pola dari data yang diberikan. Saat itulah muncul sebuah pemikiran, mengapa saya tidak mencoba menerapkan konsep tersebut pada bidang yang saya pelajari di SaIG? Dari pertanyaan sederhana itu, lahirlah ide penelitian yang kemudian menjadi topik skripsi saya.
Topik yang saya angkat adalah "Model Machine Learning untuk Koreksi Kesalahan Refraksi Air pada Data Hasil Fotogrametri di Perairan Dangkal Pulau Pari." Secara sederhana, penelitian ini mengajarkan komputer untuk memahami kesalahan posisi dasar perairan yang muncul akibat pembiasan cahaya ketika melewati air. Analogi yang paling mudah adalah sebuah pensil yang terlihat bengkok ketika dimasukkan ke dalam gelas berisi air. Melalui berbagai contoh dengan kondisi kedalaman yang berbeda, komputer dilatih untuk mengenali pola kesalahan tersebut sehingga diharapkan mampu melakukan koreksi secara otomatis. Harapannya, metode ini dapat mendukung proses pemetaan batimetri perairan dangkal menjadi lebih cepat dan efisien.
Semakin dalam saya mempelajari topik ini, semakin saya menyadari bahwa penelitian tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Saya mulai membaca berbagai artikel ilmiah yang membahas fotogrametri batimetri, machine learning, hingga koreksi refraksi air. Dari sekian banyak referensi, saya dipertemukan dengan penelitian karya Agrafiotis dan Del Savio yang menjadi salah satu inspirasi utama dalam menyusun metode penelitian. Dari sana saya mulai menyusun proposal, merancang metode penelitian, menentukan kebutuhan data, hingga memperkirakan pendanaan yang diperlukan agar penelitian ini benar-benar dapat diwujudkan.
Pada Juli 2025, proposal penelitian beserta Rencana Anggaran Biaya (RAB) akhirnya berhasil saya selesaikan sebagai bagian dari pengajuan dana riset. Alhamdulillah, instansi tempat saya melaksanakan magang pada saat itu memberikan dukungan penuh terhadap penelitian ini dan bersedia membantu pendanaannya. Dukungan tersebut menjadi penyemangat yang sangat berarti bagi saya. Sebuah ide yang awalnya hanya berawal dari rasa penasaran kini perlahan berubah menjadi penelitian yang siap dipresentasikan dalam Seminar Proposal.
Seminar Proposal dilaksanakan pada Selasa, 29 Juli 2025, dan menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan skripsi saya. Pada kesempatan tersebut saya mendapatkan dosen pembimbing, yaitu Bapak Dr. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. dan Ibu Anisa Nabila Rizki Ramadhani, S.T., M.T. Saya merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan kedua dosen pembimbing yang tidak hanya memberikan arahan akademik, tetapi juga membuka ruang diskusi yang membuat ide penelitian ini terus berkembang. Banyak masukan, pertanyaan, dan sudut pandang baru yang justru membuat saya semakin yakin bahwa penelitian ini layak untuk diperjuangkan hingga selesai.
Seiring berjalannya proses bimbingan, penelitian ini terus mengalami perkembangan. Ide-ide baru bermunculan, termasuk rencana penggunaan alat untuk akuisisi data yang akhirnya membuat kebutuhan penelitian menjadi lebih besar dari perencanaan awal. Saya kembali mencari peluang kerja sama dengan berbagai instansi agar penelitian ini tetap dapat berjalan. Salah satu kesempatan datang melalui Bapak Ihsan yang memperkenalkan penelitian saya kepada Xcel Dynamics. Di luar dugaan, mereka menyambut baik ide penelitian ini, bahkan bersedia mendukung pendanaan sekaligus mendelegasikan tim untuk melakukan penelitian bersama di Pulau Pari. Momen tersebut menjadi salah satu titik yang membuat saya semakin yakin bahwa penelitian yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya.

Dok. Penulis
Pada Oktober 2025, proses akuisisi data akhirnya dilaksanakan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Ini menjadi pengalaman lapangan yang tidak akan saya lupakan. Selama beberapa hari kami bekerja bersama mengumpulkan berbagai data yang dibutuhkan untuk penelitian. Tentu saja kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kami harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari proses birokrasi, kendala teknis saat akuisisi data, perubahan cuaca, hingga hujan yang beberapa kali menghambat pekerjaan di lapangan. Pada hari kedua, saya bahkan sempat kehilangan semangat karena banyak hal yang tidak berjalan seperti yang telah direncanakan. Namun di sisi lain, saya sadar bahwa penelitian bukan hanya tentang memperoleh hasil, tetapi juga tentang bertanggung jawab terhadap komitmen yang telah dibuat. Saya memilih untuk tetap melanjutkan pekerjaan, satu langkah demi satu langkah.

Dok. Penulis
Pada akhirnya seluruh proses akuisisi data dapat diselesaikan dengan baik. Rasa lelah selama di lapangan seolah terbayarkan ketika melihat data yang berhasil dikumpulkan sudah cukup lengkap untuk melanjutkan penelitian. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa tantangan di lapangan sering kali menjadi guru terbaik. Banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas, tetapi justru dipelajari ketika harus mengambil keputusan secara langsung, bekerja sama dengan tim, dan tetap tenang di tengah berbagai kendala.
Setelah seluruh data berhasil dikumpulkan, saya memasuki tahap pengolahan data yang berlangsung dari November 2025 hingga Januari 2026. Pada fase ini, berbagai data hasil akuisisi mulai diolah, dianalisis, dan disusun menjadi informasi yang dapat menjawab tujuan penelitian. Saya juga kembali berdiskusi dengan dosen pembimbing untuk mengevaluasi setiap hasil yang diperoleh. Proses ini membuat saya semakin memahami bahwa penelitian bukan sekadar mengikuti metode yang telah dirancang, tetapi juga tentang bagaimana terus belajar dan menemukan solusi di setiap tahapannya.
Memasuki bulan Februari 2026, fokus saya beralih pada analisis hasil penelitian dan penyusunan naskah skripsi. Di sinilah seluruh proses yang telah dilalui mulai saling terhubung. Ide yang awalnya hanya berawal dari rasa penasaran, kemudian berkembang menjadi proposal penelitian, berlanjut pada pengumpulan data di Pulau Pari, hingga akhirnya tersusun menjadi sebuah karya ilmiah yang utuh. Melihat semua proses tersebut memberikan kepuasan tersendiri karena saya dapat menyaksikan bagaimana sebuah gagasan perlahan berubah menjadi sebuah penelitian.
Tidak terasa, tibalah babak akhir dari perjalanan skripsi saya. Pada tanggal 22 April 2026, saya melaksanakan Sidang Skripsi bersama empat mahasiswa SaIG lainnya. Momen tersebut menjadi salah satu hari yang paling mendebarkan sekaligus membahagiakan selama menjadi mahasiswa. Di hadapan para dosen penguji, saya mempresentasikan hasil penelitian yang telah dikerjakan selama kurang lebih satu tahun. Rasa gugup tentu ada, tetapi rasa syukur jauh lebih besar karena akhirnya saya dapat menyampaikan hasil dari perjalanan panjang yang telah saya lalui.

Dok. Penulis
Pada kesempatan tersebut saya diuji oleh Ibu Dr. Nanin Trianawati Sugito, S.T., M.T., Ibu Asri Ria Affriani, S.T., M.Eng., dan Bapak Dr. Andika Permadi Putra, S.T., M.T.. Berbagai pertanyaan, masukan, dan saran yang diberikan menjadi penyempurna penelitian saya. Setelah sidang selesai, saya kembali melakukan beberapa revisi bersama dosen pembimbing dan dosen penguji. Hingga akhirnya, pada 8 Mei 2026, seluruh proses perbaikan dinyatakan selesai. Rasanya sangat lega karena satu tahapan besar dalam kehidupan sebagai mahasiswa akhirnya berhasil saya tuntaskan.
Yudisium dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2026 bersama empat rekan SaIG lainnya yang sebelumnya melaksanakan sidang pada hari yang sama. Pada momen tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik, Ibu Dr. Hj. Fitri Rahmafitria, M.Si., secara resmi mengumumkan bahwa kami telah menyelesaikan studi di Program Studi Sains Informasi Geografi. Rasanya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semua proses yang telah dilalui selama hampir satu tahun, mulai dari menyusun proposal, melakukan penelitian di Pulau Pari, mengolah data, hingga menjalani sidang, akhirnya bermuara pada satu momen yang sangat membahagiakan.

Dok. Penulis
Meskipun demikian, perjalanan saya belum benar-benar selesai. Selama bulan Juni 2026 saya masih harus menyelesaikan berbagai persyaratan menuju wisuda, mulai dari publikasi artikel ilmiah, unggah skripsi ke Repository UPI, pembukuan skripsi, hingga berbagai administrasi lainnya. Di sela-sela proses tersebut, saya juga mulai memasuki dunia kerja di bidang geospasial. Saat itulah saya menyadari bahwa skripsi ini telah memberikan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Awalnya saya hanya ingin menjawab rasa penasaran tentang AI dan Machine Learning, tetapi dalam perjalanannya penelitian ini mempertemukan saya dengan banyak orang, membuka kesempatan berkolaborasi dengan dunia industri, dan menjadi salah satu bekal untuk memasuki dunia profesional.
Melihat ke belakang, saya menyadari bahwa banyak hal dalam perjalanan skripsi ini yang tidak pernah tertulis di proposal penelitian. Ada tantangan, perubahan rencana, hingga kesempatan-kesempatan baru yang datang tanpa diduga. Dari semua itu saya belajar bahwa penelitian bukan hanya tentang memperoleh hasil akhir, tetapi juga tentang proses untuk terus bertumbuh. Ketika dihadapkan pada berbagai tantangan, saya selalu memiliki dua pilihan: berhenti atau terus berusaha. Syukurlah, saya memilih untuk terus melangkah. Keputusan sederhana itu ternyata membawa saya pada pengalaman dan kesempatan yang jauh lebih besar dari yang pernah saya bayangkan.
Penelitian ini juga mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berkembang dalam ruang yang terpisah. Ketertarikan saya terhadap Artificial Intelligence justru membawa saya lebih jauh mengenal fotogrametri, oseanografi, dan geospasial. Dari sana saya belajar bahwa banyak persoalan dapat diselesaikan ketika berbagai bidang ilmu saling melengkapi. Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya peroleh selama menyusun skripsi ini: jangan pernah membatasi rasa ingin tahu hanya pada satu bidang ilmu.
Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Program Studi Sains Informasi Geografi Universitas Pendidikan Indonesia yang telah menjadi tempat saya belajar, bertumbuh, dan menemukan banyak kesempatan. Terima kasih kepada seluruh dosen yang telah membimbing saya selama perkuliahan, tidak hanya melalui materi di kelas, tetapi juga melalui pengalaman, motivasi, dan teladan yang diberikan kepada mahasiswanya.
Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi SaIG. Terima kasih karena telah membangun lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa untuk terus berkembang, berorganisasi, berkarya, dan berani mencoba hal-hal baru. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. dan Ibu Anisa Nabila Rizki Ramadhani, S.T., M.T. yang dengan sabar membimbing, berdiskusi, memberikan masukan, serta terus mendukung penelitian saya hingga akhirnya dapat diselesaikan. Terima kasih pula kepada seluruh dosen SaIG, keluarga besar HIMA SaIG, teman-teman seperjuangan, serta semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya percaya bahwa saya tidak akan sampai pada titik ini tanpa dukungan dari begitu banyak orang di sekitar saya.
Untuk adik-adik tingkat yang sedang atau akan menjalani skripsi, tetaplah semangat menikmati setiap prosesnya. Tidak ada skripsi yang benar-benar sempurna, dan tidak ada perjalanan penelitian yang selalu berjalan mulus. Akan selalu ada tantangan, revisi, bahkan rasa ingin menyerah. Namun justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya. Tetaplah konsisten, bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah diambil, dan jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Saya percaya bahwa banyak hal besar berawal dari sebuah pertanyaan sederhana dan keberanian untuk mencari jawabannya. Terkadang, langkah kecil yang kita ambil hari ini akan membawa kita pada kesempatan-kesempatan besar yang bahkan belum pernah kita bayangkan sebelumnya.
